Kesatria Tombak Nirwana

Kesatria Tombak Nirwana
Rana Ilahi


__ADS_3

***


Alam Nirwana sejak dahulu kala adalah salah satu Alam Terkuat dan juga damai, setiap beberapa bulan sekali para Buddha akan datang berkumpul untuk membaca sutra serta menyampaikan bimbingan kepada murid-murid mereka.


Walau beberapa kali sempat terjadi penyerangan oleh Kaisar Kegelapan, namun peperangan yang terjadi hanya berada di luar sehingga tidak mampu membuat kerusakan apapun di dalam.


Saat ini mendadak hawa di Nirwana terasa agak panas, hal ini sangat tidak biasa, bahkan hawa panas itu membuat beberapa hewan suci pergi ke berbagai arah.


"Dia sudah berhasil melakukan penyatuannya!"


Para Bodhisattva berkumpul di aula latar bercahaya, dan masing-masing dari mereka memancarkan cahaya kebijaksanaan agung.


"Kwan Im, hawa panas ini membuat para binatang suci ketakutan, ubah hawa ini menjadi lebih dingin!" kata Buddha Rulay.


Dewi Kwan Im segera menyiramkan air suci dari dalam botol Amerta dan segera mengubah hawa panas itu menjadi lebih sejuk.


"Sekarang kita tunggu Tian Feng keluar dari latihannya!" kata Buddha Rulay.


Buddha Maitreya memejamkan mata dan kembali membaca sutra lalu di ikuti oleh para murid-murid yang berada di hadapan para Buddha.


Begitu banyak para Bodhisattva yang ada disana, dan semuanya sama-sama memancarkan aura dan cahaya agung, kalimat sutra Buddha mereka ucapkan sehingga menciptakan banyak huruf emas yang melayang dan menyatu dengan alam.


Disaat yang sama sebuah cahaya lain muncul dari balik kayu, cahaya emas dan merah serta putih terpancar dari balik kayu tersebut.


Tidak lama kemudian sebuah telapak kaki mulai keluar dari balik kayu itu lalu sosok pemilik kaki tersebut segera terlihat, sosok tersebut tidak lain adalah Tian Feng yang baru keluar dari Dunia Taman Bunga Nirwana.


Dunia Taman Bunga Nirwana sendiri sebenarnya berada di dalam sebuah batang pohon yang sangat besar dan menjulang tinggi, dan pintu masuknya berada di kulit pohon tersebut.


Tian Feng memancarkan tiga aura berbeda dari tubuhnya, ketiga aura itu adalah Aura Api Emas, Aura Kematian, dan Aura Batu Mustika Putih, namun aura tersebut sama-sama berada di Aura Agung.

__ADS_1


Selain Ketiga aura itu, tidak ada perubahan yang spesial dari tubuh Tian Feng, yang berbeda hanyalah kumis serta jenggotnya yang hitam dan lebat.


Tian Feng sudah menyadari jika saat ini kemampuannya sudah hampir mencapai puncak. Sebelumnya Tian Feng mengira akan bisa mencapai puncak Rana Agung jika sudah menyatu dengan Bunga Teratai Batu Mustika Putih, namun ternyata masih belum cukup.


Walau kekuatan Tian Feng sudah lebih dari Awal Rana Agung, atau setingkat lebih tinggi dari itu, dengan kekuatannya saat ini, andai dia kembali berhadapan dengan Kaisar Iblis dan Kaisar Kegelapan saat itu, Tian Feng yakin akan mampu mengalahkan keduanya.


Tian Feng segera berkumpul dengan para murid-murid Bodhisattva yang sedang duduk membaca kitab Sutra, karena sejak dulu Tian Feng tidak pernah membaca atau mendengar isi dari kitab Sutra, Tian Feng hanya duduk diam memperhatikan ke sekitar.


Buddha Rulay juga tidak langsung menyapa Tian Feng yang sudah duduk bersama dengan para murid lainnya, para Buddha tidak akan langsung memotong ketika kitab Sutra sedang di baca.


"Jadi seperti ini Alam Nirwana? Sungguh benar-benar terlihat seperti surga!" batin Tian Feng.


Disaat semua para murid membaca kitab Sutra Buddha, Tian Feng justru larut akan kekagumannya terhadap keindahan Nirwana.


Setelah kitab Sutra selesai dibaca, barulah Buddha Rulay memanggil Tian Feng yang masih duduk dan terlihat tidak tahu harus melakukan apa.


"Tian Feng, mendekatlah kesini!" kata Buddha Rulay.


"Sekarang kekuatanmu sudah hampir mencapai puncak Rana Agung sejati, karena waktu pertandingan akan segera tiba kurang dari setahun lagi, sebaiknya kamu berlatih dulu agar bisa lebih matang, dan gunakan semaksimal mungkin kekuatan penuh Tombak Nirwana!" kata Buddha Rulay.


"Maaf Buddha, hamba tidak bermaksud lancang, namun hamba saat ini belum yakin apakah kemampuan hamba ini akan mampu, hamba khawatir jika nanti Kaisar Kegelapan juga memiliki kemampuan yang sama atau mungkin diatas kekuatan hamba, jika demikian hamba tidak akan bisa menang!" kata Tian Feng.


"Kenapa kamu buru-buru memiliki kesimpulan yang membuat dirimu tidak yakin akan kemampuanmu sendiri? Perlu kamu tahu keyakinan adalah satu kekuatan mutlak yang akan mampu mendongkrak semangat juang, jika keyakinan itu sendiri melemah, maka rasa kepercayaan diri juga akan hilang, dan pada akhirnya hanya memiliki rasa keraguan dan berakhir dengan keputusasaan!"


Buddha Rulay mengulurkan telapak tangannya dan kemudian muncul sebuah bola putih yang menampilkan gambar seekor serangga.


"Lihatlah semut ini, mereka kecil dan terlihat lemah, walau kecil dan terlihat lemah, namun mereka memiliki satu kekuatan yang tidak dimiliki oleh serangga bahkan hewan lain, kekuatan itu adalah keyakinan! Seekor semut akan mampu membuat seekor Singa yang ganas akan meraung kesakitan saat mendapat satu gigitan kecil namun tajam di telinganya, bahkan seekor gajah yang memiliki tubuh paling besar sekalipun tidak akan berani jika harus berhadapan dengan semut! Jadi belajarlah dari sifat semut ini yang selalu yakin jika dia pasti akan mampu menundukkan para hewan besar dan kuat dengan satu keyakinannya!" ucap Buddha Rulay.


Tian Feng tersenyum pahit mendengar hal itu, dia sempat berpikir kenapa Buddha Rulay harus membanding-bandingkan dirinya dengan seekor semut yang jelas-jelas memiliki pikiran yang berbeda dengan dirinya selaku sebagai manusia.

__ADS_1


"Sepertinya keraguanmu itu masih menempel di hatimu! Sekarang kamu coba kamu ingat kembali siapa musuh terkuat yang pernah kamu hadapi hingga kamu hampir kehilangan nyawa?"


Tian Feng terdiam untuk beberapa saat mengingat kembali saat dirinya melawan beberapa orang yang kuat sehingga dirinya hampir mati, yang pertama adalah ketiga saudara seperguruannya yang membuat dirinya hampir saja mati, dan yang kedua adalah salah satu Pengawal Organisasi Bintang Hitam yang ke 18 Kwe Shin, lalu berikutnya adalah Luois kakek mertuanya.


Hanya mereka yang membuat dirinya benar-benar hampir mati saat itu, namun karena sebuah keberuntungan dan juga keyakinan Tian Feng jika dirinya pasti bisa mengalahkan mereka walau kekuatannya berada di bawah lawannya.


"Sekarang kamu sudah ingat bukan? Ambillah pengalaman masa lalumu sebagai contoh, kajadian masa lalu adalah guru bagimu untuk melangkah ke masa depan, jadi jangan dulu merasa putus asa sebelum kamu mencobanya dulu!" kata Buddha Rulay.


"Terima kasih atas pencerahannya Buddha!" kata Tian Feng yang sudah mengerti akan pencerahan sang Buddha.


"Karena latihanmu disini sudah selesai, sekarang aku akan mengirimmu kembali ke Kahyangan, kamu nanti akan aku jemput jika sudah tiba waktunya untuk hari pertandinganmu!" kata Buddha Rulay kemudian dia melambaikan tangannya dan muncul sebuah lubang di atas kepala Tian Feng.


"Kembalilah ke Kahyangan Tian, disana ada yang sedang menunggu kepulanganmu!' kata Buddha Rulay.


Tian Feng segera bangkit dan kemudian ada sebuah hisapan kuat yang berasal dari lubang buatan Buddha Rulay.


Tubuh Tian Feng langsung terhisap masuk kedalam lubang itu, walau kemampuan Tian Feng sudah berada di tahap Rana Agung, namun Tian Feng tetap tidak berdaya saat lubang itu menghisapnya masuk.


Buddha Rulay segera menutup kembali lubang tersebut setelah tubuh Tian sudah benar-benar menghilang.


"Kenapa Buddha tidak memanggil Dewa Niu He Zhang atau Dewa-dewa yang sedang bermeditasi untuk membantu Tian Feng nantinya?" tanya Dewi Kwan Im kepada Buddha Rulay.


"Ke sepuluh Dewa Rana Agung akan memiliki tugas masing-masing nantinya, jadi biarkan saja mereka menyelesaikan meditasi mereka, jadi kita serahkan saja semua ini kepada Tian Feng, sebab aku melihat Tian Feng akan mampu menembus tahap Rana Ilahi!" kata Buddha Rulay.


"Apakah itu mungkin?" tanya Dewi Kwan Im.


Buddha Rulay tersenyum lembut kemudian dia menceritakan kepada para Bodhisattva jika Tian Feng ternyata tahu jika masih ada tingkatan yang lebih tinggi setelah Rana Agung, dan tahapan itu adalah tahap Rana Ilahi atau biasa disebut sebagai Tahap Hampa dan bisa di artikan lagi dengan Kekosongan.


Selain para Bodhisattva yang pernah melewati tahap itu, sisanya tidak akan ada yang bisa, namun kali ini Tian Feng justru mengetahui hal itu.

__ADS_1


***


Sedikit dulu karena saat ini perutku sakit, jadi gak bisa berkonsentrasi.


__ADS_2