
***
Jenderal Dewa Perang Cao Yuan dan jenderal lainnya yang semuanya berada dalam satu barisan di udara sedang menunggu perintah dari Dewa Mata Tiga untuk menyerang.
Selain dari mereka, empat sosok agung dengan tubuh yang di tangguhkan di udara dan secara terus menerus memancarkan Aura Agung sudah bersiap untuk menyambut pasukan musuh yang sudah berada di hadapan mereka semua.
"Ini untuk kesekian kalinya Kaisar Kegelapan mengerahkan pasukannya, namun kali ini serangannya bukan ke Nirwana, apa tujuan mereka sebenarnya? Apakah mereka ingin menduduki Kahyangan juga?" tanya Raja Selatan Zeng Zhang.
"Apapun niatnya, aku tidak akan membiarkan mereka mengacak-acak kahyangan, walau Kaisar Kegelapan sekalipun yang turun tangan, sampai matipun aku akan menghalanginya!" ucap Raja Utara Duo Wen.
"Tapi aku tidak merasakan keberadaan Kaisar itu? Apakah dia akan datang saat perang sudah benar-benar pecah?" tanya Raja Barat Guang Mu.
"Entahlah! Dari mereka semua hanya ada dua sosok terkuat, itupun keduanya baru berada di tahap Setengah langkah Rana Agung, sedangkan sepuluh lainnya berada di tahap Dewa Agung, seharusnya garis besar sekuat ini akan mampu meratakan Kahyangan andai kita tidak ada!" kata Raja Timur Chi Guo.
"Iya itu memang garis besar, tapi walau kita tidak sekalipun, mereka tetap tidak akan mudah menduduki Kahyangan, sebab masih ada Kaisar Langit dan Naga Suci Kuno, dan ada dua Dewa lagi yang memiliki kekuatan Rana Agung, apakah kalian pikir ini bukan pertahanan yang juga sempurna?" Raja Barat masih ingat pertemuannya dengan Ho Chen dan Tian Feng di Laut Utara, kekuatan keduanya juga berada di tahap Rana Agung.
"Sebaiknya kita tunggu saja apa sebenarnya yang mereka inginkan, dan jika perang tetap terjadi, aku akan mengurus salah satu dari dua sosok itu, dan kalian bertiga silahkan pilih lawan kalian masing-masing!" kata Raja Selatan.
Duo Wen, Chi Guo dan Guang Mu mengangguk setelah Zeng Zhang berbicara, keempatnya menatap Dewa Mata Tiga yang saat ini sedang berbicara dengan salah satu dari pimpinan pasukan Kegelapan.
"Hai kalian para Dewa, kami datang untuk menjemput seseorang yang ada disini, jika kalian menghalangi jalan kami, maka pasukan kami akan menghancurkan Kahyangan kalian ini!" kata salah satu sosok yang memiliki kekuatan setengah langkah Rana Agung.
Dewa Mata tiga mengedutkan alisnya mendengar perkataan salah satu pemimpin kuat tersebut, dia merasa aneh saja dengan pola pikir para pasukan Kegelapan tersebut.
Seharusnya mereka semua menyadari jika kekuatan yang di miliki oleh Kahyangan jauh lebih kuat dari pada mereka, namun anehnya mereka terlihat sangat percaya diri seolah-olah merekalah yang lebih kuat.
"Apapun yang kalian ingin lakukan disini, selama yang kalian inginkan berada di Kahyangan, kami para Dewa tidak akan membiarkan itu!" kata Dewa Mata Tiga.
"Jadi kalian ingin ini berakhir dengan peperangan? Ingat, aku ini bukan seperti Pengawal Kaisar Kegelapan, jika aku sekali memutuskan untuk menyerang, tidak akan ada kata mundur sebelum salah satu dari pihak kita lenyap!" ucap sosok tersebut sekaligus mengeluarkan senjatanya yang berupa Golok Hitam.
__ADS_1
"Sesuai keinginanmu, kami selaku Tuan Rumah akan menyambut kalian semua!" jawab Dewa Mata Tiga dan dia juga mengeluarkan senjatanya yang berupa Tombak Merah.
"Bagus sekali, inilah yang sangat aku suka dari kalian para Dewa, selalu merasa yang paling hebat! Semua Pasukan Kegelapan... Hancurkan seluruh tempat ini dan bunuh semuanya!" seru sosok tersebut.
Suara teriakan semangat dari belakang kabut hitam segera terdengar seperti mahluk yang haus akan pertempuran, dan disisi lain Dewa Mata Tiga juga mengangkat tombaknya kemudian mengarahkan ujung tombaknya kepada para pasukan musuh.
"Serang...!!"
Seruan Dewa Mata Tiga segera di transmisikan ke seluruh pasukan dan semua prajurit dan Dewa sama-sama mengangkat senjata untuk memulai peperangan.
Saat akan mulai maju, tiba-tiba saja terdengar suara teriakan yang memekakkan telinga, dan asal suara tersebut berasal dari barisan tengah.
Saat para dewa Menoleh ke barisan tengah, banyak sekali prajurit yang dibantai oleh sesama prajurit yang lain, terlihat dengan jelas jika serangan tiba-tiba tersebut berasal dari pihak sendiri.
"Jangan diam saja, cepat habisi penghianat itu!" seru Dewa Mata Tiga.
Kekacauan tersebut segera di manfaatkan oleh para Pimpinan pasukan Kegelapan untuk segera menyerbu pasukan langit.
"Serang..!" seru pimpin yang memegang Golok Hitam.
Kabut hitam segera bergerak menyerupai sebuah badai yang sangat gelap mencekam, suara seruan teriakan penyerangan memenuhi setiap sudut langit sehingga siapapun merasa merinding saat mendengarnya.
Satu per satu prajurit kegelapan mulai menampakkan diri, dan sekali muncul mereka akan langsung memberikan serangan ke setiap prajurit Langit.
Pertempuran besar di Kahyangan akhirnya benar-benar pecah di tengah-tengah kekacauan yang di buat oleh para pasukan yang berkhianat,
Dewa Mata Tiga langsung mengangkat tombaknya kemudian dia maju berhadapan dengan salah satu pimpinan pasukan Kegelapan dan keduanya mulai bertarung dengan sengit.
Cao Yuan dan para jendral lainnya juga memimpin pasukannya yang tidak terlalu sibuk menghentikan para penghianat itu dengan menyambut serangan musuh yang datang, sedangkan Raja Selatan saat ini muncul di hadapan salah satu pimpinan yang memiliki kekuatan Setengah langkah Rana Agung.
__ADS_1
"Dewa berkemampuan Rana Agung, tidak kusangka kalian akan keluar dan ikut serta dalam peperangan ini, tapi apakah kamu tidak malu berhadapan dengan lawan yang memiliki kekuatan lebih rendah darimu?" kata sosok tersebut.
"Begitukah? Lalu bagaimana dengan dirimu? Andai kami tidak datang untuk membantu, siapa yang akan kamu lawan ha? Bukankah ini sama saja, dan sekarang siapa yang seharusnya merasa lebih malu, aku atau kamu?" kata Zeng Zhang kemudian dia mengulurkan kedua tangannya dan muncullah dua bilah pedang yang bentuknya hampir menyerupai golok besar.
"Karena kamu datang untuk berperang, maka kami akan menyambutnya, dan kami akan membuat kalian semua merasa betah sehingga tidak perlu ada kembali ke Kaisar Kegelapan kalian!" kata Zeng Zhang.
"Terlalu percaya diri sekali, apakah dengan kekuatan puncak Rana Agung mu akan bisa mengalahkan ku? Bahkan Kaisar Kegelapan sekalipun yang berada di Rana Ilahi tidak akan mampu melenyapkanku," kata sosok tersebut kemudian dia mengeluarkan rantai panjang lalu menyerang Zeng Zhang seraya berseru, "Terimalah seranganku ini..!"
"Kuasa Rana - Rantai Iblis Kematian."
Rantai yang di lepaskan oleh sosok tersebut mengeluarkan sebuah energi kuat kemudian langusung melesat dengan kecepatan tinggi menyerang Zeng Zhang.
Zeng Zhang segera menyambut serangan rantai tersebut dengan kedua pedang besarnya sehingga suara benturan yang mampu menciptakan gelombang perusak segera menghancurkan banyak bangunan yang berada cukup jauh dari mereka.
Dari pertukaran serangan itu, Zeng Zhang baru sadar jika kemampuan sosok memang berada di bawahnya, hanya saja keahlian sosok tersebut yang lebih rumit sehingga serangan setara dengan serangan Puncak Rana Agung.
Zeng Zhang segera memfokuskan energinya ke kedua pedangnya kemudian kedua pedang tersebut memancarkan cahaya kebiruan yang cukup terang.
"Pedang Kembar Langit - Tebasan Kehancuran."
Zeng Zhang langsung menebas rantai tersebut hingga rantai yang bisa memanjang sendiri mulai terpotong-potong.
Walau demikian tidak ada tanda-tanda takut atau panik di wajah sosok tersebut, yang ada dia justru tertawa senang kemudian kembali menyerang Zeng Zhang dengan rantainya.
Tidak hanya pertarungan Zeng Zhang saja yang terlihat sengit serta serasa ingin meruntuhkan langit, pertarungan yang lain juga tidak kalah lebih sengit dari keduanya.
Perang besar kali ini kemungkinan besar akan berlangsung cukup lama karena musuh nyatanya memiliki kemampuan yang mampu menyulitkan para Dewa, namun tidak seluruhnya karena masih ada Dewa yang sudah berhasil menumbangkan beberapa pimpinan yang memiliki kemampuan di tahap Dewa Agung, tentu saja Dewa tersebut adalah salah satu dari empat Raja Agung yang tidak memiliki lawan yang sepadan dengannya.
Di pertarungan antar prajurit yang sebelumnya sempat kacau kini sudah mulai bisa mendominasi, walau sebelumya sudah banyak rekan-rekan mereka yang gugur akibat serangan dari belakang, namun sekarang mereka sudah bisa membagi tugas, ada yang melawan para Penghianat dan ada juga yang berhadapan langsung dengan prajurit Kegelapan.
__ADS_1