Kesatria Tombak Nirwana

Kesatria Tombak Nirwana
Pendekar Dewa Sesat telah kembali


__ADS_3

***


Ho Chen berdiri menatap patung emas yang bangun oleh Raja Tang Li ribuan tahun yang lalu.


Struktur wajah serta pakaiannya yang dulu ia gunakan sama persis dengan yang ada dipatung emas tersebut.


"Tidak kuduga Kerajaan Luwuen akan runtuh! Tapi begitulah takdir yang akan selalu berganti-ganti, yang lama akan di gantikan oleh yang baru," kata Ho Chen.


Sebenarnya dia hampir lupa dengan tempat itu karena semuanya sudah berubah, bahkan wajah Tang Li sekalipun dia sudah lupa karena semua itu sudah berlalu ribuan tahun lamanya.


"Maaf senior! Apakah senior akan ikut dengan saya ke Kerajaan Jiu atau masih mau tinggal disini?" tanya Tian Feng.


Ho Chen melihat kearah Tian Feng dengan tersenyum lembut kemudian dia menatap kembali patung diri seraya menjawab pertanyaan Tian Feng.


"Kamu duluan saja, aku masih ingin mengunjungi tempat lain yang ada disini!" jawab Ho Chen.


"Tapi senior, bagiamana senior bisa tahu tempat saya nanti?"


"Itu sangat mudah Tian, aku bisa melihat seluruh alam semesta ini dengan Mata Dewa ku! Jadi aku hanya cukup melacak energimu itu dan aku sudah bisa tahu dimana posismu nanti berada!" kata Ho Chen.


"Baiklah kalau begitu senior, kalau begitu saya pergi duluan!" kata Tian Feng.


Ho Chen mengangguk kemudian Tian Feng berniat menggunakan sihir Ruang Waktunya, namun tiba-tiba saja segerombolan prajurit bersenjata lengkap beserta beberapa warga datang menghampiri kuil.


"Keluar kalian! Kami tahu kalian berdua berada di dalam, jadi cepat keluar," seru salah satu pria yang mengenakan Zirah.


Tian Feng dan Ho Chen segera keluar dan memenuhi panggilan mereka, "Ada apa Jendral? Apakah kami telah menggangu kalian?" tanya Ho Chen dengan sopan.


"Itu dia pria yang beberapa bulan lalu datang kesini, dan saat malam dia datang menghadiri acara pernikahan Anak Walikota kemudahan malam itu juga terjadi pembuahan!" kata salah seorang pria kurus.


Pria tersebut adalah salah satu dari dua orang yang pernah bertemu dengan Tian Feng saat pertama kali Tian Feng tiba di depan kuil.


Semenjak kejadian pembunuhan kepada Tiga pemuda di acara pernikahan anak Walikota Luwuen, para warga mencurigai jika pelakunya adalah Tian Feng.


Mereka sudah mencari tahu lewat para pemain sirkus apakah ada salah satu anggota mereka yang tersesat, namun ketua rombongan pemain sirkus menjawab jika semua anggotanya tidak ada yang tersesat.


Mereka berusaha mencari keberadaan Tian Feng, namun hingga berbulan-bulan Tian Feng tidak juga terlihat sehingga beberapa orang secara bergantian mengawasi Kuil dan tanpa pantang menyerah, mereka akhirnya berhasil menemukan orang yang mereka cari.


"Apakah kamu membunuh orang Tian?" tanya Ho Chen.


"Tidak, ini pasti salah paham dan kemungkinan ada yang memfitnah atau sekedar curiga saja!" jawab Tian Feng kemudian dia maju untuk memberikan penjelasan kepada Jenderal yang memimpin pasukan.


"Jenderal sepertinya ini hanya kesalahpahaman saja! Memang benar aku pernah menghadiri acara pernikahan anak Walikota, dan itupun diajak oleh seorang gadis dari Foiberia, namun tidak lama karena begitu keributan pernikahan itu sudah usai, aku langsung kembali ke penginapan!" kata Tian Feng yang berusaha memberi penjelasan dan berusaha untuk tidak ribut dengan para warga serta para prajurit dan jenderal yang bertugas di kota Luwuen.


"Sebenarnya beberapa mata warga lebih fokus kepada Ho Chen, wajah Ho Chen serasa tidak asing bagi mereka, namun tidak ada yang ingat dimana mereka pernah melihat wajah Ho Chen.


"Logat bahasamu seperti dari Kerajaan Wu, apakah kamu berasal dari sana?" tanya Jenderal tersebut.


"Benar Jenderal, aku memang berasal dari Wutong!" jawab Tian Feng.

__ADS_1


"Rakyat Wutong jauh-jauh datang kesini ada perlu apa? Apakah kamu mau memata-matai Kerajaan Jiu?" tanya Jenderal tersebut.


"Jenderal, sejak dulu Wutong tidak pernah memiliki masalah terhadap Jiu, jadi kenapa Wutong harus mengirim mata-mata kesini?" Tian Feng mengelak sekaligus bertanya.


"Jika kamu bukan mata-mata tunjukkan surat pengantar resmi dari Raja mu padaku!" kata Jenderal tersebut.


Tian Feng segera mengeluarkan gulungan kertas pemberian Wei Fang kepada Jenderal tersebut.


Setelah menerimanya Jenderal tersebut segera membukanya dan membaca isi surat pengantar yang sudah ada stempel khusus dari Raja.


"Hem..! Kalau begitu maafkan kami karena telah mencurigai Tuan Muda! Tapi ada urusan apa Tuan datang kesini?" tanya Jenderal tersebut yang merubah sikapnya setelah mengetahui jika Tian Feng bukanlah pendatang gelap.


Merasa tidak pantas rasanya bagi Tian Feng jika tidak menjelaskan akan maksud kedatangannya datang ke Kerajaan Jiu, Tian Feng pun mengatakan semuanya jika dirinya sebenarnya memiliki urusan di Kuil Sengshan untuk menemui Biksu Xe Wong.


"Sekarang aku harus kembali ke Kerajaan Wu karena urusan ku disini sudah selesai!" kata Tian Feng.


"Owh baik silahkan Tuan, namun kami juga minta maaf atas ketidak nyamanan ini!" kata Jenderal, dia tidak mempermasalahkan dan tidak menanyakan akan siapa Ho Chen.


"Terima kasih, kalau begitu kami pergi dulu!" kata Tian Feng.


Ho Chen tersenyum ramah sekaligus kagum terhadap Tian Feng. Dia tahu jika sebenarnya Tian Feng memiliki karakter keras, namun sekarang Tian Feng menunjukkan sisi kesabaran serta kesopanan dalam berbicara dan berusaha menghindari kekacauan.


Para Jenderal dan semua warga segera pergi meninggalkan Tian Feng, sedangkan Tian Feng dan Ho Chen segera menghilang dari tempat itu tanpa ada yang melihatnya.


"Ee.. Mereka berdua sudah hilang! Cepat sekali perginya mereka?" salah satu warga yang menoleh kebelakang terkejut karena Tian Feng dan Ho Chen sama-sama menghilang.


"Iya aku juga merasa demikian! Tapi aku tidak ingat pernah bertemu dengan pemuda itu di mana."


Setelah cukup lama mengingat-ingat, semua warga sontak kaget dan sama-sama mengatakan sesuatu yang membuat Jenderal dan para prajurit serta beberapa warga yang tidak lagi memikirkan itu terkejut.


"Pemuda itu!"


"Pemuda itu adalah Dewa Langit!"


Akhirnya mereka ingat jika wajah Ho Chen sama persis dengan patung Dewa Langit yang berada di dalam kuil.


Semua warga dan para prajurit segera berlari ke dalam kuil berharap Ho Chen dan Tian Feng masuk kembali kedalam, namun ternyata didalam sudah tidak ada siapa-siapa selain barang-barang dan patung Ho Chen.


Semua memandangi wajah patung Ho Chen dan semuanya mulai yakin jika yang mereka lihat tadi adalah Dewa Langit.


"Mimpi apa aku semalam bisa bertemu Dewa Langit hari ini!"


Semuanya segera bersujud termasuk Jenderal di depan patung Ho Chen. Mereka tidak tahu lagi harus menggambarkan rasa keberuntungan dan kebahagian mereka seperti apa, yang jelas mereka merasa orang yang paling beruntung karena akhirnya Dewa Langit muncul kembali di Luwuen.


Ho Chen dan Tian Feng pergi dengan Sihir Ruang Waktu mereka masing-masing, namun tujuan mereka berbeda-beda di mana Tian Feng pergi menuju ke Kerajaan Wu, sedangkan Ho Chen pergi Ke Kuil Gunung Suci tempat dirinya mengambil Bunga Lotus Emas serta tempat di mana dirinya untuk pertama kalinya bertemu dengan salah satu manusia berkekuatan Dewa, yaitu Putri Xi Liyi.


***


"Panglima Wei! Semalam aku bermimpi ada ratusan gajah mendatangi Kerajaan Kita, bahkan dalam mimpi itu aku melihat istana seperti dilahap oleh api!" kata Ratu Sie yang memanggil Wei Fang dan menceritakan mimpinya yang membuat perasaannya tidak tenang serta takut jika mimpi itu pertanda buruk.

__ADS_1


"Yang Mulia! Hamba tidaklah pandai meramal mimpi, menurut hamba itu hanyalah rasa kekhawatiran Yang mulia saja!" jawab Wei Fang.


"Tapi Panglima! Perasaan ku sungguh merasa tidak enak karena didalam mimpi itu Api yang membakar Istana seperti kepala raksasa terbungkus Api, dan gajah-gajah besar menginjak-injak para rakyat hingga mayat berserakan dimana-mana!" kata Ratu Sie.


"Yang Mulia! Terkadang kita jangan terlalu berlebihan menanggapi sebuah mimpi, karena mimpi itu hanyalah bunga tidur saja!" kata Wei Fang berusaha menenangkan Ratu Sie.


Ratu Sie menghela nafas panjang, dia juga berharap semoga mimpi itu hanyalah Bunga Tidurnya saja dan berharap tidak ada tanda-tanda buruk bagi Kerajaan peninggalan mendiang Raja Zhi Xian.


We Fang sendiri sebenarnya juga khawatir, dia tahu satu-satunya Kerajaan yang memiliki Pasukan Gajah hanyalah Kerajaan Xia saja.


"Apa mungkin mimpi Ibu Ratu ada hubungannya dengan Pasukan Gajah dari Kerajaan Xia? Jika benar ini adalah sebuah pertanda, maka aku harus memperketat penjagaan di perbatasan!" batin Wei Fang.


"Yang Mulia! Jika yang Mulia masih merasa khawatir juga, hamba akan menambah penjagaan di seluruh perbatasan agar Yang Mulia bisa lebih tenang!" kata Wei Fang.


"Lakukan saja Panglima jika menurut mu itu perlu! Aku tidak takut jika aku yang harus celaka, namun aku tidak mau jika semua Rakyat Kerajaan Wu harus menjadi korban jika mimpiku itu ada hubungannya dengan peperangan!" kata Ratu Sie.


"Yang Mulia sudah tahu sendiri jika sejak dulu tidak ada kata damai di Kerajaan kita! Bahkan sejak hamba belum lahir pun sudah sering terjadi perang yang banyak menelan banyak korban, bahkan Rakyat biasapun ikut terkena dampaknya walau Kerajaan sudah mencoba untuk melindungi Rakyat!"


"Aku tahu itu Panglima, namun aku berharap jika nanti Kerajaan kita benar-benar diserang, aku berharap ada ke ajaiban dan juga bantuan dari langit!" kata Ratu Sie walau dia tahu jika harapannya hanyalah angin berlalu saja.


Wei Fang hanya tersenyum kecut dengan menundukkan kepala saja, Wei Fang berharap semoga tidak ada peperangan hingga nanti Tian Feng kembali pulang, karena harapan Wei Fang hanyalah Tian Feng dan Chie Xie, dan pemikiran Ratu Sie juga sama seperti Wei Fang.


"Lapor Yang Mulia! Panglima! Ada Pesan dari Pejabat Yuan untuk Panglima!" kata salah satu prajurit kemudian menyerahkan surat kepada Wei Fang.


"Surat ini untuk ku? Ada apa Tuan Yuan mengirim surat kepada ku?" tanya Wei Fang sembari menerima surat tersebut.


"Mungkin ini ada hubungannya dengan Perjodohan Pangeran dan Dewi Es, kamu baca saja dulu Panglima!" kata Ratu Sie.


Prajurit pengantar pesan segera undur diri dan Wei Fang segera membaca isi surat tersebut.


"Apa isi surat itu Panglima? Apakah Pejabat Yuan ingin membahas masalah perjodohan dengan mu?" tanya Ratu Sie.


Wei Fang tersenyum lebar setelah selesai membaca surat dari Yuan Xia kemudian dia menyampaikan isi surat tersebut kepada Ratu Sie.


"Yang Mulia! Penjabat Yuan meminta hamba untuk segera kesana karena Putra mereka sudah pulang!" kata Wei Fang.


Ratu Sie langsung melebarkan matanya setelah mendengar itu, "Maksudmu Pendekar Dewa Sesat telah kembali?"


"Benar Yang Mulia! Sekarang hamba akan kesana dulu!" kata Wei Fang.


"Baiklah Panglima, sampaikan salam ku kepadanya dan jika sempat suruh dia datang kesini karena aku juga ingin bertemu dengannya!" kata Ratu Sie.


"Baik Yang Mulia, ijinkan hamba berangkat kesana!"


"Pergilah!" kata Ratu Sie.


Wei Fang bergegas keluar setelah memberikan hormatnya kemudian dia langsung pergi ke rumah Yuan Xia dengan kudanya untuk bertemu dengan Tian Feng yang sudah kembali dengan perasaannya yang mulai lega dan tidak merasa khawatir lagi.


Sedangkan Ratu Sie sendiri juga merasa lebih tenang karena keinginannya telah diwujudkan oleh langit dan menganggap jika langit telah mengirimkan Tian Feng kembali untuk melindungi Kerajaannya.

__ADS_1


__ADS_2