
***
Tian Feng sama sekali tidak terlihat takut saat Amun datang menghampirinya, walau Tian Feng tahu jika salah satu orang yang bersama dengan Amun itu adalah orang yang kuat, Tian Feng sudah memiliki cara untuk bisa menghadapi mereka semua tanpa harus ada bertarung.
"Apa kamu yakin ini anak yang kamu maksud itu?" tanya Amun kepada pengawal yang melaporkan Tian Feng kepada dirinya.
"I..iya!" jawab pengawal tersebut dengan nada gugup.
"Jawaban mu sudah terdengar meragukan," kata Amun kemudian dia menatap kearah Tian Feng.
"Ada apa Tuan? Apa Tuan menginginkan sesuatu dari saya?" tanya Tian Feng dengan berpura-pura tidak tahu.
"Anak kecil, apakah benar jika kamulah yang sudah membunuh ke-empat orang-orang ku itu?" tanya Amun.
"Saya? Membunuh? Tidak-tidak, ini pasti salah sangka!" jawab Tian Feng.
Dua orang kesatria lainnya juga datang menghampiri Amun kemudian mereka berdua berdiri di samping Amun, namun mereka berdua kebingungan.
"Aku tidak salah, aku yakin jika kamulah pelakunya!" pelapor menunjuk-nunjuk wajah Tian Feng.
Tian Feng menatap pelapor tersebut kemudian memberikan pertanyaan lain padanya, "Anda bilang saya pelakunya? Apakah anda punya bukti?" tanya Tian Feng.
"Eee.. itu..!" pelapor tersebut kebingungan untuk mengatakannya.
"Begini nak, semalam dia melihatmu sedang bertarung dengan para orang-orang ku, ciri-cirinya sama dengan dirimu, yaitu memakai penutup separuh wajah!" Amun menjelaskan.
"Tuan, di Desa ini tidak hanya saya saja yang mengenakan penutup wajah, melainkan masih banyak lagi anak-anak lain yang juga menutup wajah seperti saya," kata Tian Feng.
"Apa kamu pikir mataku ini buta, aku tadi juga melihat mu berbicara dengan orang-orang dari Toakai, jadi aku yakin jika kamu itu adalah salah satu anggota orang-orang dari Toakai itu!" pelapor tersebut tetap berusaha membenarkan jika Tian Feng adalah pelaku yang sesungguhnya.
"Owh begitu! Jadi karena orang-orang yang tadi itu berbicara padaku, maka kamu menganggap diriku sebagai salah satu anggota mereka? Jadi sekarang ini aku berbicara dengan kalian, apakah sekarang aku juga akan di bilang salah satu dari kalian?" tanya Tian Feng.
Pelapor tersebut ingin menjawab, namun Amun lebih dulu bersuara, "Cukup..! Hentikan semua ini, dan kamu sebaiknya diam! Biar aku sendiri yang bertanya padanya," kata Amun membentak Pengawal yang masih ngotot jika Tian Feng itu adalah pelakunya.
"Anak kecil, sebaiknya kamu jujur saja pada ku, apa benar jika kamu yang membunuh mereka atau tidak?" tanya lagi Amun.
"Maaf Tuan, beberapa kali pun tuan bertanya, jawaban saya tetap sama! Bagiamana mungkin saya bisa membunuh mereka, sedangkan saya saja tidak mengenal mereka? Jadi untuk apa saya membunuh mereka?"
"Aku harap kamu berkata jujur!" Amun berbicara seperti itu kemudian dia memukul pundak Tian Feng dengan tangan kirinya.
"Aduhh!!! Sakit Tuan," kata Tian Feng yang meringis kesakitan bahkan dia berpura-pura ingin menangis.
"Owh maaf-maaf aku tidak sengaja!" kata Amun.
Sebenarnya Amun hanya ingin tahu apakah Tian Feng itu adalah seorang pendekar atau bukan.
Biasanya seorang pendekar secara refleks akan menghindari serangan ringan, oleh karena itu Amun mencobanya.
Namun ternyata pukulan Amun sama sekali tidak ia hindari membuat dirinya ragu apakah Tian Feng itu adalah pelakunya atau tidak.
__ADS_1
Sebenarnya semua itu hanyalah sandiwara Tian Feng saja, dia sengaja menerima pukulan Amun, Tian menduga jika sebenarnya Amun hanya menguji dirinya saja.
Jika sampai mereka tahu jika dirinya benar-benar adalah pelakunya, maka itu akan sangat buruk, karena itu siasat dan berbohong akan ia gunakan.
Saat ini tidak mungkin bagi Tian Feng untuk melawan mereka semuanya sekaligus, bisa-bisa dirinyalah yang akan terbunuh.
Amun menoleh kearah pengawalnya yang menurut dia sudah salah memberikan informasi.
"Bukankah sudah ku katakan agar jangan berani-beraninya menipu aku, namun sekarang kamu justru sudah membohongi diriku, sekarang bersiap untuk menerima hukuman dari ku!" kata Amun.
"Tidak! ampun Tuan, saya yakin jika anak ini adalah pelakunya,"
"Anda menuduh saya tanpa ada bukti, atau jangan-jangan Anda sendiri yang sudah membunuh mereka lalu melemparkan kesalahan pada orang lain untuk menutupi kesalahan sendiri!" tanya Tian Feng.
Pengawal yang melaporkan Tian Feng itu semakin ketakutan, dia takut jika Amun benar-benar akan menghukumnya.
"Berani-beraninya kamu menipu dan mempermainkan ku! Menes, Bawa dia kesana dan penggal kepalanya!" kata Amun kepada kesatria di sampingnya yang bernama Menes.
"Baik Tuan!'' jawab Menes kemudian dia menghampiri pelapor tersebut.
"Tuan! Ampuni saya Tuan, saya sudah berkata jujur!" penjaga tersebut yang berusaha agar dirinya tidak di hukum mati.
Namun Amun terlihat tidak peduli, sedang Menes sudah membawanya dengan paksa ke tempat yang tidak bisa di lihat oleh Tian Feng.
Yang terdengar hanyalah perkataan memohon ampun berkali-kali serta jerit ketakutan untuk memohon agar Amun mau mengampuni dirinya.
Amun sendiri terpaksa meminta Menes untuk mengeksekusi pelapor tersebut di tempat yang agak jauh agar Tian Feng yang masih anak-anak itu tidak melihatnya.
"Nak! Kalau boleh aku tahu, kenapa tadi kamu berbicara kepada orang-orang dari Toakai itu?" tanya Amun.
"Tadi itu...! Eee.. mereka tadi hanya bertanya apakah saya mengetahui siapa pembunuhnya atau tidak? Sudah itu saja!" jawab Tian Feng.
"Emm.. Jadi orang-orang dari Toakai itu juga bukan pelakunya, lalu siapa sebenarnya yang sudah membunuh ke-empat anak buah ku itu?" batin Amun.
Tian Feng sendiri hanya tersenyum tipis, dia tidak menduga jika siasatnya akan berjalan lancar.
Menurut Tian Feng, jika berbohong dan memutar balikkan fakta di anggap dosa, maka selama demi kebaikan itu tidak jadi masalah.
Lagi pula Tian Feng berbohong bukan hanya untuk menghindari masalah, namun juga untuk membuat Amun tidak mencurigai Hiroshi dan para rombongannya.
Setelah mengetahui jika Amun percaya pada kata-katanya, Tian Feng setidaknya merasa lega karena Hiroshi, Naomi dan Saichi setidaknya akan bisa keluar dari wilayah Desa Xinyi dengan aman.
"Tuan, jika tidak ada urusan lain lagi bisakah saya pergi sekarang?" tanya Tian Feng.
"Emm.. baik silahkan!" kata Amun.
Tian Feng membungkuk memberi hormat pada Amun kemudian dia pergi, dia masih bingung kenapa tidak satupun dari mereka yang ingat jika kemarin dia sedang bersama dengan rombongan Hiroshi.
Walau Tian Feng sudah mengatakan jika tidak hanya dirinya saja yang mengenakan penutup wajah di desa itu, namun setidaknya ada satu yang mungkin bisa mengingat akan dirinya.
__ADS_1
"Yang terpenting mereka tidak mencurigai ku lagi, sekarang aku akan kembali ke Kota Xanhuo!" kata Tian Feng.
Andai saat ini Tian Feng sudah memiliki Chi sebanyak 35 lingkaran, dia tidak khawatir lagi untuk menghadapi musuh yang berada di tempat tingkat Pendekar Atas.
Saat Tian Feng baru keluar dari Desa Xinyi, tiba-tiba saja dua Satria penjaga Amun yang memiliki kekuatan Pendekar Atas terlihat mengejar dirinya.
"Ada apa lagi? Kenapa mereka mengejar ku?" batin Tian Feng.
Tian Feng ingin berhenti dan menunggu mereka, namun suara kata-kata salah satu dari mereka segera terdengar oleh pendengaran Tian Feng yang tajam.
"Ayo cepat kita susul dan bunuh anak itu, jangan biarkan dia pergi meninggalkan desa ini!" kata salah satu dari mereka.
Tian Feng jelas terkejut, dia menebak mungkin Amun sudah curiga karena dirinya pergi keluar dari Desa, karena itu dia menyuruh ke-dua Kesatria itu mengejarnya.
"Sial..! Aku tidak mungkin mampu melawan mereka berdua, sebaiknya aku menghindar!" kata Tian Feng kemudian dia melompat dan bergerak dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya.
"Hai anak kecil, jangan lari!" salah satu dari mereka melihat Tian Feng dan kemudian memanggil Tian Feng.
Tian Feng tidak perduli, dia bergerak dengan sangat cepat berusaha menjauh dari mereka sejauh mungkin, dan tanpa Tian Feng sadari jika dirinya pergi ke arah yang berbeda dengan Kota Xanhuo.
Ke-dua orang yang mengejar Tian Feng ternyata memiliki Ilmu meringankan tubuh yang sangat tinggi, dengan sekali lompat saja, dia sudah sangat dekat dengan Tian Feng.
"Sabit Dewa Anubis."
Salah satu kesatria menebaskan sabitnya kearah Tian Feng dan kemudian energi tebasan yang berjumlah beberapa tebasan hanya dengan sekali ayunan melesat kearah Tian Feng.
Tian Feng melompat menghindari serangan energi tebasan tersebut sehingga yang terkena hanya ranting-ranting dan dahan pohon saja.
Saking tajamnya energi tebasan sabitnya, ranting tersebut terpotong sangat rapi sekali.
"Dia berada di tingkat Pendekar Atas, namun kekuatan setara dengan Pendekar Cahaya." gumam Tian Feng.
Setidaknya kekuatan tebasan yang di keluarkan oleh orang tersebut setara dengan kekuatannya di masa lalu, dimana saat itu dia berada di tingkat Pendekar Cahaya dan memiliki lebih dari 50 lingkaran Chi.
Jika dugaan Tian Feng benar, maka mereka berdua bukan lawan yang bisa ia hadapi, jadi yang bisa di lakukan saat ini hanya bisa menghindar sejauh mungkin walau semua itu hampir mustahil, namun Tian Feng tetap berusaha berpikir tenang dan mencari cara agar tidak menghadapi mereka berdua.
Tebasan demi tebasan terus menyerang kearah Tian Feng sehingga Tian Feng sangat kesulitan untuk mempercepat larinya karena harus menghindari energi tebasan sabit mereka berdua.
Saat masih berusaha menghindari serangan energi sabit mereka berdua, Tian Feng melihat ada beberapa bangunan yang agak jauh dari tempatnya, dia bergegas menuju ke tempat itu agat bisa sampai ke bangunan tersebut.
"Aku terpaksa harus menjadi pelarian, andai sepuluh tahun lagi, ah tidak lima tahun lagi, aku pasti bisa melawan mereka semuanya," gumam Tian Feng.
Andai mengumpulkan Chi dan Aura Pembunuh tidak sangat sulit, setidaknya butuh setahun lagi baginya untuk bisa mencapai tingkat Pendekar Atas atau juga bisa mencapai hingga tingkat Pendekar Cahaya.
Namum itu hal yang mustahil, setidaknya dengan kondisi yang ia miliki dan sisa sumberdaya yang ia miliki, setidaknya butuh sepuluh tahun lagi, dan paling cepat Lima tahun lagi, namun itu sudah sangat cepat jika di bandingkan dengan masa lalunya, dimana dia membutuhkan waktu hingga puluhan tahun untuk bisa mencapai ke Tingkat Pendekar Cahaya.
Setibanya di bangunan yang hanya ada lima rumah kecil tersebut, Tian Feng terkejut saat melihat seorang kakek tua sedang duduk di depan rumah dengan mencekik kendi kecil di tangannya.
"Kenapa dia berada di tempat ini? Tapi biarlah!" kata Tian Feng sambil tersenyum lebar kemudian dia bergegas menuju ke arah kakek tua itu berada.
__ADS_1