Kesatria Tombak Nirwana

Kesatria Tombak Nirwana
Ritual


__ADS_3

***


Tian Feng Alice dan Ho Chen kini muncul di dekat sebuah perkampungan kecil, tempat tersebut adalah tempat awal Tian Feng memasuki garis warna bersama Yao Shan.


"Tian aku harus pergi dulu untuk menghadiri pertemuan, mungkin agak lama, namun selama aku pergi kamu jangan bermalas-malasan, saat aku kembali aku ingin kekuatanmu sudah meningkat!" kata Ho Chen.


"Murid akan berusaha semaksimal mungkin guru!" jawab Tian Feng.


"Baiklah aku pergi dulu, jaga diri kalian baik-baik dan ingat jangan bertindak gegabah lagi!" kata Ho Chen kemudian dia tiba-tiba saja menghilang seperti hantu.


Alice sendiri yang masih duduk terlihat bingung akan apa yang terjadi, dia terkejut karena Tian Feng tiba-tiba saja memegangnya dan sedetik kemudian sudah berada di tempat lain.


"Nona Alice? Nona Alice, apa kamu baik-baik saja?" Tian Feng melihat Alice yang kebingungan menegurnya.


Alice segera tersadar dia benar-benar tidak tahu apa yang sudah terjadi, "Kenapa kita berada disini? Perasaan tadi masih berada di sebuah taman yang memiliki bau obat, tapi sekarang?" tanya Alice.


"Kita sudah berpindah tempat lewat sihir ruang waktu milik guruku!" jawab Tian Feng.


"Guru? Apakah yang tadi itu gurumu?" tanya Alice.


Tian Feng mengangguk dengan tersenyum lembut sedangkan Alice masih kurang yakin, sebab kelihatannya umur Ho Chen dan Tian Feng tidak terlalu jauh.


"Ayo aku bantu kamu pindah dari tempat ini!" kata Tian Feng kemudian dia mengangkat tubuh Alice, walau sudah sembuh, namun tubuh Alice belum terlalu kuat


Alice merasa sedikit malu saat Tian Feng mengangkat tubuhnya dan membawanya terbang keudara, secara perlahan-lahan tangan Alice merangkul leher Tian Feng dan dia mendekapkan diri dirangkulan Tian Feng dengan perasaan yang tidak menentu.


Tian Feng membawa Alice ke dalam Hutan Iblis dimana disana ada bekas tempat tinggalnya dimasa lalu, tidak butuh waktu lama bagi Tian Feng untuk tiba disana, dia segera turun dan membawa Alice kedalam rumah lamanya karena hanya disana satu-satunya tempat paling aman.


"Tian! Aku tidak menduga kamu memiliki banyak harta!" suara Yao Shan segera terdengar saat Tian Feng membaringkan Alice.


"Itu harta rampasan milik bandit yang sudah saya hancurkan!" jawab Tian Feng.


"Owh!" hanya itu yang terdengar dari suara Yao Shan.


"Nona Alice, sekarang coba ceritakan semuanya akan apa saja perkembangan Organisasi Bintang Hitam mu itu, dan apa saja yang sudah terjadi di Kerajaan Wu selama hampir dua tahun ini!" kata Tian Feng yang duduk disamping Alice dan kembali bertanya akan situasi di Kerajaan Wu selama dua tahun terakhir.


"Seperti yang aku ceritakan sebelumnya, Organisasi Bintang Hitam kini sudah berkembang pesat dan menguasai ketiga kerajaan dalam waktu singkat!" jawab Alice.


"Aku tahu, tapi pasti ada sesuatu yang membuat mereka bisa berkembang secepat ini bukan? Karena jika hanya mengandalkan kekuatan terakhir mereka sepertinya tidak mungkin!"


"Kamu benar Tuan Tian, Organsiasi tidak akan bisa berkembang jika hanya mengandalkan para anggota yang tersisa, namun sekarang Organisasi sudah diambil alih oleh Leluhurku yang sudah keluar dari latihan tertutupnya, namanya adalah Carolus!" jawab Alice.


"Leluhur mu, apakah dia sebelumnya yang kamu maksud saat kita sedang bertarung?" tanya Tian Feng.


Alice mengangguk kemudian dia mulai menjelaskan akan siapa itu Carolus, "Leluhurku sudah melakukan latihan tertutup selama hampir dua ratus tahun di dalam Cincin yang dikenakan oleh kakek, dia dilatih oleh sesosok mahluk yang memiliki Api Hitam, dan saat ini dia sudah kembali dengan kekuatan besar, bahkan kakekku tidak berani kepadanya!" kata Alice.


"Organisasi kalian ini masih memiliki banyak orang yang merepotkan!" kata Tian Feng kemudian dia berbaring di samping Alice.


"Benar, sebenarnya aku memang sudah tidak bisa kembali karena sudah menghianati Organisasi, namun kemarin saat aku sedang berjalan-jalan menelusuri sebuah jejak hewan aneh, aku bertemu dengan Hikari dan dua lainnya, awalnya mereka mengajakku kembali, namun saat aku menolak, mereka jadi marah dan pada akhirnya menyerangku!" kata Alice yang juga ikut berbaring disamping Tian Feng.


"Jadi kenapa kamu bisa kalah?" tanya Tian Feng.


"Aku kalah karena kemampuan mereka bertiga ternyata sudah berada di tahap Puncak Raja Alam, namun mereka masih belum bisa melukaiku sebelum akhirnya anggota baru seorang wanita tua datang membantu!" jawab Alice.


"Apakah Wanita tua itu yang meracunimu?"


Alice mengangguk kemudian dia terdiam sejenak, hatinya mulai di penuhi kebencian dan dendam saat mengingat kejadian itu.


"Wanita itu hanya memiliki kemampuan di Tahap Raja Bumi, dan dia menyerangku saat perhatian ku terfokuskan kepada Hikari dan dua lainnya, Wanita itu adalah anggota baru yang memiliki keahlian racun, bahkan seluruh tubuhnya juga mengandung racun dan dari penampilannya dia seperti berasal dari Kerajaan Jiuxi!" kata Alice.


"Jadi sekarang anggota yang tersisa tidak hanya semakin kuat namun juga memiliki anggota baru!" gumam Tian Feng.

__ADS_1


"Aku ingat saat aku sudah terluka, Arthur berkata jika leluhur ku ingin aku mengambil energi hitam ku, karena itu dia menyuruh mencari ku dan membawaku kembali hidup atau mati, aku berlari sebisa mungkin, sedangkan yang mengejarku hanyalah wanita tua itu saja, aku juga mendengar jika ada kekuatan yang baru datang dan kemampuannya hampir sama seperti leluhur!" kata Alice.


"Sepertinya mereka mulai mengeluarkan orang-orang yang lebih kuat, mungkin itu kiriman dari Kaisar Kegelapan itu!" batin Tian Feng.


"Tuan Tian! Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?" tanya Alice sambil menoleh ke arah Tian Feng yang ada disampingnya.


Tian Feng bangkit kemudian dia duduk membelakangi Alice, "Malam ini kita istirahat dulu disini, besok aku akan kembali ke Kota Xanhuo untuk menemui keluargaku, aku khawatir Organisasi Bintang Hitam mencelakai mereka!" kata Tian Feng.


"Itu pasti, sebab kamu adalah musuh terbesar Organisasi, leluhur pasti akan menargetkan itu jika tidak menemukanmu, apa lagi saat ini ada kekuatan tambahkan yang misterius, jadi bisa dipastikan jika mereka akan mencari keluargamu cepat atau lambat!" kata Alice.


Tian Feng berbalik dan menatap Alice yang kini duduk di belakangnya kemudian bertanya, "Lalu bagiamana denganmu, apa rencanamu berikutnya?" tanya Tian Feng.


Alice menggelengkan kepalanya yang disertai dengan senyuman pahit, "Saat ini aku ini hanyalah seorang Penghianat yang jadi pelarian tanpa arah, aku hanya bisa bersembunyi dari kejaran Singa!" kata Alice.


Mendengar itu hati Tian Feng merasa sedih, dia sadar Alice menjadi seperti ini karena membela dirinya, sehingga secara tidak langsung semua itu ada hubungannya dengan dirinya.


Tian Feng memegang bahu Alice kemudian dia berkata, "Kamu tidak usah lari, ada aku yang akan melindungimu, jika mereka ingin menangkap mu, mereka harus menghadapiku dulu, selama aku masih ada, tidak satupun dari mereka yang akan bisa membawamu bahkan jika leluhurmu yang turun tangan sekalipun aku tidak takut, kecuali aku mati barulah mereka bisa membawamu!" kata Tian Feng.


Mata Alice jadi lembab mendengar kata-kata Tian Feng yang berhasil menyentuh hatinya, dia tidak tahu kenapa sekarang keadaannya berubah, padahal awalnya dia ingin menjebak Tian Feng dan akan menundukkannya, namun justru dia yang tidak berdaya hingga harus menghianati organisasi nya demi Tian Feng.


Alice ingin menagis karena tersentuh, dia langsung memeluk Tian Feng membuat Tian Feng terkejut, Tian Feng merasakan sedikit suara isak sedu dari tangisan kecil Alice sehingga dia juga memeluk pinggang Alice yang ramping.


"Terima kasih Tuan Tian!" kata Alice.


Tian Feng hanya diam dan pelukan Alice semakin lama semakin erat sedangkan Tian Feng mulai mengendorkan dekapannya agar Alice juga melepaskannya, namun nyatanya Alice semakin memeluk erat Tian Feng seakan-akan tidak mau melepaskannya.


Saat Tian Feng ingin meraih tangan Alice untuk melepaskan pelukannya, Tian Feng terkejut saat Alice tiba-tiba saja mencium leher Tian Feng, apa yang dilakukan oleh Alice membuat darah panas Tian Feng kembali berdesir dari kaki hingga kepala, bayangan tubuh Alice saat dia obati kembali mengisi ingatannya dan tanpa sadar Tian Feng kembali merangkul pinggang Alice.


Alice semakin naik hingga akhirnya bibirnya bersentuhan dengan bibir Tian Feng, dan Tian Feng menyambut bibir merah muda itu, dan keduanya berbaring dengan bertarung bibir.


Sekuat-kuatnya Tian Feng menahan nafsu, namun jika seperti itu pada akhirnya tidak akan kuat, kecuali Tian Feng tidak normal mungkin tidak akan bereaksi atau terpengaruh.


Tian Feng melepaskan pakaian Alice bahkan ada yang robek, akhirnya nafas keduanya jadi satu dan keduanya sudah sama-sama telanjang dan malam itu terasa masalah berat yang akan mereka hadapi sudah hilang, yang ada hanyalah kehangatan dan cumbuan dua orang berbeda jenis kelamin.


"Apakah kamu sudah siap untuk mengikutiku yang kemungkinan akan bertarung melawan organisasi mu?" tanya Tian Feng.


Alice sudah menggunakan pakaian lain karena pakain sebelumnya ada noda darah akibat beberapa luka, belum lagi malamnya Tian Feng sempat merobek pakain Alice sehingga pakain itu tidak layak untuk digunakan lagi.


"Itu adalah sebuah organisasi yang didirikan oleh keluarga leluhurku, namun leluhurku ingin membunuhku, jadi mereka sekarang jadi musuhku, dan aku akan menganggap musuhmu sebagai musuhku!" jawab Alice.


"Baik ayo kita pergi!" kata Tian Feng kemudian dia dan Alice terbang dengan kecepatan sangat tinggi menuju kearah Kota Xanhuo.


Tian Feng terbang dengan menyesuaikan kecepatan Alice, dia juga menyembunyikan kemampuan yang sebenarnya dari Alice.


Dengan kecepatan Alice, setidaknya mereka bisa tiba di Kota Xanhuo selama dua hari, sebenarnya dia bisa saja menggunakan Sihir Ruang Waktunya, namun dia teringat akan kebingungan Alice saat Ho Chen memindahkannya.


Saat dalam perjalanan terbang mereka, Tian Feng menggunakan Spiritualnya untuk memeriksa dibawah mereka. Tian Feng merasa beberapa desa terlihat suram, entah apakah itu perasaannya atau memang desa-desa yang ia lewati memang sedikit suram seperti akan kehilangan warna.


"Ini aneh sekali?" batin Tian Feng.


Alice juga diam-diam tersenyum sendiri, dia masih belum bisa melupakan tragedi indah semalam saat memberikan keperawanannya kepada Tian Feng, dia tidak akan pernah bisa melupakannya dan akan terus dia kenang.


"Ayo percepat terbangmu!" kata Tian Feng.


"Baik!" jawab Alice kemudian dia dan Tian Feng menekan kedua kakinya di udara kosong kemudian melepaskannya sehingga kecepatan terbang keduanya lebih cepat dan suara bergemuruh terdengar oleh semua orang dibawah yang mereka lewati.


Semua orang menoleh keatas namun mereka tidak bisa melihat apa-apa kecuali awan yang terlihat seperti terbelah.


"Tunggu..!" Alice berseru saat sedang terbang dengan kecepatan penuh.


Tian Feng segera berhenti dan menatap Alice dengan bingung kemudian bertanya, "Ada apa? Perjalanan kita masih jauh, kenapa kamu berhenti disini?" tanya Tian Feng.

__ADS_1


Alice menatap kebawah dan kemudian dia menunjuk ke bawah, "Disana, aku merasakan energi api ku berada disana!" kata Alice.


"Energi api mu?" Tian Feng bingung kemudian dia melihat kebawah dimana ada sebuah kota disana.


"Sebenarnya itu adalah energi hitam seperti obor api, itu adalah benda yang memasukan energi rahasia agar kami tahu jika kami masih hidup serta bisa dibuat untuk mencari keberadaan kami jika hilang, namun kemarin energi ku dipegang oleh Dusten, jadi kemungkinan besar salah satu dari mereka bertiga ada disini!" kata Alice.


"Kalau begitu dia pasti akan mengetahui dirimu disini, mungkin sebentar lagi dia akan datang!" kata Tian Feng.


"Mereka tidak akan berani datang jika sendirian, walau Dusten dan lainnya sudah berada di Puncak Raja Alam, namun jika satu lawan satu denganku mereka tidak akan bisa menang!" kata Alice.


"Owh, kalau begitu kita yang akan menghampirinya, kamu bisa membalas dendam serta mengambil energi api mu itu agar kedepannya lebih aman!" kata Tian Feng.


Alice mengangguk kemudian dia dan Ho Chen segera turun ke kota itu dimana disana kemungkinan ada Dusten atau salah satu dari anggota Organisasi Bintang Hitam yang sudah menyerangnya.


***


"Seluruh jiwaku aku serahkan kepada Dewa Agung Hitam, terimalah pengabdianku ini!"


"Bagus ayo maju sini!"


Seorang pria paruh baya sedang melakukan Ritual pengabdian kepada Kaisar Kegelapan dengan pelantara seorang wanita dari Toakai, wanita tersebut tidak lain adalah Hikari yang mengajak orang-orang untuk bergabung menjadi pengikut Organisasi Bintang Hitam.


Hikari membuat segel tangan kemudian dia mengarahkan telunjuknya di bahu pria paruh baya tersebut, tidak lama kemudian terlihat seperti api menyala membentuk ukiran Swastika merah, pria tersebut mengerang kesakitan untuk beberapa saat, dan setelah itu gambar Swastika yang berasap dan merah berubah menjadi hitam.


"Selanjutnya!" kata Hikari.


Ternyata tidak hanya pria paruh baya itu saja, melainkan ribuan orang sedang melakukan ritual dan ngantri untuk mendapatkan simbol Swastika Hitam, jika sampai ada yang berani menolak, orang itu akan dibunuh.


"Owh apakah ini bayimu?" tanya Hikari saat menatap bayi mungil berusai dua bulan di gendongan seorang wanita paruh baya.


"I..iya, ini adalah anak saya, tapi biarkan saya saja yang menerima tanda kesetiaan itu, jangan libatkan bayi saya!" kata wanita tersebut.


Plakk!!"


Tamparan keras di pipi wanita itu membuat wanita itu terjatuh, namun dia berusaha mengamankan bayinya agar tidak tertindih setelah menerima tamparan keras dari Hikari.


"Kamu pikir kamu siapa? Disini kamu tidak memiliki hak untuk tawar menawar denganku, ayo bangun dan ucapkan sumpah kesetian dengan bayimu, setelah itu kamu dan bayimu akan aku beri tanda kesetiaan!" kata Hikari dengan suara membentak.


Wanita itu dengan tubuh gemetar dan ketakutan kembali bangun, ada darah yang keluar dari tepi bibirnya akibat tamparan dari Hikari, dan tanpa daya dia akhirnya mengikuti akan apa yang Hikari perintahkan.


"Se..seluruh jiwaku aku serahkan kepada Dewa Agung Hitam, terimalah pengabdianku ini!" kata wanita tersebut dengan suara agak takut dan sedikit dipaksakan.


"Nah kalau begitukan baik, kamu tidak perlu menerima kekerasan dariku, ayo sini mendekat!" kata Hikari.


Wanita itu maju perlahan-lahan kemudian duduk berlutut dihadapan Hikari, setelah siap Hikari segera membentuk segel tangan dan jarinya diarahkan ke bahu wanita tersebut.


Suara erangan kesakitan segera terdengar dan di saat yang bersamaan bayi itu juga menagis seakan-akan merasakan sakit dari ibunya. Tanda Swastika Hitam segera terlihat di bahu wanita tersebut, dengan nafas terengah-engah dia melihat bayinya dan berusaha mendiamkannya.


"Bawa kesini bayimu, sekarang giliran dia!" kata Hikari.


Wanita tersebut menjadi pucat, dia tidak tega untuk menyerahkannya, dia sendiri saja hampir tidak kuat menahan sakit saat tanda Swastika itu dibuat, apalagi bayinya yang masih sangat kecil.


Hikari tidak peduli dengan wajah wanita itu yang pucat, dia ingin mengambil bayi itu dari ibunya, namun belum sempat tangannya menyentuh bayi itu, sebuah tangan lain menepisnya hingga membuat tubuh Hikari terputar.


"Kurang ajar siapa yang berani menghalangiku?" kata Hikari dengan wajah merah padam.


"Aku yang melakukannya, kenapa?" kata sosok wanita bermata biru.


"Pi..pimpinan Alice? Owh maaf aku lupa, maksudku mantan pimpinan penghianat, aku pikir kamu sudah mati!" kata Hikari.


"Owh apakah kamu pikir aku akan mati keracunan? Apa kamu lupa siapa aku? Hari ini aku akan memberikan pembalasan padamu!" kata Alice.

__ADS_1


Senyum di wajah Hikari menghilang dan berganti menjadi wajah suram, dia tahu tidak akan mudah baginya untuk melawan Alice seorang diri, namun saat ini Dusten dan Arthur serta wanita tua racun masih belum datang.


__ADS_2