
Naomi bergegas menemui Chie Xie yang berada di dalam untuk menyerahkan surat dari Tian Feng yang di titipkan padanya.
"Apa ini?" Chie Xie yang sedang duduk melamun dengan pikirannya sendiri terkejut saat Naomi menyodorkan surat dihadapan.
"Tian-Kun menyuruhku memberikan ini padamu!" kata Naomi.
"Kenapa tidak dia sendiri saja yang memberikannya padaku?" alis Chie Xie naik sebelah.
"Dia tidak mau karena kamu terus menghindarinya! Karena itu sebelum dia pergi, dia menitipkan surat ini untukmu!" jawab Naomi.
Chie Xie terperanjat kaget saat Naomi bilang jika Tian Feng sudah pergi, "Gege pergi? Kemana?" tanya Chie Xie yang sudah bangkit dari tempat duduknya.
"Aku juga tidak tahu, namun yang jelas dia akan pergi dan akan kembali lagi dalam jangka waktu yang lama."
Chie Xie yang masih menggenggam surat yang belum dia baca itu langsung lari keluar untuk mencegah Tian Feng agar jangan pergi.
"Gege...!"
Chie Xie berlari keluar sekaligus memanggil Tian Feng dengan nada keras kini mulai muncul rasa penyesalan dihatinya karena telah bersikap cuek kepada Tian Feng.
Hanya karena mengetahui jika Tian Feng memiliki dua energi Yin dan Yan, hal itu membuat Chie Xie bersikap dingin terhadap Tian Feng.
Walau demikian dalam lubuk hatinya muncul perasaan sakit dan tidak tega saat dia berusaha mengabaikan Tian Feng yang ingin berbicara padanya.
Setelah berada di luar, dia sama sekali tidak melihat Tian Feng, matanya yang jentik dan indah berusaha menyapu seluruh halaman, namun dia tetap tidak melihat keberadaan kakaknya itu.
Chie Xie langsung melompat keudara dan terbang mencari di seluruh Kota Xanhuo, namun dia tetap tidak bisa menemukannya.
"Tian gege.. Maafkan Xie'er! Aku mohon pulanglah...!" suara Chie Xie yang lembut yang dialiri Chi terdengar menggelegar di udara, namun semua itu tidak mendapatkan respon apapun dari Tian Feng.
Dengan hati yang terasa sakit dan menyesal, Chie Xie menggigit bibirnya sebelum akhirnya turun dan kemudian mulai menatap surat di tangannya dan kemudian membukanya.
"Xie'er, aku minta maaf atas semua yang tidak sengaja kamu dengar dari pembicaraanku dengan senior Wang! Tapi sungguh aku sama sekali tidak menganggapmu sebagai adik angkatku, walau aku ini memiliki dua energi Yin dan Yan, bukan berarti aku harus menjadi suamimu.
Walau kita bukan saudara kandung, tapi bagiku kamu adalah adik kesayanganku satu-satunya dan adik yang sudah membuatku berhasil mencapai Tahap Raja Alam.
Aku harap kamu mengerti, sekarang kemampuanku sudah menurun, demi kamu, ayah dan ibu, aku harus pergi untuk kembali mendapatkan kekuatanku yang hilang, dengan kalian sebagai penyemangat, aku tidak akan kembali sebelum menjadi lebih kuat.
Jaga diri baik-baik selama aku pergi, teruslah berlatih bersama Naomi, patuhilah perintah Senior Wang, dan aku titipkan Ayah dan Ibu kepadamu, aku harap saat sudah kembali nanti, kamu sudah berada di tahap Raja Alam.
Sampai jumpa lagi, dari kakakmu Yuan Tian!"
Chie Xie terdiam dan air matanya mulai mengalir di kulitnya yang lembut putih dan bening bagai kristal.
Memang yang tertulis di surat itu sangat tepat, Chie Xie yang sejak dulu memuja kakaknya serta satu-satunya orang yang menjadi panutannya serasa berat jika harus menjadi suaminya kelak.
Jika dilihat dari sisi mata orang lain, memang sikap Chie Xie terlihat seperti menyukai Tian Feng, itu wajar karena karena sikap itu menunjukkan betapa sayangnya Chie Xie terhadap kakak satu-satunya itu.
__ADS_1
Walaupun dia sudah tahu jika Tian Feng sama sekali tidak memiliki darah keluarga Yuan, namun Chie Xie sudah menganggapnya sebagai kakak kandungnya.
"Maafkan atas sifat kekanak-kanakanku ini gege! Mulai saat ini aku akan berusaha bersikap lebih dewasa lagi, dan gege tidak perlu khawatir terhadap ayah dan ibu, selama gege belum kembali, aku akan menjadi pengganti darimu melindungi keluarga!" kata Chie Xie dengan nada pelan.
Naomi menghampiri Chie Xie yang masih merenungi rasa penyesalannya yang sudah salah menilai Tian Feng dan tidak melihat betapa besar pengorbanan kakaknya itu demi dia dan keluarganya.
Naomi mengelus rambut Chie Xie dengan lembut kemudian berkata, "Kamu tidak perlu merasa sedih Xie Xie, aku akan selalu disini bersamamu serta akan ikut melindungi keluargamu!" kata Naomi.
Chie Xie menyeka air matanya kemudian dia bangkit dan dengan mata yang sudah berubah dari kesedihan menjadi tatapan penuh semangat, dia menoleh kearah Naomi kemudian dia mulai berbicara.
"Jiejie! Ayo kita temui Guru Wang, kita juga harus berlatih agar semakin kuat dan suatu saat tidak membebani Tian gege lagi!" kata Chie Xie.
Perubahan sikap Chie Xie yang mendadak itu membuat Naomi terkejut kemudian dia dan Chie Xie bergegas pergi menemui Wang Dunrui dengan niat ingin berlatih.
***
Pertempuran besar yang sudah berlalu itu masih menjadi bahan pembicaraan di setiap sudut wilayah Kerajaan Wutong.
Pertarungan dalam skala besar yang melibatkan banyak para Pendekar juga menjadi topik di setiap jalan di beberapa daerah.
Tentu saja yang paling menonjol adalah pertarungan anggota Organisasi Bintang Hitam melawan Pendekar Dewa Sesat juga tidak luput dari pembahasan semua orang.
Pertarungan maha dahsyat dan diluar nalar itu sudah mengguncang seluruh wilayah Kerajaan Wutong hingga ke tempat-tempat terpencil yang jauh dari kota-kota besar.
Walau kemunculan suara binatang aneh saat malam itu juga ramai, namun yang paling hangat dibicarakan tetap peperangan itu, dan yang lebih baru lagi akan perebutan singgsana istana oleh Zhi Yu Zhuan.
Tian Feng yang sudah duduk dengan Ho Chen di sebuah kursi kayu, dan dihadapan mereka sudah di sediakan beberapa makanan hangat tidak memperdulikan orang-orang yang membicarakan masalah tersebut.
Desa yang mereka singgahi berada jauh dari Kota Xanhuo, dengan bantuan Ho Chen, mereka berdua sudah berada sangat jauh dari rumah dalam waktu singkat.
"Tian, sepertinya dinding dunia dimensi ini muncul secara acak dan berubah-ubah!" kata Ho Chen.
Tian Feng yang masih mengunyah makanannya menatap Ho Chen kemudian dia mulai bertanya kepada Ho Chen.
"Lalu bagaimana cara mengetahui dinding dimensi itu yang pecah dan lokasinya yang akan muncul?" tanya Tian Feng.
"Aku akan terus mengawasi jika tidak ketemu, maka secara terpaksa akan membukakan pintu dimensi secara paksa," jawab Ho Chen.
Setelah selesai makan, Tian Feng berniat melanjutkan obrolannya di jalan saja.
Saat ingin bangkit, tiba-tiba saja ada keributan dari arah meja lain. Seorang pelayanan gadis muda yang sedang mengantarkan pesanan ketiga orang pria dengan pedang panjang yang diletakkan di sampingnya.
"Nona cantik duduklah di pangkuanku ini!" kata salah seorang yang memiliki penampilan rambut panjang diikat rapi.
Pelayanan tersebut jelas merasa takut, hingga salah satu dari mereka ada yang meremas bokong gadis itu sehingga gadis yang ketakutan dan keget itu tanpa sengaja menumpahkan sup ikan yang masih panas itu ke pria yang sudah melecehkannya.
"Sialan ini sangat panas sekali..! Kamu ini harus bertanggung jawab!" kata pria tersebut yang bangkit karena kepanasan, ditambah lagi kuah panas itu jatuh tepat mengenai kejantanannya.
__ADS_1
"Ma...maaf..!"
Gadis itu yang menangis ketakutan berusaha meminta maaf, namun dengan kejinya pria yang sedang marah itu justru meraih lengan gadis tersebut kemudian tubuh gadis tersebut di jatuhkan di atas meja hingga semua makanan kocar-kacir jatuh kelantai.
Gadis tersebut semakin menangis histeris dengan wajah pucat dan sangat ketakutan. Namun tangisan gadis tersebut justru membuat ketiga pria itu tertawa seperti sedang menikmati alunan tangis gadis tersebut.
Salah satu pria dengan tanpa rasa malu langsung melecehkan gadis tersebut dengan meremas payu dara gadis tersebut, bahkan salah satu dari mereka ada yang merobek lengan baju gadis tersebut sehingga gadis yang tidak berdaya itu merasa syok dengan wajah menegang dan suaranya hampir hilang.
Masalahnya sekian banyak orang yang ada disana, tidak satupun yang mencoba menolong gadis malang yang dilecehkan secara terang-terangan di depan mata mereka.
"Tempat ini adalah tempat manusia, sejak kapan ada tiga bintang jantan berbaur disini?"
Suara tawa cekikikan yang secara tidak langsung mengarah kepada ketiga pria itu membuat seluruh orang yang ada disana menoleh dan melihat dua orang pria muda sedang duduk dengan tenang dan salah satu pemuda itu sedang memainkan tulang ikan yang berduri ditangannya.
Semua tatapan orang yang tertuju kepada kedua pria itu memasang wajah seperti rasa iba, seolah-olah dua pria muda itu sudah mencari masalah.
Tentu saja ucapan itu terdengar oleh ketiga pria tersebut, salah satu dari mereka menatap kedua pria itu dengan tatapan tajam dan meraih pedangnya kemudian berjalan dengan wajah galaknya mendekati kedua pria tersebut.
"Apa kamu bilang barusan? Aku tidak dengar, ulangi lagi ucapanmu!" kata pria berkumis tipis yang tadi kesiram kuah ikan.
"Aku rasa semua orang disini sudah mendengar dengan jelas! Atau jangan-jangan telingamu itu tidak pernah dibersihkan? Owh aku lupa, binatang kan tidak bisa membersihkan kotoran telinganya sendiri!"
Wajah pria tersebut langsung merah padam setelah pemuda yang memegang tulang ikan itu kembali mengejeknya dengan tertawa.
"apa kau sudah bosan hidup?"
Seiring dengan ucapannya yang mengandung kemarahan, dia mencabut pedangnya dan berniat memberikan serangan tebasan ke leher pemuda itu.
Sss!!
"Haup!!"
Suara angin dingin dari arah tulang ikan yang melayang dengan kecepatan tinggi tiba-tiba saja melesat dan masuk tepat kedalam mulut hingga nyangkut di tenggorokan pria berkumis yang ingin menyerangnya.
Tentu saja pria tersebut langsung tersedak dengan mata terbelalak karena tulang ikan itu memiliki beberapa ujung yang sangat runcing.
Beberapa tulang yang langsung menancap di rongga tenggorokan pria itu membuat pria itu kesakitan setelah menjatuhkan pedangnya.
"Kakak..!" kedua pria rekannya yang masing memegang gadis yang terbaring di atas meja yang berantakan itu segera menghampiri rekannya yang kesakitan.
Mereka berusaha membantu mengeluarkan tulang ikan tersebut dengan berbagai cara dan setelah beberapa saat, akhirnya tulang ikan itu berhasil dikeluarkan.
"Beraninya kamu berbuat demikian kepada kakak seperguruan kami! Siapa kamu? Kenapa kamu berani menyakiti murid Perguruan Pedang Matahari?" tanya salah satu dari mereka.
"Hahaha.. Ternyata kalian dari perguruan Pedang Matahari! Aku tidak pernah menduga jika Perguruan Aliran Suci ini memiliki murid tidak bermoral seperti kalian, kemana Bao He, apakah dia tidak pernah mengajarkan kalian cara bersikap selayaknya aliran Suci?" tanya pemuda tersebut yang tidak lain adalah Tian Feng.
Ketiga pria itu terkejut saat Tian Feng menyebut nama salah satu Guru di Perguruan Pedang Matahari.
__ADS_1
Perguruan Pedang Matahari adalah salah satu perguruan menengah aliran Suci, Tian Feng pernah mendengar jika perguruan tersebut ada satu Pendekar yang dulu hampir masuk jadi sepuluh besar Pendekar terkuat di Kerajaan Wu.
Namanya adalah Bao He, Pendekar Pedang Matahari yang berada di Tingkat Cahaya Tahap 1, namun itu sekitar 30 tahun yang lalu, kalau sekarang mungkin sudah naik ke tahap 2.