Kesatria Tombak Nirwana

Kesatria Tombak Nirwana
Tiba di Kuil Sengshan


__ADS_3

***


Biksu Xe Wong adalah salah satu biksu dengan kemampuan ilmu beladiri yang cukup hebat, walau tidak memiliki energi besar, namun ilmu beladiri nya yang beragam membuat Biksu Xe Wong sangat disegani.


Kemampuan Biksu Xe Wong sampai di akui oleh Raja Yin Han selaku Raja di Kerajaan Jiu, tidak hanya karena ilmu beladiri nya saja yang terkenal hebat, bahkan dalam menyebarkan Dharma pun para murid Kuil Sengshan secara terus menerus memberikan nasehat dan mengingat akan pentingnya mempelajari Dharma.


Memang Organisasi Bintang Hitam sudah mulai menyebarkan ajaran-ajaran baru melalui para pengikutnya yang menyebar di beberapa daerah hingga ke berbagai Negara serta Kerajaan lain, namun Kuil Sengshan juga tidak tinggal diam.


Bisa dikatakan jika Kuil Sengshan adalah saingan berat Bintang Hitam dalam menyebarkan agama.


Biksu Xe Wong saat ini sudah berusia seratus tahun lebih, alis panjang berwarna putih serta kepala tanpa rambut membuat Biksu Xe Wong terlihat lebih berkharisma.


"Guru! Ada apa, kenapa Guru memanggil kami bertiga kesini?" tanya seorang Biksu muda yang datang bertiga dengan dua biksu lainnya.


Biksu Xe Wong masih duduk menghadap kesebuah patung Buddha dengan menghitung jari-jarinya dan kemudian dia mulai menarik nafas.


"Wu Jian! Sepertinya tidak lama lagi kuil kita akan kedatangan tamu! Aku minta kepada mu untuk membawa beberapa murid biksu untuk menunggu di depan dan menyambut kedatangan empat orang yang akan datang!" kata Biksu Xe Wong.


"Baik guru, saya akan membawa Lima Biksu untuk menyambut mereka!" jawab Wu Jian kemudian dia mundur dan keluar bersama dua rekannya untuk melaksanakan perintah gurunya.


Xe Wong menutup kembali matanya dan dia kembali membaca kitab Buddha dengan penuh perasaan.


Setelah selesai membaca kitab Buddha, Biksu Xe Wong menatap wajah patung Buddha seraya bergumam.


"Buddha! Apakah yang akan datang ini adalah utusan mu? Jika iya, kenapa harus ada satu orang berhati gelap yang ikut dengan mereka?"


Jauh sebelum saat ini, Xe Wong pernah meramalkan jika akan ada seseorang yang akan datang untuk menemui dirinya.


Dalam ramalannya dia mendapatkan petunjuk jika orang yang akan datang adalah orang pilihan yang akan belajar beberapa ilmu padanya.


Biksu Xe Wong bangkit kemudian dia mengambil jubahnya kemudian dia pergi keluar untuk menyambut tamu yang akan datang.


Diluar sendiri banyak para biksu muda yang sedang beraktivitas, ada yang menyapu, mengambil air, mengumpulkan kayu dan banyak kegiatan lainnya.


"Tao Chen! Suruh semua murid untuk berbaris karena sebentar kita akan kedatangan tamu!" kata Biksu Xe Wong.

__ADS_1


Biksu yang di panggil Tao Chen itu segera menyuruh para murid-murid biksu muda untuk segera menyelesaikan pekerjaan mereka dan setelah itu disuruh bersiap menyambut kedatangan tamu yang hanya Biksu Xe Wong yang tahu.


***


Wu Jian dan lima Biksu muda sedang berdiri tengah-tengah jalan utama menunggu tamu yang akan datang seperti yang dikatakan oleh Biksu Xe Wong.


"Saudara Jian! Apakah kamu tahu siapa tamu yang akan datang?" tanya salah satu temannya.


Wu Jian menggelengkan kepalanya, dia juga tidak tahu karena Xe Wong tidak menjelaskannya dengan detail.


"Lebih baik kita tunggu saja, walau harus seharian kita disini, kita harus tetap menunggu mereka!" kata Wu Jian.


Seluruh murid Kuil Sengshan memang dilatih untuk selalu bersabar dan menuruti semua perintah dari guru-gurunya termasuk perintah dari Xe Wong yang menjadi kepala Biksu tertua.


Setelah Matahari sudah tepat berada diatas kepala, barulah Wu Jian dan yang lainnya melihat seorang pemuda bertopeng dan satu gadis mengenakan gaun adat Foiberia terlihat berjalan kearah mereka.


"Apakah mereka berdua orang yang dimaksud?' tanya Salah satu dari mereka.


"Sepertinya bukan! Guru besar bilang jika tamunya ada empat orang, sedangkan mereka hanya berdua saja!" jawab Wu Jian.


Toya Emas itu memiliki bentuk yang sama seperti dicatatan kuno! Apakah kalian ingat saat kita mengunjungi Kuil Gunung Suci? Toya itu memiliki pola serta ukiran yang sama seperti pada gambar catatan kuno!"


Mereka semua memperhatikan Toya Emas milik pemuda itu dan akhirnya mereka sama-sama mengenali Toya Emas tersebut.


"Kau benar sekali! Memang tidak salah lagi, itu adalah Toya Emas milik Dewa penjaga Bunga Lotus Emas! Tapi kenapa Toya Emas itu berada di tangan pemuda itu?" Wu Jian juga mengenali ukiran Toya Emas tersebut dan penasaran mengapa pemuda bertopeng itu bisa memiliki Toya tersebut.


"Mungkin hanya mirip saja! Bisa saja ada yang membuatnya dan secara kebetulan bentuk serta ukirannya menjadi sangat mirip!" salah satu Biksu muda berusaha menebak.


Ke-dua muda-mudi tersebut akhirnya tiba di dekat mereka, dan Wu Jian menyapa ke-duanya, "Tuan dan Nona berdua! Kalian mau kemana?" tanya Wu Jian.


"Kenapa masih bertanya! Bukankah sudah jelas kami ini mau pergi ke Kuil Sengshan! Inikan jalan menuju kesana," jawab gadis bermata biru tersebut.


Si pemuda bertopeng hanya tersenyum hangat sebelum ikut menjawabnya, "Para Biksu sekalian, nama ku adalah Tian Feng dari Kerajaan Wu, aku ingin pergi ke Kuil Sengshan karena ada seseorang yang ingin aku temui!" kata Tian Feng sekaligus mengeluarkan surat pengantar dari Ratu Sie.


Wu Jian membuka surat tersebut dan kemudian mengangguk serta mengembalikannya kembali kepada Tian Feng.

__ADS_1


"Apakah kalian hanya datang berdua atau masih ada dua lagi di belakang kalian?" tanya Wu Jian.


"Kami hanya berdua saja, dan jika kamu ingin bertanya dua orang lagi, iya ada ini bayangan kami!" jawab Gadis bermata biru itu yang tidak lain adalah Alice.


Alice berubah sikap setelah melihat ke-lima Biksu tersebut, bagaimana tidak berubah, sebab Kuil Sengshan adalah salah satu Kuil yang menjadi saingannya dalam menyebarkan Dharma sesat.


Tian Feng sendiri juga heran karena Alice yang tiba-tiba saja bersikap tidak sopan, apalagi kepada para biksu dihadapannya.


"Akhirnya dia menunjukkan taringnya juga!" suara Xian berbicara kepada Tian Feng.


"Iya sepertinya begitu!" jawab Xanzi.


Wu Jian tersenyum kemudian membungkukkan badannya seraya berkata, "Maafkan saya jika pertanyaan saya telah menyinggung Nona, mari ikut kami, kami akan membawa kalian ke Kuil kami!" kata Wu Jian.


"Seharusnya sejak tadi!" kata Alice.


"Nona Alice! Jaga sikapmu," Tian Feng berbisik agar Alice menjaga sikap.


"Em kenapa aku harus menjaga sikap dihadapan para manusia gundul seperti mereka?" tanya Alice seraya menaikkan alisnya.


Tian Feng hanya menghela nafas panjang sebelum akhirnya dia membuka topengnya agar Alice menjadi penurut, namun itu hanya percobaan saja siapa tahu berhasil.


Seketika itu juga jantung Alice serasa berhenti berdetak dan tidak bisa berbicara apa-apa saat melihat wajah Tian Feng untuk ke-dua kalinya tanpa mengenakan topeng.


Seperti biasa Alice tidak bisa berkedip atau memalingkan wajahnya karena untuk bisa melihat wajah Tian Feng saat ini sangatlah langka.


Jangankan Alice yang terpana atas ketampanan wajah Tian Feng, bahkan Wu Jian dan yang lainnya juga ikut terpana.


Sebenarnya Alice ingin bertanya maksud Tian Feng membuka topengnya, namun dia tidak bisa bersuara dan memilih menikmati wajah Tian Feng saja dari pada bertanya, dari pada nanti Tian Feng kembali menutup wajahnya dengan Topeng jeleknya.


"Mari ikut kami!" kata Wu Jian.


Tian Feng akhirnya pergi mengikuti Wu Jian bersama Alice yang tidak bisa melepaskan pandangannya dari wajah Tian Feng.


"Akhirnya aku tiba juga di Kuil Sengshan!" batin Tian Feng.

__ADS_1


Setelah melewati berbagai macam rintangan sekaligus menambah wawasan dan pengalaman hingga hampir dua tahun, kini dia sudah tiba di Kuil Sengshan, dan Tian Feng tidak sabar ingin lekas bertemu dengan Biksu yang bisa mengajarinya Jurus Tombak.


__ADS_2