Kesatria Tombak Nirwana

Kesatria Tombak Nirwana
Munculnya Ho Chen


__ADS_3

***


Tian Feng berdiri ditengah-tengah kawah gunung yang dibawahnya ada Lava yang mendidih dan bergejolak seperti akan menyembur keluar.


"Ternyata kamu mau datang juga! Aku pikir kamu tidak akan pernah datang karena tidak percaya akan ceritaku," kata Kekek misterius yang dulu memberikan Tian Feng mata tombak.


Kakek tersebut mengambang di atas Lava dan dia terlihat seperti tidak terlihat kepanasan dengan jarak yang sangat dekat sekali.


"Maaf jika sebelumnya saya tidak mengenali Buddha!" Tian Feng segera memberikan hormat karena dia sudah tahu jika ternyata Kakek itu hanya mengubah wujudnya menjadi seorang kakek-kakek karena sesungguhnya dia adalah Sang Buddha Maitreya.


"Hehehe...! Pasti yang memberitahu mu adalah ke-dua Roh Pusaka itu tentang siapa aku ini yang sesungguhnya!" kata Buddha Maitreya kemudian tubuhnya memancarkan cahaya yang sangat menyilaukan membuat Tian Feng kesulitan untuk melihat akan apa yang terjadi.


Tidak berselang lama cahaya itu mulai meredup namun tidak hilang sepenuhnya dan Tian Feng melihat Tubuh Sang Buddha yang sudah berubah.


Tubuhnya gemuk dengan kepala botak dan perut telinga yang lebih panjang kebawah, namun pakaian yang di kenakan oleh Buddha Maitreya sangat sederhana seperti seorang pengemis dijalanan, namun tubuhnya memancarkan aura Kebijaksanaan.


Belum lagi dia memegang sebuah kipas dan Buddha Maitreya ternyata sangat murah senyum bahkan terkadang tertawa saat melihat Tian Feng yang menatapnya tidak percaya.


"Aku pikir para Buddha itu akan mengenakan pakaian yang terbuat dari emas seperti patung-patungnya yang biasanya ada yang terbuat dari lapisan emas?" batin Tian Feng.


"Hahaha..! Untuk apa aku mengenakan pakaian Emas? Pakaian ku ini walau terlihat sederhana, namun harganya lebih bernilai dari pada Emas dan benda-benda apapun yang ada di dunia mu ini!" kata Buddha Maitreya dengan tertawa.


Tian Feng tidak terkejut saat Sang Buddha mengetahui akan apa yang saat ini dia pikirkan, karena sejak bersama ke-dua Pusaka itu, banyak hal yang tidak masuk akal yang sudah Tian Feng lewati.


"Tian! Kesederhanaan seorang Buddha adalah cerminan bagi pengikut-pengikutnya, seperti orang tua yang menjadi cermin untuk anak-anaknya! Jika orang tua memberikan contoh dan ajaran yang baik, kelak anak-anak akan mengikutinya, dan jika buruk serta memamerkan dunia, maka anak-anaknya juga akan mengikutinya!" kata Xian menjelaskan atas kesederhanaan sang Buddha.


"Baiklah Namamu Tian kan? Tian aku menunggu mu disini karena ingin membantumu menemui sosok yang akan membimbing mu! Aku tahu Biksu itu sudah menjelaskannya padamu tentang situasi akan apa yang pengikut Kaisar Kegelapan itu lakukan di wilayah mu.


Akan tetapi kamu juga tidak bisa berlatih dengan terburu-buru, jadi jika kamu tetap berlatih disini dan waktunya hanya sebentar itu tidak mungkin, sebaiknya kamu berpindah ke dimensi lain saja dimana Waktu disana akan beberapa kali lipat kecepatan dari dunia mu ini!" kata Sang Buddha membuat Tian Feng merasa tidak tenang jika harus berlatih di tempat yang lebih jauh lagi.


"Kau tidak perlu khawatir seperti itu, yakinlah jika kamu pasti bisa melakukannya disana bersama pembimbing mu!" kata Buddha Maitreya kemudian dia terbang mendekati Tian Feng.


"Xanzi! Xian! Nanti kalian juga akan bertemu dengan satu pecahan yang tersisa disana, di saat kalian nanti sudah menyatu, kalian baru bisa menyatu dengan tubuh Tian!" kata Sang Buddha.


"Benarkah? Tapi...!" Xian yang merasa senang seperti sedikit ragu.


"Apakah kamu tidak ingin Lianli bersama kita Xian?" tanya Xanzi.


"Tidak bukan begitu!" Xian sulit untuk menjawabnya.


"Ada apa dengan Xian? Kenapa dia seperti ragu?" tanya Tian Feng.


"Kamu belum tahu Tian, nanti saat kamu bertemu dengan satu pecahan yang terakhir, kamu akan tahu sendiri seperti apa Lianli itu!" jawab Xanzi.


"Sudah-sudah ayo Tian sekarang persiapkan dirimu untuk pergi ke dunia Dimensi!" kata Buddha Maitreya.


"Baik Buddha!" Tian Feng segera menurut dan kemudian menunggu akan apa yang akan dilakukan oleh Sang Buddha.


"Tian! Kamu sudah memiliki Energi Yin dengan sempurna, sekarang lapisi tubuhmu dengan energi Yin dan setelah itu melompatlah kedalam itu, di dalam sanalah Dunia Dimensi berada!" kata Sang Buddha.


Tian Feng melotot menatap kebawah merasa tidak percaya saat Sang Buddha menyuruhnya melompat kedalam Lava yang mendidih itu.


Jangankan melompat, merasakan panasnya dari jauh saja sudah tidak kuat, apalagi sekarang dia disuruh melompat kesana, itu terasa seperti mustahil.

__ADS_1


"Bu.. Buddha! Sa..saya melompat ke dalam Lava itu? Apa Anda serius?" tanya Tian Feng.


"Tentu saja aku serius! Sudahlah lakukan saja!" kata Sang Buddha.


Tian Feng menelan ludahnya sebanyak mungkin, dia tidak bisa membayangkan jika nanti dia melompat, mungkin dalam waktu singkat dia sudah lenyap karena terbakar oleh Lava yang sangat panas itu.


"Tidak perlu takut Tian!" kata Xian dan Xanzi yang terdengar menertawakan Tian Feng.


"Apanya yang tidak perlu takut? Ini Lava Panas, tidak ada satu Pendekar pun yang akan mampu melindungi diri dari Lava ini, jika aku melompat kesana! Aku tidak memiliki seribu nyawa, kalau aku melompat maka berakhir sudah hidupku!" kata Tian Feng.


"Percaya saja kepada Buddha!" kata Xian.


"Lebih enak memiliki kemampuan di Tingkat Pendekar Cahaya saja dan tidak memiliki tanggung jawab jika seperti ini!" gerutu Tian Feng.


Merasa tidak memiliki pilihan lain, Tian Feng akhirnya hanya bisa mengikuti perintah Buddha Maitreya, dia segera menggunakan Energi Air dan menutupi seluruh tubuhnya dengan energi Yin.


Buddha Maitreya hanya tertawa melihat wajah Tian Feng yang seperti terpaksa, setelah itu Sang Buddha menyentuh tubuh Tian Feng.


Energi Yin yang menutupi tubuh Tian Feng langsung berubah menjadi lebih dingin dan tubuh Tian Feng seperti mau menggigil.


"Sekarang lompatlah!" kata Buddha Maitreya.


Tian Feng mengingat wajah Yuan Xia dan semua keluarganya termasuk Naomi yang juga terlintas di ingatannya.


"Jika aku mati disini, aku hanya ingin kalian semua tahu jika selama ini aku sangat menyangi kalian semua!" kata Tian Feng kemudian dia menutup mata dan menjatuhkan dirinya kebawah dimana Lava merah dan mendidih berkecamuk dan siap untuk melenyapkan tubuhnya.


Buddha Maitreya hanya tersenyum lebar kemudian dia menjentikkan jarinya dan tepat di arah jatuhnya Tian Feng, cahaya terang bersinar sangat terang.


***


"Tian! Bukalah matamu, kita sudah sampai!" kata Xian kepada Tian Feng yang masih menutup mata.


Tian Feng sama sekali tidak merasakan panas apapun sejak dia menutup matanya dan melompat, bahkan dia menunggu dirinya menyentuh Lava tersebut, namun tidak juga kunjung menyentuhnya.


Karena penasaran akan perkataan Xian, Tian Feng memberanikan dirinya untuk membuka matanya, setelah dia membuka matanya, yang ia lihat hanyalah pepohonan besar, dan dirinya melayang di atas pepohonan itu.


"Apakah aku sudah mati?" tanya Tian Feng sambil meraba tubuhnya sendiri.


"Mati otakmu! Kamu masih hidup dan kita saat ini sudah berada di Dunia Dimensi!" kata Xian.


Tian Feng melihat kesekelilingnya dan dia melihat pepohonan yang hanya sedikit sekali dan sisanya hanyalah rumput halus.


Namun anehnya dia melihat langit-langit ada beberapa bola besar yang mengambang di udara seperti kain yang dibulatkan hingga sebesar kota Xanhuo.


"Tian lihatlah ada bangunan disana! Ayo kesana!" kata Xian.


Tian Feng melihat kearah satu bangunan yang terbuat dari tanah serta ada beberapa pohon Buah Pir di sampingnya.


Walau masih bingung Tian Feng tetap pergi ke bangunan tersebut, setalah sampai disana dia turun dan mendarat tepat di depan pintu.


Tidak terlihat ada satu orang pun yang terlihat disekitarnya sehingga Tian Feng mencoba memanggil dari luar, siapa tahu bangunan itu ada penghuninya.


"Permisi apakah ada orang didalam?" tanya Tian Feng dari luar.

__ADS_1


"Kau sudah datang rupanya! Masuklah kedalam."


Suara seorang pria dengan nada Lembut dan halus terdengar dari dalam bangunan. Tian Feng yang agak ragu untuk masuk meminta pendapat Xanzi dan Xian.


"Masuk saja Tian, seperti aku juga mengenali suara ini!" kata Xian.


Tian Feng segera menuruti perkataan Xian dan mulai melangkahkan kakinya memasuki pintu rumah.


Setelah tiba didalam, ternyata tidak ada barang-barang apapun didalam seperti rumah pada umumnya yang ada meja, kursi dan lainnya, namun didalam benar-benar kosong dan hanya ada satu orang mengenakan Zirah Emas dan duduk membelakanginya.


"Maaf Tuan, saya datang kesini karena dikirim oleh Buddha untuk berlatih...!"


"Tidak perlu di jelaskan lagi! Aku sudah mengetahui semuanya, lagi pula akulah yang akan membimbing mu di Dimensi ini!" kata sosok pria ber Zirah Emas itu dan kemudian pria itu berbalik dan saling bertatapan dengan Tian Feng.


Tian Feng menganga dan sulit percaya setelah melihat wajah sosok itu, dia mengucek matanya berkali-kali berharap jika yang ada di hadapannya benar-benar nyata.


"Apakah ini benar-benar anda Dewa Langit Ho Chen?" tanya Tian Feng.


Pria itu tersenyum lembut namun sedikit terkejut saat Tian Feng memanggil namanya.


"Dari mana kamu mengetahui namaku?" tanya sosok pria tersebut.


"Dari..! Dari Kuil Dewa Langit dan disana ada patung anda!" jawab Tian Feng.


"Kuil dan Patungku?"


"I..iya!" jawab Tian Feng.


Pria itu hanya tersenyum kemudian dia menatap Toya Emas yang Tian Feng ikat di punggung nya.


"Tan Zuo Xian! Kita bertemu lagi, aku tidak menyangka kamu sudah lebih dulu bertemu dengannya!"


"Kamu saja yang terlalu sibuk Ho Chen! Aku juga tidak menyangka akan bertemu dengan mu lagi sejak aku pergi meninggalkan Lang Yu!" jawab Xian.


"Baiklah kita lanjutkan saja pembincangan kita nanti saja! Sekarang aku ingin tahu siapa namamu dan sejauh mana kemampuan mu?" tanya Ho Chen.


"Sa..saya Tian Feng dan kemampuan saya masih berada di tahap Raja Bumi!" jawab Tian Feng.


"Aku sudah tahu jika kamu masih berada di tahap Raja Bumi, yang aku tanyakan kemampuan bertarung mu serta penggunaan ilmu sihirmu?"


"Ah dia itu keras kepala Ho Chen, disamping itu dia juga sering sibuk mengurusi hal-hal yang tidak penting sehingga dia lama untuk naik ketahap yang lebih tinggi!" kata Xian yang menjawab sehingga Tian Feng hanya bisa tersenyum canggung.


"Owh begitukah hasil didikan mu Xian?" suara wanita tiba-tiba terdengar dari arah Ho Chen.


"Suara itu..?" Xian dan Xanzi sama-sama terkejut mendengar suara tersebut.


"Iya ini aku Zhi Lianli! Apakah kalian berdua merindukanku? Sudah lama sekali bukan kita tidak bertemu?"


"Lianli! Sudah kubilang kita bicara itu nanti saja! Sekarang biarkan aku berbicara dengan Tian Feng dulu, dan jika kalian bertiga masih ingin berdebat, silahkan diluar saja!" kata Ho Chen kemudian dia mengeluarkan sebuah batu mustika berwana Biru terang dan kemudian batu itu terbang.


Secara bersamaan Toya Emas dan Mata Tombak juga bereaksi, ke-dua nya begetar dan kemudian sama-sama melayang dan keluar.


Tian Feng baru pertama kali melihat Xanzi dalam wujud Mata Tombak bisa melayang, namun yang lebih mengejutkan Munculnya Ho Chen yang dikenal oleh penduduk Kota Luwuen sebagai Dewa Langit dan akan menjadi guru pembimbingnya.

__ADS_1


__ADS_2