
***
Mao Lao duduk dengan tenang sambil menikmati arak di tangannya, dia merasa hidup di tempat terpencil sangat menenangkan, tidak seperti saat berada di desa-desa atau kota.
Mao Lao menghela nafas panjang sambil menatap kearah yang jauh, "Usiaku sudah terlalu tua untuk tetap hidup, andai aku bisa menemukan seseorang yang bisa mewarisi semua ilmuku, mungkin ilmu ini tidak akan ikut mati bersamaku!" gumam Mao Lao kemudian dia menatap langit.
"Owh dewa! Aku tahu aku bukanlah orang yang suci, sebenarnya tidak pantas rasanya bagiku untuk memohon sesuatu padamu! Namun untuk yang terakhir kalinya aku mohon padamu, pertemukanlah aku dengan seseorang yang mau mewarisi ilmu ini!" kata Mao Lao kemudian dia menyandarkan tubuhnya ke tiang kayu teras rumahnya.
Tidak lama kemudian, Mao Lao mendengar langkah kaki seseorang yang sedang menuju kearahnya, tidak hanya satu melainkan ada sekitarnya tiga orang yang sepertinya sedang berlari menuju ke arahnya.
Mao Lao memiringkan kepalanya dan melihat seorang anak kecil yang menutup wajahnya sedang menuju kearahnya. di belakang anak kecil tersebut terlihat dua orang memegang sabit panjang sedang mengejarnya.
Anak kecil tersebut segera menuju kearah Mao Lao yang masih duduk dengan tenang dan meneguk araknya, "Kakek..! Tolong saya, orang-orang itu ingin membunuh saya!" kata anak tersebut yang tidak lain adalah Tian Feng.
Mao Lao menanggapi Tian Feng dengan senyuman, dia mungkin tidak mengenal Tian Feng karena anak itu mengenakan penutup wajah, namun dia bisa merasakan tingkat kekuatan Tian Feng.
Mao Lao menoleh kearah Dua orang pengejar yang kini sudah berhenti tidak jauh darinya, "Hai anak kecil, mau lari kemana kamu? Sebaiknya kamu ikut kami jika kamu ingin tetap hidup," kata salah satu dari mereka sambil menunjuk Tian Feng dengan sabitnya.
"Orang-orang dari Yamuru, kenapa kalian berbicara dengan keras? Apa anak ini tuli sehingga kalian berbicara sekeras itu?" tanya Mao Lao.
"Sebaiknya kau tidak perlu ikut campur kakek tua, lebih baik kamu masuk kedalam dan biarkan kami menyelesaikan masalah kami dengan anak ini!" kata salah satu orang bertubuh gemuk dan agak tinggi.
"Dia tadi datang kesini dan meminta tolong padaku, dan aku tidak akan mungkin membiarkan orang yang membutuhkan pertolongan ku begitu saja bukan?"
"Kau benar-benar kakek bau tanah yang bosan hidup ya? Apa kamu tahu siapa kami ini?"
Mao Lao terkekeh kemudian dia bangkit, namun berdirinya terlihat tidak setabil karena mabuk, "Iya-iya aku sudah tahu! Kalian ini dua orang pendekar dari Yamuru yang tidak tahu malu kerena beraninya hanya sama anak kecil saja!" jawab Mao Lao.
"Apa katamu!?"
"Sudahlah Omari, tidak perlu kita pedulikan Kakek mabuk itu, sebaiknya kita tangkap anak itu hidup atau mati!" kata salah satu dari mereka.
"Kau benar sekali Shakir, ayo kita tangkap dia!"
Omari dan Shakir adalah bekas prajurit dari Yamuru yang saat ini Negara itu di pimpin oleh Ramses.
Mereka berdua memang bukan prajurit hebat, namun mereka memiliki kekuatan daya tubuh yang kuat sehingga kekuatan mereka sangat besar walau berada di tingkat Pendekar Atas.
__ADS_1
Kini ke-duanya segera bergerak kearah Tian Feng berniat untuk menangkapnya, namun Mao Lao ternyata menghalangi langkah mereka.
"Selama di sini masih ada aku, kalian jangan pernah berharap untuk bisa menyentuhnya!" kata Mao Lao dengan tubuhnya yang sekali hampir jatuh.
"Dasar kakek tua pemabuk, sudah tua masih saja ikut campur! Mati saja kamu Kakek tua," Shakir menyabit kearah tubuh Mao Lao yang masih oleng, dia yakin kakek tua itu tidak akan bisa menghindari serangan nya.
Mao Lao ternyata dengan sangat mudah menghindari serangan tersebut dengan cara memutar tubuhnya, hanya dengan satu langkahnya yang oleng, dia sudah berada tepat di hadapan Shakir.
Mao Lao segera memberikan serangan tinju ke dada Shakir sebanyak empat kali, walau terlihat seperti tinju tak bertenaga, namun begitu mengenai tubuh Shakir, dia merasa ada energi yang cukup kuat menghantam dadanya, rasanya seperti terkena benturan batu yang sangat besar.
Shakir terseret mundur beberapa langkah kebelakang kemudian dia ingin menstabilkan kondisinya sekaligus menahan sakit di dadanya, namun Mao Lao ternyata sudah berada di samping.
"Kau cukup kuat bisa menahan pukulan Tinju mabuk ku anak muda, bagaimana kalau dengan yang ini!" kata Mao Lao kemudian dia menarik telinga Shakir dan melintir daun telinganya dengan sangat keras.
Shakir menjerit kesakitan dan berusaha melepaskan telinganya dari jeweran Mao Lao.
"Omari jangan melihat saja, cepat bantu aku!" jerit Shakir sambil menahan tangan Mao Lao yang masih melintir telinganya, bahkan terlihat ada darah keluar dari telinganya.
Omari segera tersadar, sejak tadi dia merasa kebingungan saat Shakir menjadi bulan-bulanan Mao Lao.
Omari segera menebas tangan Mao Lao agar dia bisa melepaskan telinga Shakir, ternyata tindakan Omari berhasil membuat Mao Lao melepaskan tangannya, namun sebagai gantinya kini hidung Omari yang menjadi target Mao Lao.
Mau tidak mau Omari terpaksa ikut menunduk kebawah, jika tidak hidungnya bisa terlepas dari wajahnya.
Shakir sendiri masih meringis kesakitan sambil memegang telinganya yang mengeluarkan darah di belakang, telinganya hampir saja robek andai Omari tidak segera menolongnya.
"Keras sekali tangan Kakek mabuk ini!" gumam Shakir sambil memegang telinganya.
"Shakir cepat bantu aku!" Omari yang sudah mengeluarkan air mata berteriak dengan suara terdengar mendengung akibat hidungnya tertutup oleh Mao Lao.
Shakir menelan ludahnya melihat Omari yang juga tidak berdaya menghadapi Mao Lao. Shakir memegang hidung sendiri kemudian dia membayangkan jika dia menolong Omari bisa jadi hidungnya yang akan menjadi sasarannya, Shakir mendadak langsung begidik ngeri membayangkan nya.
"Jangan melihat saja Shakir!" seru Omari.
"Ba-baik," jawab Shakir kemudian dia menebas tangan Mao Lao dari jarak jauh.
"Sabit Dewa Anubis."
__ADS_1
Energi tebasan segera melesat kearah lengan Mao Lao sehingga Mao Lao melepaskan tangannya dan bergerak menghindari tebasan tersebut.
Omari bergegas menjauh dan berdiri di samping Shakir, kini mereka berdua sama-sama meringis menahan sakit masing-masing.
"Kakek itu sungguh gila, gerakannya sungguh tidak bisa di tebak," kata Omari.
"Apa dia itu benar-benar mabuk atau hanya di buat-buat saja? Aku tidak pernah melihat ada orang mabuk yang bisa bergerak sambil menyerang dan memiliki tenaga yang sangat kuat!" Shakir juga merasa heran.
"Hei, mau sampai kapan kalian akan berdiskusi hah?" kata Mao Lao yang saat sedang berbaring di tanah dengan tangan kiri menyangga kepalanya.
Shakir dan Omari saling berpandangan, mereka berdua merasa bingung apakah akan tetap menangkap Tian Feng atau tidak, namun yang jelas untuk bisa menangkap Tian Feng harus menghadapi Mao Lao yang membuat mereka kerepotan.
"Kamu maju duluan, nanti aku akan memberikan semangat dukungan untuk mu dari belakang!" kata Omari.
Shakir melotot dan membalas menyuruh Omari, "Kenapa tidak kamu saja yang maju lebih dulu, nanti aku akan bantu dengan doa dari sini!" kata Shakir.
Ke-dua nya sama-sama tidak ada yang mau maju menyerang Mao Lao sedangkan Mao Lao hanya tertawa geli melihat tingkah mereka berdua.
"Apa yang Senior Mao lakukan, kenapa dia tidak membunuh mereka berdua?" batin Tian Feng yang sejak tadi hanya jadi penonton.
Tian Feng sama sekali tidak senang saat melihat Mao Lao yang terlihat bermain-main dengan Ke-dua orang Yamuru itu, andai saja dirinya sanggup untuk menghadapi mereka berdua, dia pasti akan membunuh ke-duanya agar kedepannya mereka tidak lagi menjadi orang yang lebih merepotkan.
"Sebaiknya kita pergi dari sini, percuma saja jika kita tetap menghadapinya karena Kakek mabuk itu sepertinya bukan orang biasa!" kata Omari.
"Kamu benar, sebaiknya kita kembali saja ke Tuan Amun dan menjelaskan akan situasi yang kita hadapi ini padanya!"
Shakir dan Omari bergegas pergi meninggalkan Mao Lao dan Tian Feng, mereka tidak mau lagi menjadi boneka mainan Kakek mabuk itu.
"Kakek! Kenapa kakek membiarkannya pergi?" tanya Tian Feng.
Mao Lao berjalan kearah kendi kecil yang ia letakkan di dekat tiang teras kemudian meneguk isinya.
"Memangnya apa yang harus aku lakukan pada mereka?" tanya Mao Lao saat selesai meneguk araknya.
"Mereka itu orang jahat kek, mereka tidak pantas di biarkan tetap hidup, bisa-bisa akan banyak orang yang akan di bunuh oleh mereka," kata Tian Feng.
"Kamu ini masih kecil namun cara berpikirmu sungguh sangat mengerikan! Apakah kamu pikir aku ini Dewa pencabut nyawa yang berhak mencabut nyawa seseorang? Sudahlah sebaiknya kita masuk dulu ke dalam!" kata Mao Lao kemudian dia berjalan kedalam.
__ADS_1
"Ada apa lagi! Ayo masuk kedalam!" Mao Lao kembali menegur Tian Feng yang hanya berdiri saja dan menatap kearah perginya Shakir dan Omari.
"Ba-baik..!" jawab Tian Feng kemudian dia mengikuti Mao Lao masuk kedalam rumah Mao Lao yang sederhana itu.