Kesatria Tombak Nirwana

Kesatria Tombak Nirwana
hubungan kerja sama


__ADS_3

"Guru, kamu kirim kemana Alice dan Naomi serta Chie Xie?" tanya Tian Feng setelah suara pria sepuh itu menghilang.


"Aku mengirim mereka ke dunia ku, hanya di dunia ku yang paling aman!" jawab Ho Chen.


"Apa yang sedang terjadi terhadap cucuku? Apakah ada yang ingin mencelakainya?" Louis juga bertanya.


"Aku tidak tahu, sebaiknya kita segera pergi ke dunia ku, kemungkinan besar saat ini istrimu sedang membutuhkanmu!" ucap Ho Chen kemudian dia menghampiri Yinfei dan yang lainnya.


"Senior sekalian, kalian semua tolong bantu yang lainnya untuk memulihkan dunia ini yang sudah rusak!" kata Ho Chen.


"Memangnya Feng Ying mengatakan apa? Apakah ada sesuatu yang sangat serius?" tanya Hanzi.


"Entahlah Senior Han!" jawab Ho Chen kemudian dia mulai membuat segel tangan.


"Ayo kalian berdua saling bergandengan, kita akan melewati lorong waktu agar lebih cepat sampai!" ucap Ho Chen.


Tian Feng mengangguk kemudian dia mencari keberadaan Zang Yang, namun ternyata Zang Yang berada di tempat lain sedang mengurus para anggota Organisasi Bintang Hitam yang sudah tertangkap, sedangkan Wei Fang sama sekali tidak terlihat.


Wei Fang sebenarnya masih bertarungnya dengan Daidai, keduanya terbang jauh hingga ke perbatasan dan melanjutkan pertarungan keduanya di sana.


Setelah semuanya sudah siap, Ho Chen segera menjentikkan jarinya dan ketiga dalam sekejap mata langsung menghilang.


"Apa yang harus lebih dulu kita lakukan disini?" tanya Xi Liyi.


"Pertama-tama kita perbaiki dulu kerusakan di desa ini, lihatlah desa ini hancur seperti tanah kosong yang tandus!" jawab Yinfei.


"Aku setuju, kalau begitu mari kita lakukan dengan sihir kita!" ucap Lio Long.


Mereka semua segera terbang cukup tinggi kemudian berpencar di udara, Xi Liyi bersama Lang Yu, Wang Dunrui bersama Hanzi, Yinfei bersama Lio Long dan Cao Yuan hanya sendirian.


Mereka semua secara serentak melepas sihir elemen untuk memulihkan kondisi desa yang hancur, walau bukan mengembalikan rumah para warga, namun setidaknya desa Wunji harus layak untuk di huni kembali.


****


Wei Fang dan Daidai terus bertarung hingga keduanya mencapai batas kekuatan masing-masing, yang awalnya bertarung dengan mengandalkan serangan energi dan jurus-jurus andalan, kini keduanya yang mulai kehabisan energi mulai bertarung dengan serangan jarak dekat yang tidak teratur.


"Apakah kamu masih mampu melanjutkan pertarungan ini, Daidai? Apakah kamu belum sadar juga jika Organisasi Bintang Hitam yang kamu ikuti sudah di kalahkan?" tanya Wei Fang sekaligus memberikan satu pukulan ke pipi Daidai.

__ADS_1


Tubuh Daidai hampir jatuh, namun dia berhasil menstabilkan tubuhnya agar tidak jatuh kemudian dia kembali bangkit dengan mengusap darah di mulut seraya tertawa pelan.


"Hahaha.. Kamu selalu saja menganggap aku ini sebagai budak Organisasi itu, lagi pula aku masih sanggup melawanmu hingga ratusan jurus lagi!" jawab Daidai dengan di sertai pukulan telak membalas pukulan Wei Fang.


Wei Fang juga melayangkan pukulan yang sama, dan pukulan keduanya sama-sama mengenai wajah mereka masing-masing hingga keduanya sama-sama tersungkur dengan darah yang keluar dari mulut masing-masing.


Keduanya kembali bangkit dengan kondisi sempoyongan dan kembali menyerang dengan sisa-sisa tenaga yang sangat lemah, setiap serangan masing-masing terlihat seperti orang yang mabuk berat, walau sebenarnya mereka sudah benarkah tidak memiliki energi yang tersisa.


Kebanyakan pukulan keduanya sama-sama melesat, namun terkadang pukulan keduanya sama-sama mengenai dada.


Secara perlahan-lahan mereka bergerak mendekati tebing, disana ada air terjun yang di bawahnya ada banyak batu tajam, namun keduanya tetap saling bergulat tanpa memperdulikan pijakan batu yang licin di pinggir sungai.


Keduanya yang masih sama-sama saling mengunci dan berguling-guling di pinggiran sungai akhirnya tercebur ke air sungai dan sama-sama hanyut di seret oleh derasnya arus hingga mencapai pinggiran air terjun.


Keduanya masih saling tendang dan memukul walau sudah terseret dan tidak lama lagi akan jatuh ke air terjun. Akhirnya keduanya sama-sama jatuh di air terjun tersebut, saat terjatuh tubuh keduanya tiba-tiba saja tersangkut di sebuah tali akar serabut besar di tengah-tengah derasnya air terjun itu.


Keduanya yang sudah sama-sama kehabisan tenaga hanya bisa memeluk tali akar serabut tersebut, mereka berdua berusaha masuk menghindari terjangan air terjun yang sangat kuat, dan setelah berada di bagian dalam air terjun, mereka berdua sama-sama terkejut saat melihat ada Goa di balik air terjun tersebut.


Kini keduanya tidak lagi memperdulikan lawan, yang terpenting bagi mereka saat ini bisa memasuki Goa tersebut guna untuk beristirahat mengisi kembali energi mereka, setelah itu keduanya akan berencana kembali bertarung.


Daidai lebih dulu berhasil mencapai mulut goa, sedangkan Wei Fang dengan susah payah akhirnya dia juga berhasil mencapai mulut goa kemudian dia telentang dengan nafas yang memburu.


"Hahaha... Kita lihat saja siapa yang lebih dulu pulih!" jawab Wei Fang dengan tertawa pelan.


Baru kali ini dia bertarung melawan Daidai hingga mencapai batas, kekuatan Raja yang sebelumnya mengguncang tanah, pada akhirnya habis dan berakhir dengan pertarungan duel seperti layaknya manusia biasa yang tidak memiliki kemampuan apapun.


Daidai juga sepemikiran dengan Wei Fang, ini juga baru pertama kalinya dirinya bertarung hingga ke titik terendah, sebelumnya saat masih sama-sama berada di puncak Pendekar Cahaya Tahap 3, walau sama-sama terluka tetapi mereka tidak pernah berduel hingga ke batas titik terendah.


Wei Fang dan Daidai sama-sama saling berpandangan, tatapan keduanya masih sama-sama mengandung permusuhan, namun karena tidak ada lagi energi yang tersisa, keduanya hanya bisa menahan dalam diam.


Setelah beberapa saat, keduanya secara perlahan-lahan merangkak masuk kedalam Goa yang dingin tersebut, keduanya sama-sama menempati batu sandaran yang tidak terlalu berjauhan.


Setelah sama-sama mendapatkan posisi yang pas, mereka berniat untuk bermeditasi, namun saat akan memulai untuk bermeditasi, mata keduanya sama-sama melihat ada dua kerangka manusia terbaring tidak jauh dari tempat keduanya.


Namun bukan kerangka itu yang membuat keduanya terkejut, melainkan ada dua lencana berkarat di masing-masing seragam keduanya.


"Ini pakaian prajurit lama milik Wutong dan juga Xiadong? Kenapa kedua prajurit ini sama-sama mati di disini?" gumam Wei Fang dan Daidai juga memiliki pemikiran yang sama.

__ADS_1


"Keduanya mungkin adalah pasukan terdahulu yang sama-sama terjatuh disini kemudian saling membunuh dan mati bersama-sama, anggap saja nasib mereka hampir mirip dengan kita, namun akhirnya nasib kita tidak akan berakhir sama seperti mereka!" kata Daidai.


Wei Fang tidak menjawab, matanya menelusuri seluruh dinding goa dan kemudian dia melihat ada tulisan pahatan di dinding goa.


Wei Fang kesulitan untuk membacanya karena cahaya di dalam Goa belum terlalu terang, sedangkan Daidai melihat Wei Fang yang menatap ke dinding goa segera ikut melihatnya dan kemudian dia juga melihat tulisan tersebut, hanya saja dia juga sulit untuk membacanya sehingga mau tidak mau keduanya harus sama-sama mendekati tulisan itu agar bisa membacanya.


"Ini tulisan curahan hati dari mereka berdua!" kata Wei Fang.


Daidai terdiam dan lebih fokus untuk membaca setiap tulisan pahatan yang acak di dinding tersebut. Dari tulisan tersebut mereka terkejut karena ternyata kedua prajurit tersebut sudah lama berada di dalam Goa tersebut sejak perang pertama kedua antara Kerajaan Wutong dan Kerajaan Xiadong.


Keduanya sama-sama terluka dan pada akhirnya hidup bersama selama beberapa hari, kedua prajurit tersebut sangat menginginkan kedamaian seperti yang mereka rasakan bersama di dalam goa.


Tulisan itu mencerminkan sebuah harapan yang tidak pernah terwujud, hidup secara damai dan menjadi sekutu baik agar menjalani hubungan yang baik dengan kedua belah pihak tanpa harus menumpahkan darah siapapun.


"Apakah kamu percaya ini? Kemungkinan besar mereka berdua mati sebelum kita menjadi Panglima masing-masing!" ucap Wei Fang.


"Mereka menulis ini mungkin karena merasa putus asa dan secara terpaksa berdamai agar memiliki teman hingga akhir, itu karena mereka sama-sama menyadari jika mereka tidak akan bisa bertahan hidup lebih lama lagi!" kata Daidai.


"Aku ingin bertanya sesuatu padamu, tapi kamu harus menjawabnya dengan jujur!" kata Wei Fang.


"Apa yang ingin kamu tanyakan?" tanya Daidai seraya menaikkan sebelah alisnya.


"Apakah kamu juga menginginkan perdamaian seperti mereka?" tanya Wei Fang.


Daidai terdiam mendengar pertanyaan Wei Fang, dia sebenarnya juga menginginkan perdamaian seperti harapan kedua prajurit yang sudah menjadi tulang-belulang itu, hanya saja bagi Daidai itu adalah hal yang tidak mungkin.


"Sulit Wei Fang, sejak dulu kita sudah saling berperang, rasanya mustahil bagi kedua Kerajaan ini untuk berdamai!" jawab Daidai.


"Tidak ada yang mustahil jika kita tidak mencobanya Daidai, lagi pula perang tidak akan selamanya bisa menyelesaikan masalah, yang ada hanya membuat kerugian besar dan kesengsaraan bagi rakyat, jalan satu-satunya adalah kita!" kata Wei Fang kemudian dia menatap kedua tengkorak yang tergeletak di tanah lalu kembali berbicara, "Kalau kita diam dan mengikuti arus seperti tadi, maka kita pasti akan sama-sama mati, namun karena kita mau melawan arus itu sendiri, pada akhirnya kita masih bisa bertahan, bukankah ini juga hal yang seharusnya mustahil bagi kita untuk selamat?"


Daidai berpikir sejenak memikirkan ucapan Wei Fang, memang selama ini mereka hanya mengikuti keinginan dan perintah dari Raja dan para petinggi lainnya untuk terus berperang demi memperebutkan sebuah wilayah.


"Kamu benar sekali Wei Fang, sepertinya perang dan permusuhan ini tidak akan pernah habis jika tidak ada orang yang berani bertindak untuk mencegah peperangan agar tidak terjadi, dan aku rasa hanya kita yang dapat melakukan itu!" kata Daidai.


"Kalau begitu apakah kamu setuju jika kita berdua sama-sama menyampaikan ini kepada Raja kita masing-masing agar menghentikan peperangan dan menjalin hubungan kerja sama agar tercipta kedamaian?" tanya Wei Fang.


"Aku setuju, lagi pula aku yakin jika semua pasukan pasti akan setuju dan mendukung ku, memangnya siapa orang yang tidak menginginkan perdamaian?" jawab Daidai.

__ADS_1


"Baiklah jika demikian, setelah kita keluar dari sini, kita akan membicarakan ini kepada Raja kita masing-masing, nanti jika di setujui kita akan melakukan perjanjian baru serta pembagian wilayah Peta yang baru, bagaimana?"


Daidai mengangguk setuju, lagi pula dia tidak terlalu peduli dengan pembagian wilayah itu, yang ia inginkan hanyalah membuat kedua Kerajaan berdamai, dan setidaknya Daidai serta Wei Fang bisa mewujudkan harapan kedua prajurit yang sudah jadi tengkorak tersebut.


__ADS_2