Kesatria Tombak Nirwana

Kesatria Tombak Nirwana
mengungkapkan perasaan


__ADS_3

Ho Chen hanya menatap Tian Feng yang bergegas pergi kearah Naomi yang sedang berada di samping rumah seorang diri, tanpa memperdulikan akan apa yang ingin dilakukan oleh Tian Feng, Ho Chen hanya kembali menatap kearah rumah-rumah yang sepi di sepanjang mata memandang.


Di tempat Naomi sedang menggerakkan dan melemaskan seluruh otot-ototnya yang kaku, dia langsung menyadari kedatangan Ho Chen yang menghampirinya.


"Naomi, ikut denganku sebentar!" kata Tian Feng yang tanpa basa-basi menarik lengan Naomi yang masih terkejut sehingga Naomi tanpa sadar mengikuti Tian Feng tanpa bertanya apapun.


Karena rumah Yuan Xia sangat lebar dan luas, ada satu tempat disana yang sangat sepi, namun jika situasi normal, tentu disana akan ada beberapa pelayan dan prajurit yang mondar-mandir.


"Ada apa Tian-Kun?" tanya Naomi setelah tiba di tempat yang hanya ada mereka berdua saja.


"Naomi! Hari ini aku dan Guru Ho Chen akan pergi mencari keberadaan dunia dimensi, sepertinya akan butuh waktu lama untuk bisa kembali lagi, namun apakah kamu bisa membantuku menyerahkan surat ini kepada Chie Xie?" tanya Tian Feng.


Sebenarnya rencana kepergiannya memang sudah di rencanakan sejak semalam, mengingat Chie Xie yang marah dan terus mengabaikannya, Tian Feng sama sekali tidak bisa berbicara dengan Chie Xie sehingga dia terpaksa menulis beberapa penjelasan serta permintaan maafnya kepada Chie Xie dengan melewati Naomi.


"Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya sudah terjadi antara kalian, namun aku pasti akan menyampaikan surat ini padanya! Tapi Tian-Kun, kenapa kamu buru-buru mau pergi? Apakah kondisimu sudah benar-benar pulih?" tanya Naomi.


Tian Feng hanya mengangguk agar Naomi percaya. Walau terlihat sudah pulih dari luar, namun didalamnya masih belum pulih seutuhnya.


Tian Feng menatap mata Naomi dalam-dalam dengan menggunakan perasaan yang sudah lama ia pendam dan saat ini Tian Feng ingin mengeluarkannya.


Begitu juga dengan Naomi yang ikut menatap mata Tian Feng, dia yang sejak awal bertemu hingga saat ini masih menyimpan perasaannya juga terhadap Tian Feng ingin melepaskannya.


Bersamaan dengan kedua tatapan yang mulai menyatu dalam sebuah lingkaran cahaya beraneka warna, seolah-olah dunia ini sudah tidak memiliki penghuni lain selain mereka berdua saja.


Perasaan yang sama-sama terpendam dan menumpuk sehingga menggunung ingin meletuskan semua isinya tanpa memperdulikan guncangan sanubari yang sangat kuat.


Kedua wajah semakin mendekat seiring jalannya waktu yang seolah-olah melambat, dan tanpa mereka sadari jika saat ini kedua perasaan mereka sudah terhubung satu sama lain dan secara tidak sengaja sudah sama-sama saling mengungkapkan lewat tatapan mata yang semakin dalam menembus hati.


Hanya dalam waktu perputaran sepersekian detik, wajah yang semakin mendekat akhirnya menyatu tanpa ada satu penghalang yang mampu memisahkan keduanya disaat kedua bibir menyatu dan dengan cepat hanyut terbuai dibawa oleh derasnya arus sungai hingga sampai ke samudera luas.


Tangan Tian Feng dengan sigap memegang kepala Naomi yang menutup mata serta tangan Naomi yang reflek merangkul leher Tian Feng dengan menjinjitkan kakinya lebih tinggi.


Keduanya sama-sama melepaskan perasaan mereka dan saling mengungkapkan curahan hati mereka lewat ciuman bibir yang menurut mereka berdua seperti sedang memetik buah surga.


Panas dingin mengalir di nadi mereka masing-masing serta degup jantung yang semakin tidak menentu sama-sama mengabarkan betapa bahagianya hati mereka setelah mengetahui jika keduanya sama-sama memiliki perasaan yang sama.


Hingga pada titik akhir kedua saling melepaskan diri dan saling berpandangan dengan tatapan sayup dan bahagia.

__ADS_1


"Tian-Kun! Aku tidak percaya jika ternyata perasaanku ini tidak bertepuk sebelah tangan!" kata Naomi dengan nada pelan dan juga lembut seperti alunan nada musik kecapi di musim semi.


Sebenarnya sulit bagi Naomi untuk menggambarkan perasaannya kepada Tian Feng lewat sebuah kata-kata, apalagi sejak awal dirinya bertemu dia merasa seperti memiliki ikatan aneh kepada Tian Feng, padahal saat pertama kali bertemu Tian Feng mengenakan penutup wajah dari kain, namun ikatan yang kuat membuat dirinya tidak bisa lepas dari Tian Feng.


"Perasaanku ini sudah lama aku simpan, namun baru kali ini aku bisa melepaskan beban berat yang sejak dulu membelenggu dan bahkan berusaha menolak serta ingin membohongi akan perasaanku ini padamu Naomi, tapi...!"


Kata-kata Tian Feng tersangkut di tenggorokan saat dia teringat akan usianya yang sesungguhnya, dia seperti seekor singa tua yang ingin memakan anak rusa yang masih muda.


Rasanya aneh sekali, hal ini membuat senyum pahit serta pikiran yang kacau mulai menyerang batin Tian Feng kembali.


Dia tidak bisa membayangkan andai saja Naomi tahu akan kebenarannya, jarak usia yang terlampau jauh bisa saja menjadi pembatas antara kedua, bahkan mampu menjadikan hubungan indah yang baru saja terjadi menjadi sirna hanya dalam satu serangan angin badai.


"Tian-Kun! Keraguan di mata dan kata-katamu seperti menyimpan sebuah rahasia besar yang membuatmu seperti akan jatuh kedalam jurang! Apa? Apa yang kamu cemaskan?"


Naomi bisa melihat dengan jelas dari sorotan mata Tian Feng yang sempat terlintas bersamaan dengan kata-katanya yang terpotong.


"Aku...! Aku..!" Tian Feng sulit untuk menjelaskan, namun dia berusaha untuk tetap bersuara walau dia tau jika sebuah kejujuran terkadang harus menyakitkan, tapi itu lebih baik dari pada harus menjalani sebuah hubungan dengan kebohongan.


Dengan merapatkan semua jari-jarinya dan kedua kepalan dengan erat berbunyi, Tian Feng mengatupkan giginya dan membulat tekadnya untuk mengungkapkan rahasia besar yang hanya dia saja yang tahu.


Baru saja Tian Feng membuka mulutnya, Naomi lebih dulu memotong perkataannya yang membuat Tian Feng terkejut.


Tidak perduli siapapun itu, orang manapun, selama orang itu baik dan juga saling mencintai, walau jarak keduanya sejauh langit dan bumi, aku selalu menerimamu. Aku tidak perduli akan siapa kamu dan juga status mu, bahkan jika kamu sudah berumur ratusan tahun sekalipun perasaanku tidak akan berubah!" kata Naomi.


Tian Feng sama sekali tidak bergerak, perkataan Naomi sama persis seperti apa yang ingin dia katakan, seolah-olah perasaan dan pikirannya sudah menyatu satu sama lain.


"Aku..! Seratus, iya Umurku memang segitu! Lalu?" kata acak tidak jelas secara pasti sudah menjelaskan semuanya, namun senyum di bibir Naomi semakin lembut dan dengan menjinjitkan kakinya dia bicara dengan lembut.


"Aku tidak peduli...! Walau kamu Srigala berumur seribu tahun sekalipun, perasaanku tidak akan berubah!" kata Naomi.


Perkataan Naomi serta kodenya membuat Tian Feng merasa terharu, selain Sue Yue, ini wanita kedua yang memiliki sifat sama dan perasaan yang juga sama kepada Tian Feng.


Tian Feng segera menyambut kode dari Naomi dengan merangkul kembali tubuh Naomi dan menyambar bibir Naomi untuk yang kedua kalinya.


Kali ini dekapan keduanya sama-sama erat seperti enggan untuk lepas dan terpisah, suara desah halus dan lembut serta gelora yang melonjak dari keduanya membuat mereka tidak menyadari waktu jika mereka sebenarnya sudah setengah hari berada disana.


Setelah keduanya sudah saling mengungkapkan perasaan mereka dengan penyampaian yang mungkin akan membuat siapapun iri melihatnya, mereka berdua sama-sama tersenyum lega karena sudah tidak ada lagi batu yang mengganjal di hati mereka.

__ADS_1


"Sudah waktunya bagiku untuk pergi!" kata Tian Feng.


Naomi dengan lembut mengangguk dan kemudian dia menjawab dengan nada pelan, "Aku akan selalu menunggumu, cepatlah kembali!" kata Naomi.


Tian Feng mengangguk kemudian dia berjalan pelan ingin meninggal Naomi, namun dia berhenti dan berbalik menatap Naomi sekali lagi, kakinya berputar dan berniat kembali kepada Naomi dengan hati yang tidak siap untuk meninggalkannya karena sekarang Naomi seperti belahan jantungnya.


"Kamu mau menyuruhku menunggu sampai kapan murid sialan...!"


CTok...!!!


"Aww!!"


Tian Feng yang baru berjalan tiga langkah langsung tersungkur saat satu jitakan jari dengan keras mengenai belakang kepalanya.


"Tian-Kun..!"


Naomi jelas terkejut dan panik melihat Tian Feng yang tersungkur akibat terkena jitakan keras dari Ho Chen.


Naomi segera membantu Tian Feng bangkit, dan Tian Feng yang memegang kepala belakangnya karena sakit dan terasa mau benjol, dia menoleh dan hanya melihat wajah Ho Chen yang berubah garang dengan tatapan mata merah menyala.


"Guru! Tadi itu sakit..!" kata Tian Feng yang mengelus-elus kepala bagian belakangnya karena rasa sakit itu seperti tidak mau hilang.


Padahal Ho Chen hanya menggunakan satu jarinya dan menjentikkannya dengan pelan ke kepala Tian Feng, namun bagi Tian Feng itu terasa seperti ada balok besar yang jatuh dari ketinggian ribuan kaki dan menghantam kepalanya.


"Kamu memintaku menunggu karena kamu akan pergi sebentar menemui Nona Naomi, apa kamu pikir aku ini pelayanmu yang harus harus menunggu mu selama itu?" kata Ho Chen.


"Guru..!"


"Apa..? Apakah kamu masih mau aku beri satu lagi..?" kata Ho Chen yang memotong perkataan Tian Feng dengan mengangkat satu jarinya dan bersiap menjitak kepala Tian Feng sekali lagi.


"Tidak-tidak ampun...!" Wajah Tian Feng langsung pucat pasi, dia buru-buru mundur sebelum akhirnya melompat lari menjauh dari Ho Chen.


Tian Feng menyadari jika Ho Chen berbeda seperti Xian ataupun Xanzi, Ho Chen itu nyata dan bukan sebuah Roh, ditambah lagi Ho Chen itu memiliki kemampuan dimana dirinya tidak lebih dari seekor semut di mata Ho Chen, terlepas dari itu semua Ho Chen itu adalah gurunya, walau terlihat berumur 25 tahunan, namun usia aslinya akan sulit di hitung dengan jari.


Ho Chen terkekeh melihat Tian Feng yang lari menjauh darinya, dari awal dia sudah tahu akan apa yang Tian Feng dan Naomi lakukan, dan dia dengan sengaja mengerjai Tian Feng sekaligus memberinya pelajaran agar tidak lagi berani membuat dirinya menunggu seperti budak.


Naomi menyadari tawa Ho Chen kemudian dia memberi hormat kepada Ho Chen sebelum akhirnya dia pergi kedalam karena ingin memberikan surat yang di titipkan oleh Tian Feng untuk Chie Xie.

__ADS_1


Dan siang itu juga, Tian Feng dan Ho Chen pergi meninggalkan Rumah untuk kembali berlatih serta menambah ilmu baru, jika mampu dia ingin secepatnya kekuatannya kembali dan akan berusaha menembus Tahap Dewa.


__ADS_2