
Yin Sie sama sekali tidak mengerti maksud dari perkataan Lio Long kemudian bertanya padanya, "Galaxi lain? Maksud anda apakah Kerajaan lain?" tanya Yin Sie.
"Bukan-bukan..! Galaxi lain berada di Alam semesta, yaitu di antara ruang angkasa di sana!" jawab Lio Long sekaligus menunjuk kearah langit malam.
Yin Sie juga menoleh ke langit malam namun dia masih belum memahaminya, semakin Lio Long memberikan penjelasan, semakin sulit bagi Yin Sie untuk memahaminya.
"Iya sudahlah lupakan saja obrolan kita barusan atau anggap saja aku ini berasal dari Kerajaan lain!" kata Lio Long kemudian dia menatap Zhi Yei Fai yang masih belum sadar.
"Aku mengerti konflik kalian, namun aku juga tidak bisa membantu lebih jauh dan ikut campur urusan perebutan Tahta Kerajaan! Aku hanya akan membantu melatih anakmu, karena aku melihat potensi anakmu yang tersembunyi!" kata Lio Long.
"Be.. benarkah? Apakah anda ingin menjadi Guru beladiri untuk putraku?" tanya Yin Sie.
"Emm!" Lio Long mengangguk kemudian dia mengeluarkan sebuah botol kecil, "Di duniaku setiap orang memiliki bakat dan kelebihan masing-masing, namun untuk bisa membuka potensi dan bakatnya di butuhkan beberapa Obat dan tanaman ajaib dari dunia kami agar bakat seseorang bisa keluar di tambah lagi dengan latihan keras serta meningkatkan Kultivasi agar bisa mencapai tingkat tertinggi!"
Lio Long menyerahkan botol kecil tersebut kepada Yin Sie, dan Yin Sie yang sama sekali tidak mengerti menerima botol kecil tersebut.
"Simpanlah botol ini, di dalamnya ada lima butir Pil Ding Qi! Nanti saat aku sudah selesai melatih putramu dan dia sudah memiliki kemampuan puncak Kultivasi Dao Xin tingkat 1, dia bisa mengkonsumsi pil ini agar bisa dengan cepat naik ketahap Dao Xin tingkat 3," kata Lio Long.
Yin Sie yang sama sekali tidak mengerti maksudnya tetap menurut dan menyimpan botol tersebut secara hati-hati.
"Pil itu hanya ada itu saja, jadi jangan sampai kamu menghilangkan nya, karena untuk membuat Pil Ding Qi itu tidak mudah serta bahannya juga sangat sulit untuk didapat bahkan di dunia ku sekalipun!" kata Lio Long.
"Ah kalau begitu anda saja yang menyimpannya!" Yin Sie berniat mengembalikan botol pil tersebut karena dia merasa Pil tersebut sangat berharga.
"Aku tidak bisa sebab aku ini seringkali lupa saat diriku sudah fokus terhadap tujuan lain! Lebih baik kamu saja yang menyimpannya!" kata Lio Long.
Yin Sie menyimpan botol Pil Ding Qi tersebut di dalam kantong kain kemudian mengikat kantong kemudian menyimpannya di dalam pakaiannya agar tidak hilang.
Sebenarnya Lio Long memang sengaja datang ke dunia tersebut karena dia sempat merasakan keberadaan energi teman lamanya yaitu Ho Chen.
Lio Long sendiri sedang menjelajahi beberapa Galaxi dan salah satunya Galaxi Cincin bintang dimana disana ada salah satu manusia Dewa, namun saat tiba disana ternyata Manusia Dewa yang dulu pernah jadi muridnya sudah pergi setelah menyerap energi istrinya.
Beruntungnya istrinya tidak meninggalkan karena bagaimanapun juga Istrinya adalah seorang Dewi.
Sang Istri meminta kepada Lio Long untuk membantu sahabatnya mencari suaminya sekaligus menyadarkannya kembali, karena suaminya sudah di kendalikan oleh Energi Kegelapan.
Lio Long tidak yakin akan mampu melakukannya, namun saat dalam pencariannya dia merasakan energi Keberadaan Ho Chen.
Dia tidak akan pernah lupa dengan energi milik Ho Chen, dan dia yakin jika Ho Chen tahu pasti dia akan membantu mencari keberadaan teman lamanya yang menghilang.
Mengingat semua itu, Lio Long seperti ingin memutar waktu agar bisa merubah masa lalu, namun semuanya sudah terlanjur terjadi sehingga Lio Long hanya bisa menyayangkan semua itu.
"Mulai besok aku akan melatih putramu ini, jadi malam ini Nyonya istirahat saja dulu!" kata Lio Long.
Karena hari sudah larut malam, Yin Sie pun akhirnya beristirahat dan berbaring di samping Zhi Yei Fai yang belum sadarkan diri, sedangkan Lio Long diam-diam membuat tubuh bayangan dan tubuh bayangan tersebut pergi menuju ke arah energi milik Ho Chen yang terasa berada di dunia yang sama.
***
Pagi hari di hutan sabana yang luas seharusnya menjadi pagi yang damai oleh kicauan burung dan segarnya udara , namun kini menjadi tegang saat dua kubu pasukan yang jumlahnya ribuan sedang berbaris di kubu masing-masing.
Berbagai jenis senjata mulai dari Pedang, Tombak, Panah, Golok, Senapan, Meriam dan tameng juga sudah disiapkan di masing-masing pihak.
__ADS_1
Yang lebih mencolok adalah para Pasukan yang menunggangi Gajah besar dengan Gadingnya yang panjang dan juga di punggung gajah ada lima prajurit yang memegang Busur panah serta senapan.
"Panglima Wei! Bantuan dari Organisasi Pengemis sudah tiba!" kata salah satu Panglima.
"Bagus! Kalau begitu suruh mereka berjaga di arah barat!" kata Wei Fang.
Panglima tersebut bergegas pergi dan setelah kepergian panglima itu Bai Ling Ling menghampiri Wei Fang.
"Gajah-gajah itu sepertinya bukan gajah biasa seperti yang dulu! Apakah kamu merasakannya?"
Wei Fang mengangguk, dia juga merasa jika pasukan gajah itu berbeda dari yang ia ketahui, bukan hanya ukurannya yang besar, bahkan kulitnya juga terlihat sangat tebal dan mungkin panah dan tombak serta pedang tidak akan bisa menembusnya.
"Sebaiknya para Pendekar mengatasi Pasukan Gajah itu saja nanti!" kata Wei Fang.
Wei Fang tidak menjamin jika para Prajuritnya yang harus berhadapan dengan para Pasukan Gajah tersebut, jadi yang pantas untuk melumpuhkan gajah hanya para Pendekar yang memiliki kemampuan paling lemah di Tingkat Atas hingga Cahaya.
"Serahkan saja para pasukan gajah itu pada kami Dewa Perang! Anda cukup mengarahkan para prajurit untuk menyerang yang pasukan yang lainnya saja," kata Li Xiang Fai.
Seluruh Pendekar dari Organisasi Jalan Kebenaran sudah ikut berkumpul di sana, mulai dari para Ketua perguruan hingga anggota yang berasal dari luar perguruan.
"Baik aku serahkan para Pasukan Gajah itu kepada kalian!" kata Wei Fang kemudian dia maju sendirian kearah pasukan musuh.
Tidak ada yang berani menyerang Wei Fang yang mulai datang kearah mereka, walau hanya sendirian, namun semua pasukan musuh tetap mengikuti aturan.
Salah satu Panglima musuh yang Wei Fang kenal juga maju kedepan dengan menaiki kuda masing-masing, setelah saling berhadapan mereka berdua saling bertatap mata untuk beberapa saat sebelum akhirnya Panglima dari Xiandong mulai angkat bicara.
"Panglima Dewa Perang! Sebelum perang ini pecah, sebaiknya kalian menyerah saja lebih dulu karena perang ini tidak akan bisa kalian menangkan!" ucapnya.
Panglima Singa Gurun bernama Dokhan, dia adalah pengganti Panglima Daidai yang dijuluki Raja Golok Naga yang sudah tiada.
Umur Dokhan sendiri berada jauh di bawah Wei Fang, namun dia terlihat lebih tua dari Wei Fang dan terlihat seperti berumur 50 tahunan.
"Hahaha.. ternyata kamu tidak pernah berubah! Baiklah aku harap kamu tidak akan menyesali keputusan mu ini untuk tetap bertempur melawan pasukan Xiandong!" kata Dokhan.
"Kalian yang datang kesini dengan mengangkat Pedang, dan kami sebagai Tuan Rumah akan menyambut kalian dengan Pedang juga!" jawab Wei Fang.
"Baik jika demikian! Dengan ini Perang ini kita mulai!" kata Dokhan kemudian dia berbalik kembali ke para pasukannya begitu juga dengan Wei Fang.
Kedua pasukan sama-sama mempersiapkan diri menunggu perintah dari Panglima tertinggi mereka untuk maju menyerang.
Waktu serasa seperti berhenti dan keringat masing-masing mulai terlihat di setiap kening para Prajurit.
Suara pukulan genderang perang dari kedua kubu terdengar mengisi udara di tengah-tengah hutan sabana.
Kedua pasukan dari masing-masing kubu yang sudah menggenggam senjata mereka masing-masing dengan erat segera berteriak setelah Panglima tertinggi mereka mengarahkan senjata mereka kedepan.
"Serang....!!!"
"Serang....!!!"
Kedua pasukan segera berteriak dan maju dengan senjata masing-masing, tidak lama setelah itu suara ledakan meriam dari kedua belah pihak juga terdengar dan saling menembaki pasukan musuh mereka masing-masing.
__ADS_1
Suara teriakan ratusan gajah besar juga terdengar mengerikan, dan kedua pasukan kini mulai bertemu dan beradu pedang.
Pagi yang seharusnya segar kini langsung bau amis darah, dan masing-masing prajurit mulai menebas lawan mereka serta bertahan.
Suara ledakan senapan api juga terdengar seperti suara Guntur di pagi hari, serta pasukan Gajah juga mulai menyerang para prajurit Wutong.
Tidak hanya panah serta senapan yang di lepaskan oleh para penunggang Gajah, bahkan Gajah merekapun juga ikut menyerang dengan menggunakan belalai, gading serta kaki mereka yang menginjak-injak para Prajurit yang langsung mati saat diinjak oleh kaki Gajah yang sangat besar dan berat itu.
Seperti yang diperkirakan oleh Wei Fang, kulit gajah tersebut begitu tebal membuat pedang, panah tombak dan senapan pun tidak berhasil menembusnya.
"Jurus Tarian Menebar Salju."
Bai Ling Ling melompat dengan ilmu meringankan tubuhnya dan menyerang salah satu gajah yang sedang di kepung oleh para prajurit Wutong.
Bai Ling Ling dengan tongkatnya yang sudah dialiri Chi memberikan beberapa tusukan ujung tongkatnya ke kulit gajah.
Biasanya serangan itu akan mampu melumpuhkan lawannya jika terkena jurus tersebut, namun saat serangan beberapa tusukan itu menyentuh kulit gajah, hanya ada beberapa bulatan beku saja yang terlihat di kulit gajah tersebut.
Bai Ling Ling mulai di tembaki dari atas, namun karena Bai Ling Ling adalah Pendekar yang berada di Tingkat Cahaya Tahap 3, serangan tembakan itu sama sekali tidak bisa melukainya.
Gajah itu segera menyerang Bai Ling Ling dengan belalainya dan berusaha menangkap Bai Ling Ling, namun kecepatan gajah sangat lambat sehingga gajah tersebut sangat kesulitan untuk mengejar dan menangkap Bai Ling Ling yang memiliki ilmu meringankan tubuh yang sangat tinggi.
Secara perlahan tapi pasti, kulit gajah yang mulai membeku kini mulai menyebar, karena kulitnya yang tebal, membutuhkan waktu bagi serangan Bai Ling Ling untuk menembus kulitnya.
Akan tetapi gajah tersebut terlalu kuat dan juga mampu menahan dingin yang mulai menembus kulitnya.
Tidak hanya Bai Ling Ling sendiri saja yang berhadapan dengan gajah kuat tersebut, hampir seluruh Pendekar juga menghadapi gajah-gajah yang lain, namun mereka cukup kesulitan untuk bisa melumpuhkan gajah tersebut.
"Sihir Naga Es."
"Teknik Raja Api - Membakar Jiwa."
Langit tiba-tiba menjadi berawan dan hawa juga menjadi lebih dingin untuk sesaat sebelum akhirnya berubah menjadi panas.
Semua para Pendekar yang menghadapi gajah tersebut kaget saat melihat seekor Naga Es yang besar meraung keras dan muncul dari balik awan.
Tidak hanya Naga Es itu saja yang mengejutkan mereka, bahkan ada sosok lain yang turun dari langit dengan tubuh seperti tertutupi api, namun api itu berwarna biru dan juga sangat panas.
Sosok yang di selimuti Api biru itu adalah Naomi, dia segera turun untuk membantu ayahnya yang dibantu oleh para Shinobi dan ronin melawan salah satu gajah.
Naomi segera mendarat tepat di para penunggang Gajah tersebut kemudian gajah tersebut berteriak keras karena kulitnya terbakar dan para penunggangnya melompat dengan tubuh terbakar.
Gajah yang panik dan berteriak kesakitan itu berlari tanpa arah dan tidak peduli jika kakinya sudah menginjak beberapa pasukan Xiandong.
Api biru segera menembus kulitnya sehingga gajah itu berteriak sekuat tenaga dan kemudian roboh di atas para pasukan yang sedang lari kocar-kacir karena takut tertindih oleh tubuh gajah itu.
Satu Gajah akhirnya berhasil di tumbangkan oleh Naomi, sedangkan Hiroshi yang belum bisa mengenali Naomi terkejut saat Api biru yang menyelimuti putrinya menghilang.
"Na..Naomi..! Ba..bagaimana kau..?" Hiroshi dan yang lainnya terkejut saat mengetahui jika sosok yang membantu mereka adalah Naomi.
Hiroshi sama sekali tidak mengetahui Kemampuan Naomi, dia hanya merasakan hawa panas saat berada di dekat putri tunggalnya itu.
__ADS_1