
"Gege kamu sungguh jahat! Kenapa kamu tidak berusaha mencegah jiejie agar tidak pergi?" kata Chie Xie.
"Xie'er, saat ini Naomi masih sangat marah, jika aku memaksanya untuk tetap tinggal, bisa-bisa dia akan menyerang Alice kembali, karena itu lebih baik dia menjauh dulu sekaligus menenangkan diri, aku yakin suatu saat nanti dia akan kembali dan tinggal bersama lagi dengan kita seperti sebelumnya!" jawab Tian Feng sekaligus berusaha menenangkan Chie Xie.
"Tidak gege, hati jiejie sudah sangat hancur karena kamu lebih memilih wanita itu daripada jiejie, hari demi hari telah jiejie lalui, pelatihan berat juga dia terima, harapannya agar kelak dia bisa menjadi pendamping yang pantas bagimu! Tapi sekarang apa yang ia dapatkan, usaha, harapan serta penantian jiejie semuanya dihancurkan olehmu dan wanita ini, kau sungguh tidak punya perasaan sama sekali, aku benci kamu gege!"
"Cukup Xie'er..! Hentikan ocehanmu itu, apa kamu sadar apa yang telah kamu katakan kepada kakakmu hah?" Lie Yie langsung membentak Chie Xie.
Chie Xie menatap ibunya sesaat sebelum akhirnya dia menatap Alice, "Keluargaku hancur gara-gara kamu, apakah sekarang kamu sudah puas?" kata Chie Xie kepada Alice tanpa memperdulikan teguran ibunya.
"Xie Xie, aku tidak berniat...!"
"Cukup Nona Alice, kamu tidak perlu membela diri lagi!" kata Chie Xie kemudian dia berjalan kehadapan Tian Feng.
"Gege, jika kamu memang tidak mau menyusul Jiejie, maka aku tidak akan pernah menganggapmu kakakku lagi!" kata Chie Xie.
"Xie'er aku bilang cukup..!" Lie Yie semakin naik darah mendengar kata-kata Chie Xie.
Tidak satupun orang yang berani ikut campur pertengkaran keluarga itu, semuanya hanya diam dan menjadi penonton saja, sedangkan Ho Chen lebih memilih untuk mengamati tempat lain daripada harus ikut campur urusan Tian Feng.
"Ibu, aku tahu kamu sangat menyayangi gege, tidak peduli seberapa besar kesalahan gege, Dimata ibu gege tetaplah yang paling benar walau dia bukan..! Dia bukan anak kandungmu!" kata Chie Xie yang membuat mata Lie Yie menjadi merah dan segera menghampiri Chie Xie.
"Kau benar-benar anak yang keras kepala..!"
Lie Yie berniat menampar Chie Xie namun Tian Feng segera memanahnya, "Alice bawa ibu masuk!" kata Tian Feng.
Alice segera maju namun dia berhenti setelah Chie Xie kembali berbicara, "Ibu..? Ibu yang mana yang kamu maksud Tian, dia adalah ibuku dan bukan ibumu, kamu bukanlah anggota keluarga kami, jadi kamu tidak berhak memanggilnya ibu!" kata Chie Xie yang tiba-tiba saja memanggil Tian Feng dengan sebutan Tian karena sudah sangat marah.
"Xie'er...!" Lie Yie meraung keras kemudian sebuah tamparan keras segera mendarat di pipi Chie Xie.
"Kenapa? Apakah ibu lebih memihak padanya dari pada sama anakmu sendiri?"
"Kamu benar-benar sudah melewati batas Xie'er!" Yuan Xia akhirnya angkat bicara.
"Kalian semua berhenti bertengkar!" Tian Feng berseru keras sehingga suaranya terdengar menggema dan menggetarkan seluruh tempat disana.
"Ucapan Xie'er memang benar, sebaiknya kalian tidak perlu membela orang asing lagi, bagaimanapun Xie'er ini adalah anak kandung kalian, sedangkan aku hanyalah anak pungut, aku tidak mau keluarga yang aku jaga akhirnya pecah gara-gara diriku!" kata Tian Feng sehingga membuat Lie Yie, Yuan Xia dan semua orang yang ada disana terkejut termasuk Chie Xie.
Kata-kata yang dikeluarkan oleh Tian Feng membuat perasaan mereka semua merasa tidak enak, "Tian apa yang kamu bicarakan?" Lie Yie yang mulai cemas bertanya kepada Tian Feng.
"Aku bicara akan fakta yang sebenarnya ibu! Sekarang aku hanya ingin mengucapkan terima kasih kepada kalian karena telah menganggap diriku sebagai anak kalian, dan aku juga senang bisa memiliki adik sepertimu, mulai hari ini aku tidak akan lagi mengganggu keluargamu Xie'er!" kata Tian Feng
Tubuh Lie Yie bergetar hebat mendengar kata-kata Tian Feng, bagitu juga dengan Chie Xie yang baru sadar jika dirinya telah salah bicara dan mengatakan hal yang seharusnya tidak dia ucapkan, terlebih lagi dihadapan banyak orang.
"Gege a..aku!"
Chie Xie ingin mengatakan jika dirinya ingin meminta maaf dan semua yang ia ucapkan adalah kata-kata yang berada di luar kendalinya karena marah dan emosi saja.
Tian Feng tersenyum hangat kemudian dia berjalan kearah Lie Yie dan memegang tangan Lie Yie, "Terima kasih atas semua kasih sayang yang sudah kamu dan suamimu berikan padaku, sekarang aku akan pergi dan jaga diri kalian baik-baik!" kata Tian Feng.
__ADS_1
"Tian, seharusnya kamu tidak perlu mengambil hati perkataan adikmu! Dia itu hanya sedang marah saja!" kata Yuan Xia.
"Aku tahu itu, namun semua kata-katanya adalah sebuah kebenaran, apapun yang saat ini kalian pikirkan tetap saja semua itu tidak mengubah kenyataan jika aku ini hanyalah anak pungut yang menyandang status keluarga Yuan, sekarang semua itu akan aku kembalikan!" kata Tian Feng kemudian dia melangkah menghampiri Alice dan memanggil Louis.
Pandangan Lie Yie serasa gelap, sedangkan Chie Xie hanya berdiri mematung setelah dia menyadari kesalahannya. Chie Xie sama sekali tidak mampu mengeluarkan suaranya karena dadanya serasa sesak.
"Guru, kita akan bertemu lagi di tempat lain, aku akan pergi sekarang!" kata Tian Feng kepada Ho Chen kemudian dia memandang Chie Xie yang air matanya mengalir deras kemudian menatap Lie Yie yang hanya mengangkat sebelah tangannya dan berniat menahan Tian Feng agar tidak pergi.
"Selamat tinggal semuanya!" kata Tian Feng kemudian dia memegang tangan Alice dan Louis setelah itu dia langsung menggunakan sihir ruang waktu dan menghilang dari hadapan semua orang.
"Tian....!" tangis Lie Yie langsung pecah setelah itu dia langsung jatuh tidak sadarkan diri.
"Aku..! Apa yang sudah aku lakukan?" batin Chie Xie berbicara sendiri namun dia juga menangis kemudian duduk bersimpuh.
Yuan Xia sendiri juga terlihat syok, namun dia masih sadar dan segera meminta bantuan semua orang untuk membantunya mengangkat Lie Yie kedalam.
Semua orang yang ada disana saling mendiskusikan akan perginya Tian Feng, walau mereka tahu jika kejadian tersebut berawal dari Tian Feng yang lebih memilih Alice, namun mereka juga menyalahkan Chie Xie yang bicara seenaknya tanpa memperdulikan perasaan Tian Feng serta ibu dan ayahnya.
Chie Xie sendiri saat ini hanya bisa menyalahkan diri sendiri, andai dirinya bisa mengontrol emosinya, mungkin kejadian tidak akan terjadi dan Tian Feng pasti tidak akan pergi.
Chie Xie yang merasa bersalah segera bangkit dan kemudian kabut dingin terlihat berputar di depannya.
"Kamu mau kemana?" Lio Long dan Ho Chen muncul di samping Chie Xie yang berniat menggunakan lorong waktu untuk mengejar Tian Feng.
"Aku ingin menyusul Tian gege dan ingin membawanya kembali pulang!" kata Chie Xie.
"Benarkah?" kata Chie Xie matanya yang lembab segera menoleh kearah Ho Chen.
"Seharusnya kamu mengetahui sifat Tian, bagi Tian kalian itu sangat berharga, jadi tidak mungkin dia pergi jauh dan meninggalkan kalian! Sebaiknya sekarang kamu temui ibumu yang sedang tidak sadarkan diri!" kata Ho Chen.
Chie Xie terdiam sesaat sebelum akhirnya dia menarik kembali lorong waktu nya dan segera berlari kedalam tenda untuk melihat kondisi ibunya.
"Sekarang bagaimana, dengan perginya Dewa Sesat apakah rencana penyerangan markas cabang Organisasi Bintang Hitam masih akan dilaksanakan?" tanya salah satu Pendekar.
"Entahlah! Tapi kita masih memiliki Panglima Wei dan beberapa tokoh lainnya, aku yakin penyerangan ini akan tetap berjalan!" jawab rekannya.
"Ho Chen, apakah kamu akan menyusul Tian?" tanya Lio Long.
"Itu masalah mudah senior, sekarang kita harus fokus kepada Naomi, walau Saudara Dunrui sudah menyusulnya, namun sepertinya saudara Dunrui juga tidak cukup untuk melindungi Naomi!" kata Ho Chen.
"Sebenarnya ada apa? Kenapa tiba-tiba kamu sangat menghawatirkan Naomi?" tanya Lio Long.
"Sebelumya aku merasakan keberadaan energi milik Chinmi sesaat, walau ini hanya perasaanku saja, namun aku yakin jika itu adalah energi milik Chinmi dan energi Chinmi yang aku rasakan seperti mengarah kepada Naomi!" kata Ho Chen.
"Chinmi!? Berarti dia ada dunia ini sekarang? Kalau begitu ayo kita susul Wang Dunrui!" kata Lio Long.
"Biar aku sendiri saja senior, sebaiknya senior disini saja, dan nanti saat 17 hari yang sudah direncanakan bawa semua prajurit dan para petarung-petarung lainnya untuk menyerang markas cabang pengikut An Huang Yi!" kata Ho Chen.
"Baiklah, tapi kamu harus berhati-hati jika bertemu dengan Chinmi!" kata Lio Long.
__ADS_1
Ho Chen mengangguk kemudian dia menatap kearah jalan yang dilalui oleh Naomi, "Kita akan bertemu lagi di 17 hari lagi senior" kata Ho Chen kemudian dia menjentikkan jarinya dan menghilang dari hadapan Lio Long.
***
Tian Feng dan Alice serta Louis muncul di sebuah kota besar yang sangat jauh dari reruntuhan kuno, kota tersebut adalah kota Tang, kota Tang hampir sama besarnya dengan kota Xanhuo dan penduduknya sangat padat.
Kota tersebut berada di bagian selatan luas wilayahnya saja lebih besar dari luas wilayah ibu kota. Andai Istana kerajaan dipindahkan ke kota Tang yang sangat luas itu sangat pantas.
Kota Tang memiliki 6 Desa besar dan lebih dari 20 desa kecil dan sedang, dan salah satu desa yang berada di wilayah kota Tang adalah desa tempat Tian Feng dibesarkan, desa tersebut bernama Desa Wunji.
"Kita akan pergi kemana Tian?" tanya Alice.
"Kita akan pergi ke Desa Wunji!" jawab Tian Feng.
"Kota ini..!? Apa nama kota ini?" tanya Louis.
"Kota Tang! ini adalah salah satu kota besar dari lima kota besar lainnya yang ada di wilayah Kerajaan Wutong!" jawab Tian Feng.
"Kota Tang!? Bukankah Hutan Hitam berada di daerah sini?" kata Louis sekaligus memastikannya.
"Iya Hutan Hitam itu berada dekat dengan desa besar yang bernama desa Yinwa!"
"Hutan Hitam!? Berarti kita sangat dekat sekali dengan lokasi markas cabang Organisasi Bintang Hitam," kata Alice.
Tian Feng mengangguk kemudian dia melirik ke arah kerumunan penduduk yang tidak jauh darinya, para penduduk yang berkerumun itu seperti sedang mengantri sesuatu.
"Sepertinya mereka sedang melakukan ritual yang sama seperti di kota Matuo!" kata Tian Feng.
Louis dan Alice memperhatikan dengan seksama sebelum akhirnya mengangguk setelah melihat beberapa orang yang di beri Tanda Segel Kesetiaan.
"Sebaiknya kita harus menghentikan mereka!" kata Alice.
"Tidak Alice, sekarang kamu tidak boleh melakukan itu lagi!" kata Tian Feng.
"Tapi Tian, mereka harus dibebaskan," Alice tetap bersih keras ingin membebaskan para penduduk.
"Nanti saja, lagipula yang bisa melepaskan tanda segel Kesetiaan itu tidak hanya dirimu saja, masih ada kakekmu yang bisa melakukannya, untuk saat ini kita harus bergegas menuju ke Desa Wunji, dan kita akan melangsungkan pernikahan disana!" kata Tian Feng.
"Apakah kamu melarang ku karena aku sedang hamil?" tanya Alice.
"Iya! Aku tidak mau terjadi apa-apa padamu serta janin yang ada di perutmu, lagi pula kita masih belum tahu kekuatan markas cabang di sini, jika kemampuan yang menjaga markas hanya setingkat Raja, aku mampu menghadapinya, namun jika sampai ada yang memiliki kemampuan Dewa dan lebih dari satu, itu akan sangat berbahaya bagi kita termasuk kamu dan janin di dalam perutmu!" kata Tian Feng.
Tian Feng tidak mau bertindak gegabah dulu mengingat kekuatan lawan yang terakhir, bisa mengirim tiga sosok berkemampuan Dewa adalah hal yang sangat mengerikan.
Alice sendiri hanya tersenyum, dia bingung apakah Tian Feng benar-benar menghawatirkan dirinya dan calon anaknya, atau Tian Feng sebenarnya lebih peduli kepada calon anaknya.
"Sebelum kita pergi ke desa Wunji, aku akan membeli beberapa kebutuhan disana!" kata Tian Feng.
Desa Wunji adalah desa kecil, jadi segala perlengkapan kebutuhan hidup disana sangat sulit di cari, jika ingin membeli perlengkapan rumah tangga, maka penduduk disana harus pergi ke kota untuk berbelanja, walau Desa itu kecil namun penduduk disana sangat damai dan tentram dan bahagia.
__ADS_1