
Zee yang sedari tadi diam kini mencoba membuka mulutnya "untuk apa kau mencari apartemen?" tanya Zee tanpa menoleh kearah Quirin
"Aku tidak akan memberitahumu, karena kau akan tau nanti" ucap Quirin sambil mendongakkan wajahnya menatap Zee dan menempelkan satu jari di bibirnya
Zee melirik kebawah, lalu kembali menatap lurus kedepan "dia kaki sekali, tidak tergoda dengan wajah manis seperti apapun bentuknya" batin Quirin mengerucutkan bibirnya
Clamy yang berada di belakang melihat kemesraan yang di perlihatkan oleh Quirin, hal itu membuat Clamy sangat kesal "bisa-bisanya dia memamerkan kemesraan itu dihadapanku" batin Clamy, karena panas ia mencoba mempercepat langkahnya agar berjalan disisi Zee.
Ia tersenyum senang karena berhasil berjalan disisi Zee, karena sebelumnya Clamy tidak pernah mendapat kesempatan itu.
Sedangkan Zee melirik sekilas dan membiarkan Clamy berjalan disisinya karena ia sedikit penasaran dan ingin melihat reaksi seperti apa yang ditampilkan oleh Quirin.
"Apa yang akan kau lakukan Quirin?" batin Zee sambil melirik kesisi kanan.
Quirin melihat gerak gerik Clamy, ia merasa kesal karena Clamy bertingkah seolah mereka sangat dekat satu sama lain "aku sangat muak melihat wanita menyebalkan ini, dia selalu menatap Zee dengan mata berbinar seakan ingin memilliki Zee dan menyingkirkanku, membuatku ingin mencekiknya hingga membuatnya tidak bernafas, tapi ... jika dipikir-pikir lagi, saat diriku menjadi Xura, aku tidak pernah berada diposisi ini, justru jika itu aku yang dulu maka semua akan berjalan dengan sangat mudah, aku bisa menyerang karirnya dengan kekuasaanku, tapi sekarang apa?, aku tidak bisa melakukan apapun?, tubuh ini tidak memiliki latar belakang yang kuat, bahkan pemilik tubuh ini telah diusir oleh ayah kandungnya sendiri, dan untuk mengandalkan Zee saja tidaklah cukup, jadi aku hanya bisa bermain trik untuk menghancurkan mentalnya secara perlahan, ini lah alasanku tidak bermain dengan cepat" batin Quirin mengambil nafas dalam-dalam
Xura adalah orang kedua yang sangat di segani para kalangan pembisnis dan juga para wanita-wanita kelas atas. seluruh Asia tidak ada yang tidak mengenalnya justru mereka sangat mengagumi kecerdasan yang dimiliki oleh Xura, karena Xura bisa menyaingi kecerdasan yang di miliki oleh orang terkaya seAsia. karena itulah Xura tidak pernah mendapat saingan cinta seperti apapun, ia menjalankan kisah percintaan dengan sangat mulus dan tidak pernah ada pengganggu di sekitar mereka.
Karena hal itu juga membuat Quirin justru tidak menyadari jika dirinya sudah bersikap sangat posesif pada Zee.
Setelah menghembuskan napas dengan kasar, Quirin lalu beralih kesisi kiri Zee, ia tidak tinggal diam Clamy mendekati Zee begitu saja "kenapa kau berjalan disisi pacarku?, apa kau tidak takut mendengar cibiran orang-orang?" tanya Quirin berterus terang sambil menatap tajam kearah Clamy.
Clamy sangat terkejut, dalam sekejap senyum manis yang ditampilkan itu luntur begitu saja "bu-bukan seperti itu nona, aku hanya takut tertinggal oleh kalian, karena aku belum mengenal tempat ini" dalih Clamy sambil melihat sekelilingnya, ia menjelaskan itu agar orang-orang di keliling tidak salah paham terhadap dirinya.
"Aku tidak menyukainya, jadi tolong kau berjalan di belakang saja" ucap Quirin berjalan cepat sambil menarik Zee.
Zee tersenyum tipis, ia benar-benar sangat puas mendengar perkataan Quirin "menggemaskan" batin Zee
Sesampai di parkiran, ketiganya masuk dan tidak ada yang berniat membuka obrolan, suasana hening menyelimuti seisi mobil.
Zee menyetir dengan sangat santai, ia memang tidak suka membicarakan hal yang tidak penting, sedangkan Quirin masih tenggelam dengan kekesalannya, untuk Clamy, ia masih memikirkan cara merebut posisi Quirin.
__ADS_1
Mereka meninggalkan mall dan mulai mengelilingi kota, tiba-tiba Clamy teringat akan sesuatu "sudah berapa lama aku tidak menghubungi mereka?, aku tidak mungkin kembali ke apartemen itu, takutnya setelah tuan tampan dan nona melihatnya, mereka akan menyuruhku untuk tetap tinggal di sana dan aku justru gagal mendapat sebuah rumah mewah" batin Clamy gelisah
Setelah berpikir cukup lama, Clamy memiliki sebuah ide "tuan, bisakah kau membelikanku sebuah ponsel?, aku sangat membutuhkannya untuk menghubungi keluargaku" ucap Clamy dengan nada manis
"Aku memberimu tumpangan gratis hanya karena pacarku, jadi jangan terlalu besar kepala" ucap Zee dengan dingin
Clamy menunduk malu, ia tidak menyangka bahwa Zee berkata dingin padanya "bagaimana sekarang?, dia tidak membantuku, pria ini satu-satunya yang sangat susah untuk kutaklukan" batin Clamy
Sedaritadi Quirin menghadap keluar kaca sambil mendengar semua percakapan keduanya, ia ingin sekali tertawa, tapi Quirin mencoba menahannya agar tidak terdengar oleh Clamy "kau lupa dengan apa yang sudah aku katakan?, disini aku yang akan memberikan semua kebutuhanmu, bukan dia" ucap Quirin menetralkan suaranya tanpa berniat menoleh kebelakang.
Clamy tertunduk malu "ma-maaf, aku hanya berfikir karena tuan yang mengemudi jadi aku meminta padanya" ucap Clamy agar tidak terlalu malu.
Quirin memutar bola matanya dengan malas "omong kosong, dia sangat pandai berpura-pura" cibir Quirin pelan
Quirin melihat salah satu toko penjual ponsel "Zee, tolong berhenti sebentar di toko itu" ucap Quirin sambil menunjuk.
Zee menurut dan memberhentikan mobilnya, melihat mobilnya berhenti, Clamy sangat antusias dan dengan segera turun dari mobil. saat Quirin ingin turun, ia melihat Zee tidak bergerak "kau tidak ikut turun?" tanya Quirin
Melihat itu Quirin tidak banyak berbicara, ia mengangguk dan meninggalkan Zee sendirian didalam mobil.
Tidak perlu waktu lama, Zee sudah tertidur pulas hingga membuat mimpi yang sangat mengerikan
"Jangan lakukan itu!, kau harus terus berjuang!" teriak seseorang
Orang itu menggeleng pelan "maafkan aku" ucapnya sambil tersenyum.
"Tidak!" teriak Zee, ia terbangun dengan keringat yang mengalir deras didahinya.
Quirin membuka pintu mobil, ia melihat Zee dengan nafas tersengal-sengal seperti orang yang terbangun dari mimpi buruk "kau tunggulah di sana sebentar, setelah aku memberitahumu, baru kau bisa masuk" ucap Quirin sambil menghentikan langkah Clamy yang kebetulan sedikit jauh darinya.
"Hei!" ucap Quirin sambil memukul pundak Zee pelan.
__ADS_1
Zee tersentak kaget, wajahnya terlihat pucat pasi, Quirin yang melihat itu merasa tidak tega, ia dengan cepat memeluk dan memasukkan Zee dalam dekapannya "tenanglah" ucap Quirin sambil menenangkan Zee.
Quirin merasakan seluruh tubuh Zee bergetar hebat "apa yang kau alami sehingga membuat wajahmu sangat menyeramkan, ini tidak seperti dirimu yang biasanya" batin Quirin
Zee dengan spontan memeluk Quirin, ia sudah tidak perduli jika sisi lemahnya telah diketahui oleh Quirin.
"Beruntung aku menyuruh Clamy untuk berada di luar, jika dia melihat sisi lemah Zee, aku yakin dia pasti akan memanfaatkannya" batin Quirin
Setelah Zee merasa cukup tenang, ia melepaskan pelukan Quirin "terimakasih" ucap Zee dengan kembali berwajah datar.
Quirin mengangguk dan mengambil tisu yang berada didalam mobil, ia membantu Zee membersihkan keringat yang sempat menetes itu.
"Orang lain tidak akan menyangka bahwa kau mempunyai sisi seperti ini" ucap Quirin sambil mendekatkan wajahnya pada Zee.
"Aku akan lebih berhati-hati" ucap Zee sambil menikmati perhatian yang diberikan oleh Quirin.
"Kita tidak bisa melanjutkan perjalanan, sekarang waktunya pulang kerumah keluarga Alister" ucap Quirin kembali ketempat duduknya.
"Kau yakin?" tanya Zee heran.
"Sangat yakin" ucap Quirin sambil mengangguk, setelah mengatakan itu, Quirin menurunkan kaca mobil dan memanggil Clamy.
"Masuklah" ucap Quirin lalu menaikkan kaca mobil kembali.
Clamy langsung masuk kedalam mobil, didalam perjalanan, tidak ada yang memulai pembicaraan, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Aku sangat penasaran dengan mimpinya, apa mimpi itu sangat sensitif?, karena Zee sangat jarang bereaksi seperti itu, tapi aku tidak mempunyai keberanian untuk bertanya padanya" batin Quirin bertanya-tanya
"Apa yang dia pikirkan tentangku?, apa menurutnya aku aneh?" batin Zee gelisah
Bersambung ...
__ADS_1