Kesatria Tombak Nirwana

Kesatria Tombak Nirwana
Melepaskan mahkota


__ADS_3

Fao Guo dan Ma Xiyue sedikit heran terhadap Tian Feng, menurut kabar yang sering mereka dengar tentang Tian Feng ialah, Tian Feng yang terkenal tidak pernah berbelas kasih sama sekali terhadap lawan-lawannya, karena itu dia mendapat julukan Pendekar Dewa Sesat.


Namun saat ini sifat Tian Feng bertolak belakang dengan apa yang pernah mereka berdua dengar.


"Apa rencana Dewa Sesat sekarang?" tanya Fao Guo.


"Saat ini aku hanya ingin istirahat sejenak disini, setelah itu aku akan kembali ke Xanhuo karena disana tidak lama lagi juga akan terjadi perang besar!" jawab Tian Feng.


Awalnya Tian Feng tidak ingin membiarkan para pasukan Xiandong itu hidup, namun setelah merasakan efek samping dari penggunaan Tombak Nirwana, dia mengurungkan niatnya dan berdalih dengan mengutip perkataan Chie Xie.


Tian Feng merasakan tulang-tulang dalam dirinya seperti di tarik, rasanya persendian tulangnya mau lepas.


Tian Feng ingin memulihkan kondisinya sekaligus menanyakan hal yang dia rasakan kepada Xian setelah semuanya sudah lebih tenang.


"Kalau begitu beristirahatlah di dalam tenda, mari saya antar kesana!" ajak Ma Xiyue.


Tian Feng menggelengkan kepalanya seraya menjawab, "Tidak terima kasih, aku hanya mau mencari tempat yang lebih sunyi saja!" kata Tian Feng kemudian dia beranjak pergi ke tempat yang lebih sepi untuk bermeditasi.


"Kalian berlima, jaga Dewa Sesat saat dia bermeditasi! Jangan ada satu makhluk pun yang mengganggunya, kalian paham?" kata Fao Guo yang di sanggupi oleh lima orang prajurit.


Kelima prajurit tersebut segera pergi menyusul Tian Feng yang kini duduk di bawah pohon besar dan bermeditasi sembari memejamkan matanya.


***


"Xian sebenarnya apa maksudnya ini? Kenapa tulang-tulang ku seperti mau lepas setelah menggunakan Tombak Nirwana?" tanya Tian Feng saat sudah bermeditasi.


"Sebenarnya kekuatanmu masih belum cukup untuk menggunakan Tombak ini secara maksimal! Jangankan seluruh kekuatan Tombak, bahkan seperdua saja juga tidak bisa,' jawab Xian.


"Lalu bagaimana?" tanya lagi Tian Feng.


"Tian! Untuk bisa menggunakan seluruh kekuatan Tombak Nirwana ini, setidaknya kamu sudah harus berada di Tahap Dewa 3, jika bisa di tahap Dewa Agung, itu lebih baik, apalagi jika sampai berada di Tahap Rana Agung, itu akan lebih sempurna!" jawab Xian.


Menurut penjelasan Xian jika Tian Feng tetap memaksakan menggunakan Tombak dan berencana menggunakan kekuatan penuh dari Tombak tersebut, maka ada dua resiko yang harus Tian Feng tanggung.


Resiko yang pertama Tian Feng akan mati karena dantiannya tidak akan cukup untuk menampung dan mengendalikan kekuatan penuh Tombak Nirwana tersebut.


Tian Feng saat ini hanya boleh menggunakan kekuatan Tombak tersebut kurang dari seperdua kemampuan yang dimiliki oleh Tombak, dengan begitu Tian tidak akan merasakan efek samping apapun.


Resiko yang kedua, Tian Feng akan kehilangan sebagian besar Energinya dan bisa-bisa Tian Feng akan menjadi pendekar biasa lagi, paling tidak dia akan turun ke tingkat Atas, dan yang paling tinggi tingkat Cahaya, dan kedua resiko tersebut tidak akan ada satupun yang sanggup menghentikannya bahkan tidak oleh Xian ataupun Ho Chen.


"Intinya kamu jangan gegabah dalam menggunakan kekuatan Tombak dan jangan memaksakan menggunakan seluruh kekuatan Tombak sebelum kamu mencapai tahap Dewa 3 atau Dewa Agung!" kata Xian.


"Jadi seberapa besar kekuatan Tombak yang aku kerahkan tadi?" tanya Tian Feng agar kedepannya dia bisa mengukur seberapa besar kekuatan yang akan dia gunakan lagi.


"Hampir seperduanya! Karena itu tulang-tulangmu tidak mampu menahan saat energi petir semakin meningkat" jawab Xian.

__ADS_1


"Seperdua saja sudah hampir membuat tulang-tulangku hampir remuk," gumam Tian Feng kemudian dia melakukan pemulihan diri dengan cepat agar bisa pergi ke Kota Xanhuo.


***


Hampir seluruh pasukan pergi menuju ke hutan beserta ketiga Panglima juga sehingga tidak ada yang menjaga istana kecuali beberapa prajurit saja.


Yang ada hanya sekitar seratus prajurit yang berjaga didepan istana, namun saat ini mereka semua sedang berhadapan dengan musuh dari dalam istana itu sendiri.


Zhi Yu Zhuan yang sudah tidak sabar ingin menduduki kembali singgasana kerajaan kini datang membawa Jia Tai Yan serta dua pejabat penghianat yaitu Yong Shian dan Ma Xia Li.


Kedua Pejabat penghianat itu selama ini bersembunyi di rumah salah satu keluarga bangsawan yaitu Wong Yihao yang dulu pernah mencalonkan diri untuk menggantikan Yuan Xia di pertandingan perebutan jabatan.


Belum lagi para anggota Organisasi Tiga Bunga yang dibawa oleh Jia Tai Yan yang saat ini sedang melumpuhkan para prajurit yang sedang berjaga.


"Ma Xia Li, cepat pergi ke penjara dan bebaskan ketiga Ketua Organisasi!" kata Jia Tai Yan.


Ma Xia Li segera membawa Lima anggota Organisasi menuju ke Penjara bawah tanah, disana ada tiga prajurit yang berjaga dan memegang kunci Pintu penjara.


Jia Tai Yan bersama dengan Zhi Yu Zhuan dan Yong Shian masuk kedalam istana, dan disana Ratu Sie sedang duduk dan dijaga oleh sepuluh orang prajurit bersenjata senapan api.


"Apa maksudmu ini kakak ipar? Kenapa kamu menyerang Istana seperti ini?" tanya Ratu Sie.


"Kau jangan berpura-pura tidak tahu adik ipar! Bukankah jelas semua ini demi singgasana yang sedang kamu duduki itu," jawab Zhu Yu Zhuan dengan tersenyum menyeringai.


"Persetan dengan Wei Fang dan para sesepuh lainnya, sekarang hanya aku yang lebih pantas berada disana, jadi cepat turun!" kata Zhu Yu Zhuan.


"Maaf kakak, tapi aku tidak bisa menurutimu karena ini sudah menjadi tugasku untuk menjaga Singgasana ini hingga nanti Putraku sudah layak untuk memimpin, walau kakak membunuhku sekalipun, aku tidak akan pernah menurutimu!" kata Ratu Sie.


"Owh begitu! Aku ingin lihat apakah kamu masih sanggup berada di situ saat prajurit yang menjagamu berpaling dan berada di pihak ku!" kata Zhi Yu Zhuan kemudian dia berbicara kepada kesepuluh prajurit yang mengarahkan senapan mereka kearah Zhu Yu Zhuan dan yang lainnya.


"Kalian dengarkan baik-baik, siapa yang masih ingin hidup dan berkumpul lagi dengan keluarga kalian, bergabunglah denganku, dan jika menolak, maka kalian dan seluruh keluarga kalian akan aku bunuh!" kata Zhi Yu Zhuan.


Kesepuluh prajurit tersebut saling berpandangan, mereka bingung harus berbuat apa, namun salah satu dari mereka memberanikan diri untuk menolak.


"Aku tidak mau bergabung dan mengakuimu sebagai rajaku, lebih baik aku mati dari pada melayani mu!" kata salah satu prajurit sekaligus menarik pelatuk senapannya.


Suara ledakan keras serta percikan api dan asap keluar dari moncong senapan yang melesatkan peluru bulat dengan kecepatan tinggi kearah Zhi Yu Zhuan.


Namun Jia Tai Yan dengan tangannya menangkap peluru tersebut dengan begitu mudahnya, Jia Tai Yan melempar balik peluru tersebut hingga mengenai tepat di dahi prajurit tersebut, dan prajurit tersebut tewas seketika itu juga dengan dahi yang berlubang dan mengeluarkan darah.


"Siapa lagi yang ingin menyusulnya?" tanya Zhi Yu Zhuan.


Kesembilan prajurit kini semakin cemas, jika peluru senapan saja bisa ditangkap dengan begitu mudah dan mengembalikannya, maka jelas Jia Tai Yan bukan pendekar biasa.


Karena tidak memiliki pilihan lain mengingat mereka masih ingin bersama dengan keluarga, mereka terpaksa turun dan berdiri di samping Zhi Yu Zhuan.

__ADS_1


"Bagiamana sekarang adik ipar? Apa yang akan kamu lakukan saat semua yang berada di pihak mu berpaling darimu dan mengikutiku?" tanya Zhi Yu Zhuan.


"Aku tidak peduli! Mau apapun itu aku tidak akan turun dari singgasana ini!" jawab Ratu Sie.


"Baiklah, bagaimana jika dia aku bunuh?" tanya Zhi Yu Zhuan membuat Ratu Sie mengerutkan dahinya karena tidak tahu siapa yang Zhi Yu Zhuan maksud.


Zhi Yu Zhuan menepuk tangannya dua kali dan kemudian ada dua anggota Organisasi Tiga Bunga yang masuk membawa seorang pemuda yang di ikat.


Mata Ratu Sie melebar dan dia langsung panik saat mengetahui jika pemuda tersebut adalah Zhi Yei Fai.


"Lepaskan putraku! Dia itu adalah keponakanmu sendiri, kenapa kamu tega menjadikannya sandera? Cepat lepaskan dia!" kata Ratu Sie.


"Keponakan ku? Hahaha...! Dia memang keponakanku, namun dia juga adalah duri bagiku yang akan menjadi penghalang di jalan untuk menguasai Kerajaan ini!" kata Zhi Yu Zhuan dengan tertawa keras.


"Ibu.. tolong aku!" kata Zhi Yei Fai.


Hati Ratu Sie sangat sakit melihat putranya yang tidak berdaya dan berada di bawah ancaman pedang kedua anggota Organisasi Tiga Bunga itu.


"Keponakanku..! Aku tidak akan melukaimu, bagiamanapun juga aku ini adalah pamanmu yang sangat menyayangi dirimu, namun semua bisa berubah jika ibumu menolak untuk turun dari singgasananya! Jadi semua keputusan berada di tangan ibumu, jika dia sayang dan ingin menolong mu, maka dia pasti akan turun dan menyelamatkanmu!" kata Zhi Yu Zhuan dengan mengelus rambut Zhi Yei Fai yang terlihat ketakutan.


Ratu Sie menggenggam tangannya erat-erat, dia menyesal karena tidak mencarikan putranya seorang guru yang bisa melatihnya ilmu beladiri agar nanti dia bisa melindungi dirinya saat ada bahaya.


Ratu Sie justru mengajarkan Zhi Yei Fai tentang dunia politik dan memasukkannya kesebuah rumah pendidikan untuk para calon pejabat dan pemimpin.


Ratu Sie menggigit bibirnya hingga darah segar mengalir dari luka di bibirnya, dengan memikirkan banyak pertimbangan, akhirnya Ratu Sie melepaskan mahkota yang ada di kepalanya..


"Ambillah Singgasana ini, tapi lepaskan putraku!" kata Ratu Sie.


"Ibu...!"


Zhi Yei Fai merasa bersalah saat melihat ibunya melepas mahkotanya dan turun dari singgasananya.


"Hahaha...! Jika dari tadi begitukan lebih baik!" kata Zhi Yu Zhuan kemudian dia berjalan ke singgasana.


"Kamu boleh menang hari ini, tapi nanti Panglima Wei pasti akan menurunkanmu dengan tanpa rasa hormat!" kata Ratu Sie.


"Tenang saja! Panglima itu tidak akan selamat dalam peperangan, apalagi anak Yuan Xia itu, siapa namanya? Si Dewa Sesat ya! Dia juga tidak akan selamat karena disana ada para Pengawal Organisasi Bintang Hitam yang kemampuannya melebihi anak Yuan Xia!" kata Zhi Yu Zhuan.


Ratu Sie tidak menanggapi itu, dia segera merangkul putranya sekaligus mengeluarkan air matanya.


"Putraku! Maafkan ibu karena ibu tidak bisa menjaga Kerajaan peninggalan ayahmu, kelak kamu harus mencari guru yang bisa membimbing mu dan berlatih Ilmu Beladiri agar nanti kamu bisa merebut kembali Hak mu yang direbut oleh pamanmu itu!" bisik Ratu Sie.


Zhi Yei Fai mengangguk pelan, namun dia sendiri juga tidak bisa membendung air matanya juga.


"Ketua Tai Yan, bunuh keponakan ku itu dan biarkan ibunya tetap hidup! Aku tidak mau dia tetap hidup karena kedepannya dia akan menjadi musuh terbesarku jika tetap di biarkan hidup!" kata Zhi Yu Zhuan yang mengelus-elus pegangan singgasana yang terbuat dari emas.

__ADS_1


__ADS_2