
***
"Bagiamana selanjutnya, apakah kita akan tetap berada disini menunggu Dewa Sesat, atau kita kembali saja ke Kahyangan?" tanya salah satu Dewa.
"Kita tidak mungkin kembali ke Kahyangan tanpa Tian Feng, alangkah baiknya kita menunggu disini saja sekaligus mengawasi para Panglima Kaisar Iblis itu!" jawab Dewa Mata Tiga.
Ho Chen hanya diam saja, saat ini dia benar-benar sudah tidak bisa merasakan energi Tian Feng, sebelumnya dia merasakan energi Azura yang melonjak sesaat, namun tidak lama kemudian energi Azura justru melemah kemudian menghilang dengan energi milik Tian Feng.
"Dewa Ho Chen, bagiamana menurutmu?" tanya Dewa Mata Tiga kepada Ho Chen yang masih melamun sendiri.
Ho Chen segera tersadar dari lamunannya kemudian dia menghela nafas panjang. "Menurutku sebaiknya kita memang menunggu dia saja disini, siapapun yang kembali nanti kita akan mengetahui, namun jika Tian Feng tidak juga datang hingga berhari-hari, maka kita akan kembali Kahyangan untuk melaporkan semua ini kepada Yang Mulia!" jawab Ho Chen.
Di tempat itu tidak hanya ada mereka saja, para Pasukan Azura juga masih berada disana menunggu kembalinya Tuan mereka.
"Lihatlah mereka itu Suo Zan, sepertinya mereka mengawasi kita!" kata Gaozu.
"Jangan pedulikan mereka, sebaiknya kita memulihkan kondisi kita sekaligus berjaga-jaga, siapa tahu nanti para Dewa itu menyerang kita lagi!" jawab Suo Zan.
"Tapi apa iya Tuan Azura benar-benar sudah mati oleh Kaisar Kegelapan?" Qinpi bertanya karena dia masih belum yakin.
"Kalau menurutku tidak mungkin, kekuatan Kaisar Kegelapan itu berada di bawah Tuan Azura, jadi dia tidak akan mungkin bisa membunuhnya walau mengerahkan seluruh kekuatannya!" jawab Gaozu.
"Kalau begitu kemana Tuan Azura dan manusia yang di juluki Dewa Sesat itu?" tanya lagi Qinpi.
"Aku juga tidak tahu, namun firasat ku mengatakan jika mereka berdua masih hidup, entah mereka berpindah ketempat lain atau bagaimana!" Suo Zan menjawab.
"Jadi sampai berapa lama kita akan menunggunya disini?" tanya lagi Qinpi.
"Sampai Tuan Azura kembali, baik itu kembali hidup-hidup atau tidak, yang penting kita tetap akan berada disini menunggunya!" jawab lagi Suo Zan.
Mereka semua para Panglima segera di bagi menjadi dua kelompok, satu kelompok akan berjaga sekaligus mengawasi gerak-gerik para Dewa, dan satu kelompok lagi akan memulihkan diri.
"Hem...! Mereka semua sepertinya juga mengawasi kita Dewa Ho Chen!" kata Dewa Mata Tiga saat mengamati gerak-gerik mereka.
"Itu sudah pasti, mengingat ini adalah dunia mereka, tentu saja mereka akan bersiaga!" jawab Ho Chen.
__ADS_1
"Jadi sekarang kita ini sedang saling mengawasi?"
Ho Chen mengangguk membenarkan ucapan salah satu Dewa kemudian dia memilih duduk bermeditasi di tempat yang sedikit jauh dari teman-temannya.
"Jika dipikir lagi kemampuanku belum memiliki peningkatan apapun, apakah selain dengan menggunakan energi dari luar tidak ada cara lain agar bisa tembus ke tahap Setengah langkah Rana Agung ini?" batin Ho Chen.
Sebenarnya Ho Chen hampir mencapai tahap setengah langkah Rana Agung, hanya saja hingga saat ini dia belum bisa mencapai terobosan tersebut, sebab Ho Chen bisa memiliki energi yang besar berkat latihan dan tanpa ada bantuan apapun dari luar.
Kekuatan Ho Chen benar-benar alami, namun untuk mencapai ke tahap itu butuh ribuan tahun baginya untuk bisa naik ke setiap tahapnya.
"Sebaiknya setelah tiba di Kahyangan nanti, aku akan meminjam Menara Dewa untuk berlatih meningkatkan energiku serta akan mencari cara untuk bisa mencapai tahap setengah langkah Rana Agung ini," batin lagi Ho Chen kemudian dia kembali memulihkan energinya, dan malam itu semuanya sama-sama saling berjaga dan saling mengawasi.
***
Sudah dua hari Ho Chen dan Dewa lainnya berada disana menunggu kembalinya Tian Feng dan juga Azura, begitu juga dengan para Panglima Azura.
Namun selama dua hari itu juga tidak ada tanda-tanda kembalinya salah satu dari mereka sehingga Ho Chen memutuskan untuk kembali ke Kahyangan untuk melaporkan kepada Kaisar Langit.
Walau merasa berat hati, namun mereka tidak bisa secara terus-menerus menunggu dan akhirnya Ho Chen dan dewa lainnya kembali ke Kahyangan, sedangkan para Panglima Azura sebagian ada yang kembali ke hutan, dan sebagian lagi masih menunggu disana.
Setibanya Ho Chen dan para teman-teman dewa nya di Kahyangan, mereka segera pergi ke istana menemui Kaisar Langit.
Ho Chen dan yang lainnya sama-sama bingung dengan pertanyaan Kaisar Langit, mereka sama-sama saling berpandangan sebelum akhirnya Dewa Mata Tiga bertanya kepada Kaisar Langit.
"Maaf Yang Mulia, maksud Yang Mulia kenapa kami telat dua hari itu, kami tidak mengerti?" tanya Dewa Mata Tiga.
"Begini, dua hari yang lalu, Dewi Kwan Im datang menemuiku dan menyampaikan pesan dari Buddha Rulay agar kami semua berdamai dengan Azura dan sukunya, karena saat ini Azura tidak akan lagi mengganggu langit, bahkan kita para Dewa di minta untuk menghargai keberadaan mereka!" kata Kaisar Langit.
"Hem..? Tapi Yang Mulia, kenapa kita harus berdamai dengan mereka?" tanya salah satu dewa dari kelompok Ho Chen.
"Saat ini Azura dan Tian sedang berada di Nirwana dan mereka sedang mendapatkan bimbingan latihan dari Sang Buddha."
Kaisar Langit menyampaikan jika Bunga Teratai Batu Mustika Putih saat ini sudah disempurnakan oleh Buddha Rulay, dengan demikian kemampuan Azura dan Tian akan menurun.
Azura merelakan Bunga Teratai Batu Mustika Putih itu diambil oleh Buddha Rulay, dengan keikhlasan Azura, Buddha Rulay tidak hanya memaafkan kesalahan Azura, bahkan dia mengganti Bunga Teratai Batu Mustika Putih itu dengan Mutiara Abadi, walau kemampuan yang akan didapatkan oleh Azura tidak sebesar seperti Bunga Teratai Batu Mustika Putih, namun setidaknya Azura akan memiliki 70 persen kekuatan dari kekuatannya yang sebelumnya.
__ADS_1
Alasan Buddha Rulay memaafkan Azura bukan hanya karena Azura yang tidak keberatan saat Bunga Teratai Batu Mustika Putih itu diambil oleh Buddha Rulay, namun karena selama Azura bermusuhan dengan para Dewa, dia tidak pernah mencelakai atau melakukan kejahatan besar seperti yang dilakukan oleh An Huang Yi.
Ho Chen dan yang lainnya langsung mengerti kenapa Tian Feng dan Azura tidak juga kunjung kembali, tenyata mereka berdua saat ini berada di Nirwana dan mendapatkan bimbingan langsung dari Sang Buddha.
Ho Chen menghela nafas lega, kemudian dia segera menyampaikan niatnya kepada Kaisar Langit. "Maafkan atas kelancangan hamba Yang Mulia, jika boleh hamba ingin minta ijin untuk berlatih di dalam Menara Dewa selama satu tahun!" kata Ho Chen.
Kaisar Langit mengerutkan dahinya, begitu juga dengan Dewa-dewa yang berada disana, mereka semua saling berpandangan satu dengan yang lainnya.
"Kamu ingin berlatih di dalam Menara Dewa?" tanah lagi Kaisar Langit untuk memastikannya.
"Benar sekali Yang Mulia!" jawab Ho Chen.
Menara Dewa berbeda dengan Menara Penjaga Dewa tempat Tian Feng bermeditasi, Menara Dewa sebenarnya adalah Menara khusus untuk latihan para Dewa yang ingin mencoba melakukan terobosan ke tahap berikutnya, di dalam Menara Dewa kaya akan energi kehidupan yang sangat murni.
Masalahnya pintu Menara Dewa hanya bisa di buka satu kali kemudian ditutup, jika ada yang berlatih di dalam, mereka bisa keluar kapan saja dengan membuka segel pintu dari dalam, namun jika tidak ada yang berlatih di dalam, maka pintu Menara Dewa akan kembali terbuka sekitar lebih dari tiga ribu tahun lagi.
Walau terdengar cukup menggiurkan bagi semua para Dewa, namun mereka sudah tahu tidak mudah untuk berlatih di dalam Menara Dewa yang kaya akan energi kehidupan yang sangat murni itu.
Energi Kehidupan di dalam Menara Dewa sangat kuat namun juga liar, barang siapa yang sudah menyerap energi kehidupan yang sangat murni namun kemudian dia tidak sanggup mengendalikan energi kehidupan itu, maka seluruh energi yang sebelumnya di miliki akan hilang ditarik keluar oleh energi kehidupan itu.
"Apakah kamu yakin Ho Chen? Aku harap kamu memikirkan ulang keringananmu itu, sebab kamu pasti sudah mendengar akan konsekwensinya jika gagal bukan?"
"Hamba sangat yakin Yang Mulia!" jawab Ho Chen dengan tegas dan tidak ada rasa keraguan pun dari jawabannya.
"Baiklah aku akan mengijinkanmu untuk memasuki Menara Dewa, namun aku hanya bisa mengingatkanmu untuk selalu berhati-hati di dalam sana!" kata Kaisar Langit.
Ho Chen adalah salah satu Dewa terkuat yang ada, rasanya sayang jika harus kehilangan sesosok dewa sekuat Ho Chen, di tambah lagi Ho Chen juga murid Buddha Rulay, tentu Kaisar langit tidak ingin ada apa-apa dengan Ho Chen nantinya.
"Semoga dengan ini, aku bisa melakukan terobosan yang mampu mencapai tahap setengah langkah Rana Agung, jikapun lebih juga tidak masalah!" batin Ho Chen yang juga berharap bisa mencapai tahap ke Awal Rana Agung, namun dia sadar jika kemungkinan semua itu untuk terwujud rasanya mustahil, bisa naik ke setengah langkah Rana Agung saja sudah sangat beruntung bagi Ho Chen.
"Jadi kapan kamu akan mulia masuk kesana?" tanya Kaisar Langit.
"Rencananya besok Yang Mulia!" jawab Ho Chen.
Kaisar Langit mengangguk setelah itu Ho Chen segera memberi hormat untuk undur diri karena dia mau menemui Qiao Lin dan Naomi sekaligus akan menyampaikan kabar baik tentang Tian Feng kepada Naomi yang saat ini sudah di bimbing langsung oleh Sang Buddha.
__ADS_1
***
Terkadang review nya yang bermasalah, kadang cepat, kadang juga butuh satu hari satu malam. 😥