
***
Qeyzya dan Hedelles tidak bisa menyembunyikan keterkejutan mereka saat mengetahui Tian Feng yang sanggup menahan dua gabungan kekuatan mereka berdua.
"Tambah lagi energimu Hedelles! Sunoriki dimana kamu..!"
Qeyzya berusaha mencari keberadaan Sunoriki namun dia tidak melihat keberadaan Sunoriki, terlebih lagi dia kesulitan melihat karena angin badai pasir yang tercipta oleh energi nya sendiri.
"Sunoriki..! Jangan bilang kamu lari dari pertarungan ini, jika benar kamu lari aku pastikan setelah ini aku akan melenyapkanmu..!" seru Qeyzya dengan menggunakan Energinya sehingga suaranya menggema di tengah gemuruh badai, Angin serta petir.
Kedua energi pusaran besar itu masih saling mendorong dan belum ada yang kalah, namun semakin lama pusaran pasir semakin menurun karena Hedelles dan Qeyzya sama-sama mulai kehabisan energi mereka.
"Hai Dewa Sesat! Terimalah Sihir Api ku ini!" kata Patrick yang muncul di belakang Tian Feng.
"Lingkaran Api Kemarahan."
Patrick melemparkan kedua batang besi yang menyala itu ke arah Tian Feng dari belakang dan kemudian kedua besi tersebut berubah menjadi Dua Lingkaran Api besar.
Kedua Api tersebut langsung menelan tubuh Tian Feng dan kemudian menutup menjadi kurungan Api besar.
Hari yang mulai gelap langsung terang di gurun Pasir tersebut akibat dua Lingkaran Api yang berputar menyerupai bola besar.
Patrick tertawa lantang karena sangat yakin jika Tian Feng pasti akan menjadi debu, namun tawa itu hanya sesaat setelah menyadari ada yang salah.
Seharusnya jika Tian Feng terbakar dan mati, pastinya pusaran Awan hitam itu akan hilang, namun kenyataannya pusaran Awan tetap ada dan bahkan semakin terdorong ke arah Hedelles dan Qeyzya.
Patrick dibuat kebingungan oleh kejadian tersebut kemudian dia ingin menambah suhu panas apinya, namun tidak berhasil dan apinya justru malah mengecil dan kemudian kembali berubah menjadi dua batang besi biasa dan hanya tersisa Tian Feng yang masih dalam kondisi baik-baik saja.
"Kenapa bisa begini? Atau jangan-jangan kekuatannya sama dengan Tuan Louis?" Patrick mulai curiga jika Tian Feng menyembunyikan kemampuan aslinya.
"Apakah kamu tidak memiliki keberanian untuk menghadapi ku dari depan?" tanya Tian Feng dengan tubuhnya yang mengeluarkan kabut dingin.
"Elemen Es..? Pantas dia bisa menahan api ku!' gumam Patrick setelah mengetahui jika Tian Feng juga memiliki Elemen Es.
Patrick segera turun kembali ke arah Hedelles dan Qeyzya yang masih kesulitan bertahan dan kemudian Patrick membantunya dengan melepaskan semburan Api dan menyatu dengan pusaran Pasir dan Angin itu.
Gabungan ketiga kekuatan energi tersebut kembali menjadi kuat dan berhasil mengimbangi Pusaran Awan hitam milik Tian Feng.
__ADS_1
"Ayo kita selesaikan ini sekarang juga...!" teriak Hedelles setelah bantuan Patrick membuat mereka berdua kembali unggul.
Mereka bertiga sama-sama berteriak sekaligus melepaskan seluruh energi yang mereka miliki untuk mendorong pusaran energi milik Tian Feng sekaligus melenyapkan Tian Feng.
Pada akhirnya ledakan yang sangat besar membuat guncangan hebat yang membuat seluruh wilayah Kerajaan Wu menjadi panik, serta gelombang kejut yang sangat dahsyat membuat langit yang hampir malam serta tertutup awan langsung bersih dan cerah.
Qeyzya dan Hedelles serta Patrick yang terlempar sama-sama muntah darah dan mengalami luka dalam yang sangat serius.
"Kuat sekali dia, mungkin memang benar kata Ketua Alice jika kita tidak boleh gegabah dan sebisa mungkin untuk menghindari Dewa Sesat jika bertemu dengan nya!" kata Hedelles yang teringat pesan Alice.
Mereka melihat Tian Feng yang masih melayang di udara seperti tidak terluka sama sekali membuat wajah mereka bertiga langsung kusut.
Di kota Xanhuo sendiri juga sedang kacau dan banyak rumah-rumah yang mulai roboh akibat guncangan besar dari ledakan besar yang jaraknya sangat jauh dari mereka.
Chie Xie juga berhasil membuat pelindung energi sehingga kerusakan sebagian wilayah tidak terlalu parah.
"Ternyata benar kata Tian gege jika sebaiknya aku tidak perlu ikut!" kata Chie Xie yang mengerti maksud Tian Feng.
Andai dia ikut Tian Feng, Chie Xie tidak membayangkan jika kerusakan mungkin akan lebih parah dan mungkin akan ada korban jiwa karena tidak ada perlindungan dirinya.
Sebagian tempat mengalami kerusakan yang lumayan parah dan membuat orang-orang panik berlarian berusaha mencari tempat yang aman.
"Qeyzya bagaimana ini? Kita tidak mungkin bisa menang melawan dia, apa kita cari cara untuk kabur?" tanya Hedelles.
"Tidak akan mudah Hedelles! Apakah kamu pikir dia akan membiarkan kita lolos?" tanya Qeyzya.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya lagi Hedelles.
"Apalagi yang bisa kita perbuat! Lebih baik kita melawan dengan sisa energi kita dan mati secara terhormat dari pada kita kabur jadi pecundang dan mati secara terhina!" kata Qeyzya kemudian dia bangkit kembali dan akan kembali menyerang Tian Feng.
Patrick dan Hedelles juga ikut bangkit dan mereka bertiga kembali menyerang Tian Feng dengan sisa-sisa energi yang mereka miliki.
"Tian, sekarang lah saatnya mengurangi jumlah pengikut Kaisar Kegelapan!" kata Xian.
Tian Feng mengangguk kemudian jari-jari kukunya mulai berubah warna.
"Kuku Singa Merah."
__ADS_1
"Cakar Singa Merobek Mangsa."
Tian Feng maju menggunakan jurus Singa Emas nya yang sudah lama tidak digunakan, dan dengan kecepatannya saat ini, serangan jurus Singa Emas ternyata lebih mematikan dari sebelumnya.
Serangan jurus gabungan ketiga Pengawal Bintang Hitam sudah tidak sekuat saat pertama kali mereka bertukar serangan, dengan mudahnya Tian Feng berhasil menahan dan memberikan serangan balasan dengan Cakar Singa.
Serangan Cakar milik Tian Feng berhasil memotong salah satu lengan Hedelles sehingga membuat Hedelles tidak berdaya, dan Qeyzya serta Patrick juga mengalami beberapa luka cakaran yang menganga di tubuh mereka.
"Kalian sudah tidak bisa lagi melawan ku dengan kondisi kalian saat ini, jadi terima saja nasib kalian dan aku akan mengakhiri kalian disini tanpa merasakan sakit apapun!" kata Tian Feng kepada ketiganya yang sama-sama berlutut kehabisan energi.
Dengan darah yang terus mengalir dari luka-luka mereka, nyatanya mereka tidak mau menyerah.
Walau tidak mengatakannya secara langsung, namun dari cara mereka bergerak ingin menyerang Tian Feng sudah menjadi jawaban jika mereka akan bertarung hingga nafas terakhir.
"Aku akui jiwa kesatria kalian! Tapi sayang kalian salah jalan sehingga harus mati dalam dengan membawa jiwa Kegelapan kalian semua," gumam Tian Feng kemudian dia mengambil sabit hitam milik Hedelles.
"Selamat tinggal!" kata Tian Feng.
Seperti yang dikatakan oleh Tian Feng, dia tidak akan menyiksa mereka dan akan memberikan kematian tercepat tanpa rasa sakit.
Tentu saja mereka bertiga sadar jika akan mati sehingga saat sabit hitam sudah di ayunkan, mereka menutup mata dan akhirnya satu-persatu kepala mereka terlepas dari tubuhnya.
"Dengan begini akan semakin berkurang kekuatan Organisasi Bintang Hitam!" gumam Tian Feng sambil memandang ke-tiga jasad tanpa kepala.
Jasad Damon yang juga tanpa kepala sudah tidak ada karena terkubur oleh pasir dan Sunoriki sendiri sudah menghilang lebih dulu saat mereka masih beradu energi.
Tian Feng memperhatikan pakaian yang sudah tidak berbentuk kemudian dia menggunakan Sihir Ruang Waktunya dan kembali ke rumahnya mengganti pakaiannya sekaligus ingin beristirahat karena sejak dia kembali, dia belum sempat beristirahat.
Setelah semuanya lebih tenang dan hari sudah berganti malam, Dusten, Armando dan Arthur tiba di tempat bekas pertarungan Tian Feng.
Mereka bertiga melihat tiga jasad teman mereka yang terbaring tanpa kepala, dan mereka mengenali jasad ketiganya.
"Siapa yang berhasil mengalahkan Qeyzya?" tanya Arthur.
"Sepertinya lawan yang tangguh!" jawab Dusten.
"Setangguh apapun lawannya, akan sangat sulit jika harus melawan dua orang ini, terlebih lagi ada Patrick!" kata Arthur.
__ADS_1
"Hanya ada satu kemungkinan siapa orang yang sanggup membunuh mereka! Dia pasti Pendekar Dewa Sesat karena hanya dia satu-satunya Lawan terkuat di Kerajaan ini!" kata Armando yang menatap ketiga mayat yang tewas secara mengenaskan.
"Sebaiknya kita kembali ke tempat tuan Luois dan menyampaikan kabar ini kematian mereka kepada tuan Luois!" ajak Dustan.