
"Sejak kapan pemuda itu pindah kesana?" Kai Jhin benar-benar dibuat bingung oleh Tian Feng yang ternyata masih terlihat baik-baik saja, bahkan luka tusukan didadanya juga menutup tak berbekas.
"Tian! Kamu masih hidup?" tanya Zang Yang, dia juga sama bingungnya dengan Kai Jhin serta tidak melihat sejak kapan Tian Feng berada dihadapannya.
Tidak hanya Zang Yang, bahkan hampir semua pendekar tidak percaya melihat Tian Feng masih dalam keadaan baik-baik saja
Tian Feng hanya terdiam kemudian dia menoleh kebelakang menatap kearah Zang Yang.
Zang Yang terkejut saat melihat mata Tian Feng yang bagian putihnya berubah menjadi hitam dan bagian hitam atau pupil mata berubah seperti keemasan, mata Tian Feng bagai bulan purnama yang berada di langit gelap.
Tian Feng hanya tersenyum tipis kepada Zang Yang kemudian dia menatap kearah Kai Jhin dengan sorot mata yang sangat tajam.
"Apa kamu masih belum jera juga anak muda? Haruskah aku memotong tubuhmu menjadi beberapa bagian agar kamu benar-benar mati?" kata Kai Jhin namun terdengar keraguan dari gertakannya.
Kai Jhin juga tidak bisa merasakan seberapa besar energi yang Tian Feng miliki, dan Tian Feng terasa seperti tidak memiliki satu pusaran Chi di tubuhnya.
Tian Feng tiba-tiba maju kearah Kai Jhin, bahkan cara Tian Feng bergerak pun juga terlihat tidak lazim, telapak kakinya seperti tidak menyentuh pasir atau lebih tepatnya mengambang.
"Jangan berani meremehkan aku Manusia, karena aku bukan lagi orang yang tadi sudah kamu lawan!" kata Tian Feng yang berada tepat di depan wajah Kai Jhin, bahkan jaraknya tidak kurang dari satu jari.
Kai Jhin jelas terkejut, dia mundur beberapa meter kebelakang untuk menghindari Tian Feng yang penampilannya sangat jauh berbeda.
Namun lagi-lagi Tian Feng tetap berada dihadapannya dengan jarak yang sama.
"Kali ini kamu tidak akan bisa lolos dari ku! Apa kamu benar tidak menyadari akan apa yang sudah kulakukan padamu?" tanya Tian Feng dengan nada dingin bahkan lebih dingin dari daerah Danau Beku.
Kai Jhin ingin kembali mundur, namun tiba-tiba saja dia merasakan ada sesuatu yang sudah menembus bagian perutnya.
Kai Jhin menoleh kebawah dan melihat lengan Tian Feng sudah masuk keperutnya dan menembusnya.
"Arghhh..! Ba..bagai..mana mu.. mungkin!" Kai Jhin kesulitan untuk berbicara ketika rasa sakit mulai dirasakan sekaligus darah dari mulut mulai memenuhi tenggorokannya.
Sebenarnya itu hanya tubuh Tian Feng sedangkan yang mengendalikannya adalah Zanxi.
Saat Tian Feng sedang sekarat dan hampir menemui ajalnya akibat dua tusukan pedang Kai Jhin yang menembus hati serta jantungnya, Zanxi akhirnya memutuskan untuk mengambil alih tubuh Tian Feng sebelum Tian Feng benar-benar mati.
Xanzi sebenarnya enggan melakukannya mengingat resiko yang harus Tian Feng rasakan nantinya.
Namun Xanzi akan mencoba menukar resiko tersebut dengan dirinya sendiri dimana nanti Tian Feng akan baik-baik saja setelah dia keluar dari tubuh Tian Feng.
Seharusnya resiko yang harus Tian Feng terima saat tubuhnya dikendalikan oleh Zanxi adalah sirnanya seluruh kemampuan yang Tian Feng miliki.
Alasannya karena tubuh Tian Feng masih belum cukup mampu untuk menerima energi penuh milik Zanxi.
Namun Zanxi mencoba menggunakan sepertiga energinya agar Tian Feng tidak mendapat resiko tersebut.
Bagiamana pun juga dia tidak akan membiarkan Tian Feng mati atau kehilangan kemampuannya, sebab Tian Feng adalah satu-satunya harapan para dewa sekaligus satu-satunya manusia yang bisa menggunakan Tombak Nirwana.
Sebagai gantinya maka Xanzi yang harus melemah saat dia keluar dari tubuh Tian Feng, dia akan kehilangan hampir dari seluruh kemampuannya, dan setelah itu Zanxi tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi selain dari tertidur dalam waktu yang sangat lama.
__ADS_1
Semua itu dia lakukan demi Tian Feng, dan itu adalah harga yang pantas demi keselamatan seluruh alam semesta.
Zanxi sudah sempat meminta kepada Tian Feng untuk berhati-hati kedepannya, karena dirinya tidak akan bisa membantu Tian Feng lagi.
Zanxi juga memberitahu cara untuk mengembalikan kembali energinya kepada Tian Feng. Caranya ,Tian Feng harus menemukan salah satu pecahan dari dua pusaka yang belum di temukan, jika bisa semuanya akan lebih baik.
Kini kemampuan Tian Feng sudah jauh lebih tinggi dari sebelumnya, dan tidak ada batasan apapun sehingga Tian Feng atau Zanxi dengan leluasa bisa melakukan apapun yang dia mau.
Tapi itu tidak akan dia lakukan karena dia tidak akan menggunakan tubuh Tian Feng terlalu lama.
"Kau harus tahu jika aku ini adalah mahluk lain yang mengendalikan tubuh manusia ini, dan aku masih satu ras dengan mahluk yang sudah memberikan mu kemampuan!" kata Zanxi dengan nada pelan kemudian dia menarik lengannya yang sudah menembus perut Kai Jhin.
Kai Jhin tersentak dengan meta melotot, disamping kaget atas perkataan Zanxi, dia tersentak kerena rasa sakit sekaligus melotot karena nafasnya harus teputus saat tangan Tian Feng tercabut dan sebagian isi perut Kai Jhin dari Usus dan hatinya ikut ditarik oleh Zanxi.
Kai Jhin jatuh diatas pasir dengan posisi terlentang dan mata masih melotot, namun nyawanya sudah tiada.
Kini Tian Feng atau Zanxi menatap kearah awan hitam diatasnya, dia segera terbang keudara dan kemudian dengan satu kali kibasan tangan, awan hitam tersebut seperti ditiup oleh angin kencang dan pergi menjauh dari wilayah Kuburan Seribu Pedang.
Semua pendekar bernafas lega saat melihat awan hitam itu menjauh, dan kini panas matahari Sore kembali terlihat oleh mereka semua.
Zanxi turun secara perlahan dan kemudian mendarat tepat di samping jasad Kai Jhin, "Tian, tugasku sudah selesai! Mulai sekarang kamu harus lebih waspada karena mereka pasti akan mencari mu! Ingat jangan pernah lengah karena setelah ini aku akan tidur hingga kamu menemukan salah satu dari dua pecahan Tombak!" kata Zanxi kemudian dia menutup mata dan keluar dari tubuh Tian Feng.
Zanxi kembali masuk kedalam Mata Tombak sedangkan Tian Feng yang sudah mendapatkan kembali tubuhnya merasa sengat lelah dan tidak bertenaga.
Seluruh Chi yang ia miliki seperti terkuras habis, dia membuka matanya, namun saat mulai bisa melihat, tiba-tiba saja dia merasa pusing dan dia hampir ambruk.
"Tian..!?"
"Guru Zang, bagaimana keadaan Tian?" tanya Wei Fang.
"Dia baik-baik saja, hanya saja dia kelelahan dan butuh istirahat!" jawab Zang Yang sambil tersenyum menatap wajah Tian Feng yang masih ditutupi oleh topeng hitam yang hanya sebelah saja.
"Tian sebaiknya kamu ke Perguruan Gurun Barat saja, istirahatlah disana!" kata Zang Yang.
"Em..? Aku merasa pusing, biar aku istirahat dulu disini sebentar, nanti aku akan pindah!" kata Tian Feng yang terlentang di atas pasir sambil memejamkan matanya.
"Eee ayo bangun!" Zang Yang memaksa.
Tian Feng berusaha membuka matanya dan kemudian dia duduk, "Aih mau istirahat saja susahnya!" batin Tian Feng kemudian dia bangkit dan berjalan perlahan!
Tian Feng benar-benar seperti tidak bertenaga, dan kerena jalannya kelamaan, Zang Yang langsung membantu Tian Feng dengan cara merangkulnya.
Semuanya segera mengikuti Zang Yang yang berjalan dengan meletakkan tangan kanan Tian Feng ke pundaknya.
Melihat Zang Yang seperti kesulitan, Chang Shan segera membantunya dan bersama-sama pergi menuju ke Perguruan Gurun Barat untuk beristirahat.
"Kau datang kewilayah kami hanya untuk mencari masalah! Kamu tentu tidak menduga bukan, jika di Kerajaan yang kamu anggap lemah ini ternyata ada Pendekar yang mampu mengalahkan mu? Sebagai penghormatan ku, maka kamu tidak akan aku kubur atau di kremasi, melainkan jasad mu akan aku berikan kepada burung pemakan bangkai!" kata Wei Fang menatap kearah jasad Kai Jhin yang mati dengan mata terbuka.
Wei Fang merasa Kai Jhin tidak layak untuk mendapatkan pemakaman secara terhormat, karena itu dia akan membiarkan burung-burung pemakan bangkai yang mulai berdatangan karena mencium bau amis darah mangsanya.
__ADS_1
Menurut Wei Fang itu adalah sebuah penghormatan, walau sebenarnya itu adalah sebuah penghinaan.
Semua Pendekar sudah pergi untuk berkumpul di Perguruan Gurun Barat, kecuali Wei Fang dan Bai Ling Ling serta Li Xiang Fai, mereka bertiga tidak langsung meninggalkan tempat tersebut karena mereka masih mencari keberadaan Tiayan Zin.
"Kemana perginya Pendekar Banci itu? Apa dia dan para anggota Organisasi Bintang Hitam sudah kabur lebih dulu?" tanya Wei Fang.
"Sepertinya begitu! Mungkin dia sadar jika orang ini tidak akan menang melawan Pemuda itu, karena itu dia dan semua orang-orang yang dia bawa kabur lebih dulu!" jawab Bai Ling Ling.
"Dasar pengecut, dia sudah berani mengacaukan acara ini dengan membawa seorang pendekar yang memiliki kemampuan terbang, saat tahu Tuan Muda Tian bisa mengimbanginya, dia malah kabur seperti seperti seekor Ayam yang takut ditangkap!" Li Xiang Fai menjadi geram.
"Andai aku tahu Tian bisa mengalahkannya, aku tidak akan mendengarkan ancaman pendekar ini, dan aku pastikan Taiyan Zin mati hari ini juga, namun Tian Feng juga ikut-ikutan meminta ku untuk mundur. Sial...!" Wei Fang merasa geram, dia tidak akan melupakan penghinaan Taiyan Zin yang sudah menginjak pundaknya.
"Mari kita kembali saja, lagi pula burung-burung itu sudah tidak sabar ingin makan!" ajak Bai Ling Ling.
Mereka bertiga bergegas pergi meninggalkan Kai Jhin, dan setelah mereka cukup jauh, burung-burung pemakan bangkai segera mendarat dan mulai memperebutkan jasad Kai Jhin.
***
Nama Pendekar Dewa Sesat mulai menjadi pembahasan para pendekar, sebagai pendatang baru serta dengan usia yang masih belum mencapai dua puluh tahun, aneh rasanya jika Tian Feng harus berada diposisi teratas.
Namun tidak ada yang bisa menyangkalnya jika kemampuan Tian Feng benar-benar sangat tinggi, terlebih lagi semua Pendekar dari berbagai perguruan sudah melihat sendiri kemampuan Tian Feng yang bisa terbang diudara.
Satu persatu akhirnya mulai mengait-ngaitkan Tian Feng dengan legenda yang sudah lama terlupakan, yaitu Legenda Sang Dewa Langit.
Bahkan patung yang mereka anggap sebagai Dewa Langit masih ada, namun berada di wilayah Kerajaan Jiu.
Sebagian percaya jika Tian Feng mungkin mendapatkan anugerah dari Dewa Langit, kemudian mendapatkan tugas untuk melindungi Kerajaan Wu agar tidak terjerumus dan jatuh ke jurang Kegelapan.
Saat ini di Perguruan Gurun Barat sudah berkumpul semua para pendekar untuk bisa melihat lagi sosok dari Pendekar Dewa Sesat.
Namun Pendekar Dewa Sesat sama sekali tidak terlihat karena dia masih diistirahatkan di kamar khusus oleh ketua Perguruan Gurun Barat.
"Saudara-saudara sekalian! Saya mohon kalian bersabar, Tuan Muda Tian saat ini masih belum bisa ditemui!" kata Li Xiang Fai.
"Kami hanya ingin melihat Pendekar Dewa Sesat sekali lagi, jadi kami mohon biarkan kami disini hingga Dewa Sesat pulih!" kata salah satu Pendekar.
"Saya tahu..! Panglima Wei tolong berikan penjelasan kepada mereka agar mereka mengerti!" kata Zang Yang yang kesulitan untuk membujuk para pendekar tersebut, terlebih lagi suara Zang Yang sama sekali tidak dihiraukan.
"Ehem..! Kami semua mengerti, namun kami tidak bisa menjamin kapan Tian akan pulih dan bangun, jadi tolong segeralah kalian kembali ke perguruan masing-masing!" kata Wei Fang.
Nyatanya suara Wei Fang pun juga tidak dihiraukan oleh mereka, "Panglima, tolong biarkan kami disini, kami janji akan segera pergi setelah melihat Dewa Sesat untuk yang terakhir kalinya!" kata salah satu Pendekar kemudian suasana kembali ricuh.
"Tenang semuanya tenang! aku akan membiarkan kalian tetap tinggal disini hingga Tian pulih, namun jangan berisik atau mencari masalah!" kata Wei Fang.
Semua orang segera setuju dan mengucapkan terima kasih kepada Wei Fang setelah itu mereka segera membuat tenda diluar untuk beristirahat.
***
Jilid 1 Pendekar Dewa Sesat (End).
__ADS_1
Lanjut ke Jilid 2 Raja Alam.