
***
Hei Tong dan semua warga desa Wunji kini bersikap sangat sopan terhadap Tian Feng, Alice dan Louis, sebelumnya mereka hanya menganggap Tian Feng sebagai warga baru biasa saja, karena pada dasarnya warga desa sangat sopan dan baik terhadap sesama warga, namun kali ini mereka bersikap lebih kepada Tian Feng setelah mengetahui jika Tian Feng adalah seorang pendekar hebat.
"Tu..tuan Tian, apakah Tuan tidak keberatan andai rumah Tuan kami ubah lebih besar? Rumah ini tidak pantas bagi Tuan!"
Tian Feng dan Alice serta Louis saling berpandangan keheranan melihat sikap Hei Tong yang berubah sangat sopan dari sebelumnya.
"Tuan Hei, jangan memanggil saya dengan sebutan tuan, saya lebih suka dengan panggilan sebelumnya!" kata Tian Feng.
"Ba.. baik tu.. maksudku Tian! Apakah tidak sebaiknya rumah mu kami ubah saja agar lebih besar dan pantas untuk kalian tempati?" Hei Tong berusaha untuk berbicara lebih akrab walau sedikit gugup.
"Tidak usah Tuan, rumah ini saja sudah cukup bagi kami, lagi pula rumah besar atau kecil tidak ada bedanya!" jawab Tian Feng sekaligus memperhatikan rumahnya yang sangat sederhana.
Bagi Tian Feng rumah besar ataupun kecil tidak memiliki arti apapun, dia sudah pernah tinggal di alam bebas serta pernah tinggal di rumah mewah milik Yuan Xia, baginya memiliki rumah sederhana akan lebih menyenangkan dari pada rumah besar yang harus kerepotan untuk membersihkannya.
"Tuan Hei, jika tidak keberatan aku ingin minta tolong kepada seluruh warga untuk hadir di acara pernikahan sederhana kami lima hari lagi!" kata Tian Feng.
"Acara pernikahan akan di adakan dimana?" tanya Zhu Lin.
"Di rumah kecil kami ini!" jawab Tian Feng.
Alice tersenyum-senyum sendiri mendengar Tian Feng akan menikahinya lima hari lagi, sedangkan Louis hanya menatap Tian Feng dengan tatapan kagum, memang dia tidak menduga jika Tian Feng yang dulunya adalah musuh besarnya kini akan menjadi anggota keluarganya, walau terasa aneh, namun kenyataannya itu benar-benar terjadi dimana seorang musuh akan segera menjadi bagian dari keluarga.
"Takdir yang aneh..!" batin Louis.
"Disini? Tidak-tidak, sebaiknya acara pernikahan kalian di laksanakan di rumahku saja!" kata Hei Tong.
"Terima kasih tuan Hei, namun biarkan kami menikah di rumah yang akan menjadi surga kehidupan keluar kami kelak!" jawab Tian Feng dengan menangkupkan tangannya mengucap terima kasih atas tawaran Hei Tong.
"Baiklah jika itu tetap menjadi keinginan kalian, semua perlengkapan acara akan disiapkan oleh para warga, jadi kalian tidak perlu melakukan apa-apa, yang harus kalian lakukan hanya bersiap saja!" kata Hei Tong kemudian dia bangkit dan mengajak Zhu Lin untuk kembali karena akan mengumumkan semuanya kepada warga.
"Nona Alice, sebaiknya Nona tinggal di rumah kami dulu, nanti saat acara pernikahan di mulai, Nona baru bisa pergi kesini bersama para ibu-ibu sebagai pengantar mempelai wanita kerumah suaminya!" kata Zhu Lin.
"Kenapa begitu Nyonya?" tanya Louis.
"Ini adalah tradisi di desa kami!" jawab Zhu Lin.
"Tian apa ini benar? Apakah aku harus tinggal di rumah kepala desa hingga lima hari?" tanya Alice.
"Ikuti saja tradisi di desa ini Alice," jawab Tian Feng.
Karena tidak memiliki pilihan lain, Alice dan Louis akhirnya pergi mengikuti Hei Tong ke rumah nya, setelah itu Hei Tong segera mengumpulkan para warga dan menjelaskan semuanya kepada mereka.
Para warga desa di bagi tiga kelompok, satu yang kebanyakan para wanita akan menemani Alice, satu lagi berada di pihak Tian Feng untuk mempersiapkan segala sesuatu yang di butuhkan, tapi tidak semua para lelaki, ada juga yang wanitanya. Yang ketiga adalah bagian konsumsi untuk acara pesta sederhana sesuai dengan keinginan Tian Feng.
Tian Feng sudah memperhitungkan semuanya, lagi pula waktu tinggal 11 hari lagi untuk memulia penghancuran markas cabang Organisasi Bintang, jadi masih ada waktu lebih sebelum waktu pemburuan itu tiba.
***
Tepat hari kelima acara pernikahan sederhana Tian Feng akan segera di laksanakan, semua warga yang di bagi menjadi tiga kelompok mulai bersiap-siap di posisi mereka masing-masing, namun Tian Feng saat ini hanya berdiri diam di belakang rumahnya dengan memandang langit.
"Naomi maafkan aku..!" gumam Tian Feng yang masih merasa bersalah namun juga merasa tak berdaya.
"Sudahkah Tian, semua yang sudah terjadi di jalani saja, jodoh adalah sebuah misteri, seberapa besar dan indah perasaan seseorang kepada pasangannya terkadang tidak seindah seperti yang di harapkan! Percayalah jika memang kalian berjodoh, maka suatu saat nanti kalian pasti bisa bersama lagi!" kata Xian.
__ADS_1
Tian Feng yang mengenakan baju pengantin berwarna merah hanya bisa tersenyum pahit, pasalnya dia juga tidak berharap hal ini bisa terjadi, namun dari perkataan Xian dia juga memiliki pemikiran aneh.
"Apakah maksud perkataanmu jika aku masih berjodoh dengan Naomi akan bisa menikah?" tanya Tian Feng.
"Iya! Memang kenapa? Bukankah para manusia itu wajar jika laki-laki memiliki beberapa istri? Menurutku itu baik, jadi kamu tidak perlu menyakiti siapapun karena kamu sudah menikahi semua wanita yang kamu cintai!" kata Xian.
"Aku ini bukan seorang raja yang menumpuk banyak selir! Lagi pula apa ada wanita yang rela jika suaminya membagi cinta dengan wanita lain?"
"Pertanyaan mu mudah untuk dijawab Tian! Memang tidak ada wanita yang mau suaminya memiliki hati lain selain istri sahnya, tapi jika laki-laki itu sanggup berbagi cinta dengan adil, sepertinya tidak masalah," Xanzi ikut menjawab.
"Xanzi benar Tian, apalagi kamu adalah seorang manusia berkemampuan Dewa, dengan segala kelebihan serta kekuatan yang kamu miliki, sepertinya tidak ada wanita yang akan menolak untuk dijadikan istri untukmu!" ucap Xian.
"Aku tidak serakah seperti itu!" ucap Tian Feng dengan nada ketus.
"Tuan..! Pengantin wanita sudah berada di depan rumah, mari kita segera keluar dan bersiap untuk dimulainya acara pernikahannya!" seorang laki-laki paruh baya datang dan berbicara kepada Tian Feng dari luar pintu kamar.
"Sudah waktunya cepat keluar dan temui calon istrimu!" kata Lianli yang sejak tadi tidak bersuara.
Tian Feng mulai melangkahkan kakinya kemudian dia keluar dari kamarnya dan pergi menuju ke meja altar yang sudah di persiapkan oleh para warga yang menjadi tugas mereka.
Dari arah depan terlihat rombong wanita sedang berjalan beriringan di belakang seorang gadis bergaun merah dan wajahnya ditutupi oleh kain agak transparan, walau wajahnya tertutupi oleh kain merah, namun pesona yang di pancarkan sangat terlihat jelas.
Acara pernikahan sesuai adat di desa Wunji dilaksanakan dengan cara sederhana, Louis sebagai wali mempelai wanita tanpa terasa meneteskan air mata haru dan bahagia, baginya waktu berlalu begitu cepat hingga membuat bayi perempuan yang ia rawat kini menjelma menjadi gadis cantik dan akan segera bersuami, mengingat semua itu membuat Louis merasa tanggung jawabnya akan segera berakhir dan akan membiarkan Alice menjalani kehidupannya sendiri bersama suaminya.
Semua warga desa ikut memeriahkan pesta pernikahan sederhana itu sehingga terlihat bagai merayakan pesta pernikahan besar seorang anak pejabat, bahkan Alice sendiri merasa haru serta bahagia, namun tidak bagi Tian Feng.
Wajah Tian Feng sedikit murung, dia memaksakan diri untuk tetap tersenyum walau sedikit masam, namun karena ini adalah keputusan yang pilih sendiri, Tian Feng hanya bisa menghela nafas pasrah.
"Selamat kalian berdua sudah resmi menjadi suami istri, dengan ini tanggung jawab ku sebagai seorang kakek sudah selesai, aku hanya tinggal menunggu anak kalian untuk aku gendong!" kata Louis kepada Alice dan Tian Feng.
"Terima kasih kakek!" kata Alice.
"Gadis bodoh, kamu ini bukan anak kecil lagi, sekarang kamu sudah menjadi seorang istri, jadi bersikaplah seperti layaknya wanita yang sudah berkeluarga!" kata Louis kemudian dia menatap Tian Feng.
"Aku serahkan semua kebahagiaan cucuku padamu, aku berharap hubungan kalian akan terus bertahan sampai maut menjemput!" kata Louis.
Tian Feng menangkupkan tangannya seraya memberi hormat sekaligus bicara kepada Louis, "Terima kasih telah merestui pernikahan kami, aku tidak bisa berjanji apakah aku akan mampu membahagiakan Alice atau tidak, namun aku akan berusaha untuk membuatnya merasa bahagia!" kata Tian Feng.
"Aku percaya padamu!" ucap Louis.
"Nak Tian selamat atas pernikahan kalian, jika kalian butuh sesuatu kedepannya, kalian jangan sungkan untuk bicara kepada kami, karena sekarang kalian sudah menjadi bagian dari Desa Wunji!" kata Hei Tong.
"Terima kasih Tuan Hei, acara ini bisa berlangsung juga karena bantuan Tuan Hei serta seluruh warga desa, kami tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikan kalian semua!" kata Tian Feng.
"Eee...! Apa yang Nak Tian bicarakan? Ini sudah menjadi tradisi warga desa untuk membantu sesama, jadi Nak Tian tidak perlu merasa berhutang budi apapun kepada kami!" ucap Zhu Lin.
"Nak Alice, kedepannya kalian akan melalui hari-hari yang mungkin belum pernah Nak Alice alami, karena itu jangan lupa untuk melayani suami mu agar dia tidak berani melirik wanita lain lagi!" kata Zhu Lin menggoda Alice.
Alice tersenyum lembut kemudian dia meraih lengan Tian Feng dan merangkul lengannya, "Nyonya Hei, terima kasih atas nasehatnya!" kata Alice.
Tian Feng menatap Alice dengan memaksakan bibirnya untuk tersenyum, sedangkan Louis dan Hei Tong pergi berkumpul dengan orang yang sama-sama tua dan mereka mulai menikmati tuak bersama-sama.
Musik sederhana dan tarian dari beberapa wanita juga memeriahkan acara Pesta pernikahan tersebut, sehingga desa Wunji kembali mendapatkan kebahagiaan seolah-olah mereka sudah melupakan ancaman dari kelompok Organisasi Bintang Hitam.
Saat semua orang sedang menikmati acara pernikahan dengan bahagia, tiba-tiba saja ada getaran di tanah yang membuat semua orang terdiam dan sama-sama merasa kebingungan.
__ADS_1
Tian Feng yang awalnya hanya duduk diam di samping Alice kini memasang wajah dingin, begitu juga dengan Alice dan Louis.
"Apakah ada gempa?" tanya Hei Tong.
"Kurasa ini bukan gempa!" jawab Louis.
Tian Feng tidak banyak bicara, dia segera melakukan sesuatu yang membuat semua orang terkejut. Mata Tian Feng menyala dan dia menatap ke luar dengan tatapan tajam.
"Apa yang kamu lihat Tian?" tanya Alice.
"Alice, sepertinya ada tamu tak di undang yang akan menghadiri pernikahan kita!" jawab Tian Feng.
"Tamu!?" Alice mengerutkan dahinya.
"Sebentar lagi kamu juga akan tahu!" ucap Tian Feng dan secara bersamaan suara gemuruh langkah kaki terdengar dari arah luar desa.
Semua warga mulai merasa panik saat melihat debu dari jauh, hanya dalam beberapa saat saja gerombolan pasukan yang menaiki Siluman datang menghampiri rumah Tian Feng.
Jelas saja semua warga semakin panik sedangkan Louis dan Alice langsung mengenali pakain yang di kenakan oleh orang-orang penunggang siluman itu.
"Apakah mereka yang kamu maksud tamu tak diundang?" tanya Alice.
"Tidak bukan mereka, melainkan ada dua lagi yang ada di belakang mereka!" jawab Tian Feng.
"Ada keperluan apa kalian datang kesini? Apakah kalian berniat Mengacaukan acara pernikahan cucuku?" tanya Louis dengan tatapan marah dan nada membentak.
"Hem.. apakah kamu Louis?" suara seorang perempuan terdengar dari arah belakang kelompok orang-orang yang datang.
Louis terkejut mendengar suara tersebut, dia memasang tatapan tajam hanya untuk melihat sosok pemilik suara tersebut kemudian Louis berbicara dengan nada berat, "Suara Wanita yang memiliki aura tekanan sebesar ini yang ada di Organisasi Bintang Hitam hanya ada satu saja, apakah anda adalah Wanita Musang berekor dua?" tanya Louis.
"Keke.. Kita tidak pernah bertemu, namun ternyata kamu masih mengetahui akan diriku!" ucap suara wanita itu kemudian barisan penunggang Siluman membelah diri dan terlihat dua sosok berjubah hitam yang sedang berdiri di belakang barisan.
Memang Louis belum pernah melihat sosok dari empat sosok yang akhir-akhir ini selalu bersama dengan Carolus, namun dia sudah mengetahui nama-nama mereka yang salah satunya di juluki Wanita Musang berekor dua.
Kedua sosok tersebut melangkahkan kakinya menuju kearah Louis, setiap langkah mereka akan membuat retakan kecil di tanah serta getaran kecil yang mengganggu hati para warga.
"Beberapa hari yang lalu, Ye Jizan sedang pergi kesini untuk menjemput tiga warga untuk di jadikan pengikut Organisasi Bintang Hitam, namun dia tidak pernah kembali, bahkan jejak jiwanya sekalipun tidak bisa di temukan, terlebih lagi disini ternyata ada orang yang sangat di tunggu-tunggu kedatangannya oleh Carolus! Sekarang aku mau bertanya padamu, apakah kamu tahu apa yang sudah terjadi kepada Ye Jizan?" tanya Wanita Musang berekor dua setelah dirinya sampai di hadapan Louis.
"Apakah kamu menanyakan keberadaan kera putih? Aku tahu apa yang sudah terjadi padanya!" kata Tian Feng yang juga datang dan berdiri di samping Louis serta masih mengenakan gaun pengantinnya.
Mata Wanita Musang berekor dua menyipit memperhatikan Tian Feng dari atas hingga bawah kemudian dia tersenyum lebar, "Kamu tahu? kalau begitu katakan padaku apa yang sudah terjadi kepada Ye Jizan!" kata Wanita Musang berekor dua.
"Karena kalian sudah datang di acara pesta pernikahanku, aku tentu akan menyambut kalian yang ingin memeriahkan pesta ini, karena itu aku tidak keberatan untuk mengatakannya akan apa yang sudah terjadi kepada temanmu di kera putih itu!" kata Tian Feng kemudian dia mengalirkan energi dari tangannya yang berada di belakang pinggangnya.
"Temanmu itu sudah...!" Tian Feng menatap tajam kearah dua sosok tersebut kemudian dia segera mengarahkan telapak tangannya yang sudah di lapisi energi Api emas.
"Mati di tanganku!" kata Tian Feng yang langsung melepaskan serangan dadakan membuat kedua sosok tersebut terkejut.
Kedua sosok tersebut langsung menghilang dan muncul di langit sehingga serangan Tian Feng meleset, namun sebagai gantinya beberapa barisan penunggang siluman terkena semburan Api emas yang besar serta kuat.
"Alice, kamu lindungi semua warga dan kakek Louis, aku serahkan para penunggang siluman itu padamu! Aku sendiri akan menyambut kedua tamu tak diundang itu di langit," kata Tian Feng kemudian dia menghilang dan muncul di hadapan kedua sosok itu.
"Seorang manusia yang baru memiliki kemampuan puncak Dewa Bumi ingin melawan dua kekuatan puncak Dewa Langit? Apakah kamu tidak terlalu percaya diri?" kata sosok satunya yang terdengar suara seorang laki-laki.
Tian Feng tidak menjawab, dia yang masih mengenakan pakaian pengantin berwarna merah segera mengeluarkan Tombak Nirwana dan energi petir merah segera menyelimuti tubuhnya.
__ADS_1