Kesatria Tombak Nirwana

Kesatria Tombak Nirwana
Tombak Nirwana telah sempurna


__ADS_3

***


Seperti yang pernah dikatakan oleh Xian saat melatih Tian Feng serta membantunya membentuk Sendi Elemen, yang paling sulit hanya pembentukan Energi Yin dan Yan, sisanya akan sangat mudah bagi Tian Feng.


Tahap pembentukan Sendi Elemen yang ke-empat tidak sesulit pembentukan dua dan tiga, kali ini pembentukannya sangat lancar tanpa ada hambatan walau setidaknya butuh lebih satu tahun bagi Tian Feng untuk menyempurnakannya.


"Wah sepertinya pengertianmu akan beberapa Elemen semakin maju Tian! Dengan Begini kamu akan dengan mudah mencapai puncak Tahap Raja Alam, dan berikut jika kamu ingin mencapai ke Tahap Dewa, kamu harus membentuk Sendi besar yang ke-empat dan yang terakhir, yaitu Sendi Nafsu!" kata Ho Chen.


"Akan saya coba Dewa, tapi...!"


Tian Feng bangkit karena dia tidak merasakan apapun kepada dirinya seolah-olah dia tidak memiliki tubuh, dan pancaran Aura Pembunuh yang ia miliki langsung terpancar keluar dari tubuhnya.


Tian Feng mencoba melepaskan energi baru yang ia miliki dan setelah dia melepaskannya, dentuman kuat segera tercipta dan keluar dari tubuh Tian Feng serta angin kencang dan tanah mulai retak.


"Inikah kekuatan Tahap Raja Alam?" gumam Tian Feng yang merasa jika dirinya sungguh di penuhi oleh Energi yang entah dari mana datangnya dan secara terus menerus memasuki tubuhnya.


"Itu adalah energi alam Tian! Energi itu sangat murni, namun energi itu tidak secara terus menerus bisa kamu serap karena antara penggunaan dan penyerapan lebih banyak penggunaan nya, jadi perhitungan baik saat nanti kamu berhadapan dengan musuh yang setara!" kata Ho Chen.


Tian Feng mengangguk karena sudah mengerti maksud penjelasan dari Ho Chen, sedangkan Ho Chen sendiri mulai mengatur pembentukan Sendi besar yang terakhir.


"Tian! Sendi ke-empat yang akan kamu bentuk ini sangatlah sulit, ada banyak cara untuk bisa membentuknya, terkadang dengan cara yang tidak disangka-sangka, namun kita coba dengan cara ku! Apakah kamu sudah siap?" tanya Ho Chen yang balas dengan jawaban anggukan oleh Tian Feng.


"Sendi Nafsu sebenarnya bersifat pribadi, dimana ada dua cara yang biasa dilakukan, yang pertama kamu harus bisa mengekang rasa haus darah mu."


Ho Chen tahu jika Tian Feng memiliki sifat keras dan sering membunuh lawan tanpa belas kasihan sedikitpun, itu artinya Tian Feng harus bisa mengendalikan Nafsu membunuhnya.


"Cara yang ke-dua, kamu harus menemui kembaran jiwamu, berusahalah untuk berdamai dengan kembaran jiwa mu, dan jika kembaran jiwa mu tidak mau, maka jalan satu-satunya adalah bertarung lewat pertarungan batin! Apakah kamu sudah mengerti maksud dari ke-duanya?" tanya Ho Chen.


Tian Feng terdiam sesaat, baginya cara yang pertama sangat sulit untuk bisa dilakukan karena pada dasarnya, membunuh para pendosa adalah jalan hidupnya.


Namun cara yang ke-dua yang sangat membingungkan bagi Tian Feng karena dia sendiri tidak tahu apa itu kembaran jiwa.


"Maaf Dewa, apakah saya memiliki kembaran jiwa itu?" tanya Tian Feng.


Ho Chen mengangguk kemudian menjelaskan jika semua mahluk memiliki kembaran jiwa, biasanya ke-duanya memiliki sifat yang bertentangan, yang satu baik dan ingin bertobat, dan yang satu jahat dan sering membisikkan kepada tubuh aslinya untuk membunuh.


Memang sangat sulit untuk bisa bertemu dengan kembaran jiwa, hanya dengan memasuki alam batin seseorang bisa bertemu dengan kembaran jiwanya.


"Sekarang coba kamu pusatkan pikiran mu untuk masuk ke alam batin, jika kamu bisa menembusnya maka kamu akan melihat kembaran jiwamu, namun jika hanya mendengar suara saja, itu artinya kembaran jiwamu lebih kuat dari dirimu dan kamu jangan dulu memasukinya!"


"Kalau saya tetap memaksakan diri untuk masuk?" tanya Tian Feng.


"Jika kamu tetap memaksa, maka kamu akan kalah, dan pikiran mu akan diambil alih oleh kembaran jiwa mu dan kamu akan kehilangan jati dirimu asli! Anggap saja kamu akan menjadi orang jahat yang lebih suka untuk membunuh siapapun yang kamu lihat, dan pada akhirnya kamu akan tersesat!" jawab Ho Chen.


"Saya akan mencobanya Dewa!" kata Tian Feng.


"Eee.. Tian! Sejak awal kita bertemu kamu terus memanggil ku Dewa! Aku merasa tidak nyaman dengan itu, jadi panggil saja aku Ho Chen!" kata Tian Feng.

__ADS_1


"Ba..baik Dewa Ho Chen!" Tian Feng tetap merasa gerogi memanggil nama Ho Chen.


"Hilangkan Dewa nya dan panggil aku Ho Chen saja agar lebih akrab!" kata Ho Chen.


"Ho...Ho Cheenn..!"


Berat rasanya bagi Tian Feng untuk memanggil Nama Ho Chen secara langsung karena itu terkesan tidak sopan mengingat Ho Chen memanglah seorang Dewa.


"Lakukanlah sekarang!" kata Ho Chen.


Tian Feng segera duduk bersila dan kemudian dia mulai bermeditasi dan memusatkan pikirannya untuk bisa memasuki alam batin.


Ho Chen juga memberikan petunjuk kepada Tian Feng akan bagaimana caranya agar Tian Feng bisa menembus Alam Batin.


Namun ternyata hal itu memang sangat sulit karena Alam yang akan dituju oleh Tian Feng berada didalam dirinya sendiri.


Satu hari dua hari terlewati, namun Tian Feng tetap tidak mampu menembus Alam Batinnya, hingga Hari berganti bulan dan secara rutin Tian Feng melakukannya hingga lebih satu tahun barulah Tian Feng berhasil mendengar suara.


"Ada apa kamu datang kesini saudara ku?"


Tian Feng sangat terkejut mendengar suaranya sendiri yang bicara padanya, dia ingat akan penjelasan Ho Chen jika dirinya hanya bisa mendengar suaranya saja, itu artinya Kembaran Jiwanya jauh lebih kuat dari dirinya.


"Maaf saudara ku! Ijinkan aku menemuimu, ada yang ingin aku bicarakan padamu!" kata Tian Feng lewat batinnya.


"Hahaha...! Aku sudah tahu akan maksud dan keinginan mu saudara ku! Tapi aku tidak ingin bertemu dengan mu setidak untuk saat ini!" jawab suara kembaran jiwanya.


"Saudara ku! Jika kamu sudah tahu akan maksud kedatangan ku, maka mari kita membicarakan masalah ini baik-baik!" kata Tian Feng yang mencoba untuk berdamai lewat suara karena kata Ho Chen ada dua cara dan salah satunya harus bisa berdamai dengan kembaran jiwanya.


Tian Feng benar-benar kehabisan kata-kata, sikap kembaran jiwanya sudah jelas menggambarkan akan sifat dirinya yang sering membantah saat Xian dan Xanzi menasehatinya.


Merasa tidak bisa memasuki Alam Batin, Tian Feng akhirnya menghentikan meditasinya dan segera mengambil nafas dalam-dalam sebelum akhirnya hanya bisa tersenyum kecut.


Ho Chen sendiri mengetahuinya lewat pikiran Tian Feng, jadi dia juga menghela nafas panjang.


"Itulah ujian jika ingin memiliki kekuatan Dewa! Tapi kamu jangan berkecil hati karena belum bisa menembus Kekuatan Dewa, masih banyak cara lain agar kamu bisa memiliki kekuatan itu, dan mungkin nanti kamu akan menemukannya sendiri sering berjalannya waktu!" kata Ho Chen.


"Apakah artinya saya sudah gagal?" tanya Tian Feng.


"Tidak juga! Hanya saja cara membentuk Sendi Nafsumu mungkin berbeda!" jawab Ho Chen.


Walau Tian Feng belum bisa menembus tahap Dewa, namun kemampuan Tian Feng kini hampir setara dengan Dewa Tahap 1, walau dia sendiri masih berada di Tahap Raja Alam.


"Xanzi, Xian, Lianli, kemarilah kalian!" kata Ho Chen memanggil ke-tiga pecahan pusaka.


Setelah ke-tiga pusaka itu sampai di depan Ho Chen, ke-tiganya melayang-layang di hadapan mereka berdua.


"Sekarang saatnya bagi kalian untuk menyatu!" kata Ho Chen kemudian percikan seperti petir kecil atau listrik keluar dari telapak tangan Ho Chen.

__ADS_1


"Xian, kami berdua akan menyatukan energi kami padamu, jadi untuk yang pertama kamulah yang akan mengendalikan Tombak ini selama kami menyatu, jika nanti kamu kesulitan saat Tian mendapat lawan yang tangguh, nanti kita bisa gantian bertukar tempat!" kata Xanzi dan di benarkan oleh suara Lianli.


"Baik aku akan berusaha!" jawab Xian.


Karena ke-tiga pecahan pusaka akan menyatu, jadi yang berhak mengendalikan gabungan kekuatannya hanya satu Roh saja, dan dua sisanya bisa masuk kedalam batu permata biru itu, namun nanti bisa bergantian.


Tidak bisa jika ke-tiga roh itu harus bersama-sama mengendalikan kekuatan Tombak karena hasilnya tidak akan baik dan energinya tidak akan pernah bisa menyatu.


"Bersiaplah kalian bertiga!" kata Ho Chen yang mulai mengarahkan telapak tangan yang dialiri percikan listrik.


"Tian! Sampai bertemu lagi nanti!" kata Xanzi.


Tian Feng hanya mengangguk, namun perasaannya merasa sedih karena Xanzi yang sering menceramahi dirinya untuk beberapa waktu akan tertidur, kalau untuk Lianli Tian Feng masih belum akrab.


"Kamu tidak akan kemana-mana kenapa harus mengucapkan kata perpisahan?" tanya Lianli.


"Iya aku tahu! Karena kita hanya bisa terbangun dan berjuang bersama jika Tian sudah memiliki kekuatan Dewa Tahap 3, karena itu aku mengucapkan salam perpisahan karena kita tidak tahu kapan Tian akan sampai ketahap itu!" jawab Xanzi.


"Apakah kalian tidak bisa diam?" Xian menegur ke-dua Roh yang saling berdebat itu.


Ke-duanya langsung diam dan secara perlahan-lahan Mata Tombak dan Batu Permata biru mulai bergerak keatas Toya.


Awalnya Mata Tombak dan Toya dulu yang menyatu kemudian di sambungan ke-dua nya, langsung tercipta lubang yang seukuran dengan Batu Permata biru tersebut.


Batu permata biru juga bergerak dan masuk ketengah-tengah sebagai pengunci antara Toya dan Maya Tombak sehingga terbentuklah sebuah Tombak Emas yang dihiasi Batu Permata yang indah.


Percikan Listrik yang menyatukan ke-tiga pusaka itu menjadi satu membungkus Tombak Emas tersebut, kemudian Tombak tersebut berputar kencang di udara dan akhirnya melepaskan sebuah dentuman gelombang energi besar yang mampu merubah warna langit menjadi keemasan.


Namun warna langit yang berubah keemasan itu hanya sesaat saja karena langit kembali normal saat gelombang kejut yang terlepas kembali masuk kedalam Tombak itu.


Tombak Emas itu turun dan langsung diambil oleh Ho Chen kemudian dia membawanya kepada Tian Feng.


"Tombak Nirwana telah sempurna, kini aku serahkan Tombak Nirwana ini kepadamu, jika kamu sulit membawanya kemana-mana, kamu bisa menyatukan Tombak ini kedalam ragamu, jadi kamu bisa dengan leluasa pergi tanpa harus memegangnya!" kata Ho Chen.


"Bagiamana caranya?" tanya Tian Feng.


"Kamu hanya perlu menggalirkan energi mu dan kemudian menyerap Tombak Nirwana ini seperti kamu menyerap energi, maka dengan sendirinya Tombak ini akan menyatu dan kamu juga bisa dengan mudah mengeluarkannya!" kata Ho Chen.


"Ho Chen! Tian masih belum terlalu kuat untuk bisa melindungi diri, walau ada aku disini, namun jika salah satu Pengawal Kaisar Kegelapan datang, maka Tian tidak akan bisa menghadapinya! Apakah kamu mau terusan berada bersama Tian Feng sekaligus membantunya agar dia bisa memiliki kekuatan Dewa?" tanya Xian.


"Benar juga katamu Xian! Lagi pula kamu bisa menyatu secara sempurna apabila Tian sudah berada di Tahap Dewa Tahap 3, jika dalam kondisi yang sekarang masih belum cukup! Baiklah aku akan mengikuti saran mu!" kata Ho Chen yang bersedia menemani Tian Feng.


Tian Feng tersenyum lebar setelah mengetahui jika Ho Chen akan menemaninya sekaligus akan membimbing secara perlahan-lahan.


Tian Feng menerima Tombak Nirwana itu dan kemudian dia memegang erat-erat dengan ke-dua tangannya.


Tian Feng merasakan energi yang sulit untuk diukur saat memegangnya, dan Tian Feng berdecak kagum melihat Tombak Nirwana yang telah sempurna.

__ADS_1


"Ayo kita kembali ke dunia mu Tian!" ajak Ho Chen.


Tian Feng segera tersadar dan kemudian dia dan Ho Chen segera kembali ke dunianya dengan menggunakan Sihir Ruang Waktu milik Ho Chen.


__ADS_2