Kesatria Tombak Nirwana

Kesatria Tombak Nirwana
Menentukan takdir sendiri


__ADS_3

"Saudara Ho Chen, kenapa kamu ada disini? Lalu bagaimana dengan dia?" tanya Azura.


"Tenang saja Raja Azura, sekarang serahkan semuanya kepada dia!" jawab Ho Chen.


Azura kembali melihat ke arah kabut hitam dan kemudian dia melihat ada cahaya dari dalam kabut tersebut lalu kabut hitam tiba-tiba saja seperti diserap oleh cahaya yang menyerupai seperti sesosok manusia, namun samar-samar Azura mulai merasakan aura yang ia kenal.


"Saudara Tian, apakah itu benar-benar dia?" tanya Azura dengan tatapan yang tidak percaya.


Zang Yang yang mendengar itu juga sama terkejutnya, begitu juga dengan yang lainnya kecuali Ho Chen dan keempat Raja Agung serta para Prajurit Langit.


Sosok tubuh bercahaya yang menyerap seluruh kabut hitam kini mulai redup dan kemudian cahaya tersebut lenyap lalu menunjukkan sosok yang sangat dikenali oleh Azura dan Yinfei serta yang lainnya yang mampu melihat dengan mata dewa mereka.


"Saudara Tian ini, setiap kali datang pasti akan mengalami peningkatan, terakhir dia datang, kekuatan berada di Puncak Rana Agung, namun sekarang seperti dia sudah naik ke tingkat yang sama seperti mu saudara Ho Chen!" kata Azura.


"Memang benar, hanya saja kekuatan Tian masih lebih tinggi lagi dariku!" jawab Ho Chen yang juga menatap Tian Feng.


Ho Chen dapat merasakan sekilas kekuatan Tian Feng, dia merasakan jika kemampuan Tian Feng sedikit lagi akan mencapai Puncak Rana Ilahi Tahap 2.


"Apakah dia mendapatkan pelatihan dari kembaran jiwanya, atau Zhi Shan juga ada disana dan juga ikut membimbing Tian?" batin Ho Chen namun setelah itu dia menghela nafas panjang.


Demi mengatur rencana bersama para Dewa serta Kaisar Langit untuk rencana penyerangan, dia tidak sempat berlatih kembali ke Dunia Dimensi Hampa, dan ketika merasakan energi Tian Feng yang semakin meningkat, Ho Chen hanya bisa menggelengkan kepala pelan.


Tian Feng yang sudah dalam wujud normalnya kini menatap kearah kabut yang sangat tipis sedang turun ke arah salah satu prajurit kegelapan, setelah itu dia melihat kearah tanah yang sudah hancur seraya mengepalkan tangannya erat-erat.


Kota Xanhuo kini sudah benar rata dengan tanah, bahkan kondisinya lebih buruk dari pada kata rata, atau lebih tepatnya telah hancur seperti sebuah pegunungan yang hancur.


Tian Feng juga melihat ke arah Rajauda Zhi Yi Fai yang juga sedang terluka, hanya saja tidak terlihat parah.


"Kalian telah membuat kota serta istana yang menjadi tempat tinggal keluargaku hancur separah ini, maka tidak ada alasan lagi bagiku untuk membiarkanmu tetap hidup!" kata Tian Feng dengan geram lalu pandangannya beralih ke arah Penjaga Kembar yang kini sudah kembali pulih dengan memanfaatkan salah satu tubuh prajuritnya.


Semua kekuatan kegelapan segera di serapnya dari yang sudah mati serta yang masih hidup, hal itu membuat semua pendekar serta pasukan istana terkejut dan bergerak mundur saat melihat keindahan tersebut.


Tidak membutuhkan waktu lama bagi Penjaga Kembar untuk menyerap semua kekuatan kegelapan para pasukannya hingga tubuh semua para pasukannya lenyap tak tersisa.


Ledakan energi yang sangat besar segera dilepaskan oleh Penjaga Kembar sehingga membuat tanah berguncang hebat serta gunung-gunung mulia mengeluarkan erupsinya.


"Sungguh kejam, demi sebuah kekuatan dia rela mengorbankan para prajuritnya sendiri!" kata Wei Fang.


Penjaga Kembar meraung keras kemudian melepaskan tekanan yang sangat besar dan berniat membunuh semua para prajurit biasa yang memiliki kekuatan setingkat Raja kebawah, hanya saja Tian Feng lebih dulu muncul di hadapannya dan kemudian menempelkan jarinya ke dahi Penjaga Kembar.

__ADS_1


"Siapa kamu?" tanya Penjaga Kembar yang terkejut atas kemunculan Tian Feng.


"Aku adalah Tian Feng, sang Dewa Sesat!" kata Tian Feng.


Satu alamat yang diucapkan sudah cukup membuat tubuh Penjaga Kembar seperti mati rasa, bahkan energi tekanannya yang sudah di halangi oleh Tian Feng langsung lenyap seketika itu juga.


Kekuatan Penjaga Kembar memang sudah naik secara drastis hingga hampir mencapai puncak Rana Ilahi Tahap 1, dan seharusnya dia sudah memenuhi syarat untuk menandingi Ho Chen satu lawan satu.


Andai saja keempat pimpinan perang tidak dilenyapkan, mungkin Kekuatan Penjaga Kembar akan mampu mencapai Puncak Rana Ilahi Tahap 1,


Hanya saja saat ini kemampuannya kembali di tekan oleh kemunculan Tian Feng yang memiliki kemampuan di tahap yang berada dua anak tangga di atasnya.


Tidak hanya nama Dewa Sesat yang sudah diketahui oleh seluruh pengikut serta para prajurit Kegelapan, bahkan rumor akan Dewa Sesat yang mampu menandingi junjungan mereka juga sudah diketahui secara luas sehingga kabar akan nama gelar baru Dewa Sesat sebagai Kesatria Tombak Nirwana secara perlahan juga mulai menyebar, dan semua ini adalah ulah para Binatang dari Dunia Selatan.


"K…k.. kau.. Si..si..Dewa Sesat?" tanya Penjaga Kembar dengan suara berat dan terputus-putus.


Tian Feng dengan tatapan dingin serta nafsu membunuh yang sangat kental serta aura bertarung yang sangat besar menjawab pertanyaan Penjaga Kembar yang membuat punggung Penjaga Kembar basah akibat keringat dingin.


"Tepat sekali, aku adalah Dewa Sesat! Karena kamu telah menghancurkan tempat ini, maka aku akan melenyapkanmu dari dua alam ini!" kata Tian Feng kemudian jarinya mulai bercahaya merah serta mengeluarkan percikan menyerupai petir merah yang menyebar di dahi Penjaga Kembar.


Penjaga Kembar berusaha mengeluarkan energinya agar bisa meloloskan diri serta menjauh dari Tian Feng, hanya saja energinya seperti tersegel dan sedikitpun tidak ada yang bisa dikeluarkan.


"Aku tidak akan memaafkanmu! Lenyaplah dari dari alam semesta ini"


"Tahap Ilahi - Pemusnah Seribu Jiwa."


Jari Tian Feng seketika itu juga melepaskan cahaya merah yang diambil dari energi Tombak Nirwana, dan cahaya merah itu sendiri adalah petir pemusnah yang mampu melenyapkan jiwa siapapun sehingga tidak akan mungkin bisa hidup lagi, baik itu di dunia maupun di akhirat.


Penjaga Kembar sama sekali tidak bisa melakukan perlawanan ketika petir merah mulai menusuk kepalanya kemudian petir tersebut menyebar di seluruh tubuh Penjaga Kembar, mulai dari dalam hingga luar tubuhnya.


Teriakan keras sekali lagi terdengar menggema di area pertempuran yang sunyi, dan setelah itu suara teriakan Penjaga Kembar hilang bersamaan dengan tubuhnya yang langsung lenyap menjadi butiran debu halus.


Tian Feng merentangkan sebelah telapak tangannya ke arah debu dan kemudian semburan api emas segera membakar dan melenyapkan debu tersebut menghilangnya tanpa menyisakan satupun dari butiran debu tersebut.


Semuanya hanya bisa tertegun melihat aksi Tian Feng yang membunuh tanpa berpikir panjang, mungkin ini sangat kejam bagi yang baru melihat cara Tian Feng membunuh, namun bagi yang sudah mengetahuinya sama sekali tidak terkejut.


"Dia lebih kejam dariku soal membunuh, dulu aku sering membunuh, namun aku tidak sekejam itu!" kata Azura.


Ho Chen hanya tersenyum mendengar perkataan Azura, dia juga tahu jika Tian Feng akan sangat sadis dalam membunuh musuh-musuhnya, apalagi musuh yang dianggap pantas untuk di lenyapkan, bahkan Ho Chen sendiri jarang melakukan hal seperti itu, namun bukan berarti tidak pernah melakukannya.

__ADS_1


Situasi cukup sunyi selama beberapa saat sebelum akhirnya salah satu prajurit istana duduk lemas sambil berseru, "Menang, akhirnya kita bisa menang!" kata prajurit tersebut sekaligus mengeluarkan air matanya.


Dia tidak tahu harus bagaimana, walau dia merasa senang dan seharusnya senang, namun itu tidak sebanding dengan kehancuran yang telah melenyapkan segalanya.


Kehilangan rumah, kehilangan sahabat serta keluarga, dan kehilangan istana yang menjadi tempat pengabdiannya.


Karena itu dia tidak tahu apakah harus senang atau sedih, perang ini adalah perang yang terbesar daripada perang-perang sebelumnya, dulu pernah terbesar adalah saat perang melawan pasukan dari kerajaan Xiadong yang bersatu dengan Organisasi Bintang Hitam, namun perang tersebut tidak membuat istana maupun kota menjadi lenyap.


Sedangkan yang sekarang justru istana dan kota menjadi bongkahan reruntuhan, padahal musuh yang menyerang hanya sekitar tujuh ratus prajurit, namun semua para prajurit tersebut memiliki kekuatan yang tidak bisa dilawan oleh para prajurit biasa.


Andi tidak ada para pendekar dan juga Azura serta kawan-kawannya, mungkin seluruh wilayah Kerajaan Wutong akan menghilang dan menjadi daratan yang tak berpenghuni.


Semua para prajurit menundukkan wajah mereka dengan air mata yang membasahi pipi serta hati dan perasaan mereka, semuanya tahu jika yang menyebabkan semua ini terjadi adalah keluarga Tian Feng.


Sebab tujuan utama peperangan selama ini semuanya mengarah kepada Tian Feng dan target utamanya adalah Keluarga Yuan Xia.


Namun tidak ada satupun yang berani menyuarakannya, bahkan untuk menyalahkan sepenuhnya kepada Yuan Xia dan Tian Feng juga mereka tidak berani.


"Raja Agung, jika aku menghidupkan kembali orang-orang yang sudah menjadi korban serta mengendalikan kota ini seperti sedia kala, apakah kalian para dewa tidak keberatan?" tanya Tian Feng.


"Apa maksudmu Tian? Kamu ingin menghidupkan orang-orang yang sudah mati? Apakah kamu ingin melanggar kodrat?" tanya Ho Chen yang sepertinya tidak setuju kepada Tian Feng.


"Senior, bukannya aku mau melanggar aturan, hanya saja pertempuran ini semuanya disebabkan oleh diriku, andai bukan karena ingin mengincar keluargaku, peperangan ini tidak akan mungkin terjadi, dan para penduduk kota serta para prajurit istana tidak akan mungkin mati!" kata Tian Feng.


"Aku setuju padamu saudaraku, dan aku mendukungmu!" kata Azura.


"Semuanya terserah kepadamu saudara Zhi Tian, sekarang kamu memiliki kemampuan yang sanggup untuk menjungkirbalikkan alam semesta, kamu bisa menentukan takdir sendiri serta takdir makhluk lain, jadi kami para dewa juga tidak akan memprotes akan hal ini!" kata Raja Agung Barat Guang Mu.


"Terima kasih Raja Agung Barat!" Tian Feng menangkupkan tangannya kepada Guang Mu yang sama sekali tidak keberatan atas keputusan Tian Feng.


Tian Feng kini melihat kearah Ho Chen, karena sebelumnya Ho Chen terlihat tidak setuju akan keputusannya.


"Hah…! Baiklah, untuk kali ini aku terima semua alasanmu, sekarang lakukan apa yang ingin kamu lakukan!" kata Ho Chen.


Tian Feng langsung tersenyum lebar setelah Ho Chen mengijinkannya untuk menghidupkan kembali orang-orang yang mati karena peperangan tersebut.


"Terima kasih Senior!" kata Tian Feng.


Ho Chen mengangguk kemudian dia menepuk pundak Tian Feng seraya berkata, "Cepat lakukan sebelum aku berubah pikiran!" kata Ho Chen yang tersenyum sambil menepuk-nepuk pundak Tian Feng.

__ADS_1


Tian Feng mengernyit mendengar itu kemudian tanpa pikir panjang dia langsung terbang ke langit dengan tubuh yang mulai bercahaya terang, dia khawatir Ho Chen akan benar-benar berubah pikiran, padahal Ho Chen hanya bercanda saja, namun Tian Feng menanggapinya dengan serius.


__ADS_2