Kesatria Tombak Nirwana

Kesatria Tombak Nirwana
Pertarungan ke-dua Pendekar seperguruan


__ADS_3

***


"Xie-Xie! Kamu tahu kenapa kamu bisa dengan cepat menguasai Ilmu Sihir Elemen Es?" tanya Bing Mei kepada Chie Xie yang saat ini sudah menguasai Sihir Elemen Es milik Bing Mei.


"Tidak tahu Jiejie," jawab Chie Xie sekali menggelengkan kepalanya.


"Sebenarnya didalam dirimu sudah terbentuk dua Pusat Roh elemen Air dan Angin, di dunia ku disebut Akar Roh Elemen, terlebih lagi Dantian mu juga cukup mampu menyerap energi dalam jumlah besar!"


Bing Mei menjelaskan jika Pusat Roh elemen memang sudah terbentuk sejak manusia dilahirkan, namun tidak semua orang dilahirkan memiliki Pusat Roh tersebut.


Kata Bing Mei Chie Xie adalah salah satu manusia paling beruntung karena terlahir dengan dua Pusat Roh alami yang mengandung unsur energi Yin murni.


Andai Chie Xie terlahir di dunia Bing Mei, mungkin dia akan menjadi salah satu gadis paling berbakat.


Andai saja dia tidak bertemu dengan Bing Mei, mungkin semua yang dimiliki oleh Chie Xie akan menjadi sia-sia.


Karena itu penting bagi seseorang yang terlahir dengan satu atau dua Pusat Roh Elemen, namun semuanya harus dilatih oleh orang yang tepat.


Kini Chie Xie sudah mencapai Tingkat Raja Bumi. Seharusnya saat ini tidak akan ada yang bisa mengalahkan Chie Xie kecuali lawannya memiliki Tingkat yang lebih tinggi.


Tentu Bing Mei mengetahui jika Chie butuh latihan yang lebih berat guna memperkuat tubuh dan menyempurnakan ilmunya.


Chie yang baru menyempurnakan Satu Sendi jiwa sekaligus baru setengah membentuk Sendi Raga sudah memiliki Chi sebanyak 1000 pusaran.


Jika di dunia Bing Mei disebut Pondasi dalam diri, dan Tingkat yang dimiliki oleh Chie Xie saat ini adalah Puncak Tingkat Pertapa.


Chie Xie yang sudah setahun berada dipulau tersebut juga sudah bisa terbang dengan menggunakan Energi Angin yang diajari oleh Bing Mei.


"Sekarang coba kamu buat senjata dari Es, "Kamu sudah bisa menggunakan Elemen Es dengan sempurna, walau kemampuan mu masih dibawah rata-rata dari kekuatan Tingkat Raja Bumi, namun kamu sudah bisa membuat Lorong Dimensi sendiri, jadi cobalah!" kata Bing Mei.


Dengan arahan dan petunjuk dari Bing Mei tetang bagaimana cara membuat Lorong Dimensi, Chie segera mencobanya dengan mengarahkan dua jari ke depan.


Sebuah pusaran transparan mulai terlihat, memang sangat sulit untuk melihatnya, namun bagi orang yang dapat merasakan energi, pasti akan tahu jika di hadapan Chie Xie saat ini ada sebuah pusaran yang perlahan membentuk sebuah lubang.


"Aku akan memberikanmu tambahan energi pelindung agar kamu bisa melewati Lorong Dimensi itu, ingatlah akan semua pesan ku," kata Bing Mei.


Berkali-kali Bing Mei berpesan kepada Chie agar kelak saat Chie Xie sudah tidak lagi bersamanya, Chie Xie harus giat berlatih untuk meningkatkan kemampuannya karena Bing Mei yakin jika Chie Xie masih memiliki harapan untuk mencapai Tingkat Raja Alam.


"Apakah Jiejie tidak ikut dengan ku? Aku akan memperkenalkan Jiejie kepada Ayah dan ibu, dan satu lagi kepada Kakak ku," kata Chie Xie.


"Tidak Xie-Xie! Bukankah sudah pernah aku katakan jika aku sedang mencari temanku! Aku sudah terlalu lama berada disini, jadi sekarang saatnya bagi kita untuk berpisah," kata Bing Mei.


Wajah Chie Xie terlihat sedih dan merasa tidak rela untuk berpisah dengan Bing Mei. Sebelumnya Chie Xie sudah memanggil Bing Mei sebagai gurunya, namun Bing Mei menolaknya.


Walau demikian dalam hati Chie Xie masih menganggap Bing Mei sebagai Gurunya, dan dalam setahun ini sudah banyak kenangan bersama Bing Mei yang mungkin tidak akan pernah Chie Xie lupakan.


"Apakah nanti kita akan bertemu lagi?" tanya Chie Xie yang berharap bisa bertemu lagi dengan Bing Mei.


"Aku rasa tidak Xie-Xie! Sudahlah jika kamu ingin pergi sekarang cepatlah karena aku juga akan segera meninggalkan tempat ini!" jawab Bing Mei.


Chie semakin terlihat sedih mendengarnya, namun dia juga tidak bisa berharap banyak dan berusaha untuk tetap tegar walau berat rasanya.


Bing Mei segera menyentuh pundak Chie Xie dan kemudian terlihat kabut keluar dari telapak tangan Bing Mei dan menyelimuti tubuh Chie Xie.


Chie Xie yang tidak sanggup lagi menahan rasa sedih karena akan segera berpisah dengan Bing Mei segera memeluk Bing Mei dengan erat membuat Bing Mei terkejut kemudian dia juga membalas pelukan Chie Xie dengan mengusap rambutnya.


Sebenarnya Bing Mei juga enggan untuk melepaskan Chie Xie, namun mengingat janjinya kepada Qie Yin untuk mencari Chinmi, maka dia harus mengesampingkan perasaannya dan akan lebih fokus akan pencariannya.


"Terima kasih atas semuanya yang sudah Jiejie ajarkan padaku, aku pamit!" kata Chie Xie yang masih memeluk Bing Mei.

__ADS_1


"Tidak perlu berterima kasih Xie-Xie! Iya sudah cepatlah kamu masuk ke Lorong Dimensi itu dan jaga diri baik-baik!" kata Bing Mei kemudian dia melepaskan pelukannya.


Chie Xie mengangguk kemudian mengusap air matanya yang membasahi pipinya, walau tidak terdengar suara tangisnya, namun mata yang merah dan nada suaranya terdengar begitu pilu sehingga membuat mata Bing Mei juga ikut mengeluarkan air matanya, namun dia bergegas berpaling agar tidak terlihat oleh Chie Xie.


"Jiejie, aku pergi!" kata Chie Xie sambil berjalan kearah Lorong Dimensi, namun dia masih menoleh kearah Bing Mei yang sudah membelakanginya.


Bing Mei hanya mengangguk tanpa menoleh kebelakang, sedangkan Chie Xie yang tidak henti-hentinya mengeluarkan air matanya mulai memasuki Lorong Dimensi.


Chie Xie menutup mulutnya agar tangisnya tidak pecah kemudian Lorong Dimensi tersebut mulai menutup dan Chie Xie hanya melihat rambut serta punggung Bing Mei yang masih membelakangi dirinya dengan selendangnya yang diterpa angin laut.


Dalam waktu singkat saja Lorong Dimensi tersebut langsung lenyap dan Chie Xie juga tidak lagi bisa melihat Bing Mei karena dia sudah berada di dunianya sendiri, tepatnya berada diatas Kota Xanhuo dengan tubuh melayang di udara.


***


"Panglima Wei, ada apa ini? Kenapa Panglima datang dengan membawa pasukan yang sangat banyak dan juga membawa banyak anggota Organisasi Jalan Kebenaran?" tanya Yuan Xia saat melihat Wei Fang datang membawa ratusan prajurit dan semuanya berbaris di depan rumah Yuan Xia.


Tidak hanya itu saja yang dilihat oleh Yuan Xia, melainkan para anggota Organisasi Jalan Kebenaran juga ikut datang dan bersiaga penuh seperti akan ada peperangan di depan rumahnya.


"Begini Tuan Yuan! Nenek Chi mengabari ku jika dalam waktu dekat kediaman Tuan Yuan akan diserang oleh orang-orang dari Foiberia!" jawab Wei Fang.


"Foiberia!? Kenapa mereka ingin menyerang kediaman ku?" tanya Yuan Xia.


Seingatnya dia tidak pernah memiliki masalah apapun dengan Foiberia, karena itu dia bertanya.


"Aku juga tidak tahu!" jawab Wei Fang.


Yuan Xia ingin mengucapkan sesuatu, namun Nenek Chi atau Mei Yinyi tiba-tiba saja datang bersama para anggota Pengemis.


"Mungkin kamu tidak pernah mencari masalah apapun dengan mereka, namun Tian Feng pernah!" jawab Mei Yinyi.


"Guru? Ada apa ini, kenapa Guru datang membawa para anggota Pengemis kesini?" tanya Zang Yang.


Zang Yang juga tidak kalah terkejutnya saat melihat para Prajurit yang berjaga di depan rumah.


Yuan Xia dan Zang Yang sama-sama masih bingung, namun Zang Yang tetap melaksanakannya dan kemudian dia melompat ke atap untuk memeriksanya.


Setelah memantau cukup lama, Zang Yang baru melihat dari arah barat ada bendera putih sedang menuju kearahnya, bahkan juga terlihat banyak pasukan yang mengikutinya.


"Kita benar-benar ada yang akan menyerang!" gumam Zang Yang kemudian dia kembali turun.


"Semuanya, ada pasukan Foiberia dalam jumlah besar sedang menuju kesini," kata Zang Yang.


Mendengar hal itu, Wei Fang bergegas bangkit dan kemudian menyuruh para pasukan untuk bersiap-siap.


Baru saja Wei Fang memberikan perintah, tiba-tiba ada bola hitam yang jatuh tepat ditengah-tengah para prajurit itu.


Mereka semua panik dan ingin menjauh dari bola hitam tersebut, namun terlambat karena Bola hitam itu lebih dulu meledak sehingga membuat para prajurit yang tidak bisa menghindari ledakan tersebut langsung mati ditempat.


"Bersiap untuk berperang...!" seru Wei Fang dengan suara kerasnya.


Bola-bola hitam kini kembali muncul dari arah barat dan jatuh di beberapa tempat dan meledak.


Wei Fang dan Mei Yinyi serta Zang Yang yang mulai merasa kesal segera melompat dan berusaha memukul bola hitam kembali kearah barat.


Kini ledakan beruntun mulai tercipta di diberbagai tempat, membuat banyak para Prajurit tewas.


Kini pasukan musuh mulai terlihat dan jumlahnya tidak sebanyak para prajurit yang dibawa oleh Wei Fang, namun musuh kebanyakan menggunakan senjata api serta Bola hitam yang mampu membunuh beberapa prajurit dalam sekali ledak.


"Zang Yang! Cepat bawa Tuan Yuan ketempat yang aman!" kata Mei Yinyi kemudian dia melompat maju.

__ADS_1


Para Organisasi Jalan Kebenaran yang ikut tidak semuanya para Pendekar Cahaya, karena terlalu mendadak Wei Fang tidak sempat mengabari para ketua perguruan yang lain sehingga hanya membawa pendekar-pendekar yang berada di tingkat Pendekar Tengah, dan Pendekar Atas.


Pendekar Cahaya hanya ada tiga saja, Yaitu Wei Fang, Mei Yinyi dan Zang Yang, mungkin mereka bertiga masih bisa menahan serta mengacaukan para musuh jika tidak ada pendekar yang lainnya, namun masalahnya dibarisan musuh ternyata ada ke-tiga Ketua Cabang Organisasi Tiga Bunga yang ikut dalam penyerangan tersebut.


Mei Yinyi bergerak cepat untuk melepas Auman Singa kepada Lang Wang yang menggantikan kedudukan She Ying.


Seharusnya dengan satu kali Auman keras mampu menghempaskan belasan serta puluhan prajurit musuh termasuk Lang Wang yang kemampuannya masih berada dibawah Mei Yinyi.


"Auman Singa Emas."


Groarrr!!!


"Auman Singa Hitam."


Groarrr!!!


Saat Mei Yinyi melepas Auman Singa nya, tiba-tiba seorang pria sepuh berkepala botak dan mengenakan baju berwarna abu-abu muncul serta melapaskan Auman Singa yang sama kearah Mei Yinyi.


Ke-dua Auman yang sama-sama memiliki daya perusak yang sangat dahsyat saling mendorong sehingga tercipta angin yang mampu menghempaskan banyak rumah warga.


Beruntungnya semua orang sudah diungsikan oleh para prajurit sehingga tidak ada satu warga pun disekitar mereka.


Mei Yinyi jelas terkejut dengan kemunculan Pria tua tersebut, dia jelas mengenalinya karena Pria tua itu adalah Kakak seperguruan sendiri yang dulu diusir karena telah mencuri kitab Singa Emas.


Namanya adalah Zuan Lao, kakak seperguruan Mei Yinyi serta suaminya yang sudah tiada.


Kedua energi Auman Singa yang menciptakan beberapa ledakan akibat energi nyasar juga mulai menewaskan beberapa prajurit dari ke-dua belah pihak.


Ke-dua akhirnya sama-sama saling menghentikan serangan karena harus mengambil nafas serta memulihkan Chi yang mulai terkuras.


"Tidak kusangka kamu masih hidup Lao gege!" kata Mei Yinyi sekaligus kembali mengumpulkan energi.


"Aku juga tidak menyangka bisa melihatmu lagi Yinyi!" balas Zuan Lao.


"Jadi kamu masih menggunakan Ilmu Singa terbalik? Seharusnya dulu guru membunuh mu dan bukan mengusir mu!"


"Itu karena guru kita yang bodoh! Sudahlah, karena sekarang aku sudah berhadapan dengan mu, sekarang cepat serahkan Kitab Singa Emas yang kamu rebut dariku serta Kitab Singa Suci padaku, setelah itu aku akan pergi dan tidak akan ikut campur lagi!" kata Zuan Lao.


"Ambil saja sendiri karena sampai kapanpun aku tidak akan menyerahkan kitab itu kepada murid durhaka seperti mu!" jawab Mei Yinyi.


"Kalau begitu kamu harus mati!"


Zuan Lao segera melebarkan jari-jarinya dan kemudian dia maju menyerang dengan jurus Singa terbalik yang ia kuasai.


Mei Yinyi segera menyambut serangan Zuan Lao dengan tongkat kayunya, dan pertarungan ke-dua Pendekar satu seperguruan itu terlihat berimbang.


"Cakar Singa Hitam."


Zuan Lao segera melepas satu cakaran ke wajah Mei Yinyi, sedangkan Mei Yinyi segera menepis serangan tersebut dengan tongkatnya kemudian memberikan serangan susulan berupa tendangan kuat keperut Zuan Lao.


Zuan Lao segera menahan serangan kaki Mei Yinyi dengan satu tangan lagi, sedangkan Mei Yinyi menarik kakinya dan kemudian menendang Zuan Lao dengan satu kakinya lagi.


"Taring Singa Hitam."


"Taring Kematian."


Zuan Lao membengkokkan jarinya dan kemudian menyerang bagian lengan dan paha Mei Yinyi agar gerakannya berkurang jika terkena serangan.


Namun Mei Yinyi masih bisa menghindarinya sesaat namun tidak lama kemudian, dia tetap terkena tusukan jari di bagian pahanya sehingga pahanya langsung terlihat berlubang dan darah mulai keluar.

__ADS_1


"Aduh!! Itu pasti sangat sakit sekali!" ledek Zuan Lao.


Mei Yinyi segera menahan pendarahannya, namun rasa sakit tetap tidak bisa dia tahan karena tusukan jari Zuan Lao itu sampai menembus tulang.


__ADS_2