
Kedua Pendekar tua dari Perguruan Pedang Matahari saling berpandangan satu sama lain sebelum akhirnya mencoba kembali berbicara lebih sopan lagi kepada Tian Feng.
"Pendekar muda! Kami sadar jika kami kurang mendidik generasi muda perguruan kami sehingga melakukan hal yang terlalu fatal, tapi bisakah pendekar muda memaafkan kesalahan murid-murid kami?" kata wanita tua.
Tian Feng menyeringai mendengar permintaan pendekar tersebut kemudian dia melirik kearah salah satu murid yang berdiri tidak jauh di belakang kedua guru mereka.
"Bisa saja aku memaafkan mereka, namun ada satu syarat yang harus dilakukan, apakah kalian mau melakukan persyaratan ini?" tanya Tian Feng sambil melirik kedua pendekar tua tersebut.
"Apa persyaratannya pendekar?" tanya pria tua itu.
"Suruh ketiga murid yang tadi datang kesini, serahkan mereka kepada para warga desa dan biarkan warga desa melampiaskan kemarahan mereka tanpa harus ada perlawan sedikitpun dari mereka bertiga dan tidak boleh ada campur tangan siapapun dari perguruan kalian! Bagaimana, apa kalian sanggup?"
"Pendekar muda ini...? Bukankah ini terlalu berlebihan?" wanita tua itu terasa berat hati dengan persyaratan dari Tian Feng.
Andai ketiga muridnya itu benar-benar diserahkan kepada para warga tanpa melakukan perlawan apapun nanti, yang ada ketiga murid mereka akan mati diamuk warga yang mungkin sudah sangat kesal dan marah atas kelakuan dari ketiga muridnya.
Walau pada awalnya para warga tidak berani berbuat macam-macam terhadap para anggota murid Pedang Matahari, namun dengan dukungan Tian Feng dan Ho Chen, bukan tidak mungkin mereka akan sangat berani dan melampiaskan amarah warga yang selama ini sudah mereka pendam.
"Keterlaluan bagaiamana? Apakah tindakan ketiga murid kalian itu juga tidak keterlaluan? Berapa banyak gadis yang mati akibat korban kebejatan mereka? Lalu bagaimana dengan para keluarga mereka yang menjadi korban?"
Pertanyaan Tian Feng membuat para warga yang semakin banyak yang menonton langsung bereaksi seakan-akan mereka setuju dengan perkataan dari Tian Feng.
"Itu sudah berlalu Pendekar muda, lagi pula mereka hanyalah manusia biasa yang tidak memiliki apa-apa untuk di bela, bahkan mereka tidak lebih dari sampah dibandingkan dengan para murid dari perguruan kami, jadi kenapa ini harus di permasalahkan terlalu jauh? Yang penting kedepannya para murid-murid kami sudah tidak akan lagi melakukan hal yang serupa!" kata pria tua tersebut.
"Ke ke.. Aku senang mendengarnya! Baik aku ikuti aturan dan pemikiran kalian, bagaiamana kalau aku sekarang mengikuti cara kalian dan aku menganggap kalian para anggota Perguruan Pedang Matahari adalah sampah yang harus di bersihkan dari wilayah Kerajaan Wu ini? Apa kalian terima?"
"Jangan terlalu angkuh Pendekar Muda, walau kami tidak ingin berseteru dengan Perguruan Singa Emas, namun jika kamu masih ingin mencari masalah lebih lanjut, terpaksa kami akan membunuhmu disini juga walau nantinya kami harus berhadapan dengan perguruan Singa Emas!" kata Wanita tua yang semakin kesal dan muak atas sikap Tian Feng yang sama sekali tidak mau melepaskan ketiga muridnya, bahkan seperti mau menambah masalah tersebut lebih panjang.
"Aku tidak mewakili Perguruan manapun untuk masalah ini, lagi pula aku sudah tidak memiliki ikatan dengan Perguruan Singa Emas, jadi kalian tidak perlu mengira jika aku memiliki faksi besar di belakangku! Tindakanku kali ini hanya demi mengubah dan mengurangi orang-orang berhati biadap dari Kerajaan Wu ini!" kata Tian Feng.
"Hahaha...! Sejak tadi ucapanmu terlalu angkuh anak muda," suara tawa menggema tiba-tiba saja muncul diudara, suara itu mengandung Chi yang sangat kuat yang mampu membuat semua orang menutup telinga.
"Pendekar Tua Bao He! Apakah kamu sudah mau keluar dari persembunyian mu?" tanya Tian Feng sambil tersenyum menatap kearah jalan yang jauh.
"Hemp...!"
Helaan nafas dingin terdengar sebelum akhirnya empat orang pria sepuh datang dari arah jalan yang ditatap oleh Tian Feng dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya.
Tiga pria sepuh berkekuatan puncak Pendekar Atas yang akan memasuki Tingkat Pendekar Cahaya, dan satu pria berambut panjang dengan janggut putih yang hampir satu jengkal memiliki kemampuan puncak Pendekar Cahaya Tahap 3.
"Perguruan Pedang Matahari ini sebenarnya memiliki kemampuan yang setara dengan perguruan besar! Tapi kenapa mereka tidak menunjukkan kekuatan mereka? Apakah mereka berencana menyembunyikan kekuatan Perguruan sebelum akhirnya akan menyerang Perguruan besar lain!" Tian Feng mulai berpikir saat mengetahui kekuatan yang dimiliki oleh perguruan Pedang Matahari itu.
Tian Feng juga tidak menyangka jika Bao He memiliki kemampuan puncak Pendekar Cahaya Tahap 3, seharusnya Bao He sudah bisa bersaing dan sejajar dengan salah satu dari lima Pendekar terkuat di Wilayah Kerajaan Wu.
Hanya dalam waktu kurang dari 30 tahun dari tingkat Pendekar Cahaya Tahap 1 ke naik ketingkat Pendekar Cahaya Tahap 3 adalah kemajuan yang pesat.
"Hem... Sejak tadi aku sudah mendengar ocehan mu anak muda, walau kamu berasal dari perguruan besar, aku tidak takut, walau Chang Shan sekalipun yang datang melindungimu aku Bao He tidak akan pernah takut."
Tian Feng hanya terkekeh mendengar ucapan Bao He, Chang Shan memiliki kemampuan tingkat Cahaya Tahap 2, tentu saja Bao He tidak takut.
"Aku tidak butuh perlindungan siapapun, lagi pula urusan ini tidak ada hubungannya dengan pihak lain, sebaiknya kita selesaikan saja masalah ini sekarang," kata Tian Feng sambil melirik Ho Chen.
Andai tidak ada Ho Chen, sudah sejak tadi dia menyerang Anggota murid Pedang Matahari.
"Hahaha...! Kau sungguh angkuh dan sombong, harus aku akui jika aku juga terkejut karena kamu memiliki kemampuan Pendekar Cahaya Tahap 1, namun itu tidak akan bisa berbuat apapun terhadapku!" kata Bao He kemudian dia melepaskan energinya yang menunjukkan jika dirinya berada di tingkat Cahaya Tahap 3.
Tian Feng sama sekali tidak merasa takut, dia mungkin memiliki penurunan kemampuan secara signifikan hingga berakhir di Tingkat Cahaya Tahap 1.
Namun dengan menggabungkan Aura Kematian, dia bisa melebihi menyamai kemampuan Pendekar Cahaya Tahap 2.
Tian Feng tersenyum kearah Bao He membuat pria tua menaikkan alisnya dan seketika itu juga Aura kuat berwarna merah di lepaskan dari tubuh Tian Feng.
Bao He sempat terkejut saat merasakan lonjakan energi kekuatan Tian Feng, "Kau pemuda yang sangat menarik, tapi kekuatanmu itu masih belum cukup untuk bersaing denganku!" kata Bao He kemudian dia menarik pedangnya.
"Hahaha... Jangan merasa yakin dulu orang tua! Jika ini memang masih belum cukup untuk melawanmu, bagaimana dengan yang ini!"
Tian Feng mengulurkan tangannya kesamping seperti sedang memegang sesuatu. Semuanya jelas bingung akan apa yang akan Tian Feng lakukan sebelum akhirnya mata mereka semua melotot termasuk juga Bao He.
__ADS_1
Sebuah tombak emas muncul di tangan Tian Feng, dan disaat yang bersamaan lonjakan kekuatan juga semakin meningkat.
"Dari mana munculnya tombak itu?" kata pria tua yang hanya menonton saja sejak kedatangan Bao He.
Pancaran energi yang sangat besar dan kuat yang keluar dari Tombak emas membuat kemampuan Tian Feng sekali lagi meningkat hingga ke tingkat Cahaya Tahap 3, hal ini tentu membuat Bao He memasang wajah buruk.
"Siapa kamu sebenarnya anak muda? Aku tidak pernah mendengar ada seorang anak muda yang memiliki kemampuan seperti ini!" tanya Bao He.
"Aku adalah orang yang tadi menghinamu, sekarang terimalah seranganku ini jika kamu berani! Tusukan Tombak Hujan Langit."
Bao He terkejut melihat Tian Feng yang tiba-tiba menyerang setelah selesai bicara, gerakan dan kecepatan Tian Feng sangat sulit untuk di ikuti oleh mata semua orang terlebih lagi oleh Bao He yang tidak cukup gesit untuk menghindar.
Bao He segera menebas keatas secara acak, dan tebasan nya berhasil menepis serangan mata tombak dari Tian Feng.
Hanya saja serangan tusukan yang di lancarkan oleh Tian Feng lebih banyak sehingga Bao He disudutkan hingga membuat pria tua bergerak mundur menahan serangan tusukan Tombak yang bertubi-tubi.
"Cih.. Aku terlalu meremehkannya!" gumam Bao He.
Bao He tidak menduga akan langsung berhadapan dengan Pendekar Cahaya Tahap 3 secepat ini, dia yang baru saja keluar dari latihannya setelah berhasil naik ke tingkat Cahaya Tahap 3 sudah merasa sangat senang.
Nyatanya lawan pertamanya yang harus dia hadapi adalah seorang Pendekar Cahaya Tahap 3 juga.
Bao He berteriak sekaligus melepaskan aura pedang yang sangat kuat dan berbalik memberikan serangan balasan.
Energi pedang yang mulai di lepaskan melesat seperti membelah angin menuju kearah Tian Feng.
Anehnya Tian Feng sama sekali tidak berusaha untuk menghindar ataupun bertahan, dia hanya tersenyum tipis sebelum akhirnya meraung keras.
"Tubuh Raja Iblis."
Kulit Tian Feng tiba-tiba berubah merah seperti daging tanpa kulit, dan saat energi pedang itu mengenai tubuhnya, energi tersebut pecah menjadi sebuah gelombang angin yang menyebar seperti cincin.
Bao He jelas terkejut karena serangannya sama sekali tidak bisa membuat goresan luka sedikitpun di tubuh Tian Feng, dia melihat kulit Tian Feng yang seperti daging tanpa kulit, namun dia merasa itu seperti sebuah perubahan sebuah ilmu yang mampu mengeraskan kulit seseorang seperti logam.
"Apakah hanya segini saja? Tenyata kamu sendiri yang tidak pantas untuk bersaing denganku!" kata Tian Feng dengan nada mengejek.
"Langkah Kaki Ringan."
Bao He mempercepat laju larinya sehingga terbentuk sebuah pusaran angin dan ditengah-tengah ada Tian Feng yang masih berdiri dengan tenang.
"Cahaya Pedang Matahari - Tebasan Tangisan Langit."
Bao He menggunakan ilmu Langkah Kaki ringannya yang sangat cepat kemudian memberikan serangan tebasan angin kuat kearah Tian Feng yang masih berdiri diam.
Suara tebasan angin yang tercipta dari pedang Bao He terdengar seperti suara tangisan pilu yang sangat menakutkan.
Suara seperti tangisan itu membuat para murid serta para guru lainnya terkejut, "Sejak kapan senior Bao memiliki jurus aneh ini?"
Semua saling berpandangan, mereka belum pernah melihat Bao He memiliki jurus tersebut, mereka yakin siapapun yang ada didalam kurungan lingkaran angin itu pasti akan mati karena terpotong-potong oleh tebasan pedang yang suara energinya terdengar seperti tangisan.
"Tombak Menyapu Angin."
Tian Feng yang hanya diam saat energi pedang yang tak terhitung jumlahnya melewati tubuh Tian Feng mulai memegang tengah-tengah tombak dan memutar dengan sangat kencang.
Energi pedang yang tak terhitung jumlahnya itu segera bertabrakan dan dipantulkan lagi kearah pusaran angin yang sebenarnya adalah Bao He yang berlari.
Kilatan-kilatan dari benturan terlihat dari luar seperti cahaya percikan api yang tercipta dari dua benturan senjata.
Tian Feng langsung menghentikan putaran tombaknya kemudian dia melepaskan sedikit energi tombaknya sehingga percikan petir putih segera terlihat menyelimuti Tombak tersebut.
Tian Feng langsung menancapkan gagang tombaknya ketanah menciptakan getaran kuat yang disertai retakan tanah, bahkan petir juga menjalar seperti retakan tanah halus kemudian menyebar.
Tidak lama setelah itu tubuh Bao He tiba-tiba saja terjungkal akibat kakinya tersambar petir yang menyebar kesegala arah.
Tubuh Bao He terguling-guling cukup jauh dan kemudian menancapkan pedangnya ketanah agar tubuhnya tidak terus berguling semakin jauh.
Semua jelas terkejut saat melihat Bao He yang duduk dengan kaki bergetar karena rasa nyeri terkena sambaran petir dari Tombak emas yang menancap di tanah.
__ADS_1
"Guru Bao seperti sulit untuk mengalahkan pemuda itu, sebaiknya kamu bantu dia dan aku bersama ketiga guru lainnya akan mengurusi pemuda yang berdiri disana itu!" kata Pria tua.
Salah satu murid melihat empat guru lainnya ingin menyerang Ho Chen yang terlihat hanya berdiri saja ingin menyampaikan jika kemungkinan Ho Chen itu juga tidak kalah hebatnya seperti Tian Feng, namun dia tidak bisa mengatakannya.
"Senior Bao, ijinkan aku membantumu!" kata wanita tua yang sudah sampai di samping Bao He.
"Baiklah saudari Lin, aku akui dia sangat hebat dengan Tombak emas sebagai senjatanya itu!" kata Bao He.
Walau terdengar memalukan, namun Bao He tidak punya pilihan lain selain membutuhkan bantuan lainnya.
Wanita tua itu memiliki kemampuan di tingkat Pendekar Cahaya Tahap 1, bantuan itu akan sengat berguna dari pada Bao He harus menghadapi Tian Feng sendirian.
"Ini seperti melawan Panglima Wei saja! Ayo serang bersama!" kata Bao He.
Senyum Tian Feng semakin terlihat misterius saat wanita tua itu kembali ikut campur membantu Bao He.
"Walau kalian bergandengan tangan sekalipun untuk melawanku, itu tidak akan cukup!" kata Tian Feng kemudian dia kembali mengeluarkan sedikit kekuatan Tombak Nirwana nya.
Kali ini Bao He juga mulia melakukan perubahan energi, Pedangnya mulia berwarna putih terang dan kemudian dia bersama wanita Tua menyerang secara bersamaan.
"Pedang Matahari Api."
"Pedang Sinar Langit."
Pedang Bao He kini semakin terang dan kemudian berubah seperti pedang yang baru diangkat dari tungku api.
Tebasan dan tusukan yang kuat melepaskan energi panas yang mampu membakar kulit seseorang jika terkena pedang tersebut, belum lagi dengan tambahan dari serangan wanita tua itu.
Tian Feng sama sekali tidak kesulitan menghadapi gabungan serangan keduanya, dia mampu menjaga jarak dari pedang yang menyala membara itu agar tidak mengenai bajunya sekaligus memberikan serangan balasan dengan tusukan yang sangat gesit.
Di sisi lain Ho Chen menaikkan alisnya saat Empat orang pria sepuh datang menghampiri dirinya.
"Apakah kalian berniat menyerangku juga?" tanya Ho Chen.
"Kamu adalah temannya, jadi siapapun yang memiliki hubungan dengan pemuda itu adalah musuh Perguruan Pedang Matahari, jadi bersiaplah!" keempat pria sepuh itu sama-sama menarik pedang mereka dan segera maju menyerang Ho Chen.
Ho Chen hanya menghela nafas panjang kemudian dia mengedipkan mata satu kali kearah mereka berempat yang memiliki nafsu membunuh.
Keempat pendekar sepuh itu jelas tidak tahu maksud kedipan dari kedua mata Ho Chen, mereka yang masih tetap maju tiba-tiba saja terpukul dengan sangat keras hingga terlempar jauh menghantam depan bangunan hingga rusak.
"Urgh..!!"
Keempat langsung muntah darah dengan tubuh terbaring dan rasa sakit di dada mereka, terlihat jelas keterkejutan mereka di wajah yang menahan sakit itu, mereka berempat masih sama-sama belum tahu apa sebenarnya yang terjadi karena yang mereka rasakan seperti ada sebuah benda tak terlihat yang menghantam dada mereka dengan sangat keras.
"Apa sebenarnya yang terjadi?" semua murid kelas kebingungan melihat ke empat guru mereka yang terlempar tanpa sebab.
Menjatuhkan satu Pendekar Cahaya dan tiga Pendekar Atas tidaklah mudah, walau Bao He sekalipun membutuhkan beberapa jurus untuk bisa mengalahkan mereka berempat satu persatu.
Namun nyatanya keempat pendekar sepuh itu secara bersamaan terlempar hingga mengalami luka parah hanya dengan Serangan kedipan mata yang misterius dari Ho Chen.
"Seharusnya kalian tidak perlu memperdulikan ku!" kata Ho Chen tanpa emosi dan bahkan terlihat sangat tenang.
Di pertarungan Tian Feng melawan Bao He dan wanita tua juga terlihat sengit, Bao He dan wanita tua itu juga semakin terdesak saat serangan mereka sama sekali tidak bisa menyentuh baju Tian Tian, yang ada justru mereka yang mengalami beberapa luka gores di tubuh mereka.
"Ini sangat tidak masuk akal, bagaimana mungkin ada Pendekar muda sekuat ini!" kata Wanita tua itu setelah mundur.
Bao He tidak bersuara sama sekali, hatinya mulai tenggelam saat melihat keempat para guru yang terluka parah tanpa sebab sebelumnya akhirnya dia teringat sesuatu.
"Pemuda dengan senjata Tombak Emas, ini sama seperti cerita di peperangan waktu itu, apa mungkin pemuda itu adalah....!"
Bao He dan wanita tua saling berpandangan sebelum menjerit secara bersamaan, "Pendekar Dewa Sesat..!"
Jeritan Bao He dan wanita tua itu mengejutkan semua orang yang mendengarnya, terlebih lagi keempat pendekar yang berusaha bangkit.
Jelas berita itu mereka dengar, walau mereka tidak melihat dan ikut bergabung dengan Organisasi Jalan Kebenaran, namun mereka sudah mendengar dari dulu jika ada seorang pemuda bertopeng yang sangat hebat, walau masih muda pemuda itu sudah diakui sebagai pendekar nomor satu di Kerajaan Wu, belum lagi tombak yang menjadi ciri khas yang sudah menempel di setiap cerita orang.
Namun pemuda di hadapan mereka ini tidak mengenakan topeng, dia hanya menutup wajah bagian bawah dengan kain saja sehingga mereka tidak mengenali ciri-ciri itu, namun kini dengan tombak emas itu, mereka curiga jika pemuda itu pasti adalah si Pendekar Dewa Sesat itu.
__ADS_1