Kesatria Tombak Nirwana

Kesatria Tombak Nirwana
korban keganasan Api Teratai Buddha Emas


__ADS_3

Lio Long melihat situasi dibawah yang kacau, banyak prajurit yang kesulitan untuk bertarung karena angin badai dan juga getaran tanah yang kuat, "Jika tetap dibiarkan seluruh daratan wilayah Kerajaan ini akan hancur!" kata Lio Long kemudian dia kembali menatap Liang Whu yang sudah berubah ke wujud Srigala sempurnanya.


Jika ingin segera mengakhiri kekacauan ini, jalan satu-satunya adalah mengalahkan Liang Whu dengan cepat, namun masih ada satu masalah yang mungkin akan lebih menakutkan yang di pikirkan oleh Lio Long, masalah itu adalah keberadaan Sao Lao Cin yang mungkin masih memperhatikan pertarungan, jika Sao Lao Cin juga turun tangan, maka kehancuran sudah bisa dipastikan.


"Tidak ada waktu untuk memikirkan masalah ini, aku harus mencari cara untuk mengalahkan Hewan itu!" kata Lio Long kemudian dia mengeluarkan sebilah pedang putih berukiran Naga.


Lio Long memperhatikan pedang ditangannya dengan mata sayup-sayup, sudah lama sekali dia tidak pernah menggunakan pedangnya sejak dirinya memiliki kekuatan Dewa, namun kali ini Lio Long sudah tidak memiliki pilihan lain.


"Matilah..!"


Liang Whu tiba-tiba saja menjerit dan melemparkan bola Api besar yang ada di punggungnya kearah Lio Long, sedangkan Lio Long mulai mengangkat pedangnya secara perlahan dan kemudian aura Emas menyelimuti pedangnya yang putih.


"Pedang Dewa Naga."


Lio Long mengayunkan pedangnya lurus kedepan dan kemudian seekor naga yang sangat panjang keluar dari ujung pedangnya, naga tersebut meraung keras dengan tubuh panjangnya yang hampir memenuhi sebagian langit di hutan itu.


Naga tersebut langsung maju kearah bola api besar yang menuju kearahnya, mulut sang Naga terbuka dan sebuah cahaya emas menyilaukan muncul dari dalam mulutnya.


Bola Cahaya emas segera di tembakan kearah bola api besar milik Liang Whu kemudian ledakan besar segera tercipta sehingga membuat dinding perisai langsung pecah dan runtuh.


Cahaya putih menyebar ke seluruh hutan seperti akan tenggelam saat cahaya itu mulai mengeluarkan suara mengerikan kemudian ledakan besar itu langsung menciptakan gelombang energi yang sangat menakutkan membuat semua orang serta para prajurit langsung berlari menyelamatkan diri.


Disisi lain Wang Dunrui serta Qian He segera membuat Perisai pelindung agar tidak terkena imbas dari ledakan besar tersebut. Begitu juga dengan Wei Fang dan semuanya termasuk Naomi dan Chie Xie, mereka semua segera melompat mundur dan menyatukan kekuatan bersama -sama untuk membuat perisai penghalang agar gelombang ledakan besar itu tidak mengenai para rakyat di belakang mereka.


Kini getaran kuat mulai terasa hampir mencapai Istana Kerajaan Wutong yang jaraknya sangat jauh, bahkan hampir seluruh rakyat di wilayah Kerajaan Wutong keluar karena panik akibat getaran yang menyerupai gempa.


Wei Fang dan semuanya menggunakan seluruh energi mereka yang tersisa untuk bisa menahan gelombang ledakan tersebut, namun sekuat apapun mereka nyatanya masih tidak cukup untuk menahannya.


Satu persatu mulai jatuh dan memuntahkan seteguk darah, bahkan Naomi dan Chie Xie juga terdorong mundur kebelakang dan wajah keduanya sama-sama pucat.


Hanya kedua gadis itu harapan mereka satu-satunya agar tetap bertahan, jika mereka gagal, maka seluruh rakyat yang berada di bagian belakang pasti akan mati akibat gelombang kejut dari ledakan tersebut.


Disisi pasukan musuh malah terlihat baik-baik saja, bahkan Louis, Zan Zan dan Yie Mao terlihat tenang berada di dalam perisai yang menutupi mereka semua, dan yang membuat perisai pelindung tersebut ternyata adalah Sao Lao Cin si Setan Api Hitam.


"Xie Xie.! Aku sudah tidak kuat lagi..!" seru Naomi yang mulai tidak mampu bertahan.


Chie Xie yang juga tidak kuat melirik kearah Naomi, wajah pucat Naomi sangat terlihat jelas di mata Chie Xie, dia sendiri juga mulai mengeluarkan darah dari hidungnya namun Chie Xie tetap berusaha bertahan.


Zang Yang, Wei Fang dan semuanya yang sudah kehabisan energi dan terlempar jauh kebelakang dan mereka semua mengalami beberapa luka dalam.


Sekarang perisai pertahanan hanya tersisa dari dua energi milik Naomi dan Chie Xie saja, keduanya juga sudah terlihat hampir putus asa karena sudah tidak mampu lagi bertahan.


"A..ku ti..tidak kuat lagi..!" kata Naomi.


Chie Xie menggigit bibirnya sendiri hingga darah mengalir dari tepi bibirnya, dia sudah tidak tahu lagi harus bertahan dengan cara apa, dengan menarik nafas dalam-dalam dia kembali mengumpulkan sisa energi dan kemudian berteriak sekuat tenaga sekaligus melapaskan seluruh sisa Energinya, "Tian gege... Aku mohon datanglah...!" teriak Chie Xie sekaligus mengeluarkan kabut yang dingin serta tebal.


Perisai pertahanan Chie Xie hampir retak, baik Chie Xie serta Naomi sudah tidak tahan lagi, keduanya hampir kehilangan kesadaran dan hampir menjatuhkan tubuh, namun mendadak ada dua kilatan cahaya yang turun dari langit kemudian menahan tubuh kedua gadis tersebut.


Naomi berusaha membuka matanya, samar-samar dia melihat wajah seorang wanita bermata biru yang menahan tubuhnya, namun karena Naomi tidak memiliki energi yang tersisa, dia akhirnya tidak sadarkan diri.


Chie Xie juga merasakan ada sebuah tangan yang mendekap tubuhnya, dia membuka matanya dan melihat seorang pria yang menutupi kepalanya serta mengenakan kain penutup wajahnya, pria tersebut mengarahkan sebelah tangan kanannya ke depan dan pria tersebut melepaskan sebuah energi merah membentuk sebuah perisai yang sangat kuat.

__ADS_1


Pria tersebut kembali menatap Chie Xie, walau sebagian wajah pria tersebut tertutup oleh kain, namun Chie Xie segera mengenali pria tersebut hanya dengan menatap sorot matanya saja, "Ti..Tian gege..!" kata Chie dengan suara lemah.


"Xie'er maafkan aku karena terlambat datang!" kata pria tersebut yang tidak lain adalah Tian Feng yang datang bersama Alice.


Tian Feng memberikan Chie Xie sebuah Pil dan memasukkannya kedalam mulut Chie Xie, "Telanlah!" kata Tian Feng dengan suara lembut namun nada suaranya terdengar seperti menahan emosi.


Chie Xie segera menelannya dan kemudian dia merasa luka dalamnya sedikit membaik. Tian Feng juga memberikan satu Pil lagi dan memberikannya kepada Alice yang masih memegang tubuh Naomi, "Tolong minumkan ini kepada Naomi!" kata Tian Feng.


Alice memegang Pil berwarna putih ditangannya kemudian dia menatap wajah Naomi yang sudah tidak sadarkan diri, dia masih ingat jika gadis yang sedang tidak sadarkan diri itu adalah kekasih Tian Feng, namun Alice berusaha untuk mengesampingkan semua masalah pribadinya sekarang, dia segera memasukkan Pil tersebut ke dalam mulut Naomi kemudian dia membantu Naomi agar bisa menelan Pil pemberian Tian Feng.


Wajah kedua gadis tersebut yang pucat kini berangsur-angsur membaik, hanya saja Naomi masih belum sadarkan diri, dan Chie Xie kini juga sedikit mendapatkan kembali energinya.


"Xie'er! Kamu sudah berjuang dengan sangat baik, aku sangat bangga memiliki adik sekuat dirimu, sekarang kamu beristirahat dulu, bawa Naomi ke belakang, " kata Tian Feng kemudian dia menatap badai angin yang masih mengamuk sekaligus kembali berkata, "Serahkan sisanya disini kepadaku!" kata Tian Feng.


Chie Xie menatap pundak Tian Feng dari samping, matanya mulai terlihat berair dan kemudian dia langsung memeluk Tian Feng sekaligus menangis.


Tian Feng mendekap tubuh Chie Xie, mendengar isak tangis adiknya Tian Feng mengerti jika yang dilalui oleh Chie Xie saat ini terlalu berat bagi Chie Xie, tangisan Chie Xie membuat hati Tian Feng seperti disayat oleh pisau.


"Tenanglah! Mulai sekarang semua akan baik-baik saja!" kata Tian Feng sambil mencium kening Chie Xie dengan lembut kemudian dia mengusap air mata Chie Xie.


"Mundurlah dan bawa Naomi!" kata Tian Feng.


Chie Xie mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah katapun, dia segera mendekati Naomi yang berada bersama Alice. Mata Chie Xie menatap wajah Alice, walau sedikit terkejut karena dia mengetahui gadis bermata biru tersebut, namun tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Chie Xie.


Alice segera menyerahkan Naomi kepada Chie Xie kemudian Chie Xie terbang membawa Naomi kebelakang.


Mata Tian Feng yang sebelumnya menunjukkan kasih sayang kini berubah menjadi merah, semua itu karena rasa sakit dihatinya saat Chie Xie menangis di pelukannya.


"Kalian semua harus membayar mahal atas semua ini!" seru Tian Feng kemudian dia mengangkat tangannya kedepan dan melapaskan energi angin yang sangat besar mendorong semua badai yang masih berhembus karena ledakan dua energi di langit.


Perisai pelindung pasukan musuh memang sangat kuat, namun Tian Feng tahu bagaimana caranya agar mereka yang ada di dalam bisa terkena badai buatannya yang lebih menakutkan.


Tian Feng menjulurkan tangannya kedepan dan kemudian sebuah retakan muncul dihadapan. Tian Feng segera masuk kedalam retakan tersebut dan susul oleh Alice, mereka berdua kini muncul di atas para prajurit yang terlihat masih tenang-tenang saja.


"Sekarang giliran kalian yang harus merasakan rasa ketakutan ini!" seru Tian Feng.


Louis, Zan Zan dan Yie Mao serta semua pasukan menoleh keatas dan kemudian mereka melihat dua sosok sedang melayang diatas kepala mereka.


"Alice..!" Louis langsung mengenali gadis yang berada di samping pria yang menutupi wajahnya dengan kain.


"Kakek..!" Alice juga bergumam saat matanya jatuh menatap Louis.


"Jika kamu ingin berhadapan dengan kakekmu, bawa dia keluar dari dalam sini lewat retakan itu, namun jika kamu ingin aku membunuhnya, biarkan saja dia mati disini bersama dengan mereka semua!" kata Tian Feng.


Alice melirik Tian Feng kemudian kembali menatap Louis, hatinya sedikit bimbang karena bagiamanapun juga Louis adalah Kakeknya yang selama ini sudah membesarkannya, namun saat ini Louis serta Alice berada di dua posisi yang bertentangan.


"Kakek! Jika kakek ingin menangkapku, ayo tangkap aku jika bisa!" kata Alice kemudian dia perlahan-lahan terbang kearah retakan.


"Alice tunggu..!" Louis tidak mungkin membiarkan Alice pergi, dia segera terbang dan mengejar Alice yang sudah memasuki retakan buatan Tian Feng.


Setelah Alice dan Louis pergi, kini hanya tersisa para pasukan serta dua orang berkekuatan Raja Alam, yaitu Zan Zan dan Yie Mao.

__ADS_1


"Siapa kamu dan kenapa kamu berani ikut campur masalah kami?" tanya Zan Zan.


"Aku adalah orang yang tidak suka dengan kalian yang sering membuat masalah, kali ini aku tidak akan membiarkan kalian semua bisa keluar hidup-hidup dari tempat ini, karena kalian sendiri yang memilih untuk datang, jadi kalian harus tetap tinggal disini selamanya!" kata Tian Feng kemudian dia mengeluarkan Api emas dari telapak tangannya.


Semua para prajurit yang ada di dalam perisai itu merasakan suhu yang tiba-tiba sangat panas, sebagian pasukan itu adalah para pengikut setia Organisasi Tiga Bunga dan sebagian lagi adalah pengikut setia Organisasi Bintang Hitam, oleh karena itu, Tian Feng tidak berencana untuk membiarkan satupun dari mereka untuk tetap hidup.


Rasa sakit dihatinya akibat tangisan Chie Xie sudah membuat Tian Feng benar-benar sangat marah, "Matilah kalian semua di dalam badai Api ini..!" tangisan Tian Feng membuat hati Zan Zan dan Yie Mao serta semua prajurit menjadi tenggelam.


Suara Tian Feng terdengar seperti melepaskan sebuah kebencian yang mendalam terhadap mereka dan niat membunuh yang sangat kuat terlihat dari wajah Tian Feng.


Tanpa ragu-ragu lagi, Tian Feng memutar api di tangannya sehingga angin panas segera berputar dan berubah menjadi angin badai yang sangat panas.


Zan Zan dan Yie Mao melepaskan energi pelindung dari tubuh mereka agar bisa terhindar dari badai angin yang sangat panas itu, namun energi pelindung mereka ternyata tidak cukup mampu saat angin panas tersebut mulai mengeluarkan aura emas.


Jeritan pekikan yang memilukan tidak bisa didengar dari luar perisai, ini adalah salah satu kesalahan Sao Lao Cin karena telah mengurung mereka di dalam perisai yang sangat kuat itu.


Memang niat Sao Lao Cin adalah untuk melindungi mereka, namun setelah membuat pelindung, dia justru kembali menjauh dan menyaksikan semuanya dari jauh, dia juga tidak terlalu mengkhawatirkan soal keselamatan para pasukan dan lebih fokus melihat kearah Lio Long dan Liang Whu yang masih berhadapan.


Ratusan pasukan gabungan dari Organisasi Tiga Bunga dan Organisasi Bintang Hitam semuanya tewas dalam waktu singkat dan semuanya mati menjadi arang, bahkan dua orang berkekuatan Raja Alam juga jadi korban keganasan Api Teratai Buddha Emas.


Tian Feng hanya menyaksikan semua itu dengan tatapan dingin, dia sama sekali tidak peduli dengan tubuh yang menggeliat saat terbakar.


Setelah semuanya mati, Tian Feng merentangkan kedua tangannya dan samar-samar Aura Kematian berwarna merah segera masuk kedalam tubuhnya.


Tian Feng segera keluar dari dalam perisai kemudian tatapan tertuju kepada Wang Dunrui yang sedang berhadapan dengan Qian He yang memiliki sayap burung gagak besar.


"Siluman berkekuatan Dewa Bumi!" gumam Tian Feng kemudian tubuhnya menghilang dan muncul kembali di samping Wang Dunrui.


"Senior Wang!" sapa Tian Feng membuat Wang Dunrui dan Qian He terkejut atas kemunculan Tian Feng.


Wang Dunrui langsung menjaga jarak saat merasakan jika pria yang menyapanya itu memiliki kemampuan di Tahap Dewa Bumi, "Siapa kamu?" tanya Wang Dunrui yang semakin waspada.


"Ini Tian senior! Apakah suara saya telah berubah selama dua tahun tidak bertemu?" tanya Tian Feng.


"Apakah kamu benar-benar Tian?" Wang Dunrui memperhatikan Tian Feng secara seksama sebelum akhirnya Wang Dunrui mulai mengenalinya lagi.


"Aku kira musuh yang lain yang datang!" kata Wang Dunrui dengan bernafas lega.


Wang Dunrui tidak menduga jika Tian Feng akan bisa naik ke tahap Dewa Bumi dalam waktu dua tahun, walau dia sudah tahu kemampuan Tian Feng yang terakhir dua tahun lalu sangat turun secara drastis dari Tahap Puncak Raja Alam turun ke Tingkat Cahaya 1.


Namun hanya waktu dua tahun saja, Tian Feng sudah mampu naik ke tahap Dewa Bumi, ini mengingatkan Wang Dunrui terhadap bakat Ho Chen.


"Senior! Kita akan berbincang nanti saja, sekarang ijinkan saya melawan burung ini, senior bisa pergi membantu Guru Lio disana!" kata Tian Feng.


"Tapi Tian, mahluk ini sangat kuat!"


"Saya tahu Senior, saya akan berusaha untuk mengalahkannya, kecuali Srigala aneh itu, mungkin kita perlu menyatukan kekuatan untuk mengalahkannya!" kata Tian Feng.


Wang Dunrui terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya dia mengangguk setuju dan berniat pergi membantu Lio Long, namun belum sempat dia beranjak pergi, tiba-tiba saja gravitasi menjadi lebih berat.


"Keke... Akhirnya orang yang aku tunggu-tunggu muncul juga, jika aku tidak salah tebak, kamu pasti adalah si Pendekar Dewa Sesat bukan?"

__ADS_1


Suara seorang pemuda tiba-tiba terdengar dari atas mereka, suara tersebut mengandung kekuatan yang mampu menggetarkan seluruh hutan yang kini sudah hancur.


Wajah Tian Feng serta Wang Dunrui langsung berubah menjadi kusut saat merasakan pancaran kekuatan suara tersebut, tidak lama kemudian sebuah tanda spasial mulai terlihat dan muncul sosok pria kecil dengan mengenakan baju hitam dan penutup kepala.


__ADS_2