
***
Raneb bisa bernafas lega saat dia sudah berada sangat jauh dan berhasil lolos dari Tian Feng,
Sebelum berhasil kabur, Raneb sempat membuat pasir yang menyerupai dirinya, dia melakukannya saat melepaskan gelombang pasir, dan itu tidak disadari oleh Tian Feng.
Sebelum masuk kedalam Pasir, dia sempat membuat perisai dinding pasir tebal dan kuat, dan saat itulah dia masuk kedalam pasir dan pergi meninggalkan tempat tersebut dengan mengandalkan ilmu pengedalian pasirnya.
Walau saat ini dia sudah berhasil lolos, namun dia tidak sepenuhnya merasa lega karena dia tahu Tian bisa bisa terbang dan pasti akan mudah menemukan keberadaannya.
Raneb berusaha secepat mungkin menyusul Kwe Shin yang sudah lebih dulu kabur, dan saat di perjalanan, dia bertemu dengan salah satu anggotanya sendiri yang sebelumnya sempat ikut dalam kelompok Sunoriki.
"Tuan Raneb? Kenapa anda berada disini?" tanya pengikutnya.
"Aku ingin menyusul Kwe Shin, namun aku tidak tahu kemana arah perginya!" jawab Raneb.
"Mungkin dia pergi kearah pelabuhan! Coba seja Tuan pergi kesana."
"Kamu tahu sendiri jika aku ini masih baru, jadi aku tidak tahu kemana arah menuju ke pelabuhan!" kata Raneb.
"Owh iya maaf saya lupa, kalau begitu Tuan pergi aja menuju kearah selatan, mungkin butuh waktu hingga dua hari, namun jika Tuan jalan lurus, maka Tuan pasti akan sampai kesana."
Raneb segera pergi meninggalkan anggotanya sendirian, dia pergi kearah yang sudah di tunjukkan, sedangkan anggota yang ditinggalkan juga pergi kearah yang berbeda.
Ternyata tidak butuh waktu lama bagi Raneb untuk menyusul Kwe Shin, dia berhasil menemukan rombongan Kwe Shin setelah berlari hingga sore hari.
"Raneb! Apakah kamu berhasil mengalahkannya atau berhasil kabur?" tanya Kwe Shin yang berhenti saat melihat kedatangan Raneb yang berhasil menyusulnya.
"Mana mungkin aku bisa mengalahkannya, aku hanya bisa mengecohnya saja dan kabur!" jawab Raneb.
"Bagus-bagus! Kita harus secepatnya meninggalkan tempat ini sebelum pemuda itu menemukan keberadaan kita," ajak Kwe Shin.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju keselatan namun dengan penuh kewaspadaan.
***
Setelah kepergian Kwe Shin, semuanya mengira sudah tidak ada lagi masalah karena beberapa bangunan yang sudah sangat sepi tak berpenghuni.
"Ini sudah sore, bagaimana kalau kita kembali saja, lagi pula sepertinya sudah tidak ada yang perlu di lakukan lagi di hutan sepi ini!" ajak Ying Lo.
"Sebaiknya kita menunggu Tian dulu!" Wei Fang menjawab.
"Benar sekali Panglima Ying! Sebaiknya kita menunggu Tian-san dulu!" Hiroshi juga ikut bersuara.
"Panglima! Panglima..!" salah satu prajurit berlari kearah Wei Fang dan yang lainnya.
"Ada apa?" tanya Wei Fang.
"Panglima! Ada sebuah pintu rahasia di dalam bangunan itu, kami sudah berusaha membukanya bahkan mendobraknya, namun pintu itu tidak bisa terbuka," jawab prajurit tersebut.
"Benarkan? Kalau begitu tunjukkan padaku!" kata Wei Fang.
Wei Fang, Ying Lo dan Hiroshi segera pergi mengikuti prajurit tersebut kearah salah satu bangunan.
Sesampainya disana mereka memang melihat ada sebuah pintu kecil yang menempel di sebuah dinding yang mirip seperti bukit.
Ying Lo segera berusaha membuka pintu tersebut, namun dia tidak berhasil sehingga dia menggunakan Chi untuk membuka paksa pintu tersebut.
"Biar aku saja!" kata Wei Fang.
__ADS_1
Ying Lo segera menyingkir dan digantikan oleh Wei Fang, dan tetap saja walau Wei Fang mendorongnya dengan sekuat tenaga.
"Menjauhlah kalian semua!" kata Wei Fang kemudian dia mengalirkan Chi ke goloknya sehingga golok mulai mengeluarkan cahaya.
"Golok Membelah Bumi."
Wei Fang mengayunkan Goloknya yang sudah di aliri Chi tersebut kearah pintu, saat mengenai daun pintu, ternyata tetap tidak bisa, justru golok Wei Fang yang terpental serta bunyi benturan keras membuat bangunan bergetar.
"Ini sungguh aneh, pintu ini seperti dilindungi oleh sebuah perisai yang tidak bisa dilihat!" kata Wei Fang.
"Apa tidak sebaiknya kita menunggu Tian-san saja? Siapa tahu dia mampu membukanya."
"Benar juga! Dia memiliki energi yang sangat besar, aku yakin dia pasti bisa membukanya," kata Wei Fang.
Karena tidak ada yang bisa lakukan lagi, mereka lebih memilih menunggu kedatangan Tian Feng saja dan beberapa prajurit juga menjaga disekeliling bangunan tersebut.
Matahari semakin turun sedangkan Tian Feng tidak juga datang, akan tetapi mereka tetap sabar menunggunya.
Saat matahari hampir saja tenggelam, barulah Tian Feng datang dan menemui mereka semua.
"Bagaimana Tian? Apakah kamu berhasil menemukan mereka?" tanya Wei Fang.
"Sepertinya mereka bersembunyi atau berjalan melewati arah lain, namun aku jamin mereka pasti akan pergi sejauh mungkin dan keluar dari Wilayah ini!" jawab Tian Feng.
"Tian, prajurit kami menemukan sebuah pintu kecil yang aneh, kami sudah berusaha membukanya bahkan menghancurkannya, namun pintu itu sama sekali tidak bisa di buka bahkan tidak bisa dihancurkan! Kamu coba buka siapa tahu bisa," kata Ying Lo.
"Benarkah, dimana pintunya?" tanya Tian Feng.
"Ayo ikut aku!" ajak Wei Fang.
Tian Feng segera membawa ke pintu aneh tersebut, begitu sudah dekat Tian Feng merasa ada sesuatu yang melindungi pintu tersebut dari dalam.
"Itu artinya ada orang didalam ruangan ini?" tanya Ying Lo.
Tian Feng mengangguk kemudian dia mengalirkan energi ketangannya yang menggenggam hingga berwarna merah.
"Keluarlah kalian dari tempat ini, aku akan menghancurkan pintu ini, dan kemungkinan besar bangunan dari tanah ini akan runtuh!"
Wei Fang dan semuanya segera keluar dan menjauh dari bangunan tersebut. Setelah semuanya sudah berada di tempat yang aman, Tian Feng langsung memukul pintu tersebut dengan menggunakan Chi yang sangat banyak.
Suara ledakan besar tercipta saat Tian Feng memukul pintu tersebut, awalnya hanya sekali dan itu sudah membuat bangunan mulai runtuh.
Karena pintu tersebut masih bertahan dengan satu pukulan, Tian Feng memukul pintu tersebut sebanyak tiga kali dan tiga ledakan besar membuat bangunan langsung hancur dan terhempas cukup jauh mengikuti daya kejut yang mendorong reruntuhan tersebut.
Pintu yang kokoh kini sudah hancur, dan dari dalam ruangan yang gelap, berhembus angin panas yang mengandung energi besar serta memiliki tekanan yang sangat kuat.
Tian Feng sendiri terdorong kebelakang hingga sejauh dua meter akibat dorongan angin panas tersebut, dan setelah itu suara helaan nafas terdengar dari dalam.
Tian Feng langsung menjadi waspada saat merasakan energi yang hampir sama dengan energi milik Kai Jhin.
"Siapa yang sudah berani mengganggu meditasiku?"
Suara yang menggema serta mengandung tekanan menggetar seluruh area markas Tiga Bunga.
Tian Feng sendiri sampai melindungi dirinya dari tekanan energi tersebut sedangkan yang lain berteriak kesakitan kecuali Wei Fang, Ying Lo dan Hiroshi, itu karena ke-tiganya sama-sama memiliki tingkat Pendekar Cahaya namun berbeda tahap.
"Maaf senior! Saya terpaksa melakukannya karena tempat ini adalah Markas Organisasi Tiga Bunga, jadi saya terpaksa merusak pintu ini!" jawab Tian Feng namun dengan suara yang mengandung tekanan yang sama.
"Hahahaha...! Akulah pendiri Organisasi Tiga Bunga! Biar aku tebak akan siapa kamu, kamu pasti pemuda yang sudah membunuh She Ying, apa aku salah?"
__ADS_1
Semakin lama aura tekanan juga semakin kuat, dan sosok yang belum jelas juga mulai terlihat berjalan keluar dari dalam.
Tian Feng dapat merasakan tingkat kekuatan sosok tersebut yang lebih tinggi dari pada dirinya, bahkan mendekati kekuatan Kai Jhin.
"Apakah kamu adalah Jia Tai Yan pendiri Organisasi Tiga Bunga? Bukankah seharusnya kamu sudah mati dibunuh oleh Guru Lee dari Mata Naga?" tanya Wei Fang.
Saat yang bersamaan sosok tersebut mulai terlihat jelas, dia pria tua berambut putih namun cuma sedikit karena dibagian atasnya sama sekali tidak ada rambutnya alias botak, dan giginya hanya tinggal beberapa biji saja.
"Hai anak muda! Kenapa kamu masih mengenaliku?" tanya Jia Tai Yan kepada Wei Fang yang mengira masih anak muda.
"Anak muda apanya? Kamu hanya lebih tua Lima belas tahun dari ku!" gumam Wei Fang.
Jia Tai Yan menoleh kearah Tian Feng, dia juga merasakan tingkat energi yang dimiliki oleh Tian Feng kemudian dia mengalihkan perhatian kesekelilingnya.
"Aku hanya meditasi selama beberapa hari saja, tapi kenapa Markas ini berubah menjadi hutan gurun pasir?" tanya Jia Tai Yan dia sama sekali tidak terkejut saat mengetahui kemampuan Tian Feng.
"Aku tidak perlu menuduh siapa yang sudah menghancurkan tempat ini karena aku sudah bisa mengetahui siapa pelakunya!" kata Jia Tai Yan sekaligus menatap Tian Feng dengan tajam.
Jia Tai Yan merasa puas dengan ramuan yang sudah ia konsumsi selama meditasi, selama ini dia menyembunyikan ramuan tersebut dan mengkonsumsinya sendiri.
Ternyata ramuan tersebut berhasil meningkatkan energi serta kemampuannya hanya dalam beberapa hari saja, sedangkan ramuan tersebut dia dapatkan dari orang yang berasal dari Kerajaan Jiu.
Jia Tai Yan mengeluarkan setangkai bunga yang memiliki tiga warna, dari warna Merah, Kuning dan Hijau.
Melihat Jia Tai Yan memegang bunga tiga warna, Wei Fang segera melompat kesamping Tian Feng dan disusul oleh Ying Lo serta Hiroshi, bahkan semua prajurit juga bersiaga penuh.
"Kalian semua mau apa? Jangan bilang mau mengeroyokku? Percuma saja! Jika dulu mungkin, tapi kalau sekarang..!"
Jia Tai Yan tiba-tiba saja sudah berada di samping Ying Lo tanpa ada yang mengetahui kapan dia bergerak.
Semuanya jelas terkejut, namun belum sempat bertindak, tangkai bunga tiga warna tersebut sudah lebih dulu menembus jantung Ying Lo.
"Ying...!"
"Panglima Ying..!"
!?
Ying Lo tidak bisa menjawab, dia melihat kearah dadanya yang sudah di tembus oleh Bunga Jia Tai Yan kemudian dia muntah darah dan jatuh.
Tian Feng dengan cepat menangkap tubuh Ying Lo sebelum jatuh ketanah kemudian mengalirkan Chi agar bisa menyelamatkan Ying Lo.
"Panglima bertahanlah!" kata Tian Feng.
Ying Lo hanya menatap Tian Feng, dia sama sekali tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun dan kemudian menggenggam tangan Tian Feng dengan sangat erat.
Tidak lama kemudian genggam tangan Ying Lo terlepas dan dia menghembuskan nafas terakhirnya di dekapan Tian Feng.
Kematian Ying Lo yang mendadak menjadi pukulan keras bagi Wei Fang, sedangkan Tian Feng hanya bisa merasakan tubuh Ying Lo yang mulai dingin.
"Kau.! Kau harus mati ditangan ku!" kata Wei Fang dengan mata merah.
"Panglima Wei! Dia bukan tandingan Panglima, sebaiknya panglima kembali dan bawa Panglima Ying pulang, sampaikan kepada orang tuaku jika aku tidak kembali, sebaiknya mereka tidak perlu khawatir, katakan saja jika aku sudah langsung berangkat ke Kerajaan Jiu!" kata Tian Feng.
"Tidak Tian, kita hadapi dia bersama-sama!" jawab Wei Fang.
"Panglima! Tolong ikuti saran ku ini, jika tidak anggap saja ini sebagai permintaan ku yang terakhir, dan setelah ini aku titipkan Keselamatan keluarga ku padamu!" kata Tian Feng.
Tian Feng tidak yakin bisa mengalahkan Jia Tai Yan, walaupun bisa mengalahkan Jia Tai Yan tidak mungkin Tian Feng tidak akan mendapatkan luka juga, atau bisa jadi akan sama-sama mati.
__ADS_1