
Naomi sejak tadi berusaha ingin mengetahui keberadaan Chie Xie yang kemungkinan berada didaerahnya baru teringat sesuatu saat melihat kebersamaan Katashi dan Katsuyuki.
"Tuan Katashi! Ada hal penting yang ingin aku sampaikan kepada Tuan!" kata Naomi.
"Hal penting apa itu Naomi-sama?" tanya Katashi penasaran.
"Ini mengenai Suku Mori, suku Tuan sendiri," jawab Naomi yang merasa sedikit tidak enak untuk menyampaikannya.
Memang seharusnya Katashi harus mengetahui akan apa yang sudah terjadi terhadap Sukunya.
"Mengenai Suku Mori? Memang ada apa? Apakah mereka sempat menyerang Klan Tsuki?" tanya Katashi.
Katsuyuki menggandeng tangan Katashi kemudian dia juga ikut mendengarkan akan apa yang akan Naomi sampaikan.
"Suku Tuan sekarang sudah tidak ada! Sekitar Lima hari yang lalu, Tian-kun berhasil menangkap salah satu Shinobi dari Suku Mori yang memimpin penyerangan atas perintah Daimo, dari Shinobi tersebut Tian-kun meminta informasi serta Desa persembunyian Suku Mori! Setelah mengetahuinya dia pergi kesana dan melenyapkan seluruh Suku Mori," kata Naomi yang menyelesaikan ceritanya.
Naomi mengira Katashi akan syok mendengar kabar tersebut, namun ternyata dia hanya menghela nafas panjang sekaligus menatap lurus ke luar.
"Ternyata Tuan Muda Tian benar-benar melaksanakan janjinya, sejujurnya sudah lama aku keluar sari Suku Mori, namun aku juga sadar diri jika sebenarnya aku ini adalah salah satu dari Suku Mori yang dilahirkan serta di besarkan disana, mungkin ini sudah takdir serta hukuman atas dosa-dosa yang sudah di lakukan oleh Suku Mori."
Katashi menatap mata Katsuyuki kemudian dia mengangkat kedua telapak tangan kekasihnya tersebut, "Sekarang hanya aku satu-satunya Keluarga Mori yang tersisa, dan kini aku akan berniat pergi ke Suku Kusa untuk melamarmu, namun setelah Nona Muda Chie Xie sudah ditemukan!" kata Katashi.
Katsuyuki tersenyum haru kemudian dia memeluk Katashi dengan penuh kasih sayang, "Aku akan selalu setia mendampingimu Katashi-kun, mulai sekarang aku tidak akan membiarkanmu merasakan kesendirian, aku akan terus berada disampingmu hingga nanti ajal yang memisahkan kita berdua," kata Katsuyuki.
Katashi membalas pelukan Katsuyuki, mereka berdua yang sedang hanyut dalam asmara lupa jika Naomi masih bersama dengan mereka.
Naomi sendiri hanya bisa tersenyum tipis dan juga merasa iri melihat mereka berdua yang sama-sama saling mencintai sedang mengikrarkan janji kesetiaan mereka masing-masing.
Naomi sampai membayangkan jika seandainya yang ada dihadapannya itu adalah dirinya dengan Tian Feng yang juga mengucapkan janji yang sama, Naomi pasti akan merasa menjadi wanita yang paling bahagia andai itu benar-benar terjadi.
Lamunan bayangan Naomi terpecahkan saat melihat Katashi dan Katsuyuki hampir berciuman bibir, hal itu membuat Naomi merasa malu sendiri untuk melihatnya dan segera menutup matanya dengan telapak tangannya sekaligus menegur mereka.
"Hai apa kalian sudah kehilangan akal? Kalian lupa jika kalian tidak hanya berdua saja disini!" kata Naomi.
Katashi dan Katsuyuki sama-sama tersadar dan segera melepaskan pelukannya, "Ma..Maaf kan kami Naomi-sama, kami benar-benar lupa..!" kata Katsuyuki yang merasa malu.
"Dasar kalian berdua! Berpelukan sih boleh-boleh saja, asal lihat-lihat juga tempatnya, kalian pikir dunia ini hanya milik kalian berdua saja?" kata Naomi seraya bertanya.
__ADS_1
"Memang seperti itu rasanya Naomi-sama! Tadi kami merasa dunia ini hanya milik kami berdua saja!" jawab Katsuyuki.
"Milik kalian berdua, lalu aku? Apakah aku hanya numpang?"
Katsuyuki dan Katashi saling berpandangan dan kemudian sama-sama tertawa kecil sekaligus berkata, "Suatu saat nanti kamu pasti akan merasakannya juga!" ucap Katsuyuki.
Naomi yang sedikit kesal langsung memotong arah pembicaraan mereka yang semakin ngelantur, "Sebaiknya kita kembali fokus saja kepada Xie-san, bagaimana cara kita bisa menemukan keberadaannya?"
Katashi kembali terlihat gelisah, sesaat dia sudah merasa senang karena akhirnya tidak akan ada lagi yang menentang hubungan dirinya dengan Katsuyuki walau masih belum tahu akan seperti apa reaksi Suku Kusa nantinya.
Sekarang dia kembali gelisah saat teringat kembali akan Chie Xie, dia sendiri juga tidak tahu harus cara menemukan keberadaan Chie Xie.
"Begini saja, nanti setelah Saichi datang, aku akan menyuruhnya untuk membantu kalian mencari Xie-san.
Katashi dan Katsuyuki merasa lega karena akhirnya Naomi mau membantu mereka, namun masalahnya mereka tidak tahu kapan Saichi akan pulang.
Sebelum Katashi tiba di rumah Naomi, Saichi sudah lebih dulu pergi bersama para Prajurit Syogun ke kediaman Klan Iga atau Daimo.
Saichi sudah menjelaskan semuanya kepada Daimyo jika Daimo sudah semenah-menah dan ingin menghancurkan Klan Tsuki, hal itu jelas membuat Daimyo marah dan mengutus beberapa Kesatria terhebat untuk pergi bersama Saichi guna menarik kembali Jabatan Klan Iga sebagai pejabat wilayah.
***
Disebuah ruangan gelap yang hanya diterangi oleh beberapa obor, ada 19 sosok manusia sedang berdiri mengelilingi gambar bulat di lantai.
Mereka semua adalah ke-dua puluh Pengawal Bintang Hitam, namun karena sudah gugur satu kini tersisa sembilan belas saja.
"Kalian semua pasti sudah tahu akan siapa yang sudah memadamkan api ke 17 bukan? Aku ingin tahu siapa dia dan seperti apa dia?" tanya Seorang wanita bersuara lembut dan halus, dia tidak lain adalah Alice.
Walau wajah Alice tidak bisa dilihat karena ditutup dengan menggunakan kain hitam, namun Kwe Shin merasa Alice sedang menatapnya.
"Pimpinan, sebenarnya aku juga tidak tahu karena aku berhadapan dengannya hanya sesaat saja, namun jika didengar dari suaranya, dia masih sangat muda sekali, mungkin umurnya belum genap 20 tahun," jawab Kwe Shin.
"Yang dikatakan oleh Kwe Shin memang benar Pimpinan, aku sudah sempat bertarung dan mengadu ilmu dengannya, dan dari pertukaran serangan, dia ternyata memiliki kemampuan yang lebih tinggi!" kata Raneb yang membenarkan perkataan Kwe Shin.
Alice tersenyum tipis di balik penutup wajahnya, kini dia memang harus turun tangan sendiri untuk mengurusi si Pendekar Dewa Sesat yang sudah membunuh Kai Jhin, karena sebelumnya dia sudah mengatur rencana untuk memperdaya Tian Feng dan akan membuat Tian Feng luluh, apalagi Tian Feng dikabarkan masih muda.
"Jika memang dia sekuat itu, kira-kira sebesar apa kemampuan yang ia miliki?" Alice ingin memastikan dan juga ingin mengetahui banyak informasi tentang Tian Feng.
__ADS_1
"Saat itu dia memiliki kemampuan yang setara dengan Kai Jhin, mungkin masih bisa lebih dan dia belum mengeluarkan seluruh kemampuannya," jawab Raneb.
Seorang pria paruh baya bertelanjang dada dan memiliki tubuh yang sama besarnya dengan Raneb tiba-tiba saja tertawa mendengar penjelasan Raneb.
"Kenapa kamu tertawa Hedelles? Apakah ada yang lucu?" tanya Raneb sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Hahaha.. Raneb-Raneb! Kemampuan mu itu yang sangat rendah sehingga merasa semua orang yang memiliki kemampuan sedikit diatas mu kamu anggap lebih kuat dari Kai Jhin, apakah jika dia berhadapan dengan ku dia tidak akan mampu aku kalahkan?"
Raneb hanya tersenyum pahit, dia akui jika Hedelles memiliki kemampuan yang jauh di atasnya, saat ini Hedelles berada di urutan ke Ke-dua belas terkuat, namun tidak hanya Hedelles yang terkuat dari Yamuru, melainkan masih ada satu wanita lagi yang menempati urutan ke 10, namanya adalah Qeyzya.
Qeyzya memiliki kemampuan mengendalikan tiga unsur elemen, yaitu Pasir, Angin, dan Petir, sedangkan Hedelles memilki kemampuan mengendalikan dua unsur elemen yaitu Pasir, dan Air, namun ada satu kelebihan lagi, yaitu kekuatan fisik yang melebihi Raneb.
Qeyzya terlihat tidak terlalu peduli dengan obrolan mereka sebelum akhirnya suara seorang dari Foiberia juga ikut tertawa.
"Hahaha..! Kalian berdua sungguh sangat konyol sekali, memperdebatkan seseorang yang kami saja masih belum pernah melihatnya, jangan dulu menilai tinggi seseorang jika kenyataan yang kalian takutkan itu tidak sekuat seperti yang kalian pikirkan!"
"Berhenti meremehkan orang Armando! Kamu belum tahu jika sebenarnya Nama Pendekar Dewa Sesat ini sudah lama ada, bahkan Dewa Junjungan kita saja sangat Khawatir saat namanya disebut, jadi sebaiknya kamu harus lebih berhati-hati!" kata Alice.
"Pimpinan, selama ini tidak ada orang yang mampu bertahan dari serangan ledakan yang aku buat, bahkan Dusten saja tidak akan mampu menahan ledakan dari hasil karya Seni yang aku ciptakan!" jawab Armando.
Armando adalah seorang pecinta seni, namun karya yang ia buat lebih mengarah ke karya yang bisa meledak, semakin besar ledakannya maka akan semakin bangga dirinya.
Armando sendiri menduduki posisi ke 7, sedangkan Dusten juga berasal dari Foiberia, dan kemampuannya adalah bisa mengendalikan pikiran orang lain dengan pikirannya sendiri, dan Dusten berada di posisi ke 6.
Berkumpulnya semua Pengawal Organisasi Bintang Hitam sebenarnya berada di bawah sebuah restoran besar di Kerajaan Jiu, tepatnya di ruang bawah tanah.
Ruangan tersebut adalah Markas ke-dua untuk melakukan pertemuan seluruh Pengawal Organisasi Bintang Hitam, namun tidak ada satu orangpun yang mengetahui tempat tersebut.
"Sudah diam semuanya!" kata Alice sehingga membuat mereka semua terdiam.
"Aku meminta kalian semau untuk berkumpul di sini bukan untuk membicarakan hal yang tidak penting! Ingat jika sekarang Organisasi kita ini sudah tidak setenang dulu dimana waktu masih di pegang oleh kakekku, dan sekarang dengarkan aku baik-baik."
Alice segera menjelaskan rencana yang sudah di sepakati oleh Kakeknya untuk menggoda Tian Feng agar nanti Tian Feng masuk kedalam jebakan Alice.
Karena itu Alice meminta bantuan semua Pengawal untuk bekerja sama untuk mengelabui Tian Feng, dan itu sudah akhir keputusan Alice.
Jelas semuanya terkejut mendengarnya, menurut mereka jika Kakeknya Alice saja juga ikut turun tangan, itu berarti pendekar yang dijuluki Si Pendekar Dewa Sesat itu benar-benar sebuah ancaman besar bagi Organisasi Bintang Hitam.
__ADS_1