
***
Tian Feng berlatih jurus-jurus dasar dari ilmu Tombak selama hampir seharian, walau hanya berlatih ilmu beladiri biasa, namun semua itu sangat berguna bagi Tian Feng serta menambah ilmu baru.
Setelah hampir seharian berlatih, Tian Feng masih belum menguasai sepenuhnya dari jurus Tombak walau hanya dasar nya saja.
"Bagiamana hasil latihan mu hari ini Tian? Apakah sudah ada perkembangan?" tanya Xian saat Tian Feng sudah kembali dari latihannya.
"Baru juga berlatih, jadi hanya ada sedikit kemajuan saja!" jawab Xanzi.
Tian Feng sendiri hanya tersenyum kecut sekaligus mengalirkan energinya untuk menyembuhkan telapak tangannya yang memar karena terkena pukulan Biksu Xe Wong berkali-kali dan dititik yang sama.
Setelah tangan sudah membaik, Tian Feng menghela nafas seraya berbicara kepada ke-dua Roh Pusaka.
"Ternyata memperlajari jurus Tombak yang sesungguhnya tidak semudah yang aku pikirkan! Walau terlihat sederhana namun sangat sulit untuk meragakannya walau itu baru dasarnya saja!" kata Tian Feng.
"Hahaha... Tian-Tian! Kamu sudah pernah menjadi seorang pendekar hebat walau tidak sekuat seperti sekarang ini, apakah kamu lupa jika tidak ada yang mudah dalam mempelajari sebuah ilmu walau itu terlihat sederhana? Bahkan seseorang yang ahli memanah sekalipun butuh latihan bertahun-tahun agar bisa menjadi ahli pemanah yang handal!" kata Xian.
"Iya aku tahu itu! Namun jurus Tombak ini sangat berbeda sekali dengan jurus-jurus yang pernah aku pelajari, walau tidak melewati latihan berat, namun cara menggunakan Tombak itu sendiri ternyata butuh keahlian lebih dari yang lain!"
Tian Feng tidak bisa membayangkan betapa sulitnya para pasukan kerajaan yang sering memegang Tombak sebagai senjata perang mereka.
Di medan pertempuran, kebanyakan yang berada dibarisan depan adalah para prajurit yang memegang tombak, namun dalam pertempuran kebanyakan yang gugur adalah para prajurit pemegang tombak itu sendiri karena mereka tidak mahir dalam ilmu tombak.
"Diam ada yang datang kesini!" kata Xian.
Tian Feng dan Xanzi juga merasakan kedatangan seseorang yang melangkah menuju ke kamarnya dan setelah pintu kamar pun di ketuk.
"Tuan Tian! Apakah kamu ada didalam?"
Ternyata itu adalah suara Alice yang sejak tadi hanya berputar-putar di sekitar Kuil karena dia merasa bosan saat melihat Tian Feng yang sedang latihan.
__ADS_1
"Iya aku ada di dalam! Ada perlu apa?" jawab Tian Feng sekaligus bertanya balik kepada Alice.
"Bolehkah aku masuk kedalam?" tanya Alice.
"Iya masuk saja!"
Alice membuka pintu kamar dan masuk kedalam sekaligus menatap wajah Tian Feng tanpa merasa bosan.
"Ada perlu apa nona datang kesini?" tanya Tian Feng setelah Alice berada di hadapannya.
"Tuan Tian, sepertinya aku harus pulang hari ini! Aku belum memberikan kabar kepada kakek ku jika aku mampir kesini!" kata Alice.
Tian Feng mengerutkan dahinya sekaligus bertanya balik padanya, "Kenapa buru-buru nona Alice? Sebaiknya kamu pulang besok pagi saja karena hari ini sudah hampir sore!"
"Tidak Tuan Tian, hari ini aku harus pulang! Lagi pula aku sudah menepati janjiku untuk mengantarmu kesini, jadi ijinkan aku pamit!" kata Alice.
"Biarkan saja dia pergi Tian, lagi pula kamu sudah tahu jika dia tinggal di pusat kota, dan jika dia tetap berada disini, bisa-bisa dia mengetahui semua jurus latihan yang kamu pelajari!" kata Xian.
"Tapi Xian! Bagaimana dengan rencana untuk menjebaknya?" tanya Tian Feng.
Memang yang di katakan oleh Xian sangat benar, Alice memang berencana akan mengawasi Tian Feng dari luar Kuil, dan dia sendiri sebenarnya tidak tahan berada didalam kuil karena tekanan Aura yang menahan energinya sehingga tidak bisa leluasa.
"Baiklah nona Alice, sebelum saya ucapkan terima kasih banyak karena sudah membantu mengantar ku datang kesini!" kata Tian Feng.
Alice tersenyum lembut namun hatinya merasa kecewa karena ternyata Tian Feng tidak berniat untuk mengantarkan dirinya, setidaknya ada kata-kata basa-basinya.
Jika Tian Feng menawarkan diri untuk mengantarkan dirinya pulang, Alice berencana akan memanggil kakeknya serta beberapa pengawal dari dua sampai sepuluh untuk mengepung Tian Feng dan akan mengakhirinya.
Itu baru rencana saja karena nyatanya Tian Feng tidak menawarkan diri untuk mengantarkan dirinya pulang.
"Jika latihan Tuan Tian sudah selesai, mampirlah ke rumahku yang berada di pusat kota, carilah nama sebuh rumah yang ada tulisan keluarga Louis, disanalah rumahku!" kata Alice.
__ADS_1
Tian Feng hanya mengangguk tanpa menjawab, namun dia hanya tersenyum hangat kepada Alice sehingga membuat Alice ingin merubah keputusannya untuk pulang dan merasa sayang jika Tian Feng harus mati ditangan organisasinya.
"Kenapa kamu harus di takdirkan menjadi musuh kami Tian?" batin Alice yang mulai ragu akan keputusannya untuk menjebak Tian Feng serta menyayangkan Tian Feng yang harus menjadi musuh serta ancaman terbesar bagi Organisasi nya.
"Baiklah Tuan Tian, aku pamit dulu semoga kita bisa bertemu lagi!" kata Alice.
Tian Feng mengantar Alice hingga kedepan pintu gerbang, dan sebelum pergi Alice melihat lagi wajah Tian Feng sebelum dia pulang, karena dia tidak yakin apakah pertemuan berikutnya akan bisa bersama lagi seperti kemarin dengan Tian Feng atau justru akan bertarung dengan Tian Feng.
"Hati-hati dijalan Nona Alice dan sampaikan salam ku kepada Kakek mu!" kata Tian Feng sekaligus memegang tahan Alice membuat Alice ingin menjerit karena untuk ke-dua kalinya Tian Feng memegang tangannya.
Alice hanya bisa mengangguk tanpa menjawab kemudian dia melangkah pergi meninggalkan Tian Feng di Kuil Sengshan.
Setelah berjalan cukup jauh, Alice yakin jika Tian Feng pasti sudah masuk kedalam kuil sehingga dia melepaskan segel yang menekan energi hitamnya kemudian dia melayang secara perlahan-lahan sekaligus melihat bangunan Kuil Sengshan dari atas.
Hati Alice terlalu berat untuk menjauh dari Tian Feng serta hatinya mulai kacau, apakah dia tetap ingin menjebak Tian Feng atau tidak.
Dengan menggigit bibirnya sendiri, Alice langsung terbang dan kurang dari satu tarikan nafas saja, Alice sudah menghilang.
"Sudah kuduga, dia memang memiliki Aura hitam itu, bahkan Energi Hitam nya lebih kuat dari lawan terakhir yang kamu hadapi Tian!" kata Xanzi.
"Melihat cara dia terbang seja sudah jelas jika kecepatan terbangnya puluhan kali lebih cepat dari ku!" kata Tian Feng.
Alice jelas tidak tahu jika sebenarnya Tian Feng memperhatikan dirinya dengan Ilmu Sihir Mata Dewa yang ia miliki sehingga dia bisa melihat dengan jelas kekuatan serta kecepatan terbang Alice.
"Mungkin dia salah satu dari Pengawal Organisasi Bintang Hitam, bisa jadi yang berada di posisi antara Satu sampai Lima!"
Tian Feng sudah bisa menyimpulkan sendiri jika Alice pasti bagian dari Organisasi Bintang Hitam, mungkin Pengawal yang berada di posisi cukup tinggi.
"Tapi kenapa dia tidak langsung menyerang mu saat dia sudah tahu namamu Tian?" tanya Xanzi.
Seharusnya nama Tian Feng sudah diketahui oleh seluruh anggota Organisasi Bintang Hitam serta topeng yang ia kenakan saat bertemu dengan Alice pertama kali di Kuil Dewa Langit.
__ADS_1
"Entahlah? Mungkin dia mengira aku ini sangat kuat sehingga dia tidak bisa gegabah serta berusaha untuk menjebakku!" jawab Tian Feng.
"Mungkin saja dia terpengaruh oleh wajah mu itu Tian, jika soal kekuatan itu bisa jadi, disamping kamu bukan tandingannya, dalam hal kebodohan, kamu adalah Dewa nya!" kata Xanzi yang menganggap Tian Feng sebagai Dewa nya kebodohan.