
***
"Ini benar-benar gila! Bagaimana mungkin She Ying mati begitu saja di tangan seorang pendekar yang masih muda? Kau Cin Peng, jelaskan semua kejadian ini padaku!" kata seorang pria tua berambut putih dan giginya hanya tinggal beberapa biji saja.
Taiyan Zin dan Cin Peng sama-sama saling berpandangan, mereka berdua berlutut dan tidak berani menatap wajah pria tua tersebut yang terlihat sangat murka.
"Be-begini pimpinan! Pemuda itu seperti memiliki ilmu bela diri yang sangat tinggi, bahkan kami bertiga sama sekali tidak bisa melukainya!" kata Cin Peng dengan tubuh gemetar.
"Seperti apa ciri-ciri nya, dan jurus apa yang ia gunakan?" tanyanya sambil melotot kearah Cin Peng dan Taiyan Zin.
"Pemuda itu bertubuh tinggi, dan wajahnya mengenakan topeng hitam yang hanya sebelah saja, dia mengatakan jika dia adalah murid Mao Lao si Dewa Mabuk, akan tetapi saat bertarung, dia malah menggunakan jurus Dewa Iblis dari perguruan Hutan Iblis yang sudah lenyap!" kata Taiyan Zin.
"Jurus Dewa Iblis dari Perguruan Hutan Iblis? Maksud mu dia memiliki hubungan dengan Ho Gong dari Hutan Iblis?" tanya lagi pria tua tersebut.
"Sepertinya begitu!" jawab Taiyan Zin.
"Ho Gong bukanlah seorang pendekar hebat, kamu sendiri saja masih bisa mengalahkan nya, jadi mana mungkin dia bisa memiliki murid muda yang lebih hebat dari gurunya? Terlebih lagi Ho Gong sudah lama tiada!"
"Itu bisa saja Pimpinan, mungkin saja dulu ke-lima murid Ho Gong itu yang melatihnya, karena kabar terakhir yang kami dengar Ke-lima Iblis Kematian itu sempat di temukan tewas dan ada satu anak kecil di sana, bisa saja anak kecil itu menyimpan kitab Iblis dari masing-masing ke-lima Pendekar Iblis Kematian itu!" kata Taiyan Zin dengan nada masih terdengar feminim.
"Taiyan Zin! Cin Peng! Aku tidak peduli akan siapa murid siapa anak itu, untuk saat ini kita jangan dulu bertindak gegabah hingga nanti Bunga Duri menemukan ketua yang baru! Akan tetapi suruh beberapa orang untuk mengumpulkan informasi terkait pemuda bertopeng itu!" kata Pria tua itu kemudian dia melihat kearah seorang pemuda yang sedang berlatih di depan rumah.
"Jika benar pemuda ini memiliki hubungan dengan Ho Gong, seharusnya dia itu bergabung dengan para pendekar aliran sesat dan bukan menyerang sesama pemilik ilmu sesat! Andai aku tidak akan melakukan latihan tertutup besok, maka aku sendiri yang akan mencarinya!" kata pria tersebut.
Jia Tai Yan adalah pendiri sekaligus Pimpinan besar Organisasi Tiga Bunga, sebenarnya dia bukan asli penduduk Kerajaan Wu, melainkan dia berasal dari Kerajaan Jiu.
Dia datang ke Kerajaan Wu karena ingin menguasai Wilayah Kerajaan Wu dan akan menjadi seorang pemimpin, namun saat itu kekuatan masih belum cukup sehingga dia mulai merekrut beberapa Pendekar dan kemudian mendirikan Organisasi Tiga Bunga.
Baik Taiyan Zin maupun Cin Peng belum mengetahui seberapa besar kekuatan Jia Tai Yan, namun mereka pernah mendengar jika Jia Tai Yan sudah berada di tingkat yang melebihi batas Tingkat Pendekar Cahaya Tahap 3.
"Aku akan mengirimkan surat ke Perguruan Jurang Neraka, aku yakin Saudara Lang Wang pasti akan mau menjadi ketua pengganti She Ying," kata Ji Yan Tai.
"Apakah Pimpinan yakin akan mengajak Lang Wang sekaligus akan menjadikan dia sebagai pengganti She Ying?" tanya Cin Peng.
"Iya tentu saja! Dia memang pantas menjadi pengganti She Ying, walau sifatnya seperti pendekar gila, namun dia masih bisa di andalkan untuk menjadi ketua di Bunga Duri?"
"Kali ini rivalmu akan bersamamu lagi Cin Peng!" kata Taiyan Zin sambil mengedipkan matanya kepada Cin Peng yang merasa tidak senang saat tahu jika Lang Wang akan menggantikan posisi She Ying.
"Mulai besok aku akan melakukan latihan tertutup jadi kedepannya aku serahkan urusan ini padamu Taiyan Zin, ingat sebelum aku selesai dari latihan ku, jangan pernah bertindak gegabah, cari dulu informasi akan anak muda itu, dan juga pastikan jika para sekutu-sekutu kita tidak ada yang berkhianat! Jika ada habisi mereka termasuk Zhi Yu Zhuan, dialah akar masalah penyebab matinya She Ying, jadi awasi dia!" kata Ji Yan Tai kemudian dia bangkit dan meninggalkan ruangan tersebut.
Taiyan Zin bernafas lega karena Ji Yan Tai tidak jadi menghukumnya, namun tidak untuk Cin Peng, "Dari sekian banyaknya pendekar aliran sesat, kenapa harus dia yang menggantikan posisi She Ying?" gumam Cin Peng.
"Kalau kamu tidak suka, kenapa kamu tidak protes saja sama pimpinan? Sudahlah aku mau pulang, gara-gara pertarungan tadi penampilan ku sudah tidak cantik lagi!"
Taiyan Zin keluar dengan berjalan melenggang seperti layaknya seorang perempuan, Taiyan Zin seperti tidak peduli apakah Cin Peng akan suka atau tidak terhadap keputusan pimpinan utama Organisasi Tiga Bunga tersebut.
__ADS_1
"Dasar Banci miring!" gerutu Cin Peng kemudian dia juga keluar untuk pulang ke rumahnya.
***
Yuan Xia hanya memasang wajah masam, dia sungguh kehabisan kata-kata saat berada di hadapan anak serta manantunya.
"Apakah ayah akan memenuhi janji ayah terhadap Tian atau tidak?" tanya Lie Yie dengan tersenyum lebar.
"Ayah, sudah dua kali Tian menolong keluarga kita, ini adalah sebuah pengorbanan yang lebih besar dari pada sebuah nama! Apa menurut ayah Tian masih tidak pantas untuk memiliki nama besar keluarga kita?" tanya Yuan Xia.
Yuan Jiu hanya menghela nafas panjang, dia sudah tidak bisa memungkiri lagi jika Tian Feng memang sudah melakukan hal besar untuk keluarganya, tidak hanya sekali melainkan hingga dua kali.
"Baik-baik aku menyerah dan aku akan menepati janjiku padamu, jika dia nanti sudah datang, aku akan mengatakannya secara langsung dan akan mengakui dia sebagai cucuku!" kata Yuan Jiu.
"Terima kasih kakek...!" Chie Xie yang mendengarkan pembicaraan mereka di balik tirai segera berlari dan memeluk Yuan Jiu.
"Jika kamu merasa aku mengakui anak itu sebagai kakakmu, maka itu akan terjadi!" kata Yuan Jiu dengan tertawa dan mengusap rambut Chie Xie dengan lembut.
"Ini sudah malam, tapi kenapa Tian belum pulang juga? belum lagi nanti kami harus pergi kerumah Panglima Wei!" kata Yuan Xia.
"Apa kamu lupa, tadi ada suara lonceng yang sangat keras, aku yakin dia masih mengurus kekacauan itu bersama Panglima Wei Fang." kata Yuan Jiu mengingatkan.
"Kita tunggu saja dulu sebentar, mungkin sebentar lagi dia pulang," kata Lie Yie.
Setelah menunggu cukup lama, Tian Feng pun datang dan menghampiri mereka semua yang sedang berkumpul di ruang utama.
"Kenapa mereka semua berkumpul di tempat ini?" batin Tian Feng sekaligus berjalan menghampiri mereka.
Pandangan Tian Feng mengarah kepada Yuan Jiu yang juga berada di tempat dan menatapnya, jelas Tian Feng tidak akan lupa terhadap kakek tua itu karena kakek tersebut adalah ayah Yuan Xia sekaligus satu-satunya orang yang tidak mengakui keberadaan nya.
"Tian kemarilah, ada hal penting yang ingin kami bicarakan mengenai dirimu!" kata Yuan Jiu.
"Tentang diriku? Ada apa denganku, apakah aku sudah membuat kesalahan?" tanya Tian Feng.
"Duduklah dulu Tian dan dengarkan saja nanti apa yang ingin di katakan oleh kakekmu!" kata Lie Yie.
Tian Feng menurut dan dia menatap ke arah Yuan Jiu dengan penasaran sekaligus memandangi Chie Xie yang tersenyum lebar kearahnya.
Setelah Tian Feng duduk suasana hening untuk beberapa saat dan kemudian suara Yuan Jiu terdengar lebih dulu sekaligus memulai pembicaraan.
"Tian, sebelumnya aku minta maaf atas sikapku yang tidak menghargai keberadaanmu! Awalnya aku menganggap keberadaan dirimu hanya akan membuat keluarga kami tercoreng di mata masyarakat, namun ternyata semua anggapan burukku padamu semuanya keliru!" kata Yuan Jiu.
Tian Feng tersenyum tipis mendengar pengakuan Yuan Jiu, dia tidak memotong ataupun menyela perkataan Yuan Jiu dan terus mendengarkan akan apa sebenarnya yang ingin Yuan Jiu katakan padanya.
"Aku sadar sebagai orang tua sudah memberikan contoh yang buruk bagi keturunan ku, andaikan ada seorang kakek yang memiliki sifat buruk, itu adalah diriku! Sekarang mataku sudah terbuka dan melihat ketulusan mu terhadap keluargaku, dan jika bisa aku ingin mendengar kamu memanggil ku kakek, itu jika kamu tidak keberatan, kalau kamu masih sakit hati atas semua sikap ku terdahulu padamu, kamu bisa menghukum ku.
__ADS_1
Apakah kamu mau mengutuk ku yang sudah tua ini, atau mau memberikan maaf pada semuanya kembali pada keputusan mu!" kata Yuan Jiu.
Tian Feng terdiam dan berpikir sesaat, jika di ingat-ingat lagi umur Yuan Jiu dan dirinya tidak berbeda jauh, mungkin Tian Feng lebih tua sedikit, namun mengingat kondisi tubuh Tian Feng yang saat ini seperti anak muda, tidak mungkin rasanya jika dia tidak memanggil Yuan Jiu dengan panggilan kakek.
Di saat Tian Feng masih melamun, Yuan Jiu sudah bangkit dan berdiri di hadapannya. Tian Feng mengerutkan dahinya menatap kearah Yuan Jiu yang sudah berdiri tepat di hadapannya.
"Tian, aku mohon maafkan aku!" kata Yuan Jiu kemudian dia berniat untuk berlutut di hadapan Tian Feng.
Tian Feng yang terkejut dengan cepat bangkit dan menahan pundak Yuan Jiu agar tidak berlutut, "Apa yang kakek lakukan? Aku mohon kakek tidak perlu berlutut lagi!" kata Tian Feng sambil mengangkat tubuh Yuan Jiu yang hampir saja berlutut.
"Apakah kamu mau memaafkan ku dan mengakui ku sebagai Kekek mu?" tanya Yuan Jiu dengan tatapan penuh harap.
Tian Feng menoleh kearah Lie Yie yang mengangguk pelan padanya, begitu juga dengan Yuan Xia dan Chie Xie.
"Yang lalu biarlah berlalu, lupakan semuanya yang sudah terlewati, dan mulai sekarang kita akan memulai lembaran baru sebagai keluarga yang sempurna!" kata Tian Feng.
Mata Yuan Jiu, Yuan Xia, Lie Yie dan Chie Xie berkaca-kaca mendengar perkataan Tian Feng, Yuan Jiu langsung memeluknya sambil meneteskan air mata nya.
"Terima kasih Tian! Terima kasih karena kamu sudah mau memaafkan diriku ini!" kata Yuan Jiu.
Sudah sangat lama sekali Yuan Jiu tidak pernah meneteskan air matanya, sikapnya yang keras dan angkuh kini seperti sudah lunak saat dirinya menyadari betapa bodohnya dia selama ini.
Yuan Jiu merasa telah dibutakan oleh keangkuhannya sehingga tidak bisa melihat akan niat dan ketulusan Tian Feng yang sudah menganggap keluarga Yuan sebagai keluarganya sendiri.
"Duduklah kek!" kata Tian Feng.
Yuan Jiu mengangguk kemudian dia duduk di tempat semula, sedangkan Lie Yie yang merasa bahagia pergi kedalam bersama Chie Xie untuk menyiapkan teh makan malam.
"Ehh.. Guru Zang dimana? Kenapa sejak tadi aku tidak melihatnya?" tanya Tian Feng.
"Guru Zang sedang memulihkan diri di kamarnya, dia memintaku agar tidak ada yang mengganggunya lebih dulu hingga besok!" jawab Yuan Xia.
"Owh iya Tian, setalah makan malam kita akan pergi kerumah Panglima Wei Fang, kamu mau kan ikut kesana?" tanya Yuan Xia.
"Tentu saja ayah, sebenarnya aku baru pulang dari rumah beliau, baju ini juga pemberian darinya," kata Tian Feng.
"Kamu baru dari sana? Lalu kemana bajumu yang lama?" tanya Yuan Jiu.
Tian Feng tersenyum tipis kemudian menjelaskan jika bajunya sudah acak-acakan akibat pertarungan dengan Wei Fang, dan para pendekar lainnya saat dirinya tidak bisa mengontrol ilmu Iblisnya.
Mereka semua berbincang hingga makan malam sudah di siapkan, setelah itu mereka semua makan malam bersama, dan ini untuk pertama kalinya Tian Feng makan malam bersama keluarga lengkap Yuan Xia.
Seusai makan malam, Yuan Xia dan Tian Feng pergi kerumah Wei Fang karena dia sudah di suruh datang kesana untuk membicarakan hal penting.
Yuan Jiu sendiri berencana menginap semalam dan akan pergi esok harinya karena mau pulang pun hari sudah larut malam.
__ADS_1