Kesatria Tombak Nirwana

Kesatria Tombak Nirwana
Kemunculan para penghuni nirwana


__ADS_3

***


"Dewa Hitam, aku akan menghadapinya, jadi jangan sampai Naga itu menggangguku!" kata Chinmi kemudian dia juga melepaskan seluruh energinya.


Walau tidak mengubah wujudnya, namun kemampuan Chinmi tidak jauh berbeda dengan kekuatan milik Ho Chen, jarak antara kemampuan Ho Chen dan Chinmi hanya di pisahkan satu benang, dan tentu saja Ho Chen yang berada di atasnya.


"Apakah pangeran yakin?" tanya Dewa Hitam.


"Apakah kamu punya cara lain? Jika tidak lakukan seperti rencanaku!"


Dewa Hitam hanya bisa mengangguk kemudian dia menatap kearah Naga petir yang menangguhkan tubuhnya ruang hampa. Mata Dewa Hitam berbahaya biru kemudian tubuhnya perlahan-lahan berubah menjadi seekor Naga Hitam Perkasa.


"Ayo maju...!" seru Chinmi kemudian dia dan Naga Hitam sama-sama bergerak menyerang lawan masing-masing.


"Sihir Badai Api Langit."


Chinmi memfokuskan energi Apinya ke tengah-tengah telapak tangannya kemudian dia mengarahkan telapak tangannya kepada Ho Chen.


"Sihir Air Suci."


Ho Chen juga melakukan hal yang sama kemudian dia mengadu tapaknya dengan tapak Chinmi. Ketika membentur suara teredam yang terserap ke arah dia tapak yang beradu itu membuat semua pergerakan seperti terhenti kemudian sebuah ledakan besar dan terang tercipta dari kedua tapak yang membuat bola cahaya putih raksasa tercipta disana.


Bola Cahaya ledakan tersebut hanya bertahan kurang dari tiga tarikan nafas sebelum akhirnya meledak seperti sebuah ledakan bintang yang mampu menciptakan gelombang kejut yang menyebar luas.


Chinmi terseret sangat jauh kebelakang sedangkan Ho Chen menggunakan Energi angin untuk menahan tubuhnya agar tidak terhempas.


Telapak tangan keduanya sama-sama bergetar setelah sama-sama memberikan serangan sebesar itu, namun keduanya tidak memiliki waktu untuk mengambil nafas terlalu lama.


Chinmi kembali memberikan serangan berbagai macam elemen sihir yang disertai dengan serangan jarak dekat dari serangan pukulan serta tendangan yang juga mengandung kekuatan yang sangat besar, serangan sengit yang di lancarkan oleh Chinmi dibalas dengan serangan yang sama oleh Ho Chen sehingga setiap kali Pukulan dan benturan energi bertabrakan, akan tercipta bermacam-macam ledakan besar yang menggetarkan Alam semesta.


Di pertarungan lain, Naga Hitam berhasil menekan Naga Petir, keduanya juga bertarung sangat sengit, cambukan petir yang menyambar kesegala penjuru mencipta suara gemuruh keras serta ledakan yang tidak kalah besarnya dengan ledakan yang ditimbulkan oleh pertarungan Ho Chen dan Chinmi.


Naga Petir meliuk-liukan ekornya kemudian badai petir yang sangat banyak jumlahnya menyebar ke segala arah kemudian berbelok dan menyerang Naga Hitam secara serempak.


Naga Hitam membentangkan sayapnya kemudian energi samar-samar yang tidak terlihat mengubah energi alam menjadi energi api hijau dan berputar mengelilingi tubuh Naga Hitam hingga ribuan petir menyambar ke api hijau tersebut.


Setelah semua Petir habis, kini giliran Api Hijau yang berubah menjadi busur di mulut Naga Hitam, setelah membentuk busur serta anak panahnya, mulut Naga Hitam meraung keras dan kemudian anak panah melesat dengan kecepatan yang luar biasa menuju kearah Naga Petir.


Naga petir menembakkan petir nya berkali-kali kearah anak panah api Hijau itu, namun semua usahanya sia-sia karena anak panah Api Hijau sangat kuat.


"Kau hanya Naga buatan, tidak mungkin bagimu bisa mengalahkan kekuatan Alami dari Naga yang sebenarnya ini!" kata Dewa Hitam.


Anak panah tersebut segera mengenai kepala Naga petir sehingga Naga Petir hancur menjadi serpihan petir di ruang hampa dan tubuhnya berubah menjadi bola.cahaya kemudian ikut hancur menjadi serpihan petir yang menyebar kesegala arah.


Kini hanya tersisa pertarungan antara Chinmi melawan Ho Chen yang masih berlangsung sengit, keduanya tidak benar-benar terlihat imbang karena kondisi Chinmi sangat tidak di untungkan.


Ho Chen mendaratkan serangan tapaknya yang sudah di beri tanda segel Swastika ke pinggang Chinmi sehingga membuat Chinmi terlempar sangat jauh kemudian dia memuntahkan seteguk darah segar dari mulutnya.


Ho Chen kembali bergerak setelah melihat Chinmi mulai melemah, dia ingin secepatnya mendapatkan kembali tubuh Chinmi dengan menggunakan segel yang sudah ia tanamkan di tubuh Chinmi.


"Sayap Api Surga."


Dewa Hitam dalam wujud Naga Hitam menembakkan Api Hijau kearah Ho Chen yang hampir mendaratkan tapaknya ke tubuh Chinmi sehingga Ho Chen berbalik arah dan menangkap Api Hijau tersebut kemudian melemparkannya kembali kepada Dewa Hitam.

__ADS_1


Dewa Hitam segera melempar kembali apinya untuk menahan Api hijaunya yang sudah di kembali dengan mudah oleh Ho Chen membuat kedua berbenturan dan menimbulkan badai Api panas yang berputar mengisi seluruh area pertempuran di ruang angkasa itu.


"Kenapa dia bisa memiliki salah satu Api surga?" batin Ho Chen.


Biasanya para Pengawal Kaisar Kegelapan lebih cendrung ke energi Hitam, bahkan apinya biasanya adalah api hitam abadi yang akan di lepaskan, namun pengawal kali ini sungguh sangat berbeda.


Tidak hanya bentuknya yang berwujud Naga Hitam Perkasa, namun sihir Api yang di gunakan adalah sihir Api dari salah satu Api surga seperti Api Teratai Buddha Emas.


Ho Chen memang bingung, namun dia tidak mau ambil pusing, dia segera membuat segel tangan untuk menyerang menyegel tubuh Chinmi, namun lagi-lagi Dewa Hitam kembali menghalanginya.


"Pangeran Muda, ayo kita serang bersama-sama!" kata Dewa Hitam kepada Ho Chen.


"Ayo..!" kata Chinmi kemudian keduanya menyerang Ho Chen dengan serangan yang berbeda.


"Sihir Hitam Penghancur Bintang."


"Pusaran Badai Api Surga."


Chinmi dan Dewa Hitam melepaskan dua sihir terkuat mereka kearah Ho Chen, namun Ho Chen segera membuat mantra tangan namun gagal setelah sesuatu tiba-tiba saja bergetar dari jari-jarinya yang mengenakan cincin hitam.


"Cincin ini...!?" Ho Chen jelas terkejut melihat Cincin yang selema ini selalu menemani kini menunjukkan reaksi.


Selama Ho Chen mengenakan Cincin tersebut, dia sama sekali tidak mengetahui fungsi asli dari cincin itu, walau kabarnya Cincin tersebut adalah Cincin penghisap milik mantan musuhnya yaitu Ratu Sihir, namun Ho Chen sama sekali tidak tahu cara menggunakannya sehingga Cincin tersebut hanya menjadi hiasan saja.


Kali ini Cincin itu menunjukkan reaksi aneh, tepat saat Ho Chen masih bingung, tiba-tiba saja sebuah pusaran hisap muncul dari Cincin nya dan menghisap dua energi yang menuju kearahnya.


Chinmi serta Dewa Hitam sama-sama muntah darah setelah Cincin Ho Chen menyerap dia ilmu mereka dengan sangat mudahnya.


Disaat yang sama dari jauh terlihat gumpalan kabut putih yang sangat tebal bergerak menuju kearahnya, Ho Chen menyipitkan matanya kemudian segera mengenali kabut tebal itu.


"Ternyata mereka juga mau turun tangan!" gumam Ho Chen.


Wajah Chinmi serta Dewa Hitam menjadi lebih kusut setelah melihat kabut hitam yang hampir memenuhi alam semesta, "Para Dewa serta pasukan langit? Ini sangat buruk!" kata Dewa Hitam.


Kecepatan pergerakan kabut tersebut dalam waktu singkat sudah sampai di tempat mereka, setelah itu kabut tersebut terbelah menjadi dua dan terlihat banyak Dewa yang berada di barisan depan serta tentara langit yang tak terhitung jumlahnya.


"Dewa Pelindung Alam Semesta, kami datang atas perintah langsung dari Kaisar Langit untuk membantumu menangkap mereka berdua!" kata sosok dewa yang menegang sebilah pedang panjang.


"Guru Cao dan semuanya, terima kasih atas bantuan kalian semua, namun sepertinya ini tidak akan mudah!" kata Ho Chen dan dia menatap kearah lain dengan tatapan yang serius.


Wajah Chinmi dan Dewa Hitam yang sebelumnya sempat tenggelam kini berubah menjadi lebih lega ketika melihat gumpalan kabut hitam yang bergerak cepat menuju kearahnya.


"Para Pasukan Kaisar Kegelapan juga datang!" kata Ho Chen.


Semua Dewa menatap kearah kabut hitam tersebut yang sudah tiba di belakang Chinmi dan Dewa Hitam, kabut tersebut terbelah menjadi dua dan terlihat belasan Pengawal Kaisar Kegelapan terkuat berada di barisan depan dan di belakang mereka juga banyak tentara Kegelapan yang berbaris.


Ho Chen menarik nafas dalam-dalam, dia tidak menduga jika situasinya akan berubah dan menjadi lebih besar hingga melibatkan kedua belah tentara yang saling berhadapan.


"Chinmi, walau An Huang Yi mengirimkan bantuan untukmu, namun aku tetap akan menangkapmu!" kata Ho Chen yang sudah berdiri di depan para Dewa serta tentara langitnya.


"Coba saja kalau kamu bisa!" kata Chinmi.


Ho Chen dan para Dewa lainnya bersiap untuk mengangkat senjata, namun mereka di kejutkan oleh kabut lain yang datang dari arah lain, kabut tebal itu berwarna hijau seolah-olah seperti kabut racun, namun para Dewa lainnya selain Ho Chen mengenali kabut tersebut.

__ADS_1


"Pasukan Iblis? Kenapa pasukan Iblis juga datang kesini?" tanya salah Panglima Dewa perang.


Ho Chen mengerutkan dahinya mendengar hal itu, dia pernah mendengar jika para Dewa sebenarnya juga memiliki musuh alami mereka yaitu para suku Iblis yang dulu ingin menempati kahyangan namun di tolak oleh Kaisar Langit sehingga menimbulkan peperangan besar yang merugikan kedua belah pihak.


Kabut hijau itu segera berhenti dan kemudian kabut tersebut terbelah menjadi dua, setelah semua kabut sudah pindah, terlihat ada belasan sosok besar dan tinggi dengan kemampuan yang bervariasi, dan di belakang belasan terkuat itu juga berdiri barisan tentara dengan senjata unik mereka.


"Kalian para Dewa! Sekaranglah waktunya untuk melanjutkan urusan kita dulu sempat terhenti!" kata sesosok iblis yang memegang lapak besar dan panjang serta di letakkan di bahunya.


"Panglima Iblis Suo Zan, kenapa kamu bisa keluar dari dunia bawah, apakah Kaisar kalian tetap bersih keras untuk menduduki Singgasana Langit lagi? Kamu harus tahu jika kami juga tidak akan membiarkan itu terjadi!" kata Dewa Roda Api yang mengenali sosok Panglima tersebut.


"Kami tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan hak kami! Kalian semua para Dewa terlalu angkuh merasa diri paling Mulya dari kami akan segera menerima balasan dari Kaisar Iblis," kata Panglima Iblis Suo Zan.


"Kami tidak pernah merasa seperti itu, Kaisar kalian sendiri yang berpendapat demikian hingga berani menyerang Kahyangan dan berakhir dengan sangat memalukan, andai tidak ada campur tangan sang Buddha, Kaisar Iblis kalian pasti sudah lama di binasakan!" kata Jendral Dewa Perang Cao Yuan.


"Kamu sudah berani menghina Kaisar kami? baiklah kalau begitu!" Iblis Suo Zan mengangkat kapaknya kemudian berseru lantang, "Ayo serang dan habisi semua tentara langit serta para Dewa ini!" seru Panglima Suo Zan.


Semua pasukan Iblis bersorak dan mengangkat senjata mereka keatas dan berteriak dengan penuh semangat.


"Berhenti kalian semua!"


Saat berniat menyerang, tiba-tiba seruan yang menggema terdengar kearah mereka semua membuat ketiga kubu sama-sama berhenti dan menoleh kearah sumber suara.


Mereka melihat sebuah cahaya yang memancar Aura beraneka warna datang menghampiri tempat mereka yang sudah bersiap untuk bertarung.


Iblis Suo Zan memasang wajah suram saat mengenali Aura agung tersebut, dia memberi isyarat kepada para pasukannya untuk tidak bergerak dulu sekaligus bergumam sendiri dengan pertanyaannya, "Para Buddha juga datang kesini?"


Ho Chen dan semua para dewa serta tentara langit segera memberi hormat mereka kearah Cahaya beraneka warna itu, setelah beberapa saat muncul lima sosok Agung dengan cahaya terang dan menyilaukan mata.


Aura agung yang terpancar dari masing-masing tubuh suci itu membuat siapapun yang melihatnya akan merasakan kesejukan hati serta kedamaian.


Namun bagi para pasukan Kegelapan dan pasukan Iblis memasang wajah penuh kecemasan dengan Aura agung yang terpancar dari tubuh para Buddha.


"Iblis tanpa wajah, gunakan salah satu pasukan kita untuk di rubah wajahnya menjadi Pangeran Muda Kegelapan!" kata Dewa Hitam yang kini sudah kembali ke wujud manusianya.


Iblis tanpa wajah segera mengerti kemudian dia mengubah wajahnya menjadi Chinmi sedangkan Chinmi dan para Pengawal Kaisar Kegelapan menggunakan segel perpindahan.


"Mau kamu bawa pergi kemana tubuh Xi Jing Zi energi hitam? Kembalilah kesini," kata salah satu Buddha yang duduk di atas bunga Teratai.


Chinmi yang berniat pergi tiba-tiba saja tidak bisa menggerakkan tubuhnya sebelum akhirnya dia tiba-tiba saja berpindah tempat dengan sendirinya dan berada dihadapan Buddha Rulay dalam kondisi tubuh terikat oleh sebuah benang emas yang lembut bagai sutra namun sangat kuat.


Chinmi dan semua pengawal Kaisar Kegelapan jelas terkejut melihat Chinmi yang begitu mudahnya tertangkap oleh Buddha Rulay, bahkan Ho Chen saja yang sudah terbiasa dengan keajaiban Buddha Rulay masih ikut terkejut.


Kemunculan para penghuni nirwana sudah mampu membuat dua kubu pasukan merasa ragu untuk tetap maju, tentu mereka tahu jika para Buddha memang memiliki kemampuan yang sangat tinggi, bahkan kemampuan Chinmi yang berada di puncak Dewa Agung sekalipun seperti sangat lemah di hadapan para Buddha.


Walau hanya lima Buddha yang datang, namun itu sudah lebih dari cukup untuk membuat kedua prajurit dari dua belah pihak sama-sama menelan ludah.


"Lepaskan aku..!" kata Chinmi yang masih berusaha untuk melepaskan diri, namun dia benar-benar tidak bisa bergerak.


Buddha Rulay hanya tersenyum lembut kemudian dia menatap kearah dua pasukan dari kubu pasukan Iblis dan kubu Pasukan Kegelapan, mereka semua menelan ludah saat mata terang Buddha Rulay memperhatikan mereka semua.


"Kalian semua sudah membuat keseimbangan seluruh Alam semesta jadi kacau! Katakan kepada Azura untuk tetap diam, jangan sampai aku mengutus salah satu muridku untuk mendatanginya!" kata Buddha Rulay kemudian tatapan beralih kearah pasukan Kegelapan.


Iblis tanpa wajah yang sebenarnya sudah mengubah wajahnya kini kembali ke wajah aslinya kemudian melihat kearah Chinmi yang sudah tertangkap tak berdaya di dalam ikatan tali halus berwarna emas.

__ADS_1


__ADS_2