Another Person Life

Another Person Life
Lamaran Tak Terduga


__ADS_3

Sedangkan Max sudah memecat beberapa dokter dan perawat yang ada di rumah sakit itu, dan ia mendengar bahwa Zee sudah sadar, dan Max kini membawa Xeno masuk kedalam ruangan Zee, ketika mereka sedang melangkahkan kakinya, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan perkataan Xura.


Xura pun memegang tangan Zee dan bertanya "Maukah kau hidup bersama dengan ku selamanya?," tanya Xura sambil tersenyum dan menitikkan air matanya.


"Apa!" teriak semua orang yang ada di ruangan itu.


Al yang sedang memegang gunting terkejut mendengar perkataan Xura, bahkan gunting yang ada di tangan Al terjatuh ke lantai.


Wajah semua orang tampak terlihat tercengang, wajah tercengang mereka terlihat berbeda-beda,


Alica menutup mulutnya dengan kedua tangan, Gavin membuka mulutnya dengan lebar, Vano hanya melototkan matanya dengan sempurna, Staren mengeluarkan air matanya, Arnius mengedipkan matanya terus menerus, Sedangkan Max tidak sengaja melepaskan Xeno yang tengah di papahnya


Arrgghh


"Sialan kau, Max!," teriak Xeno yang merasakan bokongnya terasa sakit.


Mereka semua bahkan tidak menyangka bahwa Xura yang dingin itu dengan berani melamar Zee.


Zee yang mendengar itu bahkan sangat terkejut, kini wajah Zee memerah dan ia menutupnya dengan satu tangan, "kenapa kau yang memulainya?, seharusnya itu adalah bagianku," ucap Zee yang benar-benar malu.


"Haha ... maafkan aku," ucap Xura sambil menghapus air matanya.


"Sepertinya sebentar lagi kita memiliki hari yang panjang," ucap Al sambil menoleh kearah Max.


Sedangkan Max memilih melihat kearah Xeno, "Selamat, sebentar lagi kau pasti akan mati," ucap Max sambil tertawa keras.


Orang-orang yang di dalam ruangan ikut tertawa, karena mereka tau bahwa Xeno baru saja pulih dan sekarang ia harus kembali bekerja.


Xeno yang melihat itu langsung menggelengkan kepalanya, "tidak, aku mohon, jangan lagi, aku butuh banyak istirahat," ucap Xeno sambil memohon.


Mereka yang melihat Xeno memohon semakin tertawa keras, karena tidak bisanya Xeno yang terkenal sebagai pria dingin kedua setelah Zee sekarang memohon di hadapan semua orang.


Pemandangan itu benar-benar cukup langka, bahkan Max dan yang lainnya langsung mengabadikan moment itu dan mengirimnya kepada nyonya besar dan tuan besar.

__ADS_1


...****************...


Di sisi Quirin, ia banyak belajar dari Rea, ia yang memasuki kantor sebagai orang biasa mendapat tekanan yang begitu dahsyat, tapi ia tidak mengeluh atau pun membicarakan itu pada keluarga pamannya.


Quirin tetap berpegang teguh untuk menjalani kesehariannya, dan sampai ia teringat dengan sang ayah yang hidup sendirian.


Ketika semua orang tengah berkumpul di ruang ruang tengah, tiba-tiba saja Quirin ingin meminta izin untuk pulang kerumahnya.


"Paman, bibi, Rea, izinkan aku kembali kerumah, aku ingin menemui ayah dan melihat keadaannya," ucap nya sambil menatap intens ketiga orang itu.


Mereka semua saling memandang satu sama lain, dan Rea menghukum diri untuk mengantar Quirin, "aku akan mengantar mu kak," ucap Rea sambil tersenyum.


Keduanya pun berjalan beriringan dan mereka memasuki mobil, Rea membawa mobil itu dengan pelan, "apa kakak sudah siap bertemu dengan paman?, bukankah paman belum mengetahui hal ini?," tanya Rea memastikan.


"Aku yakin, aku akan menjelaskannya perlahan, aku berharap dia akan senang ketika bertemu denganku," ucap Quirin sambil menunduk.


"Baiklah, berarti aku tidak perlu menghawatirkan kakak lagi," ucap Rea sambil tersenyum.


Lalu Rea membawa ambil itu dengan kecepatan penuh, setelah sampai di mansion Alister, Quirin turun dari mobil dan melihat-lihat mansion itu.


Dari kejauhan Quirin bisa melihat Grizo tengah menyirami bunga, ketika ingin memanggil nama Ayahnya, mulut Quirin seakan bergetar.


"Ayah" panggil Quirin dengan pelan.


Grizo yang tengah menyirami tanaman seketika menghentikan tangan, ia seolah mendengar suara yang sangat di rindukannya, tapi ketika menoleh, ia melihat Rea bersama dengan seorang wanita asing.


Grizo menaruh benda itu dan menghampiri Rea, "Kenapa kau tidak memberitahu paman jika kau ingin berkunjung?" tanya Grizo tersenyum.


"Aku ingin memperkenalkan seseorang, paman," ucap Rea dengan nada dingin, tapi walau bagaimanapun juga Rea masih tetap memanggil Grizo dengan sebutan paman.


Grizo yang mendapat perlakuan dingin dari Rea hanya bisa menerima, karena semua masalah itu timbul memang karena dirinya.


Grizo menghela nafas pelan, "Apa dia temanmu?" tanya Grizo sambil menunjuk kearah Quirin dan melihat kearah Rea, ia mencoba memecahkan keheningan di antara ketiganya.

__ADS_1


Quirin menatap sendu sang ayah, ia melihat Grizo yang terlihat sangat kurus, "ayah" panggil Quirin lagi.


Jantung Grizo berdegup kencang, ia menoleh kearah Quirin dan masih tidak mengenali siapa orang yang ada di depannya, "dia Quirin paman, dia anak mu yang asli, sedangkan yang tinggal bersama dulu adalah jiwa asing yang memasuki tubuh anakmu," ucap Rea dengan berterus terang.


Grizo tampak kebingungan, ia pun masih tidak mengerti dengan pembicaraan keduanya, lalu Quirin memegang tangan Grizo agar ayahnya tidak jatuh, "aku akan menjelaskannya di dalam," ucap Quirin sambil memapah tubuh Grizo dan di bantu oleh Rea.


Grizo hanya bisa menerima uluran tangan mereka, lalu keduanya berjalan kedalam mansion.


Setelah duduk di sofa, Quirin menarik nafas dalam-dalam dan ia pun menceritakan seluruh kejadian yang terjadi padanya dan juga Xura.


Grizo yang mendengar perkataan itu benar-benar terkejut, ternyata yang tinggal bersama putrinya hanya lah raga putrinya saja tapi jiwa yang ada di dalamnya adalah orang lain.


"Pantas saja kami semua merasa beda, tapi aku bersyukur, kerena berkat dia, aku bisa selamat dari kedua wanita ular itu," gumam Grizo sambil menunduk sedih.


"Maafkan aku baru bisa mengunjungi mu sekarang ayah, karena masalah yang terjadi antara aku dan Xura sangatlah rumit," ucap Quirin sambil menunduk.


"Tidak nak, seharusnya kita harus berterimakasih padanya, karena aku dan kau hidup berkat dirinya," ucap Grizo sambil mendongakkan wajahnya.


"Dia tidak seperti yang aku pikirkan," batin Rea sambil menatap Grizo.


"Ayah, mansion ini miliknya, seharusnya kita kembalikan ini padanya, ikutlah dengan ku ayah," ucap Quirin sambil mengajak Grizo pergi dari mansion.


Grizo mengangguk dan ingin bangkit dari tempat duduknya, tiba-tiba saja Quirin mendapatkan sebuah pesan.


Ting


[Kau tidak perlu keluar dari mansion itu, karena mansion itu di desain oleh Arcy sendiri, dan kau bisa menghancurkan pembatas dinding yang ada di belakang taman, di balik dinding itu terdapat gazebo dan di dinding gazebo itu terdapat sebuah tombol, pergilah dan jelajahi, aku memberikan mansion itu padamu secara gratis]


Quirin terkejut melihat pesan itu, tapi ia tau siapa pengirim dari pesan itu, setelah membacanya, Quirin mulai menangis tersedu-sedu, sedangkan Rea dan Grizo terkejut melihat Quirin yang mangisa.


"Ada apa, nak?," tanya Grizo panik.


Sedangkan Rea langsung merebut ponsel Quirin dan ia membaca pesan itu dengan keras, Rea bahkan tidak menyangka bahwa Xura tengah memantau mereka dan memberikan mansion seluas ini secara cuma-cuma.

__ADS_1


"Kau masih saja memikirkan orang lain, kak Xura," batin Rea sambil tersenyum.


Bersambung ...


__ADS_2