Kesatria Tombak Nirwana

Kesatria Tombak Nirwana
bakat alami Xihua


__ADS_3

***


Lie Yie dan Yuan Xia terkejut saat mendengar jika Tian Feng akan menikah dengan Naomi, Lie Yie tidak ingin kabar tersebut sampai di dengar oleh Alice karena Lie Yie khawatir Alice akan sangat terluka jika mendengar kabar itu.


Walau Lie Yie dan Yuan Xia mencoba agar Alice tidak mendengar kabar tersebut, ternyata Alice sudah lebih dulu tahu dan kini semua keluarga Yuan Xia berkumpul di ruang tamu, selain mereka masih ada Wang Dunrui, Yinfei, Lio Long, Xi Liyi, Lang Yu, Chie Xie, Dan Hiroshi.


Mereka semua berkumpul karena di antara mereka ada sesosok Dewa yang datang untuk menjemput mereka semua dan akan membawa semuanya ke Kahyangan, semua itu atas perintah dari Ho Chen.


"Apa kamu yakin mau ikut juga menantu?" tanya Lie Yie.


"Ibu tidak perlu khawatir!" jawab Alice dengan tersenyum lembut.


"Alice, maaf kakek tidak bisa ikut denganmu, ada hal penting yang harus di selesaikan di istana hingga Wei Fang kembali dari Kerajaan Xiadong!" kata Louis.


Alice mengangguk kemudian dia melihat kearah Xihua yang sedang bersama dengan Chie Xie.


"Bibi Xie! Apakah kita akan bertemu ayah nanti?" tanya Xihua.


Chie Xie menggendong Xihua kemudian dengan tersenyum lembut dia menjawab, "Iya, kita akan pergi menemui ayahmu!" jawab Chie Xie.


"Aku sudah tidak sabar ingin melihat ayah!" ucap Xihua dengan mata birunya yang membuat dirinya terlihat sangat cantik dan menggemaskan.


Xihua saat ini hampir berusia lima tahun, sifat Xihua tidak ada bedanya dengan sifat anak seusia pada umumnya, dia sangat periang dan juga cerewet namun cukup cerdas melebihi anak lain yang segenerasi dengan dirinya.


Yang membedakan Xihua dengan anak lainnya adalah, Xihua memiliki kekuatan sejak dilahirkan, bahkan tanpa berlatih apapun saat ini Xihua sudah memiliki kekuatan di tahap Raja Bumi dan Xihua bisa melayang sejak dirinya bisa berjalan.


Walau memiliki kemampuan besar yang alami, Alice tetap berusaha memantau dan juga mengontrol kekuatan Xihua agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkan.


Xihua masih belum memiliki ilmu dan jurus apapun karena usianya yang masih sangat kecil, walau belum memiliki ilmu dan jurus apapun, Xihua mampu melepaskan energi hitam yang mampu membuat seorang pendekar cahaya bertekuk lutut dihadapannya.


Semua para pendekar meyakini jika kelak Xihua pasti akan menjadi seperti ayahnya yang akan menjadi seorang pendekar berkekuatan Dewa terkuat menggantikan ayahnya di Kerajaan Wutong.


"Apakah kalian sudah siap? Jika sudah kita akan segera pergi!" kata Dewa yang menjemput mereka.


"Kami sudah siap Dewa!" jawab Yinfei.


"Kalau begitu kalian semua harus menutup mata terlebih dahulu!" kata Dewa yang sebenarnya dia adalah salah satu Dewa dari Empat Dewa Mata Angin, dia bernama Xuan Wu Dewa Mata Angin Utara.


Semuanya segera menutup mata dan setelah itu Xuan Wu membuat sihir perubahan pandangan agar nanti saat mereka membuka mata di Kahyangan, mereka akan merasa seperti merasa di dunia merah sendiri.


Xuan Wu mengerutkan dahinya saat sihirnya ditolak oleh salah satu dari mereka, semua orang sudah berhasil dia rubah pandangan dan nantinya mereka tidak akan menyadari jika sebenarnya nanti mereka berada di Kahyangan, namun ada satu yang tidak bisa Xuan Wu sihir, dia adalah Xihua.


Sihir Xuan Wu sama sekali tidak berhasil mengubah pandangan Xihua, bahkan sihir Xuan Wu berbalik arah saat hampir menyentuh Xihua, seolah-olah ada kekuatan besar yang melindungi Xihua.


"Aneh sekali, kenapa gadis kecil ini bisa menepis sihirku?" batin Xuan Wu.


Xuan Wu mencobanya kembali, namun hasilnya tetap sama, andai karena tidak takut melukai Xihua yang masih kecil, Xuan Wu pasti sudah menggunakan sihir tingkat tinggi untuk memaksa sihirnya menembus pelindung yang dimiliki oleh Xihua.


Merasa tidak memiliki banyak waktu lagi dan segala usahanya terhadap Xihua gagal, Xuan Wu akhirnya hanya bisa menghela nafas panjang kemudian segera membuat segel tangan dan memunculkan pilar energi cahaya dari langit.

__ADS_1


Mereka semua dapat merasakan tubuh mereka seperti di tarik ke udara, namun tidak ada satupun dari mereka yang membuka mata sebelum Xuan Wu menyuruh mereka untuk membuka mata.


Louis yang melihat semua orang sudah tertutupi oleh pilar energi cahaya hanya bisa menghela nafas saat melihat cucu dan cicitnya sudah mulai tidak terlihat.


"Tian Feng...!" Louis hanya bisa menggelengkan kepalanya saat mengingat Tian Feng yang sudah menjadi menantunya, dan kini dia justru akan menikah lagi dengan gadis yang batal di nikahi oleh Tian Feng karena Alice.


Walau sedikit kecewa terhadap Tian Feng, namun Louis juga tahu jika semua itu juga karena Alice yang meminta Tian Feng untuk menikahi Naomi.


Akhirnya semua orang menghilang bersamaan dengan menghilangnya pilar energi cahaya yang melesat ke langit, dan semuanya dibawa pergi menuju ke Kahyangan.


***


"Sekarang kalian sudah bisa membuka mata!" kata Xuan Wu.


Mereka semua segera membuka mata masing-masing, saat membuka mata, mereka melihat banyak sekali bangunan megah yang tak terhitung jumlahnya.


"Ini wilayah kerajaan mana? Sepertinya Kerajaan Jiuxi sekalipun masih kurang besar jika di bandingkan dengan kota ini?" tanya Yuan Xia.


Xuan Wu sama sekali tidak menjawab pertanyaan Yuan Xia, dia lebih memperhatikan Xihua karena dia yakin Xihua pasti melihat pemandangan yang berbeda dan itu benar saja saat Xihua mulai berbicara.


"Bibi, kenapa banyak sekali gunung yang terbang?" tanya Xihua.


Chie Xie melihat Xihua dengan heran kemudian dia menatap ke langit karena Xihua juga menatap keatas, namun yang Chie Xie lihat bukan gunung yang melayang, melainkan awan putih saja.


Chie Xie berpikir jika yang Xihua lihat hanyalah sebuah imajinasinya saja sehingga dia mengumpamakan jika awan di langit itu adalah sebuah gunung yang melayang.


Xuan Wu hanya bisa tersenyum kecut, dia merasa aneh karena sihirnya yang tidak bisa menutup pandangan gadis kecil tersebut.


"Hem.. Aku pikir tempat para dewa itu di kahyangan, ternyata anggapanku selama ini salah!" kata Xi Liyi yang dijawab dengan anggukan oleh semua orang termasuk Yinfei.


"Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan ayah! Kapan kita menemui ayah?" Xihua kembali mengoceh.


"Sabar! Ini kita akan segera menemuinya!" kata Lie Yie kemudian dia mengendong Xihua menggantikan Chie Xie.


Mereka semua berjalan mengikuti Xuan Wu di belakang, dan mereka merasa sedang berjalan di jalan besar yang di penuhi oleh banyak orang yang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.


Jelas merasa tidak sadar jika sebenarnya yang mereka lihat sebenarnya hanyalah sebuah ilusi hasil dari sihir Xuan Wu, namun ilusi tersebut tidak dirasakan oleh Xihua yang sesekali melihat kearah lain dan melihat ada beberapa sosok yang terbang kesana kemari dan sebagian ada yang berjalan di atas kabut.


Setelah jalan hingga cukup jauh, mereka semua berhenti di sebuah rumah besar yang biasanya di miliki oleh para pejabat besar, bahkan lebih besar lagi dari rumah saudagar kaya raya.


"Kita sudah sampai di rumah Dewa Ho Chen!" kata Xuan Wu.


Mereka semua berdecak kagum melihat besarnya rumah tersebut, yang mereka lihat saat ini adalah sebuah rumah yang sangat luas dengan tiang rumah bagian depan seperti terbuat dari giok.


Xi Liyi dan Lang Yu sampai lupa berkedip dan mereka atau semuanya tidak ada yang menduga jika rumah Ho Chen sebesar itu.


Memang istana Xi Liyi di dunianya sebagian terbuat dari emas, namun untuk membuatnya dari batu giok, Xi Liyi belum bisa melakukannya karena batu giok itu sangat langka dan untuk Giok yang memiliki kwalitas terbaik harganya sangat mahal.


Xuan Wu berniat memanggil Ho Chen, namun belum sempat dia bersuara, suara seperti pria tiba-tiba terdengar dari atas mereka.

__ADS_1


"Kalian..!"


Semuanya menoleh ke atas dan melihat sosok yang sudah lama pergi dan tentunya mereka sengat mengenal sosok tersebut.


"Tian..!"


"Gege..!"


Semuanya memanggil sosok tersebut kecuali Xihua yang masih menatap sosok tersebut dengan seksama, namun Xihua masih belum bereaksi seperti yang lainnya karena ini baru pertama kalinya dia melihat sosok tersebut, walau dia sudah tahu jika nama ayahnya adalah Tian Feng, namun baru kali ini dia melihatnya.


Tian Feng segera turun dan kemudian dia bergegas menghampiri Alice terlebih dahulu yang menatapnya dengan tatapan penuh haru.


"Alice maaf aku tidak pernah memberikan kabar padamu!" kata Tian Feng.


Alice yang masih menatap wajah Tian Feng dengan tatapan mata birunya langsung memeluk Tian Feng seraya menjawab, "Aku mengerti dan kamu tidak perlu meminta maaf padaku, bagiku melihatmu baik-baik saja itu sudah cukup membuatku bahagia!" kata Alice.


"Kalian berdua kenapa? Kalau mau bermesraan jangan dulu disini! Ingat disini tidak hanya ada kalian berdua saja," kata Chie Xie.


Tian Feng melihat kearah Chie Xie, wajah adik manja kesayangan itu saat ini sudah sangat dewasa dan juga semakin cantik, Tian Feng menebak itu semua pasti karena energi Yin yang membuat Chie Xie memancarkan aura yang memikat.


"Kamu sudah tumbuh dewasa Xie'er, aku hampir saja terpesona akan kecantikan wajah mu itu!" kata Tian Feng.


Chie Xie tersenyum malu mendengar ucapan Tian Feng kemudian dia menghampirinya dan memeluk Tian Feng, entah mengapa Chie Xie selalu merasa nyaman saat berada di dekat kakak angkatnya itu, dan saat memeluknya Chie Xie seperti merasakan hal lain.


"Tian, kamu tidak melupakan kami kan?" kata Lie Yie.


"Ibu, ayah, senior semua, tentu saja Tian tidak akan melupakan kalian!" kata Tian Feng.


Lie Yie dan Yuan Xia menghampiri Tian Feng kemudian keduanya sama-sama tersenyum lebar melihat Tian Feng yang sama sekali tidak berubah saat dia pergi terakhir kali bersama Ho Chen, seolah-olah Tian Feng tidak bertambah usianya walau terlihat ada bekas kumis dan jenggot yang baru habis di potong.


Xihua menarik-narik lengan baju Alice sehingga Alice menoleh kebawah dan melihat Xihua yang hampir terabaikan karena rasa bahagianya yang bertemu kembali dengan Tian Feng.


"Ibu, apakah ayah akan mengenaliku?" tanya Xihua dengan berbisik.


Alice tersenyum lembut kemudian balik berbisik, "Mari kita lihat!" kata Alice kemudian dia mendekatkan Xihua kesamping Tian Feng.


Tian Feng yang asik mengobrol dapat merasakan kehadiran Xihua di sampingnya, dan secara refleks dia menoleh kearah Xihua yang tubuhnya melayang sekitar satu jengkal dari lantai.


Tian Feng duduk membungkuk dan menatap wajah gadis kecil itu, hanya sekali lihat saja, Tian Feng langsung mengetahui jika gadis kecil itu adalah darah dagingnya sendiri.


"Xihua, kamu sudah besar dan cantik seperti mamamu! Apakah kamu tahu siapa aku?"


Xihua mengangguk kemudian dia berkata, "Ayah!" kata Xihua sehingga Tian Feng langsung memeluk putrinya dengan penuh kasih sayang.


Tian Feng langsung terkejut saat merasakan kekuatan putri kecilnya itu seraya bergumam dalam hati, "Raja Bumi..!"


Rasanya Tian Feng ingin menangis, dia sendiri saja butuh waktu dan latihan keras dulunya untuk bisa mencapai tahap Raja Bumi, namun bakat alami Xihua saat ini, dia tidak perlu bersusah payah berlatih sudah memiliki kemampuan Raja Bumi di usai yang hampir menginjak lima tahun.


"Ayah..! Ayah sangat tampan," kata Xihua.

__ADS_1


"Eeee... Putri ayah ini masih kecil sudah bisa menilai ketampanan laki-laki!" kata Tian Feng sambil mencium pipi Xihua.


Semuanya tertawa mendengar Xihua yang memuji ketampanan ayahnya, dengan sikap Xihua yang menggemaskam itu tidak ada orang yang tidak bisa tahan untuk tidak tertawa.


__ADS_2