Another Person Life

Another Person Life
Rasa Bersalah yang Terus Menghantui


__ADS_3

"Bagaimana bisa wanita itu datang dengan nyonya?" gumam Gavin sambil menutup pintu mobil dan berdiri di samping Staren.


"Aku tidak tau, yang jelas, dia pasti memaksa nyonya untuk datang bertemu dengan tuan muda" ucap Staren sambil memegang dahinya yang sedikit pusing.


"Aku yakin, tuan muda sekarang pasti sedang binggung" ucap Arnius sambil menutup pintu mobil dan berjalan menghampiri mobil Zee.


Keempat orang itu sangat mengerti perasaan Zee, mereka pun langsung menghampiri mobil yang di tumpangi oleh Zee.


"Vano, tolong bantu aku membawa Xura" ucap Zee dengan nada tidak rela. Tapi hal itu harus di lakukan karena ia tidak ingin menimbulkan masalah lainnya.


Vano dan yang lain begitu sangat terkejut, biasanya Zee tidak pernah membiarkan Xura di sentuh oleh orang lain, tapi sekarang apa?, justru tuan mudanya lah yang menyuruhnya untuk mengangkat Xura.


"Tuan muda, tidak perlu begini, apa tuan tidak ingin lepas darinya?, karena kejadian itu sudah sangat lama" ucap Vano yang berusaha menghentikan tindakan Zee.


Awalnya mereka semua mengira bahwa Zee sudah berubah dan melupakan wanita itu, tapi ternyata dugaan mereka ternyata salah.


Zee tampak terdiam, ia memikirkan kata-kata Vano, tapi perkataan itu tidak bisa membuat Zee sadar begitu saja.


"Tidak, aku harus melakukan ini, jadi tugas mu adalah mengangkat tubuhnya dan mengaku bahwa dia adalah pacar mu" ucap Zee dengan tegas.


Vano dan yang lain nya hanya bisa menghela nafas kasar, mau tidak mau ia harus menjalankan perintah Zee.

__ADS_1


Setelah Vano mengangkat tubuh Xura, terlihat jelas bahwa Zee sangat tidak rela jika Xura di pegang oleh orang lain.


"Sikapnya menunjukkan bahwa dia seakan tidak perduli pada nona Xura, tapi raut wajahnya terlihat jelas bahwa tuan sangat tidak rela dengan apa yang aku lakukan" batin Vano sambil menggeleng pelan.


Tapi Vano seolah tidak perduli dengan tatapan itu "Tuan, walau kami tidak membicarakan hal ini pada nona Xura, tapi tuan tau sendiri bahwa Quiran bisa melihat segala hal tentang dunia ini, jadi aku sarankan tuan harus memilik salah satu di antara mereka" ucap Vano sambil berjalan masuk.


Zee memikirkan perkataan Vano, tapi lagi-lagi perkataan itu tidak bisa menembus hatinya "aku tidak bisa memilih diantara mereka" ucap Zee sambil berjalan lurus kedepan.


Vano yang sedikit kesal, mulai mengeluarkan kata-kata mautnya "Tuan, jika kau memilih wanita itu, maka lepaskan nona Xura" ucap Vano sambil menghentikan langkahnya.


Arnius, Gavin dan Staren juga ikut menghentikan langkah mereka, ketiganya tampak terkejut dengan perkataan Vano, tapi dengan kenyataan yang ada membuat ketiganya menyetujui perkataan Vano.


Zee memutar tubuhnya dan menatap Vano dengan tajam "apa kau berhak berkata seperti itu padaku?" tanya Zee sambil berjalan mendekati Vano.


Saat Vano ingin melangkah masuk, tiba-tiba saja seseorang meneriaki nama Vano.


"Vano!" teriak wanita itu tanpa malu.


Vano terlihat kesal setelah mendengar suara wanita itu, ia pun menatap wanita itu dengan dingin.


"Berhenti memanggil namaku dengan mulut kotor mu itu" ucap Vano dengan nada tegas.

__ADS_1


Zee tersentak kaget mendengar Vano menghina wanita itu, Saat Vano ingin melangkah masuk, Zee tiba-tiba menghentikannya "berhenti di sana Vano" ucap Zee dengan dingin.


Vano menghentikan langkahnya lalu ia menoleh kebelakang "Ada apa tuan?" tanya Vano dengan wajah datar.


Arnius, Staren dan Gavin justru berdiri mematung, mereka tidak pernah beradu mulut dengan Zee, diantara mereka berempat hanya Vano lah yang mampu melakukan itu pada Zee.


"Minta maaflah padanya" ucap Zee yang sudah melupakan peringatan Vano.


Vano mengernyitkan dahinya, ia pun mulai tersenyum tipis "Tuan, kali ini aku mengakui bahwa tuan yang menang, tapi di lain waktu pasti aku lah yang menang" ucap Vano dengan lantang lalu ia melihat kearah wanita itu.


Zee tampak binggung dengan perkataan Vano, ia pun memilih untuk tidak menanggapi perkataan itu.


"Aku minta maaf" ucap Vano sambil membungkukkan sedikit tubuhnya di hadapan Zee lalu melangkahkan kakinya keatas.


"Kakak, jangan galak seperti itu pada kak Vano, kami sudah seperti itu sejak awal, lagi pula dia tidak bersalah" ucap wanita itu sambil menggandeng lengan Zee


Ketiga orang yang masih mematung itu seakan ingin muntah mendengar perkataan wanita yang sedang menempel pada Zee, mereka bahkan membungkukkan sedikit tubuh mereka lalu mengikuti langkah Vano berjalan keatas.


Sedangkan Zee tidak menghiraukan perkataan wanita itu, ia sibuk melihat punggung Vano yang semakin menghilang.


"Sebenarnya aku tidak ingin melakukan ini, tapi apa yang bisa ku lakukan, rasa bersalah itu terus menghantuiku" batin Zee lalu melepaskan tangan wanita itu dan langsung meninggalkannya.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2