
***
"Ketua, bagaimana ketua bisa menjadi seperti ini? Siapa yang sudah melakukannya?"
Taiyan Zin menemukan Jia Tai Yan yang sedang terluka, luka yang dialami oleh Jia Tai Yan sangat parah, dia mengalami patah tulang yang sangat parah di beberapa bagian.
"Sebaiknya kamu jangan banyak tanya dulu! Bawa aku ke markas kita yang lain, nanti suruh Cin Peng dan Lang Wang untuk datang, ada yang ingin aku bahas dengan kalian semua!" kata Jia Tai Yan yang tidak bisa bangkit.
"Kalau begitu saya akan membawa ketua ke Markas saya!" kata Taiyan Zin.
"Tidak jangan kesana lagi, apa kamu tidak berpikir kenapa aku bisa berada disini dalam keadaan terluka?"
Taiyan Zin berusaha berpikir namun dia tidak mengerti sama sekali maksud perkataan Jia Tai Yan.
"Dasar Banci bodoh! Markas mu sudah hancur karena Pemuda yang sudah membunuh She Ying itu datang dan bertarung dengan ku hingga aku terluka."
Taiyan Zin terkejut mendengarnya, tidak hanya terkejut karena markasnya yang sudah hancur, namun dia juga terkejut karena ternyata Jia Tai Yan juga bisa dikalahkan oleh Tian Feng.
Sekarang Taiyan Zin baru menyadari betapa hebatnya Tian Feng, padahal Jia Tai Yan dan juga Kai Jhin bukan pendekar sembarangan.
Awalnya Taiyan Zin mengira jika Tian Feng berhasil mengalahkan Kai Jhin karena sebuah keberuntungan saja, namun sekarang sudah bisa disimpulkan jika Tian Feng memang memiliki kemampuan yang lebih tinggi lagi.
"Baik kalau begitu kita ke Markas Cin Peng saja!" kata Taiyan Zin kemudian dia membantu Jia Tai Yan untuk bangkit kemudian dia membopong Jia Tai Yan pergi ke markas rahasia Cin Peng.
Taiyan Zin hanya bisa menahan kesal, dia pergi ke salah pemimpin kelompok dari Foiberia untuk membahas rencana penyerangan gabungan ke Istana dalam waktu dekat.
Kini setelah kembali ternyata Markasnya sudah hancur, dan terlebih lagi Jia Tai Yan yang rencananya akan menjadi pemimpin penyerangan justru terluka sehingga kemungkinan rencana pengembangan akan di batalkan.
Taiyan Zin penasaran kemana Kwe Shin dan dua Pengawal lainnya yang sombong saat Tian Feng datang dan mengacak-acak markasnya, bukankah Kwe Shin dan para Organisasi Bintang Hitam berada disana, lalu kenapa yang terluka justru Jia Tai Yan.
Taiyan Zin ingin bertanya akan rasa penasarannya, namun dia tahu waktunya masih belum tepat.
__ADS_1
Taiyan Zin mengikat tubuh Jia Tai Yan di tubuhnya dan mereka berdua pergi ke Markas Cin Peng dengan satu kuda.
Sebenarnya Taiyan Zin sempat memiliki pemikiran untuk melenyapkan Jia Tai Yan yang sedang terluka, kemudian menggantikan posisinya sebagai Pimpinan utama Organisasi Tiga Bunga, namun dia mengurungkan niatnya.
Walau Jia Tai Yan sudah terluka parah dan terlihat melemah, namun Jia Tai Yan masih mampu untuk membunuh Taiyan Zin dengan mudah walau dalam kondisi terluka.
"Pemuda itu harus merasakan pembalasan ku suatu saat nanti, kalaupun aku tidak bisa mengalahkannya, namun dia masih memiliki keluarga yang bisa aku jadikan untuk melemahkannya," batin Jia Tai Yan.
Jia Tai Yan sudah memiliki niat untuk melenyapkan seluruh keluarga Tian Feng jika dirinya sudah sembuh nantinya, namun dia tidak tahu kapan dia akan bisa sembuh lagi dan butuh berapa lama.
Setidaknya itu yang ada di benak Jia Tai Yan saat ini, karena menurutnya satu-satunya cara mengalahkan Tian Feng adalah menghancurkannya dari dalam.
Untuk saat ini dia hanya akan fokus untuk menyembuhkan diri terlebih dahulu hingga dirinya benar-benar pulih kembali, dan sekarang dia hanya bisa menyuruh kepada Ke-tiga ketua cabang untuk mengawasi keluarga Tian Feng selama dirinya masih dalam masa penyembuhan.
***
"Ada apa Alice, kenapa kamu datang kesini?"
"Kakek! Aku ingin bertanya sesuatu padamu!" kata Alice.
"Apa yang ingin kamu tanyakan, apakah ada hubungannya dengan Organisasi?" tanya kakeknya Alice.
"Dulu Kakek pernah menceritakan padaku jika Dewa yang kita agungkan ini takut terhadap seorang manusia yang di juluki Pendekar Dewa Sesat bukan? Apakah kakek pernah bertemu dengannya?" tanya Alice.
Kakek Alice yang masih membaca buku segera berhenti dan menutup bukunya dan menatap Alice dengan warna bola matanya yang agak kebiruan.
"Kenapa kamu tiba-tiba saja bertanya tentang Pendekar Dewa Sesat?" tanya Kakeknya Alice.
"Sebenarnya salah satu dari 20 api sudah padam, dia adalah api ke 17," kata Alice.
Kakek Alice mengerutkan dahinya mendengar kabar tersebut, "Kenapa bisa seperti itu? Apakah dia di bunuh?"
__ADS_1
Alice mengangguk kemudian dia melangkah ke arah jendela, "Api ke 17 mati di bunuh oleh seseorang dari Kerajaan Wu, dia di juluki Pendekar Dewa Sesat, karena itu aku kesini ingin bertanya kepada kakek terkait masalah ini, soalnya cerita kakek tentang Pendekar Dewa Sesat itu kini sudah terbukti ada!" kata Alice.
Kakek Alice menatap jauh keluar jendela sekaligus berbicara, "Aku memang pernah menceritakan tentang nya padamu, namun aku sendiri tidak pernah bertemu atau mendengar namanya kecuali dari Panglima Gerbang Utara dan sekarang dari dirimu."
Alice sedikit keheranan dan mulai berpikir jika kemungkinan manusia yang di takuti oleh Dewa yang di agung-agungkan oleh mereka saat itu belum ada, artinya Pendekar Dewa Sesat saat itu adalah orang dari masa depan atau saat itu masih belum ada.
"Jika demikian apakah Pendekar Dewa Sesat ini adalah seorang yang belum pasti? Tapi apakah Pendekar Dewa Sesat dan Manusia yang akan memiliki Pusaka Nirwana ini adalah satu orang yang sama?"
"Kemungkinan besar begitu! Tapi aku masih tidak tahu serta tidak menyangka jika Pendekar Dewa Sesat itu ternyata benar-benar ada di dunia ini," kata Kakeknya Alice.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan jika aku sampai bertemu dengan orang itu kakek?"
Kakek Alice terdiam sesaat berusaha mencari jawaban dan solusi yang tepat, " Begini saja, kamu selidiki dulu siapa si Dewa Sesat ini, apakah dia sudah tua atau masih muda? Jika dia masih muda, gunakanlah kecantikan yang kamu miliki untuk menggoda dan mengambil hatinya, jika dia sudah takluk barulah kamu bunuh dia!" kata Kakeknya Alice.
Alice melongo dengan mata melotot kearah Kakeknya, dia tidak menduga kakeknya akan memberikan saran seperti itu.
"Apakah tidak ada cara lain Kek? Aku tidak mau menggunakan kecantikan wajahku sebagai umpan seperti itu," kata Alice.
"Alice, semua ini demi Organisasi kita dan juga demi pengabdian kita kepada Dewa kita yang agung, lagi pula kamu hanya perlu membuatnya bertekuk lutut di hadapan mu saja, setelah berhasil maka semua urusan akan lebih mudah!" kata Kakeknya Alice.
"Lalu bagaimana jika ternyata dia adalah orang tua, apalagi sampai seorang Kakek-kakek, apakah aku masih harus menggoda Orang yang sudah seumuran Kakek?"
"Eee, kalau dia setua itu maka gunakan taktik yang lain! Kebanyakan orang yang sudah tua lebih suka akan hal yang baru, seperti sebuah benda atau makanan dan minuman, bahkan seorang kakek sekalipun juga pasti masih memiliki nafsu, jadi intinya selama selama dia seorang laki-laki baik tua maupun muda, kelemahan mereka tetap sama, yaitu wanita yang masih muda, segar dan juga cantik serta menarik."
"Kakek ini benar-benar aneh! Masak iya aku juga harus menggoda seorang aki-aki? Hiiii...!"
Bulu kuduk Alice langsung begidik ngeri saat membayangkan jika dirinya harus berusaha menggoda seorang kakek-kakek, namun Alice berharap Pendekar Dewa Sesat itu adalah seorang pemuda.
"Baiklah kek, aku akan kembali ke Kerajaan Jiu karena aku sudah meminta semua anggota untuk berkumpul disana!" kata Alice.
"Emm pergilah, aku akan membantu mencari informasi ini, nanti jika aku sudah menemukan informasi tersebut, aku akan mengabari mu!"
__ADS_1
Alice mengangguk kemudian dia keluar dan melompat terbang kembali ke Kerajaan Jiu, sedangkan kakeknya Alice menatap Alice yang sudah menghilang sebelum akhirnya dia juga menghilang dari tempatnya berdiri.