
Chang Shan menyipitkan matanya saat merasakan tingkat kekuatan Zang Yang yang meningkat, "Sejak kapan dia berada di tingkat Pendekar Cahaya Tahap 2?" batin Chang Shan.
"Apakah sekarang musim hujan?" salah satu pendekar yang lain memperhatikan awan hitam yang tebal yang semakin mendekat ketempat mereka.
"Seharusnya masih belum! Tapi entahlah," jawab Pendekar yang lain.
Tidak ada yang memperhatikan pergerakan awan hitam tersebut yang semakin dekat, mereka lebih memperhatikan pertandingan yang ada didepan mereka.
"Namaku Zang Yang, mantan dari perguruan Singa Emas!" Zang Yang memperkenalkan dirinya kepada Sao Zan.
Seharusnya Zang Yang sudah tidak perlu lagi menyebutkan nama perguruannya, namun dia tidak bisa memungkirinya karena jurus yang ia kuasai adalah jurus Singa.
Sao Zan memiliki dua senjata berupa palu besar, ujung dua sisinya sedikit lonjong, ketika Sao Zan memukul satu palunya ke pasir, ledakan dan getaran segera tercipta.
"Sepertinya palunya itu sangat berat! Tapi orang ini mengangkat palunya seperti sangat ringan ditangannya!" batin Zang Yang.
Sao Zan memulai pertarungan terlebih dahulu dengan mengayunkan ke-dua palunya kearah Zang Yang.
Zang Yang menahan ujung palu tersebut dengan sebelah tangannya sedangkan tangan satunya mengumpulkan Chi.
Sao Zan kembali mengayunkan palu satunya lagi kemudian Zang Yang menahannya lagi dengan tangan yang sudah dialiri Chi.
Benturan keras dari palu yang ditahan oleh Zang Yang menciptakan gelombang angin yang menyebar ke berbagai arah.
"Boleh juga..!" kata Sao Zan kemudian dia menarik ke-dua palunya dan menyerangnya secara bergantian dan juga beruntun.
Zang Yang juga membalas serangan Sao Zan serta bertahan. Pertarungan ke-duanya semakin lama semakin sengit karena ke-duanya memilki tingkat kekuatan yang sama.
"Palu Penghancur Gunung."
Sao Zan melompat keatas sekaligus memutar ke-dua palunya dengan sangat cepat dan kemudian diarahkan ke kepala Zang Yang.
Tidak hanya Zang Yang yang terkejut melihat serangan Sao Zan yang terlihat berniat membunuh Zang Yang, namun hampir semua orang juga ikut terkejut melihat hal itu.
"Ayah..!"
"Kakek...!"
Zian Wen dan Lin Ling sama-sama berteriak karena takut Zang Yang akan terluka atau terbunuh oleh Sao Zan.
"Taring Singa Menembus Baja."
ke-lima jari Zang Yang yang sudah diselimuti Chi diadu dengan palu besi tersebut.
Tannnkk!!!
Jdarrr...!!
Suara benturan yang sangat keras menciptakan ledakan serta gelombang kejut yang hampir melemparkan para penonton dibarisan depan.
Untung saja semua penonton yang ada dibarisan depan memiliki kekuatan setidaknya Tingkat Atas sehingga mereka masih bisa bertahan.
__ADS_1
"Dia itu berniat untuk membunuhnya!" kata salah pendekar menunjuk kearah Sao Zan.
"Apakah sebelumnya ada aturan untuk tidak membunuh? Tidak ada bukan?" jawab Sao Zan.
"Memang benar sekali! Akan tetapi jika bisa usahakan untuk tidak saling membunuh, karena Pertandingan ini bukan untuk saling membunuh," kata Wei Fang.
Ucapan Wei Fang hanya disambut dengan senyuman tipis oleh Sao Zan, sedangkan Zang Yang hanya menghela nafas panjang.
"Biarkan saja panglima! Lagi pula sudah jadi tradisi bagi aliran sesat untuk membunuh setiap lawan yang dihadapinya! Jujur aku juga ingin tahu seberapa lama dia bisa bertahan bertarung melawanku!" kata Wei Fang.
"Baiklah terserah kamu saja Guru Zang!" kata Wei Fang.
Semua orang yang merasa tidak setuju dengan cara Sao Zan kini menjadi antusias, sebagian ada yang mendukung Zang Yang, dan sebagian lagi ada yang mendukung Sao Zan.
"Kalau begitu mari kita buktikan siapa yang pantas menjadi peserta berikutnya, aku atau kamu!" ucap Sao Zan sekaligus mengalirkan energinya ke palu besarnya.
"Palu Petir - Menembus Bumi."
Ke-dua palu Sao Zan saling dibenturkan kemudian percikan seperti listrik berwarna biru mulai terlihat, semakin lama percikan tersebut semakin menyebar dan menutupi ke-dua palu tersebut.
"Tahap Akhir Kehidupan - Dewa Singa Suci."
Kali ini Zang Yang yakin bisa menggunakan jurus Dewa Singa Suci sepenuhnya, dengan keyakinan penuh Zang Yang melepaskan energinya dan rambutnya yang terikat kini sudah lepas.
"Ini...!?" Chang Shan jelas mengetahui ilmu tersebut sehingga Chang Shan terkejut saat melihat Zang Yang bisa menggunakan jurus tersebut.
Wei Fang sendiri kini merasa cemas melihat Zang Yang kembali menggunakan jurus Dewa Singa Suci nya lagi, dia menoleh kearah Tian Feng yang terlihat biasa saja.
Alasan Tian Feng sangat percaya karena energi negatif Zang Yang sudah digantikan oleh energi positif, jadi Zang Yang tidak akan terpengaruh oleh ilmu itu lagi
Sao Zan dan Zang Yang maju secara bersamaan dan saling menyerang dengan jurus andalan mereka masing-masing.
Setiap kali Sao Zan menyerang titik buta Zang Yang, tetap saja Zang Yang mampu menghindarinya.
Kecepatan ke-duanya bisa dibilang sangat berimbang, hanya saja kekuatan Sao Zan hanya mengandalkan senjatanya, sedangkan Zang Yang mengandalkan energi serta tubuhnya.
Semua para penonton mulai menjauh sedikit demi sedikit karena efek serangan ke-duanya semakin meluas.
"Aku tidak tahu siapa yang akan keluar menjadi pemenangnya, ke-duanya sama-sama memiliki kekuatan yang berimbang sehingga sulit untuk menentukan siapa yang akan kalah ataupun menang!" kata Chang Shan.
Menurutnya kekuatan Zang Yang dan Sao Zan sebanding dengan dirinya, namun tidak bagi Tian Feng.
Tian Feng merasa kemampuan Zang Yang lebih unggul dari Sao Zan, Zang Yang sama sekali tidak kekurangan energi saat menggunakan ilmu Singa Dewa Suci, justru energinya malah semakin meningkat.
Sao Zan sendiri tidak ada peningkatan sedikitpun, justru energinya malah mulai menyusut, "Mungkin Palu nya itu menjadi bebannya sehingga Sao Zan semakin melemah," kata Gu Yuao.
Pertarungan Zang Yang dan Sao Zan berlangsung cukup lama dan kemudian pertarungan ke-duanya semakin menurun.
Zang Yang mulai menggunakan kecepatan untuk menyerang Sao Zan yang mulai melemah dan nafasnya mulai tidak teratur.
Satu palu berhasil Zang Yang jatuhkan dan terlepas dari tangan Sao Zan kemudian dia melempar palu tersebut sangat jauh, setelah itu Zang Yang kembali berusaha menjatuhkan satu palu lagi dari tangan Sao Zan.
__ADS_1
Zang Yang yakin jika Sao Zan tidak memiliki palu lagi, maka dia pasti sangat mudah untuk di kalahkan.
Sao Zan jelas merasa kesal karena Zang Yang dapat mengetahui kelemahannya, dia berusaha agar Zang Yang tidak merebut palu yang satu lagi.
"Palu Petir - Amarah Langit."
Palu Sao Zan yang tinggal satu dilempar keudara kemudian berputar dengan kencang sehingga terlihat seperti bola cahaya terang.
Jdarrr..! Jdarrr! Jdarrr...!!
Sambaran petir mulai jatuh ke arah Zang Yang yang tidak tahu jika palu tersebut bisa melepaskan sambaran petir yang sangat kuat.
Jelas saja Zang Yang tidak siap sehingga dia hampir terkena sambaran tersebut, walau berhasil lolos, namun beberapa cabang Petir berhasil mengenai tangan Zang Yang.
Zang Yang merasa seperti lumpuh dan organ serta urat-urat nadinya seperti terbakar saat terkena petir tersebut.
"Ayah!" teriak Zian Wen.
"Untung aku masih sempat melindungi tubuhku dengan Chi, jika tidak aku pasti akan benar-benar mati!" gumam Zang Yang.
Walau terlihat baik-baik saja, namun sebenarnya Zang Yang merasa tubuhnya seperti mati rasa.
Zang Yang kembali melepaskan energinya sehingga dia bisa kembali menggerakkan tubuhnya.
"Singa Mengejar Bayangan."
"Taring Kematian."
Zang Yang berlari secepat kilat kearah Sao Zan yang masih fokus mengendalikan palunya, saat sudah dekat, dia segera memusatkan Chi nya kesatu jari dan kemudian menusuk lengan kanan Sao Zan dan pindah lagi menusuk tangan kirinya.
Sao Zan jelas tidak bisa menghindarinya karena kecepatan serangan Zang Yang lebih cepat dari serangan petirnya, terlebih lagi dia terlalu fokus terhadap palu nya.
"Aku bisa saja membunuhmu disini, namun aku bukan orang-orang seperti kalian!" kata Zang Yang sambil mengarahkan jari telunjuknya ke dahi Sao Zan yang tidak bisa menggerakkan tangannya.
Palu yang berputar diatas kini jatuh tepat disamping Sao Zan, dan kini dia benar-benar sudah tidak bisa mengendalikan palunya lagi, jangan mengendalikan, bahkan mengangkatnya juga sudah tidak mungkin.
"Bunuh saja aku, tidak pantas bagi diriku untuk menerima belas kasih dari musuh!" kata Sao Zan.
Zang Yang tersenyum tipis mendengarnya, dia tidak menduga jika seorang pendekar sesat seperti Sao Zan memiliki harga diri yang sangat tinggi.
"Aku tidak bisa melakukan tanpa alasan!" jawab Zang Yang.
"Tidak! Kita sudah memutuskan untuk bertarung disini sampai mati, dan itu sudah disetujui oleh yang lain, jadi lakukanlah karena aku tidak mau menanggung malu seumur hidup ku!" kata Sao Zan yang tetap meminta Zang Yang untuk membunuh.
Merasa tidak punya pilihan lain lagi, ditambah lagi ini adalah permintaan Sao Zan sendiri, akhirnya Zang Yang mengabulkannya.
Sao Zan mati dengan tusukan jari Zang Yang di dahi Sao Zan. Melihat Sao Zan mati dengan dengan wajah terlihat tidak ada penjelasan, Zang Yang mengerti jika Sao Zan lebih merasa terhormat jika mati ditangan lawannya.
Kemenangan Zang Yang sangat sulit untuk mendapatkan sorak kemenangan dari para pendekar, walau mereka semua tahu jika semua itu adalah permintaan Sao Zan sendiri, namun tetap saja itu sangat tidak memuaskan.
"Dengan ini pertandingan pertama sudah selesai! Setelah beristirahat sejenak maka kita akan melanjutkan lagi babak Ke-dua, yaitu pertandingan melawan salah satu dari sepuluh Pendekar terkuat, namun yang akan menantang adalah para peserta!" kata Huan Bao.
__ADS_1
Aturan pertandingan babak ke-dua adalah tantangan, dimana peserta boleh memilih siapa salah satu dari sepuluh pendekar terkuat yang akan mereka tantang, jika berhasil mengalahkannya, maka peserta penantang akan menggantikan posisi pendekar tersebut menjadi salah satu dari sepuluh pendekar terkuat.