
Setelah cukup dekat dengan rumahnya, Tian Feng turun dan berjalan kaki menuju kerumahnya.
"Kenapa kalian semua berada diluar rumah? Apa ada sesuatu yang menggangu kalian?" tanya Tian Feng kepada semua orang yang berada di depan rumahnya.
Saat masih sedang dalam perjalanan pulang, Tian Feng keheranan saat melihat banyak orang yang keluar dari rumah mereka, dan kini di rumahnya juga terjadi hal yang sama dimana semua orang termasuk para Penjaga juga berkumpul di depan rumah.
"Tian! Tadi ada gempa yang cukup lama sekali getarannya, karena itu kami semua keluar dari rumah karena takut nantinya rumah roboh dan menimpa kami!" jawab Lie Yie.
"Kenapa gege lama sekali perginya? Apakah tadi gege tidak merasakan adanya gempa?" Chie Xie bertanya kepada Tian Feng.
Tian Feng menggelengkan kepalanya, dia tahu jika gempa yang mereka maksud sebenarnya adalah perbuatan dirinya.
"Gempa itu tidak akan mungkin ada lagi, jadi sebaiknya kalian masuk saja kedalam!" kata Tian Feng.
Naomi dan Hiroshi serta Yuan Xia saling berpandangan, mereka masih khawatir gempa tersebut akan kembali lagi.
Melihat semuanya yang masih khawatir, Tian Feng lebih dulu masuk kedalam rumah, dia sama sekali tidak melihat keberadaan Zang Yang sehingga dia pergi menuju ke kamar Gurunya.
Melihat Tian Feng yang masuk tanpa menghawatirkan apapun, akhirnya semuanya juga ikut menyusul masuk kecuali para Penjaga saja yang masih berada diluar.
Tian Feng pergi menemui Zang Yang, ternyata gurunya itu sedang meditasi dan terlihat sangat tenang sekali.
Jika seseorang sedang meditasi dengan khusyuk, maka dia akan mencapai ketenangan yang sangat dalam sehingga segala sesuatu yang terjadi diluar tidak akan dia rasakan.
Jikapun ada bahaya, maka instingnya pasti dapat merasakannya, karena itu Zang Yang sama sekali tidak terganggu dengan getaran tersebut karena instingnya tahu jika tidak ada bahaya yang perlu dikhawatirkan.
"Tian! Sebenarnya ada urusan apa Panglima menyuruhmu tengah malam untuk menemuinya?" Yuan Xia yang menyusul Tian Feng bertanya maksud Wei Fang meminta Tian Feng menemuinya malam-malam.
"Panglima hanya bertanya apakah aku jadi pergi ke Kerajaan Jiu atau tidak? Jika jadi, Panglima akan meminta surat serta stempel Kerajaan untuk ku kepada Ratu Sie!" jawab Tian Feng.
"Sebaiknya besok kamu memberi tahu ibumu dan jelaskan secara baik-baik padanya!" kata Yuan Xia mengingatkan Tian Feng.
"Ayah tenang saja, aku pasti akan memberitahukan dan menjelaskannya kepada Ibu!" jawab Tian Feng.
Yuan Xia mengangguk kemudian dia menepuk pundak Tian Feng dan pergi meninggalkannya.
Saat Yuan Xia sudah pergi, Naomi dan Chie Xie juga datang menemuinya, "Tian gege! Aku sudah mendengar pembicaraan gege dengan Ayah! Apa benar gege akan pergi lagi, dan akan pergi ke Kerajaan Jiu?" tanya Chie Xie.
"Iya Xie'er!" jawab Tian Feng.
"Mau apa kamu pergi kesana?" Naomi juga bertanya.
"Ada sesuatu yang sangat penting yang harus aku lakukan disana, dan ini lebih penting dari apapun!" jawab Tian Feng.
"Urusan penting? Urusan penting apa? Apakah urusan itu lebih penting dari pada kebersamaan kita?" tanya Chie Xie.
"Xie'er! Tentu saja kebersamaan kita sangat penting, namun ini benar-benar sangat penting, karena ini menyangkut Keselamatan dan juga kedamaian Kerajaan Wu serta keluarga kita!"
__ADS_1
"Apakah sekarang kamu sudah mengurusi masalah Kerajaan? Kenapa hanya kamu saja yang akan pergi? Bukankah di Kerajaan ini masih memiliki Panglima Ying dan Panglina Wei yang bisa pergi?"
Tian Feng tersenyum lembut dan memegang pundak Chie Xie, "Belum saatnya bagiku untuk menjelaskan padamu! Walau ku jelaskan sekalipun kamu pasti tidak akan mengerti," kata Tian Feng.
"Maaf Tian-Kun, menurut ku perkataan Xie-san ada benarnya juga! Menurutku urusan Kerajaan adalah urusan para Pejabat istana, dan untuk urusan keperluan yang lain adalah urusan para Panglimanya," Naomi menyampaikan pendapatnya.
"Kalian berdua tidak akan mengerti! Ah sudahlah, suatu saat nanti kalian pasti akan mengetahuinya sendiri, sekarang sudah larut malam, jadi sebaiknya kalian istirahat!"
Selesai berkata seperti itu, Tian Feng pergi meninggalkan mereka berdua menunju ke kamar mereka.
"Uuuh...! Menyebalkan," kata Chie Xie dengan geram dan juga seperti ingin mencakar Tian dari belakang.
"Jie jie, ayo kita ke kamar saja!" Chie Xie mengajak Naomi ke kamarnya.
Naomi sendiri merasa aneh dengan sikap Chie Xie yang mudah sekali kesal terhadap Tian Feng, padahal jika dilihat Tian Feng sepertinya sangat menyayangi Chie Xie, Naomi tidak mengerti apakah karena Tian Feng yang terlalu memanjakan adiknya.
***
Ke-esokan harinya, Tian Feng sudah lebih dulu berada diluar. Seperti biasa, Tian Feng akan menyambut hangatnya mentari pagi yang baru muncul.
"Selamat pagi Tian-Kun!" Naomi menyapa Tian Feng.
"Selamat pagi Naomi!" balas Tian Feng.
Naomi berdiri disamping Tian Feng, dia tidak mengerti apa yang Tian Feng lakukan dengan dengan berdiri sendirian di halaman rumah.
"Emm! Aku sedang menyambut matahari!" jawab Tian Feng.
"Untuk apa? Bukankah setiap pagi matahari memang akan muncul? Jadi kenapa harus disambut?" tanya Naomi yang masih tidak mengerti.
"Benar sekali! Setiap Pagi matahari pasti akan muncul dan itu memang sudah biasa! Namun sebenarnya matahari yang muncul saat pagi hari memiliki kehangatan yang sangat berguna bagi tubuh!" jawab Tian Feng.
"Contohnya?"
"Saat kulit kita terkana hangatnya matahari pagi, kulit akan lebih sehat, dan juga ada satu yang sangat aku suka, yaitu aku sangat suka menyerap hangatnya matahari saat pagi hari sekaligus menikmati cuaca pagi yang masih segar! Dari pada kamu kebingungan, sebaiknya kamu ikuti caraku, nanti kamu akan merasakannya sendiri!" kata Tian Feng.
Naomi mengikuti apa yang Tian Feng lakukan, dia memejamkan matanya dan merentangkan Ke-dua tangannya.
"Rasakan hangatnya masuk melalui pori-pori kulit mu, bayankan jika kamu sedang menyerap energi matahari itu!" kata Tian Feng.
Tian Feng memperhatikan wajah Naomi yang menutup matanya dan menghadap kearah matahari.
Angin yang berhembus pelan membuat rambut halus Naomi bergerak dengan lembut, serta wajahnya yang sangat cantik seperti memancarkan Aura kecantikannya saat matahari pagi menerpa kulit wajahnya yang lembut serta halus.
"Kamu sungguh sangat mirip dengan Sue Yue! Apakah ini memang takdir untuk ku karena dulu aku tidak bisa membalas cintanya padaku?" batin Tian Feng.
Sebenarnya dahulu kala, Tian Tian juga memiliki perasan yang sama seperti Sue Yue, namun karena dia takut untuk mengutarakannya, pada akhirnya hanya bisa memendam perasaan dalam-dalam hingga akhirnya Tian Feng mengalami musibah yang membuat wajah tampannya rusak.
__ADS_1
Saat wajahnya sudah rusak, dia terkejut karena ternyata Sue Yue juga memiliki perasan yang sama seperti dirinya.
Tian Feng merasa bahagia, akan tetapi semuanya sudah terlambat bagi Tian Feng karena wajah dirinya sudah rusak.
Tian Feng tidak mau Sue Yue menanggung malu karena memiliki suami yang buruk rupa, Tian Feng merasa Sue Yue lebih berhak memiliki pasangan yang lebih baik dari dirinya serta tidak memiliki ke cacatan apapun pada fisik suaminya.
Tanpa Naomi sadari jika Tian Feng diam-diam mulai memiliki perasaan padanya, dan hal itu dikarenakan Tian Feng yang mengingatkan kembali masa lalunya dan menganggap Naomi sebagai Sue Yue.
Saat Naomi membuka mata, Tian Feng segera. berpaling karena tidak ingin Naomi mengetahui jika sejak tadi Tian Feng memperhatikan wajahnya.
"Ternyata benar sekali Tian-Kun, aku merasa lebih segar setelah merasakan hangatnya matahari pagi ini!" kata Naomi sekaligus melihat Tian Feng yang pura-pura ikut menutup matanya.
"Jika kamu melakukan secara rutin, kamu akan merasakan khasiat yang lebih besar dari yang kamu rasakan saat ini!" kata Tian Feng.
"Mulai sekarang aku akan melakukannya setiap pagi!" ucap Naomi dengan tersenyum hangat.
"Naomi, apakah aku boleh bertanya sesuatu padamu?"
"Kamu mau bertanya apa?"
Naomi mengira Tian Feng akan menanyakan akan perasaannya pada Tian Feng, namun ternyata perkiraan Naomi salah.
"Saat kota berpisah di Desa Xinyi, aku berniat kembali kesini, namun di perjalanan aku dikejar oleh dua orang Pendekar dari Yamuru sehingga aku pergi kearah lain! Saat itu aku penasaran kemana tujuan kalian pergi, apakah saat itu kalian pergi kedesa lain?" tanya Tian Feng.
Naomi yang merasa kecewa karena perkiraannya salah tetap menjawabnya, "Kami pergi ke desa Linzin! Kami kesana ingin mencari seorang wanita tua yang tidak pernah kami ketahui namanya."
Naomi menceritakan jika wanita tua yang ia cari di Desa Linzin adalah anak dari keturunan Klan Tsuki.
Dulu Kakek buyut Naomi pernah memperkosa seorang wanita di Desa Linzin, wanita itu akhirnya hamil, sedangkan kakek buyutnya yang sudah kabur juga mendengar hal itu.
Kakek buyutnya bernama Tsuki Kenji, saat mendengar kabar tersebut, Tsuki Kenji sudah menikah dengan wanita dari Negara yang sama.
Kenji ingin pergi ke Desa Linzin untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, dia ingin menikahi wanita yang sudah ia nodai hingga hamil, namun keluarga istrinya yang melarangnya.
Kenji yang merasa bersalah akhirnya tidak bisa berbuat apa-apa, hingga suatu hari dia dapat informasi jika wanita yang dia perkosa itu sudah melahirkan seorang putri.
Kenji semakin merasa bersalah dan mengutarakan semuanya pada sebuah catatan, hingga akhirnya Kenji mati karena dibunuh oleh para Shinobi dari salah satu Suku Pedalaman.
Puluhan tahun sudah berlalu dan akhirnya Hiroshi menemukan catatan tersebut dan akhirnya mengetahui jika di Kerajaan Wu ada salah satu keturunan Klan Tsuki, masalah Hiroshi tidak tahu namanya.
Semuanya sudah ada didalam catatan Kenji mulai dari nama desa dan juga kelakuan bejat Kakeknya Hiroshi.
Hiroshi yakin jika anak perempuan itu pasti sudah tua karena anak perempuan yang ada dalam catatan itu adalah anak pertama Kenji dan lebih tua dari Ayah Hiroshi.
Mendengar cerita Naomi, Tian Feng merasa jika cerita tersebut mirip dengan kisah kehidupan masa lalu Sue Yue.
Tian Feng yakin jika anak perempuan tersebut pasti adalah Sue Yue, karena ibunya Sue Yue pernah di perkosa oleh orang dari Toakai dan akhirnya melahirkan Sue Yue.
__ADS_1
"Karena itu wajah Naomi sangat mirip dengan Sue Yue, ternyata Sue Yue adalah keturunan Klan Tsuki!" batin Tian Feng.