Another Person Life

Another Person Life
Alat Penyiksa Dari Logam


__ADS_3

ย ### Author hanya mengingatkan.


Jangan lupa untuk mendukung karya ini ya ๐Ÿฅบ


Tekan like, komen, dan vote ๐Ÿ™๐Ÿ™


ย 


"Haha ... Licik?, sebutan itu bukankah sangat cocok untukmu?, lihatlah kondisimu, kau yang dulunya memakai pakaian berkelas, sekarang terlihat seperti kembali ke dunia saat kau masih menjadi rakyat miskin, ini fakta yang sangat menyenangkan bukan?" Quiran tertawa dengan sangat keras.


Clamy terkejut, ia tidak menyangka Quiran memeriksa data pribadi miliknya "sial!, ternyata dia mengetahui asal usul ku" batin Clamy kesal


Seketika tawa itu menghilang, tatapan tajam mulai terlihat di wajah Quiran "seret dia ketempat di mana banyak peralatan bagus"


Vano hanya mengikuti perintah yang dia ketahui adalah Quirin, Vano dengan senang hati melakukan perintah Quiran, ia memegang baju dan menyeret Clamy dengan kasar.


"Lepaskan!" teriak Clamy sambil meronta- ronta


Vano tidak memperdulikan ocehan Clamy, ia bahkan menarik Clamy dengan sangat kuat.


Clamy yang mendapat perlakuan kasar menggeretakkan giginya "apa kau tidak mendengarku hah?, aku ini manusia bukan hewan yang bisa seenaknya kau perlakukan dengan kasar!" kesal Clamy


"Brisik!"


Arghhhh


Quiran berada di belakang mengikut langkah kaki Vano, saat ia melihat Clamy meronta dan berteriak keras, ia langsung menendang perut Clamy hingga tubuh itu membentur punggung Vano.


"Manusia sepertimu tidak ada bedanya dengan hewan!" ujar Quiran dengan tatapan tajam


Clamy terpaku ketika Quiran menendangnya, ia bahkan sedang mencerna apa yang sudah terjadi.


Vano terlihat kesal ketika bersentuhan dengan Clamy "menjauh dariku sialan!, kau mengotori bajuku!" Vano menghempas Clamy lalu menendang tangan Clamy.


Clamy yang masih dalam keadaan mematung kembali terkejut karena perbuatan Vano.


Arghhhh

__ADS_1


Clamy tersungkur di lantai, ia mencoba bangun tapi tubuhnya terasa sangat berat "dasar iblis, kalian sudah membuatku menderita, jika aku keluar dari sini hidup-hidup, maka aku akan membalas perbuatan kalian" batin Clamy yang tengah mengepalkan kedua tangannya.


"Simpan saja dendam mu itu, karena kau tidak akan pernah bisa keluar dari rumah ini dengan tubuh yang utuh"


Vano kembali menyeret tubuh Clamy, tapi kali ini ia menarik dengan sangat kasar sehingga membuat Clamy terjatuh.


Setelah sampai di ruangan khusus, Quiran terlihat sangat antusias "bukankah permainan ini akan sangat menyenangkan?" ucap Quiran sambil melihat-lihat alat yang terpajang di dinding.


Tubuh Clamy bergetar hebat ketika matanya menyusuri seluruh dinding "te-tempat apa ini?" tanya Clamy dengan takut


"Pertanyaan bodoh, tentu saja tempat untuk menyiksamu, apa kau pikir aku sudah puas hanya dengan memukul dan menendang mu?, pikiranmu sungguh konyol"


Clamy semakin ketakutan, ia tidak menyangka dirinya bisa mengalami kejadian yang sama, ia bahkan teringat ketika di masukkan kedalam penjara oleh Quirin dan sekarang ia mengalami untuk yang kedua kali tapi di tempat yang berbeda.


Tempat yang di lihat Clamy sekarang ini bernuansa classic, mata akan di suguhkan dengan warna yang bisa menenangkan hati, tapi ketika melihat peralatan yang terpajang maka akan memacu kerja jantung.


Ketika kau berada disana, kau akan mengeluarkan berbagai rasa dan ekspresi, entah itu rasa nyaman ataupun ketakutan.


"Kau mulailah Vano, tapi ingat, jangan sampai membunuhnya" ucap Quiran dengan melipat kedua tangannya.


Vano sangat antusias, ia melangkah perlahan dengan wajah yang sangat menakutkan "pergi!, jangan mendekatiku!" teriak Clamy sambil memundurkan tubuhnya.


"Aku tidak berbuat apapun pada wanita itu!, bagaimana bisa kalian melakukan hal ini padaku!" teriak Clamy dengan rasa takut yang sudah memenuhi seluruh tubuhnya.


Vano tidak mendengarkan omong kosong Clamy, ia mengambil sebuah alat yang berada di atas kepala Clamy, lalu memegang alat itu sambil tersenyum sinis.


Sedangkan Clamy tak kuasa menahan rasa takutnya, ia membulatkan mata dengan sempurna ketika melihat benda yang ada di tangan Vano.


"Apa yang kau lakukan!, jauhkan benda itu dariku!, apa kau tidak mendengarku!" teriak Clamy dengan keras, cairan bening itu kembali keluar.


Vano tidak merasa simpati pada Clamy, ia justru tersenyum sinis dan sesekali mengayunkan benda yang ada di tangannya.


Karena teriakannya di abaikan, Clamy mencoba berbagai cara untuk menghentikan Vano "aku mohon, jauhkan benda itu dariku!" ucap Clamy memohon dengan suara rendah


"Ah... aku tidak menyangka, melihat tatapan ketakutan mu membuat darahku mendidih" ucap Vano sambil tersenyum tipis.


Vano langsung memasangkannya di leher Clamy, awalnya alat itu hanya pajangan untuk menakut-nakuti para korban, namun tidak di sangka, ternyata benda itu kini berguna untuk Quirin.

__ADS_1


Alat penyiksaan ini terdiri bernama garpu bid'ah dari logam denganย  2 garpu yang bersebrangan diikatkan ke sabuk. Ujung satu sisinya ditekankan ke dagu sementara sisi lainnya ke tulang dada. Sabuk digunakan untuk mengikatkan leher Clamy dengan alatnya.


Sedangkan tangan Clamy diikat kebelakang membuat kedua sabuk itu saling berhubungan sehingga membuat Clamy tidak bisa bergerak ataupun berbicara.


"Haha ... penampilanmu sangat mengesankan" ucap Quiran sambil tertawa keras.


Clamy hanya bisa menangis, ia harus bisa menjaga keseimbangan tangan dan dagunya agar tidak tertancap garpu yang sedang terpasang di lehernya.


"Aku bersumpah akan membalaskan perbuatan kalian!" batin Clamy menatap tajam kearah Vano dengan di akhiri air mata.


Vano tidak memperdulikan tatapan Clamy, ia pergi mengambil sebuah tali dan langsung melepaskannya ke tubuh Clamy.


Mmmm


Clamy menahan mulutnya agar tidak terbuka, ia mencurahkan rasa sakitnya dengan cara menangis.


"Sakit!" teriak Clamy dalam hati.


"Haha ... aku sangat menyukai ekspresi itu, apa menurutmu ini permainan yang sangat menyenangkan Clamy?" tanya Quiran sambil tersenyum


"Wanita gila!" teriak Clamy dalam hati dengan menatap Quiran dengan tajam


"Hihi ... tentu sangat menyenangkan, aku kagum pada mu, sampai saat ini pun kau masih bisa bertahan dan masih bisa memaki ku" ucap Quirin sambil tertawa keras.


"Wanita sialan!, suatu saat aku akan merobek mulutmu itu!" teriak Clamy dalam hati


"Apa kau sudah puas?" tanya Quiran sambil melirik kearah Vano.


"Sudah nona" jawab Vano singkat lalu meletakkan tali itu pada tempatnya.


"Bagus, sekarang adalah giliran ku" gumam Quiran sambil tersenyum lebar


Sebenarnya Vano belum puas menyakiti Clamy, namun menurut Vano suara yang di keluarkan Quiran lebih menyeramkan daripada garpu yang melekat di leher Clamy.


Bersambung ...


--๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ--

__ADS_1



--๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ--


__ADS_2