
Yinfei, Lio Long dan Xi Liyi terlihat sedikit imbang dalam menghadapi lawan mereka, mereka bertarung dengan sengit di udara sehingga setiap efek serangan dari masing-masing pihak akan menyebabkan ledakan serta gelombang kejut besar yang mampu membuat bebatuan di bawah terangkat ke udara.
"Sihir Air - Gelombang Pemusnah."
"Sihir Angin - Pusaran Mata Angin."
"Sihir Api - Tiga Naga Api."
Yinfei dan Lio Long serta Xi Liyi sama-sama melepaskan sihir elemen mereka, sedangkan ketiga lawan mereka juga melepaskan sihir mereka.
Energi kedua belah pihak langsung berbenturan di langit sehingga membuat awan hitam semakin menjadi lebih gelap serta menakutkan.
Hanya saja tidak ada yang memperdulikan akan kejadian tersebut, sebab mereka sudah terbiasa dengan suara ledakan serta getaran yang ditimbulkan oleh masing-masing ledakan di langit.
"Mereka benar-benar sangat kuat, walau kita masih bisa mengbangi mereka, hanya saja aku merasa mereka memiliki energi yang tidak ada habis-habisnya!" kata Yinfei.
"Senior benar, jika kita terus melanjutkan pertarungan ini melawan mereka, yang ada justru kitalah yang akan kalah karena kehabisan energi, namun jika kita tidak melanjutkannya, maka Dunia ini pasti akan hancur dan mereka pasti akan berhasil mendapatkan keluarga Yuan Xia!" kata Xi Liyi.
"Apa boleh buat, sebaiknya kita berusaha semampunya!" kata Lio Long.
Yinfei dan Xi Liyi mengangguk, tidak ada pilihan lain bagi mereka selain terus melawan mereka, sedangkan Xi Liyi melirik suaminya yang juga berada di tengah-tengah pertempuran bersama dengan Wei Fang dan yang lainnya.
"Bertahanlah Lang Yu!" gumam Xi Liyi kemudian dia dan Yinfei serta Lio Long kembali menyerang ketiga sosok berkemampuan Dewa Agung.
***
"Xie'er, kita ada dimana ini?" tanya Lie Yi kepada Chie Xie.
"Kita berada di desa Wunji yang berada di Kota Tang, dan itu adalah rumah Tian gege." jawab Chie Xie.
Yuan Xia segera melihat rumah yang sederhana yang atapnya terbuat dari ilalang kering.
"Itu rumah Tian?" tanya Yuan Xia.
"Benar Ayah, dan dulunya Desa ini tidak memiliki penduduk sebanyak ini, namun sejak gege berhasil melenyapkan Organisasi Bintang Hitam, sebagian orang-orang yang berhasil diselamatkan mengungsi dan akhirnya menetap disini!" kata Chie Xie.
Memang saat ini Desa Wunji sudah memiliki banyak penduduk, dan letak rumah para penduduk tidak jauh dari rumah Tian Feng.
Mereka pergi ke rumah Tian Feng, dan saat melangkahkan kaki mereka, dapat dirasakan getaran demi getaran dari pertempuran di Kota Xanhuo, padahal jaraknya sangat jauh.
Lie Yie melihat ke langit yang saat ini sepenuhnya sudah ditutupi oleh awan hitam serta terlihat kilatan-kilatan petir yang menyambar ke segala arah.
Mereka bertiga segera masuk kedalam rumah Tian Feng, dan setibanya di dalam rumah Tian Feng, banyak sarang laba-laba yang menutupi setiap sudut ruangan.
"Sudah sangat lama sekali Tian Feng dan Alice meninggalkan rumah mereka sehingga rumah ini sangat kotor!" kata Yuan Xia.
"Siapa yang ada di dalam? Apakah itu kamu Tian Feng?"
__ADS_1
Yuan Xia dan Lie Yie serta Chie Xie sama-sama saling berpandangan setelah mendengar panggilan dari luar rumah.
Mereka bertiga segera keluar dan melihat seorang pria tua sedang berdiri di halaman rumah.
"Siapa kalian, dan kenapa kalian berani memasuki rumah orang lain?" tanya pria tua tersebut dengan curiga.
"Tuan, apakah tuan ini yang bernama Tuan Hei Tong kepala desa Wunji ini kan?" tanya Chie Xie.
"Bagaimana kamu bisa mengetahui namaku?" tanya sosok tersebut yang tidak lain adalah Hei Tong kepala Desa sekaligus sosok yang membantu acara pernikahan Tian Feng dengan Alice.
"Kita pernah bertemu, tapi saat itu kita belum berkenalan, saya adalah adik angkat Tian Feng, Yuan Chie Xie, dan ini kedua orang tua saya sekaligus orang Tua angkat Tian gege, Yuan Xia!" kata Chie Xie.
"Owh, Tuan Yuan Xia yang menjadi penasehat di istana? Maafkan hamba Tuan karena tidak mengenali Tuan!" kata Hei Tong yang berubah sikapnya setelah mengetahui jika yang di hadapannya adalah salah satu pejabat istana.
"Tuan jangan bersikap seperti itu padaku, itu hanyalah sebuah jabatan saja, ayo angkat badanmu dan masuk kedalam!" ajak Yuan Xia.
"Terima kasih Tuan, tapi saya tidak bisa berlama-lama disini, karena sebagai warga saat ini sedang bersiap-siap untuk pergi mengungsi!" kata Hei Tong.
Yuan Xia hanya menghela nafas, dia mengerti jika semua orang kini sangat ketakutan akibat getaran serta langit yang gelap, hal ini akan menjadi teror bagi semua orang.
Hei Tong menangkupkan kedua tangan serta meminta maaf karena telah menolak niat baik Yuan Xia, dia segera pamit kemudian pergi ke arah rumah-rumah warga.
Wajah Lie Yie terlihat sangat sedih, dia menatap ke langit yang tertutupi oleh awan hitam tebal seraya bergumam, "Apakah kita akan mati? Jika iya aku hanya ingin melihat wajah Tian dan Xihua walau hanya sekali saja! Tian datanglah dan bawa Xihua menemui ibu Nak!" kata Lie Yie kemudian setetes air matanya langsung jatuh ke bawah.
Tepat saat air mata Lie Yie jatuh, se sosok pria yang duduk di sebelah pilar hitam di ruang hampa tiba-tiba saja membuka matanya, dia seperti merasakan sebuah panggilan aneh serta merasa seperti sedang duduk di tengah-tengah air tenang lalu ada setetes air yang jatuh yang membuat riak air tersebut dirasakan olehnya.
"Apa? Kurang ajar, kau benar-benar sangat licik sekali Zhi Yin, berani-beraninya kamu mengirim pasukan untuk menyerang duniaku!" kata sosok tersebut dengan suara geram sekaligus melepaskan pancaran energi yang membuat seluruh ruang hampa bergetar hebat.
"Ada apa? Kenapa kamu menghentikan meditasi mu?" tanya sosok yang satu lagi yang memiliki wujud seperti cermin.
"Aku akan pergi dulu untuk menyelamatkan duniaku serta keluarga ku, nanti aku akan kembali lagi kesini!"
"Sebaiknya kamu selesaikan dulu meditasi mu, lagi pula hanya tinggal sedikit lagi untuk mencapai puncak kesempurnaan!"
"Maaf, tapi saat ini keluarga ku harus segera diselamatkan karena mereka adalah kehidupan serta kekuatan sejatiku, tidak ada hal yang lebih penting di alam semesta ini selain keluarga!" kata sosok tersebut yang tidak lain adalah Tian Feng.
Tian Feng tidak menunggu respon dari Zhi Shan, dia segera berubah menjadi butiran cahaya kemudian menghilang dari hadapan Zhi Shan.
"Iya, mungkin memang ini salah satu dukungan yang bisa membuat dirinya menjadi lebih kuat, keluarga!" gumam Zhi Shan sembari tersenyum tipis kemudian dia kembali melanjutkan meditasinya sekaligus akan menunggu Tian Feng kembali.
***
"Sialan.. Rasakan ini..!"
"Kuasa Rana - Bintang Seribu Pedang."
Azura dengan pedang Tulang leluhur nya melempar pedangnya ke atasnya sehingga pedang tersebut melayang sendiri lalu tiba-tiba saja berubah menjadi jumlah yang sangat banyak.
__ADS_1
Azura yang kemampuannya semakin menurun tetap berusaha menggunakan segenap kemampuannya untuk melawan sosok yang begitu kuat tersebut, dengan menggerakkan seluruh pedang yang jumlahnya sangat banyak ke arah sosok tersebut.
Pedang yang begitu banyak tersebut segera menyebar memenuhi seluruh udara lalu menyerang sosok tersebut dengan dari segala penjuru.
"Seranganmu terlalu lemah!" kata sosok tersebut kemudian dia memutar rantai nya menutupi tubuhnya.
Tubuh sosok tersebut langsung tertutup oleh rantai dan terus berputar bagai putaran gangsing sekaligus menciptakan pusaran angin yang sangat besar di sekitar tubuhnya.
Pedang yang tak terhitung jumlahnya tersebut langsung menghujami tubuh sosok tersebut yang dilindungi oleh rantai yang berputar kencang.
Pedang tersebut segera berbenturan, namun setelah membentur rantai yang berputar itu, pedang tersebut terpental dan terlempar ke segala arah lalu berubah menjadi kabut putih dan menghilang.
Pusaran angin yang dihasilkan oleh putaran rantai mulai menggulung sebagai pedang yang terhempas lalu dikumpulkan menjadi satu kemudian dilempar kembali ke arah Azura.
Azura dengan cepat menahan serangan pedangnya sendiri yang dikembalikan oleh sosok tersebut ke arahnya.
Walau Azura tidak bisa luka karena memiliki tubuh regenerasi, namun energinya masih bisa terkuras, karena itu dia mulai terlihat melemah karena pertarungan yang yang berbeda level.
Dengan nafas yang sudah tidak stabil lagi, Azura hanya bisa menatap sosok yang menjadi lawannya dengan tatapan dingin serta tajam.
Andai bukan karena memiliki pedang yang sangat kuat yang menjadi pendukungnya mungkin sudah lama Azura dikalahkan oleh sosok tersebut.
"Bagaimana, apakah kamu sudah menyadari perbedaan diantara kita? Sudahlah tidak perlu melawan lagi, karena semua itu akan sia-sia saja! Sebaiknya kamu serahkan saja keluarga Dewa Sesat itu padaku sekarang dari pada aku sendiri yang mencarinya dengan caraku sendiri!" kata sosok tersebut yang terlihat sangat meremehkan Azura.
"Cih! Jangan mimpi," kata Azura kemudian dia kembali menyerang.
"Hahaha.. kekuatanmu saat ini sudah menurun, dengan kekuatan yang hanya segitu saja, apakah kamu masih merasa memiliki kesempatan untuk menang?" tanya sosok tersebut yang terlihat seperti meremehkan Azura.
Melihat Azura yang tidak terlihat tidak bisa menjawabnya, sosok tersebut tertawa keras di udara sehingga suara tawanya mampu membuat langit ikut bergetar.
"Hahaha…! Sekarang akan aku akhiri pertarungan ini!" kata sosok tersebut kemudian dia merentangkan kedua tangannya dan muncul beberapa rantai yang lain.
"Pergi dan mati!" seru sosok tersebut sekaligus melepaskan serangan rantainya yang sudah bertambah jumlahnya.
Azura merapatkan gigi nya kemudian berniat untuk mengangkat pedangnya untuk bertahan dari serangan yang akan datang.
Saat rantai-rantai tersebut hampir mencapai ke tubuh Azura, tiba-tiba saja awan hitam tebal itu berlubang sehingga langit cerah yang masih disinari oleh itu terlihat jelas.
Sosok tersebut juga menghentikan serangannya kepada Azura dan dia juga melihat ke arah lubang awan tersebut.
Cahaya matahari yang mulai tembus kini itu berubah dari cahaya matahari berubah kecahay emas, dan setelah itu muncullah para pasukan dari lubang awan yang bercahaya emas tersebut.
"Pasukan Langit! Kalian datang tepat waktu," kata Azura yang melihat bantuan telah tiba.
"Azura, terima kasih karena telah bertahan hingga sejauh ini, sekarang istirahatlah dan pulihkan energimu, sebab mereka bertiga tidak akan mampu melawan sosok itu, sedangkan dia biar aku yang melawannya!"
"Baik Dewa Pelindung Alam Semesta!" kata Azura kemudian dia segera berpindah tempat dan melakukan meditasi pemulihan agar bisa menolong Gaozu dan Qinpi serta Wang Dunrui yang sangat kesulitan menghadapi satu lawannya yang berada di tahap Rana Agung.
__ADS_1