
***
Di kediaman Klan Tsuki, Saichi sedang sibuk melatih beberapa ronin baru. Sekitar 20 pemuda berlatih pedang yang terbuat dari kayu, dan mereka berlatih dengan penuh semangat.
"Kuatkan pegangan mu, tapi jangan terlalu kaku! Siku dan lengan harus bisa bergerak dengan lentur dan fleksibel!" kata Saichi sekaligus memperbaiki cara memegang pedang dari salah satu murid-muridnya.
"Ha..! Haa!" Saichi berseru memberi isyarat agar murid-muridnya itu kembali bergerak mengayunkan pedang kayu mereka.
Jurus pedang gaya ronin memang berbeda dengan jurus pedang lainnya, kelihatannya seperti sederhana, namun sebenarnya gerakan jurus pedang mereka lebih cepat dari yang terlihat.
Tidak hanya pedang yang menjadi jurus andalan para Kesatria Samurai, melainkan mereka juga ahli dalam beberapa senjata panjang lainnya, salah satunya adalah tombak.
Saichi juga menjelaskan berkali-kali kepada para murid didik barunya jika pedang adalah senjata terakhir yang khusus untuk mengeksekusi lawan.
Walau pedang yang dimiliki oleh para Kesatria Samurai, namun pedang tersebut tidak bisa sembarang digunakan.
Jika berhadapan dengan lawan yang banyak serta memiliki kemapuan yang seimbang, senjata pertama yang harus digunakan adalah kayu, tombak, atau senjata lainnya yang bisa melemahkan lawan.
Sebelum menyerang dengan pedang, yang lebih dulu di cari adalah kelemahan lawan, biasanya titik kelemahan ada di bagian leher, pinggang, dan titik yang tidak dilindungi oleh baju Zirah.
"Saichi-sama! Saichi-sama!"
Salah satu ronin memanggil Saichi yang masih melatih serta menerangkan dasar-dasar jurus kepada para muridnya.
"Ada apa?" tanya Saichi.
"Itu Nona Naomi sudah pulang!"
"Nona Naomi pulang? Dia datang sendirian atau dengan Hiroshi-dono?" tanya Saichi.
"Nona Naomi datang berdua dengan seseorang yang mengenakan topeng hitam tapi hanya setengah saja, jika tidak salah topeng itu mirip dengan topeng sang Legenda Kesatria Samurai terdahulu!" kata ronin tersebut.
Saichi sangat penasaran, dia segera memberhentikan pelatihannya dan kemudian pergi untuk menyambut kedatangan Naomi.
Sesampainya pintu gerbang, Saichi bisa melihat dua orang yang sedang duduk di atas kuda mereka masing-masing dan salah satunya adalah Naomi.
"Naomi-sama! Kenapa tidak mengabari dulu kami dulu jika akan pulang? Lalu siapa yang ikut dengan Nona ini?" tanya Saichi.
"Saichi-sama! Maaf karena tidak memberi kabar, semua ini juga di luar rencana!" kata Naomi.
"Emm... Lalu tuan Bertopeng ini?" Saichi tetap mempertanyakan teman Naomi tersebut.
"Tuan Saichi! Lama tidak bertemu, sekarang Tuan terlihat lebih tua dari terakhir kali kita bertemu!"
Saichi menyipitkan matanya saat mendengar pria bertopeng tersebut menyapanya dengan bahasa yang berbeda dari wilayah Wu.
Saichi menoleh kearah Naomi yang tersenyum lebar kearahnya membuat Saichi semakin tidak mengerti dan juga penasaran kepada pria bertopeng yang mengenali namanya.
"Maaf, apakah sebelumnya kita pernah bertemu?" tanya Saichi.
"Iya, dulu kita memang pernah bertemu, waktu itu kamu yang lebih dulu menyapaku di warung makan, hingga akhirnya kita melakukan perjalanan bersama sampai harus bertarung bersama mengalahkan Shinobi Merah!"
__ADS_1
Saichi terdiam sejenak berusaha mengingat kembali, "Shinobi merah dari Suku Mori maksudmu? Tapi waktu itu aku tidak bertarung bersama dengan seorang pria bertopeng! Waktu itu hanya aku, Tuan Hiroshi-dono, para pengawal kami dan...!"
Saichi menghentikan kalimatnya dan matanya mulai melebar seolah-olah mengingat sesuatu.
"Tunggu dulu! Jangan bilang jika kamu ini adalah Tian Feng? Anak kecil yang menutup wajahnya dengan kain?" tanya Saichi.
"Akhirnya Tuan mengingat ku juga!" jawab Tian Feng dengan tersenyum lebar.
Saichi memperhatikan Tian Feng dari atas sampai bawah, dia tidak menduga Anak kecil yang dulu pernah melakukan perjalanan bersama kini sudah berubah, tidak hanya tubuh Tian Feng yang sudah besar, melainkan tubuh Tian Feng seperti mengeluarkan aura merah yang membuat Saichi sedikit merasa ngeri.
"Dulu kamu terlihat seperti Hewan Buas yang sangat sadis membunuh lawan, kini kamu terlihat seperti monster yang saat dilihat mampu membuat kakiku ini gemetar!" kata Saichi.
Tian Feng hanya menanggapinya dengan senyuman saja kemudian dia memperhatikan kesekelilingnya.
"Ayo Tian-kun kita masuk kedalam!" ajak Naomi.
"Owh iya maaf aku sampai lupa mempersilakan Tian-san masuk! Mari masuk dan selamat datang di kediaman Klan Tsuki!" kata Saichi.
Tian Feng mengangguk kemudian dia berjalan bersama Saichi, sedangkan para pengawal dan para murid Saichi hanya bisa saling berbisik.
"Itu senjatamu?" Saichi menanyai Toya yang terbungkus kain hitam dan di letakkan di pundak Tian Feng.
"Iya, ini adalah senjataku!" jawab Tian Feng.
Tian Feng sengaja menutupi Toya Emas nya agar tidak menarik perhatian banyak orang karena Toya nya adalah Emas.
"Sini biar aku atau para pengawal yang membawakannya!" kata Saichi.
Saichi mengangguk saja kemudian dia masuk kedalam rumah.
"Paman Saichi, aku minta kepada kalian semua untuk mempersiapkan diri dan terus waspada!" kata Naomi.
"Memangnya kenapa?" tanya Saichi
Naomi menceritakan akan semua yang sudah terjadi kepada Saichi, jelas saja Saichi terkejut mendengar cerita dari Naomi.
"Ini benar-benar masalah besar! Andai Tuan Daimo mengetahui ini, dia pasti akan datang dan melenyapkan Klan Tsuki dalam sekali serang," kata Saichi.
Saichi memutar otak mencari solusi akan masalah ini, dia sendiri tidak bisa membayangkan andai ayah Hataro mengetahui jika Hataro sekarang berada di tengah lautan lepas seorang diri dan dalam kondisi tubuh terikat, sudah pasti akan ada penyerangan besar-besaran yang bisa melenyapkan seluruh Klan Tsuki yang ada di Toakai.
Awalnya Saichi memiliki harapan terhadap Tian Feng, namun dia sadar jika tidak mungkin bisa bergantung kepada Tian Feng seorang saja, apalagi jika ada seorang dalam jumlah sekala besar.
Dua puluh orang sehebat Tian Feng sekalipun tidak akan mampu menghadapi serangan dari Daimo.
"Seharusnya kalian jangan membiarkan satu orang pun hidup saat itu, bisa saja mereka sudah berada di rumah Tuan Daimo dan menyampaikan hal ini kepada nya!" kata Saichi.
"Apakah Daimo itu se menakutkan itu? Kenapa kalian begitu ketakutan seolah-olah Daimo itu adalah orang yang begitu menakutkan?" tanya Tian Feng.
Saichi dan Naomi yang sudah tiba di ruang tamu saling berpandangan mendengar pertanyaan Tian Feng.
"Tian-san, jika di wilayah mu siapa Pejabat yang memiliki pengaruh besar serta memiliki kekuatan yang mampu memimpin hampir seluruh prajurit kerajaan?" tanya Saichi.
__ADS_1
"Panglima Wei Fang!" jawab Tian Feng.
"Kalau begitu Tuan Daimo juga memiliki pengaruh dan kekuatan yang sama seperti Panglima Wei Fang itu, walau Tuan Daimo bukanlah seorang kesatria, namun dia dilindungi oleh banyak Kesatria hebat serta memiliki wewenang atas wilayah kami ini!" ucap Saichi.
Tian Feng mengangguk pertanda sudah memahami situasinya, dia menyandarkan Toyanya di samping meja kemudian kembali berbicara.
"Kalau memang demikian sangat mudah untuk menghadapi Daimo itu!" kata Tian Feng.
Naomi mengerutkan dahinya, begitu juga dengan Saichi, "Benarkah!? Bagiamana caranya?" tanya Naomi.
"Sebenarnya sangat sederhana sekali, jika orang memiliki pengaruh yang sangat besar di suatu wilayah, pastinya orang itu juga memiliki musuh yang tidak menyukainya."
Tian Feng menjelaskan jika tidak semua orang akan tunduk dan patuh kepada Daimo, seperti halnya Wei Fang yang memiliki musuh di dalam istana.
Saichi hanya perlu mengumpulkan orang-orang yang tidak menyukai Daimo tersebut, mulai dari para Kesatria Samurai, Shinobi, dan kesatria yang lain, setidaknya kekuatan yang di kumpulkan lebih dari setengah dari kekuatan pasukan milik Daimo.
"Apa kamu sudah tidak waras? Dengan kekuatan yang sama saja belum tentu bisa mengalahkan pasukan Daimo, apalagi jika hanya lebih dari setengahnya! Lagi pula sangat sulit untuk mengumpulkan dan mencari orang-orang yang mau ikut melawan Daimo!" kata Naomi.
"Aku tahu! Kebanyakan orang-orang yang tidak suka juga tidak berani untuk melawannya! Namum jika diam saja juga percuma! Sebaiknya kalian ikuti caraku ini, jika memang bisa, maka kalian tidak perlu takut lagi!" kata Tian Feng.
"Tian-san aku masih tidak mengerti!" kata Saichi.
Tian Feng menggaruk kepalanya kemudian kembali menjelaskan secara singkat, "Tuan Saichi, kekuatan tidak harus di ukur dari banyaknya jumlah, melainkan di lihat dari strategi perangnya! Jika ingin menang maka Tuan harus membuat strategi perang yang kuat dengan jumlah kekuatan yang minim!"
"Apa kamu bisa membantu kami untuk mengatur strategi jika perang ini benar-benar terjadi?" tanya Naomi.
"Bagiamana jawabannya ya? Sebenarnya aku juga memiliki urus disini yang harus aku selesaikan secepatnya, setelah itu aku harus pergi ke Kerajaan Jiu!" kata Tian Feng dengan sedikit canggung melihat mata Naomi yang penuh harap.
Naomi dan Saichi jelas merasa kecewa, memang yang disampaikan oleh Tian Feng ada benarnya, namun masalahnya Daimo memiliki beberapa orang yang ahli dalam mengatur strategi perang, karena itu Saichi berharap Tian Feng juga bisa membantunya jika perang benar-benar akan terjadi.
"Aku mengerti Tian-kun, lagi pula ini masalah kami, jadi sudah sepatutnya bagi kami untuk menyelesaikannya sendiri! Aku juga ingin berterima kasih padamu karena sudah menolong ku, mungkin sekarang aku belum bisa membalas kebaikanmu, jika nanti kami benar-benar kalah, aku berharap di kehidupan selanjutnya bisa bertemu lagi dengan mu dan membayar semua kebaikanmu!" kata Naomi.
Tian Feng terdiam mendengar perkataan Naomi, perkataan Naomi mengingatkan dirinya terhadap perkataan Sue Yue.
Sekarang Tian Feng berada dia dua pilihan yang sulit antara tetap berada di klan Tsuki dan membantu Naomi menghadapi masalah tersebut, atau pergi menyelesaikan urusannya untuk mencari keberadaan Suku Mori kemudian pergi ke Kerajaan Jiu secepatnya.
Dengan tersenyum bingung, Tian Feng berpura-pura tidak menghiraukan perkataan Naomi.
"Onesan...!"
Tian Feng yang masih merasa canggung menoleh ke sumber suara seorang pemuda berusia 15 tahun yang datang dari arah pintu belakang.
"Hachiro, kenapa kamu berada disini?" tanya Naomi.
"Aku sudah menjadi murid Saichi sensei!" jawab pemuda tersebut.
Hachiro adalah adik dari teman Naomi, dia adalah pemuda periang namun juga sering bertingkah konyol.
"Benarkah?" tanya Naomi yang tidak percaya.
"Emm.. Tanya saja pada sensei!"
__ADS_1
Naomi melirik Saichi yang juga mengangguk membenarkan perkataan Hachiro, sedangkan Tian Feng tidak mengerti akan apa yang mereka bicarakan sehingga hanya memilih diam sekaligus memikirkan rencana kedepannya karena tujuannya masih sangat jauh.