Kesatria Tombak Nirwana

Kesatria Tombak Nirwana
berduka


__ADS_3

***


Di Istana Kerajaan Wu saat ini sudah banyak para pejabat yang hadir. Bahkan semua prajurit serta rakyat kota Xanhuo juga datang kesana.


Wajah mereka semua terlihat sedih, semuanya terlihat sangat berduka dan merasa kehilangan atas gugurnya seorang Panglima yang sangat baik serta tidak sombong dan selalu ramah kepada masyarakat.


Bagi penduduk kota Xanhuo, sosok Ying Lo adalah sosok Panglima muda paling baik dan ramah, Ying Lo tidak pernah merasa derajatnya paling tinggi walau dia terlahir di kalangan keluarga bangsawan serta dirinya yang memiliki jabatan paling penting di Kerajaan Wu.


Kini semua hanya tinggal kenangan karena Ying Lo saat ini sudah terbujur kaku tak bernyawa.


"Panglima Wei! Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Sie Qian.


"Hamba juga tidak mengerti Yang Mulia, kejadian ini terlalu cepat, bahkan kejadiannya tepat di depan mata saya, sedangkan saya tidak bisa berbuat apa-apa!" jawab Wei Fang.


"Aku tidak mengerti! Menurut kabar dari para prajurit, yang membunuh Panglima Ying adalah ketua utama dari Organisasi Tiga Bunga! Tapi bukankah kabarnya Ketua Utama Organisasi Tiga Bunga itu sudah lama mati karena di bunuh oleh seorang pendekar?" tanya Sie Qian.


"Itu dia yang membuat hamba juga tidak habis pikir Yang Mulia! Setahu hamba Jia Tai Yan kalah dalam pertarungan duel dengan Pendekar Lee dari perguruan Mata Naga, dia mati kerena terkena jurus Naga andalan Pendekar Lee!" kata Wei Fang.


Wei Fang juga tidak mengerti kenapa Jia Tai Yan masih hidup, bahkan kemunculannya sungguh sangat mengejutkan Wei Fang.


Jia Tai Yan muncul dengan kemampuan baru yang lebih tinggi, menurut nya semenjak munculnya Tian Feng yang memiliki kemampuan melebihi Pendekar Cahaya Tahap 3, sejak itu juga mulai bermunculan kekuatan tinggi lainnya.


Sekarang seorang Pendekar Cahaya Tahap 3 seolah-olah sudah tidak lagi menjadi Pendekar tertinggi di Kerajaan Wu.


Belum lagi kemunculan Organisasi Bintang Hitam yang konon memiliki kemampuan yang tidak masuk akal, walau Wei Fang hanya mendengar ceritanya saja, kini semuanya sudah terbukti jika para Pengawal Organisasi Bintang Hitam memang memiliki kemampuan tersebut.


"Panglima! Segera persiapkan pemakaman serta penghormatan kepada Panglima Ying, untuk tiga hari dari sekarang seluruh aktifitas yang berhubungan dengan kerajaan aku hentikan dulu demi menghormati Panglima Ying!" kata Sie Qian karena sudah menjadi tradisi di Kerajaan Wu jika ada yang meninggal maka selama tiga hari akan berkabung dan semua aktivitas akan dihentikan.


Di Istana ada pemakaman khusus untuk para pejabatnya yang di juluki sebagai Pahlawan, bagi pejabat atau prajurit serta rakyat yang meninggal karena mengorbankan diri demi kerajaan, maka ada pemakaman khusus untuk mereka.


Ying Lo akan disederajatkan dengan para petinggi Kerajaan, itu artinya Ying Lo mendapatkan gelar pahlawan dan akan di buatkan patung yang sama besarnya dengan Ying Lo untuk bisa mengenang sosok seorang pahlawan.


Ada Tiga tempat makam di kota Xanhuo, yang pertama adalah makam bagi para keluarga Raja, yang ke-2 makam bagi para pejabat serta Pahlawan, dan yang terakhir adalah makam bagi para Rakyat.


Jasad Ying Lo dimasukkan kedalam peti khusus, setelah tertutup banyak bunga yang mulai diletakan diatasnya. Zirah serta pedangnya juga akan di makamkan bersama Ying Lo.


Yuan Xia dan semua keluarganya juga hadir disana termasuk Yuan Jiu yang saat ini berdiri bersama Chie Xie.

__ADS_1


"Kakek! Kenapa Tian gege tidak pulang? Padahal kemarin dia pergi bersama Panglima Wei dan Panglima Ying?" tanya Chie Xie.


"Benarkah? Jika Tian memang pergi bersama mereka, seharusnya dia juga ikut pulang bukan?" kata Yuan Jiu yang baru tahu jika Tian juga ikut pergi dengan Wei Fang, namun sekarang Tian Feng justru tidak terlihat.


Yuan Jiu menoleh kearah Lie Yie yang terlihat seperti kebingungan juga, Lie Yie menoleh kesana-kemari mencari keberadaan Tian Feng.


"Xie'er tunggu disini saja! Jangan kemana-mana karena kakek akan bertanya kepada salah satu prajurit tentang keberadaan kakak mu!" kata Yuan Jiu.


Chie Xie mengangguk kemudian Yuan Jiu pergi mencari para prajurit yang ikut pergi bersama Wei Fang.


Yuan Jiu bertanya terlebih dahulu kepada para prajurit terdekat, dia menanyakan dimana prajurit yang ikut bersama rombongan Wei Fang.


Prajurit tersebut membawa Yuan Jiu menemui salah satu prajurit yang ikut dengan Wei Fang.


"Ada apa Tuan? Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya prajurit tersebut saat rekannya memberitahukan jika Yuan Jiu ingin berbicara padanya.


"Apakah benar cucuku Tian ikut pergi bersama kalian?" tanya Yuan Jiu.


"Maksud Tuan apakah Pendekar Dewa Sesat? Iya dia ikut pergi bersama kami, namun saya tidak tahu kenapa dia meminta Panglima Wei untuk pulang sedangkan dia memilih bertarung dengan Pendekar tua yang sudah membunuh Panglima Ying," jawab Prajurit tersebut.


"Jadi kalian meninggalkan cucuku sendirian dan bertarung dengan Pendekar yang sudah membunuh Panglima Ying?" Yuan Jiu terkejut mendengarnya.


Namun Wei Fang lupa memberitahukan pesan tersebut kepada para pasukannya sehingga prajurit tersebut menjawab dengan jujur kepada Yuan Jiu.


"Untuk lebih jelasnya, Tuan bisa bertanya langsung kepada Panglima Wei," kata prajurit tersebut.


Yuan Jiu menoleh kearah Wei Fang yang berkumpul bersama para pejabat lainnya sekaligus sibuk membantu para pengurus pemakaman Ying Lo.


Yuan Jiu kembali kepada Chie Xie, "Bagiamana, apakah kakek sudah tahu dimana Tian gege berada?" tanya Chie Xie.


"Belum Xie'er, tapi kamu tenang saja, nanti aku akan menanyakannya kepada Panglima Wei!" jawab Yuan Jiu.


Mereka semua menunggu pemakannya Ying Lo selesai, dan kemungkinan selesai siang hari.


Pemakaman Ying Lo sangat ramai karena banyaknya orang yang ikut menghadiri pemakaman Ying Lo.


Semua para prajurit juga berbaris rapi dengan senjata perang yang lengkap untuk mengantarkan Ying Lo di peristirahatannya yang terakhir.

__ADS_1


"Nyonya Ying! Maafkan saya, Panglima Ying meninggal karena saya!" kata Wei Fang kepada istri Ying Lo yang duduk di depan nisan Ying Lo yang baru dipasang.


Istri Ying Lo hanya menggelengkan kepala dan berbicara kepada Wei Fang dengan nada serak, "Panglima tidak perlu meminta maaf, sejak suami saya diangkat menjadi seorang panglima, kami sudah tahu konsekuensinya, lagi pula suamiku gugur demi Kerajaan, seharusnya saya bangga memiliki suami yang gugur secara terhormat!" jawabnya dengan bibir bergetar karena masih tidak sanggup menahan kesedihannya.


Ying Lo memiliki dua anak, yang satu seorang gadis berumur 16 tahun bernama Ying Siu Shin, dan yang kedua seorang putra berumur tujuh tahun bernama Ying Fang.


Saat hari sudah siang, semua orang sudah kembali kerumah masing-masing, sedangkan keluarga Ying Lo kembali kerumah mereka karena setelah pemakaman akan banyak orang yang datang untuk mengucapkan belasungkawa kepada keluarga Ying Lo.


Seperti yang sudah Tuan Jiu katakan kepada Chie Xie, setelah pemakaman tersebut, dia langsung pergi kerumah Wei Fang yang terlihat akan pergi ke rumah Ying Lo.


"Panglima Wei, maaf jika saya mengganggu disaat-saat begini!" kata Yuan Jiu.


"Tuan Yuan Jiu! Sebenarnya saya yang minta maaf karena belum sempat mengunjungi keluarga Yuan!" Wei Fang juga menyapanya.


"Tidak apa-apa Panglima! Sebenarnya kedatangan saya kesini bertanya tentang Tian yang ikut bersama Panglima! Kata prajurit tadi pagi Tian ditinggal sendiri dan melawan Pendekar yang membunuh Panglima Ying seorang diri?" tanya Yuan Jiu.


Wei Fang terkejut mendengar perkataan Yuan Jiu, dia sendiri lupa untuk memberitahu para prajuritnya untuk tidak menyembunyikan rahasia Tian Feng karena itu adalah permintaan Tian Feng.


"Benar sekali Tuan Yuan, namun saat itu pendekar yang membunuh Panglima Ying sudah lemah karena Tian Feng jauh lebih unggul, dia berpesan agar kalian tidak perlu khawatir karena hari ini dia akan pergi ke Kerajaan Jiu!" kata Wei Fang.


"Apakah sebelumnya Tian sudah memberitahu hal ini kepada ayah dan ibunya?" tanya Yuan Jiu, dia khawatir Lie Yie akan syok saat tahu Tian Feng akan pergi lagi, apalagi perjalanan sangat jauh sekali.


"Mereka sudah tahu karena kemarin Tuan dan Nyonya Yuan melihat sendiri surat pengantar dari Ratu Sie untuk Tian! Jadi anda cukup menyampaikan pesan ini kepada Tuan dan Nyonya Yuan dirumah karena hari ini saya tidak sempat kesana!" kata Wei Fang.


"Baiklah kalau begitu Panglima, terima kasih atas informasinya dan maaf sudah mengganggu Panglima! Saya permisi dulu karena harus menyampaikan kabar ini kepada anak dan cucuku!"


Wei Fang mengangguk kemudian Yuan Jiu pergi kerumah Yuan Xia untuk menyampaikan semuanya kepada Yuan Xia serta Lie Yie dan Chie Xie agar mereka tidak khawatir lagi.


Wei Fang segera pergi menuju ke rumah Ying Lo dan saat hampir tiba, dia melihat rombongan Hiroshi yang menuju kerumah Ying Lo.


"Panglima Wei, maaf saya terlambat datang dan tidak sempat ikut menghadiri pemakaman Panglima Ying!" kata Hiroshi.


"Tidak apa-apa Tuan Hiroshi, mari kita masuk kedalam!" kata Wei Fang kemudian mereka masuk kedalam.


Wei Fang mengambil tiga dupa kemudian dia memberikan hormat di papan nama yang berdiri di altar dan nama Ying Lo tertulis di papan merah tersebut serta ada taburan bunga dan juga lilin disampingnya.


Hiroshi juga ikut kemudian dia bersujud tiga kali sebagai tanda penghormatan kepada mendiang Ying Lo, setelah itu mereka berusaha memberikan tanda hormat serta belasungkawa kepada keluarga Ying Lo setelah itu mereka menuju ke tempat duduk yang sudah disediakan.

__ADS_1


Banyak pejabat yang datang termasuk Sie Qian dan putranya, setelah cukup lama keluarga seluruh keluarga Yuan juga datang untuk mengucapkan duka mereka kepada anggota keluarga Ying.


Rasa berduka membuat mereka hanya bisa terdiam sambil mengenang masa-masa saat Ying Lo masih hidup bersama mereka, hanya kenangan yang tersisa namun semua kenangan itu akan tetap melekat di hati mereka semua.


__ADS_2