Kesatria Tombak Nirwana

Kesatria Tombak Nirwana
Pertandingan Kuburan Seribu Pedang


__ADS_3

***


Kuburan Seribu Pedang dulunya adalah gurun tandus yang sangat luas, saat Kerajaan Wu terbentuk sekitar beberapa puluh tahun, pertempuran besar pernah terjadi di gurun tersebut.


Kerajaan Wu mengajak semua para pendekar untuk ikut bergabung untuk melawan Kerajaan Xia.


Saat itu Kerajaan Wu masih dipimpin oleh Kakek buyut Zhi Xian dan Wei Fang dulu masih menginjak masa remaja.


Kerajaan Wu membawa seluruh pasukannya yang berjumlah ribuan, itu sudah termasuk dengan para pendekar.


Pasukan dari Kerajaan Xia juga membawa pasukan yang tidak kalah banyaknya dengan pasukan Kerajaan Wu.


Pertempuran besar ke-dua Kerajaan berlangsung hingga Lima hari Lima malam, dan ribuan korban dari ke-dua belah tidak bisa terelakkan.


Tidak ada yang menang ataupun kalah dalam pertempuran besar tersebut karena ke-duanya sama-sama kehilangan banyak prajurit dan juga pendekar-pendekar hebat lainnya.


Semua senjata mereka yang gugur dikumpulkan untuk mengenang tragedi tersebut kemudian mereka menancapkan semua senjata tersebut diatas gurun pasir.


Setelah bertahun-tahun berlalu, ribuan pedang tersebut mulai terkubur dan akhirnya tempat tersebut dijuluki sebagai Kuburan Seribu Pedang.


Saat ini tempat tersebut tidak lagi sepi, tidak jauh dari Kuburan Seribu Pedang, ada Desa besar yang bernama Desa Moiyin, dan desa Moiyin itu ada satu perguruan aliran bebas yang bernama Perguruan Gurun Barat.


Tian Feng dan Wei Fang serta Zang Yang tiba di Perguruan Gurun Barat saat siang hari, disana ternyata sudah banyak pendekar yang hadir dan salah satunya adalah Bing Ling Ling dari Danau Beku.


"Panglima Wei, senang bisa melihat mu lagi dipertandingan ini!" sapa Bai Ling Ling dengan suara tuanya.


"Aku juga senang bisa melihatmu lagi!" jawab Wei Fang.


"Panglima Wei, sejak dulu aku selalu meminta tolong padamu agar membagikan sedikit rahasia mu agat aku juga bisa menjadi muda! Tapi kamu tetap saja pelit seperti dulu!" kata Bing Ling Ling dengan memasang wajah masam.


"Aku tidak bermaksud...!" Wei Fang ingin menjawab namun Bing Ling Ling justru memotong perkataannya.


"Tidak perlu beralasan, bilang saja kalau kamu ingin hidup seorang diri dan akan menjadi satu-satunya Pendekar terkuat setelah kami mati!" kata Bing Ling Ling kemudian pandangan nya teralihkan kearah pemuda bertopeng yang ada di belakang Wei Fang bersama Zang Yang.


"Panglima! Apakah pemuda ini adalah pemuda yang sudah membunuh Dewi Ular?" tanya Bing Ling Ling.


"Owh iya maaf aku lupa memperkenalkannya padamu!" kata Wei Fang kemudian dia memanggil Zang Yang serta Tian Feng.


"Ini adalah Tian, anak Pesehat Yuan Xia! Sedangkan ini adalah gurunya Zang Yang!" kata Wei Fang.


"Aku sudah mendengar kehebatan kamu dari Li Xiang Fai! Namaku Bing Ling Ling ketua perguruan Danau Beku!"


Bai Ling Ling memperkenalkan dirinya kepada Tian Feng. Bing Ling Ling yakin jika Tian Feng seumuran dengan cicitnya Jin Xia Zan.


"Saya juga merasa terhormat bisa bertemu dengan senior!" jawab Tian Feng.


Kini Bing Ling Ling menoleh kearah Zang Yang yang hanya diam, "Zang Yang! Kalau tidak salah ingat, anda berasal dari perguruan Singa Emas bukan? Anda sungguh sangat hebat memiliki murid berbakat seperti dia! Jika muridnya saja sudah bisa mengalahkan Dewi Ular, apalagi anda sebagai gurunya?" kata Bing Ling Ling.


"Dewi terlalu memuji! memang benar jika saya ini adalah gurunya, akan tetapi kekuatan besar yang dimiliki oleh Tian bukan karena saya, jadi pujian yang senior katakan tidak pantas untuk saya!" jawab Zang Yang.


"Emm..! Owh iya aku ingat, bukankah kamu juga murid si Dewa Mabuk Mao Lao? Apakah Si Tia mabuk itu akan datang kesini?" tanya Bing Ling Ling.


"Guru Mao tidak akan datang, dia tidak suka dengan acara seperti ini!" jawab Tian Feng.


"Benar juga, dia satu-satunya Pendekar yang memiliki pemikiran berbeda dari yang lainnya!" kata Wei Fang.


Mereka semua tidak akan menduga jika sebenarnya Mao Lao sudah tiada. Mereka juga tidak tahu jika sebenarnya dari Lima Pendekar terkuat sudah dua yang sudah tiada, yaitu Mao Lao Si Dewa Mabuk, dan She Ying Si Dewi Ular.


"Kakek..!"


Zang Yang terkejut saat ada suara seorang gadis yang memanggilnya, dan dia merasa tidak asing dengan suara gadis tersebut.


"Ling'er! Kenapa kamu berada disini?" tanya Zang Yang saat gadis tersebut sudah berada dihadapannya.


Bing Ling Ling, Wei Fang dan Tian Feng juga melihat kearah Lin Ling yang sedang berbicara kepada kakeknya.


Tian Feng pernah bertemu sekali dengan Lin Ling, namun saat itu Lin Ling masih berumur tiga tahun, dan sekarang dia sudah besar, bahkan tingginya hampir sama dengan dirinya.


"Aku dan ibu sengaja datang kesini karena ingin melihat Ketua yang akan mengikuti pertandingan!" kata Lin Ling.


Zang Yang mengerutkan dahinya mendengar hal itu, "Ketua Gu akan mengikuti pertandingan juga? Lalu dimana ayahmu?"


"Ayah sedang ada misi, jadi dia tidak ikut!" jawab Lin Ling.


Gu Yuao adalah ketua utama Perguruan Mata Elang, dia memiliki Ilmu beladiri yang cukup tinggi, ditambah lagi Gu Yuao menguasai ilmu pedang.

__ADS_1


"Ayah! Kenapa ayah berada disini?" Zian Wen datang dan bertanya kepada Zang Yang.


"Ayah disini...!"


"Guru kesini karena dia akan ikut bertanding!" Tian Feng menjawabnya.


"Panglima! Sebaiknya kita mengobrol disana saja!" ajak Bing Ling Ling.


"Kamu benar sekali Dewi, biarkan saja mereka mengobrol hari ini, lagi pula pertandingan masih berlangsung besok," Jawa Wei Fang kemudian mereka berdua pergi agak jauh.


Wei Fang dan Bai Ling Ling terlihat seperti Cucu dan Nenek, namun sebenarnya umur mereka hampir sama.


"Kamu siapa?" tanya Lin Ling.


"Ling'er apa kamu lupa terhadap dia?" tanya Zang Yang.


Jangankan Lin Ling, bahkan Zian Wen sekalipun juga tidak tahu, andai saja Tian Feng tidak mengenakan topeng, mungkin Zian Wen akan mengingatnya.


"Aku tidak tahu!" jawab Lin Ling dengan singkat.


"Mustahil! Apakah kalian tidak pernah mendengar nama besar seorang pemuda bertopeng?" tanya Zang Yang.


"Emm.. Sepertinya tidak pernah dengar!" jawab Lin Ling.


"Tunggu dulu, jangan-jangan dia ini Tuan Muda Yuan Tian?" Zian Wen akhirnya mengingat nya.


Walau dia tidak pernah mendengar nama pemuda bertopeng, akan tetapi hanya ada dua orang murid yang dimiliki oleh Zang Yang.


"Bibi Wen! Lama tidak bertemu," sapa Tian Feng.


"Jadi kamu benar-benar Tuan Muda, bukankah dulu kamu...!?"


"Panjang ceritanya, yang jelas sekarang aku baik-baik saja!" jawab Tian Feng yang mengerti maksud perkataan Zian Wen.


Lin Ling masih menatap Tian Feng dengan kebingungan, dia sama sekali tidak ingat apakah pernah bertemu dengan Tian Feng atau tidak.


"Ling'er, mungkin kamu sudah lupa, tapi kamu dulu pernah bertemu dengan Tuan Muda saat masih berumur Tiga tahun! Waktu itu kamu sempat bermain dengannya," kata Zian Wen.


"Benarkah? Tapi aku tidak ingat!" jawab Lin Ling.


"Apa guru tahu jika Ketua Chang juga ikut?"


"Benarkah?" Zang Yang terkejut saat Zian Wen mengatakan jika Chang Shan ketua Pengurus Singa Emas yang juga ikut.


"Sepertinya pertandingan kali ini akan lebih banyak Pendekar baru yang ingin memiliki posisi terkuat, tapi aku yakin jika posisi terkuat sudah bisa dipastikan akan menjadi milik siapa!" kata Zang Yang sambil melirik kearah Tian Feng.


"Kenapa guru melirikku seperti itu?" tanya Tian Feng yang pura-pura tidak mengerti.


"Tidak perlu berpura-pura! Lagi pula tidak ada satupun pendekar di seluruh Kerajaan ini yang dapat mengalahkan mu dengan mudah!" kata Zang Yang.


"Kakek belum tahu kehebatan Ketua Gu Yuao, dia pasti akan mampu mengalahkan siapapun!" kata Lin Ling.


"Apakah dia akan ikut bertanding?" tanya Zian Wen yang terkejut saat mengetahui jika Tian Feng ternyata juga akan mengikuti pertandingan tersebut.


Zang Yang mengangguk sedangkan Lin Ling dan Zian Wen masih tidak percaya jika ada pendekar generasi muda yang akan ikut serta dalam pertandingan tersebut.


***


Ke-esok harinya semua orang yang berada di perguruan Gurun Barat sudah pindah ke tengah-tengah gurun yang sudah disiapkan arena oleh Perguruan Gurun Barat.


Seorang pria paruh baya sudah berdiri ditengah-tengah arena yang cukup luas dengan garis pembatas arena yang terbuat dari susunan batu.


"Saya adalah murid ke-lima dari perguruan Gurun Barat, dengan rasa hormat kepada para senior yang akan mengikuti pertandingan ini, saya atas nama seluruh Perguruan Gurun Barat mengucapkan banyak terima kasih atas kehadiran para senior semua.


Kami tidak berani membuat aturan karena yang akan bertanding adalah para senior yang memiliki kemampuan lebih tinggi dari kami, karena itu kami hanya ingin pengertian dan kesadaran para senior akan bagaimana caranya agar pertandingan ini bisa berlangsung dengan baik dan tidak ada kerusuhan!" kata pria paruh baya tersebut yang sebenarnya bernama Huan Bao.


Wei Fang selaku pendekar terkuat dari Lima Pendekar segera melompat dan berdiri disamping Huan Bao.


"Namaku Wei Fang, aku juga memilki harapan yang sama seperti saudara dari Gurun Barat ini, akan tetapi semuanya tergantung dari kesadaran kalian semua!" kata Wei Fang.


Wei Fang terpaksa ikut bersuara karena dia merasa semua pendekar yang lebih senior menganggap penyampaian dan permintaan Huan Bao seperti angin lalu.


"Terima kasih senior!" kata Huan Bao kemudian dia kembali berbicara keras.


"Dengan ini pertandingan akan kita mulai, dan silahkan bagi siapa saja yang akan ikut silahkan masuk kesini dan disusul oleh penantangnya," kata Huan Bao kemudian dia mengajak Wei Fang untuk keluar dari arena.

__ADS_1


Dari dulu pertandingan tersebut tidak langsung di awali oleh salah satu dari sepuluh pendekar terkuat, melainkan bagi pendekar baru terlebih dahulu.


Setelah Huan Bao dan Wei Fang sudah keluar, seorang wanita berumur empat puluh tahunan segera masuk kedalam arena.


"Nama saya Mu Xieyi dari Perguruan Anggrek Biru! Saya siap untuk melawan siapapun yang akan bersedia bertanding dengan ku!" kata Mu Xieyi.


"Pendekar Anggrek, silahkan siapa yang akan ingin melawannya!" suara Huan Bao terdengar dari luar arena.


Tidak menunggu waktu lama seorang pria berumur enam puluh tahunan juga ikut melompat kedalam arena.


"Namaku Chang Shan dari Singa Emas. Aku akan menantang mu Nyonya Mu!" kata Chang Shan.


Semua orang yang menonton agak jauh dari arena segera memberikan teriakan penyemangat kepada jagoan mereka masing-masing.


Mu Xieyi segera bersiaga penuh karena dia tahu siapa Chang Shan, walau dia bukan dari perguruan besar, namun akhir-akhir ini nama Perguruan Singa Emas sempat jadi bahan perbincangan.


Chang Shan segera mengubah jari-jarinya membentuk cakar singa, sedangkan Mu Xieyi juga mengeluarkan cambuk panjang berwarna biru.


Ke-duanya sempat saling berpandangan sesaat sebelum akhirnya sama-sama maju menyerang.


"Cakar Singa Emas."


Chang Shan memberikan serangan kuat terhadap Mu Xieyi dimana setiap cakarannya mampu melepaskan energi yang bisa menghancurkan batu.


Mu Xieyi tidak diam saja bertahan saja, dengan cambuk birunya, Mu Xieyi juga memberikan serangan balasan.


"Cambuk Bunga Anggrek."


Serangan cakaran Chang Shan selalu tertahan oleh serangan cambuk Mu Xieyi yang sangat kuat, andai Chang Shan tidak melindungi tubuhnya dengan Chi, mungkin tangan sudah terluka oleh cambuk Mu Xieyi yang mampu membuat ledakan dipasir saat ujung cambuk itu mengenai permukaan.


"Pertandingan ini seperti akan sangat sulit untuk dimenangkan oleh Pendekar Singa itu!" kata salah satu pendekar yang mengamati pertandingan Chang Shan melawan Mu Xieyi.


Dia merasa serangan Mu Xieyi sangat kuat dan juga memiliki daya rusak yang besar, karena itu Chang Shan yang hanya menggunakan tangan kosong tidak akan bisa mengalahkan Mu Xieyi.


Mu Xieyi yang mampu membuat Chang Shan berada diposisi bertahan merasa berada diatas angin.


"Cambuk Anggrek Langit."


Cambuk Mu Xieyi mengeluarkan cahaya berwarna Biru terang dan kemudian dia melompat bersiap untuk memberikan serangan pamungkasnya.


"Auman Singa Emas."


Groarrr..!"


Tubuh Mu Xieyi terpental hingga keluar dari arena karena terdorong oleh energi dari Auman singanya yang melepaskan energi yang sangat besar.


Pasir berterbangan keberbagai arah akibat energi Auman singa Chang Shan, setelah itu batu susunan batas arena terlihat berantakan dan tidak jauh dari garis pembatas, Mu Xieyi sudah berdiri mematung saat melihat dirinya sudah berada di luar.


"Hahaha.. Wanita itu sebenarnya sangat hebat, tapi dia sangat ceroboh!" kata Wei Fang.


Tian Feng memiliki pendapat yang sama dengan Wei Fang, andai saja Mu Xieyi tidak melompat, mungkin dia bisa bertahan dari dorongan Auman Singa.


"Mungkin Chang Shan sengaja menunggu kesempatan tersebut!" kata Zang Yang.


Pertandingan pertama berakhir dengan sangat cepat, bisa dibilang sangat singkat dari yang diperkirakan.


Semua orang yang mendukung Chang Shan bersorak sorai, sedangkan pendukung Mu Xieyi hanya bisa menggelengkan kepala mereka karena kecewa terhadap Mu Xieyi yang ceroboh.


"Pertandingan pertama telah dimenangkan oleh Perguruan Singa Emas, dan Pendekar Singa Emas sudah resmi menjadi peserta yang boleh ditantang oleh siapapun yang ingin bertanding dengan nya!" kata Huan Bao.


"Ketua Chang, silahkan keluar dari arena dan tinggu penantang berikutnya yang ingin bertanding dengan ketua!" kata Huan Bao.


Chang Shan segera keluar dan kemudian Huan Bao mempersilahkan bagi peserta berikutnya untuk masuk ke-arena.


"Tian, kamu masuk duluan dan bertanding agar kamu masuk daftar!" kata Wei Fang.


"Sebaiknya guru Zang dulu!" kata Tian Feng.


"Kamu saja..!" Wei Fang mendorong Tian Feng sehingga kakinya tidak disengaja masuk kedalam arena.


"Baik ini dia peserta berikutnya pendekar bertopeng, siapa yang akan melawannya silahkan masuk!" kata Huan Bao.


Tidak lama kemudian seorang pria paruh baya melompat masuk dan menatap Tian Feng yang wajahnya terlihat keberatan dan menatap Wei Fang dengan tatapan kesal.


"Namaku Zuan Dong, dari Gunung Timur, siapa namamu? Aku tidak mau mengalahkan seseorang yang belum aku ketahui namanya dan dari mana asalnya!" kata Zuan Dong.

__ADS_1


__ADS_2