
***
Pertempuran di Kahyangan yang belum usai sudah membuat kerusakan di beberapa tempat, walau dalam hal kekuatan Kahyangan lebih unggul, namun dua sosok yang memiliki kekuatan setengah langkah Rana Agung ternyata memiliki keahlian yang sangat sulit untuk dikalahkan.
Tidak hanya dalam segi Pertarungan, bahkan dalam segi kelincahan, kedua sosok tersebut berhasil membuat Raja Agung Selatan dan Raja Agung Utara naik pitam dan menyerang dengan kekuatan penuh mereka berdua.
"Kalian benar-benar menjengkelkan!" Seru Raja Agung Utara kemudian dia menggunakan pusakanya yang mirip seperti pena lalu menggambar sebuah tanda di udara.
"Kuasa Rana - Delapan Api Suci."
Tanda gambar diagram delapan sisi melayang di udara dan kemudian dari delapan sisi tersebut keluar sebuah energi dan berkumpul di tengah-tengah diagram hingga membentuk sebuah bola energi padat.
Raja Agung Utara yang mempertahankan segel tangannya segera melepaskan energi tersebut ke arah kedua sosok yang disibukkan oleh Raja Agung Selatan.
Cahaya bola itu ditembakkan dengan kecepatan tinggi ke arah kedua sosok tersebut, sedangkan Raja Agung Selatan langsung berpindah tempat setelah cahaya dari Delapan Api Suci menembak secara kilat.
"Kuasa Rana - Cermin Kembar Kegelapan."
Kedua sosok tersebut menyatukan tangan kemudian dengan segel rumit dan juga cepat, keduanya melepaskan pertahanan mereka membentuk sebuah cermin hitam.
Sinar Cahaya Delapan Api Suci dengan kekuatan yang luar biasa langsung membentur cermin tersebut.
Seharusnya kekuatan sebesar itu bisa menghancurkan dinding apapun, bahkan dinding perisai energi yang dibuat oleh seseorang setingkat Raja Agung akan pecah jika menerima serangan sekuat itu, namun cermin hitam gabungan dua kekuatan justru mampu bertahan, dan tidak hanya mampu bertahan saja, melainkan mampu memantulkan kembali serang Cahaya Delapan Api Suci itu ke arah Raja Agung Utara.
"Kamu pikir bisa mengalahkanku dengan menggunakan seranganku sendiri ha? Kalau begitu rasakan yang ini!" seru Raja Agung Utara.
Setiap sisi diagram kembali bercahaya, namun kali ini tidak melakukan penyatuan, melainkan menembak secara bersamaan ke arah Cahaya api yang mengarah kembali padanya.
Delapan bola cahaya memiliki ukuran lebih kecil dari bola cahaya api yang pertama saling susul menyusul melesat ke arah bola pertama hingga ledakan besar di langit menggetarkan seluruh Kahyangan.
Kini tersisa enam bola cahaya yang masih melesat ke arah cermin kembar dengan membawa aura panas yang sangat besar.
Benturan pertama menghasilkan ledakan yang membuat pertahanan kedua sosok aneh itu sedikit goyang, kemudian disusul dengan benturan kedua yang menghasilkan ledakan sedikit lebih besar.
__ADS_1
Tubuh kedua sosok itu mulai bergetar karena efek dari ledakan kedua, dan setelah itu bola ketiga mulai membentur dengan ledakan yang semakin kuat.
Retakan di cermin mulai terlihat setelah benturan yang ketiga, sedangkan kedua sosok itu juga seperti tidak mampu bertahan, namun mereka tetap berusaha untuk tetap mempertahankan segel mereka.
Dan benar saja, cermin gabungan itu akhirnya pecah ketika benturan yang keempat terjadi dan membuat tubuh kedua sosok itu terhempas jauh membentur salah satu daratan yang melayang.
Dua bola cahaya yang tersisa langsung mengejar keduanya yang kini berusaha bangkit kembali, begitu mereka berhasil bangkit, kedua langsung menggunakan sihir ruang waktu dan berpindah tempat sebelum dua bola itu mengenai mereka.
Daratan mengapung di udara itu akhirnya hancur begitu kedua bola tersebut jatuh mengenai daratan tersebut hingga meledak dan hancur menjadi bongkahan batu yang berterbangan ke segala arah.
Kedua sosok yang berhasil selamat dari serangan besar itu saling berpandangan kemudian sama-sama mengangguk membuat Raja Agung Utara Selatan mulai merasakan jika kedua sosok itu akan melakukan sesuatu.
Kedua Raja Agung langsung melesat dengan melepaskan energi agung mereka untuk bertindak lebih dulu sebelum kedua sosok itu melakukan sesuatu yang lebih.
Walau kemampuan kedua sosok berada di bawah kedua Raja Agung, namun ketika keduanya bergandengan tangan, kedua nya benar-benar sangat sulit untuk dikalahkan, bahkan dengan kemampuan Puncak Rana Agung mereka berdua.
Kedua sosok itu kini sama-sama merentangkan kedua tangan mereka ke atas dan kemudian sebuah hisapan misterius segera muncul dari kedua telapak mereka masing-masing.
Hisapan tersebut mulai menyerap energi, namun energi yang diserap hanya energi Hitam saja. Dan yang membuat semuanya terkejut, energi yang diserap ternyata adalah energi milik para sosok yang memiliki kemampuan Dewa Agung yang saat ini tersisa tujuh saja karena tiga lainnya sudah berhasil dikalahkan oleh dua Raja Agung Timur dan Barat.
"Cepat hentikan mereka..!" seru Raja Agung Timur karena dia merasakan kekuatan kedua sosok misterius itu yang melonjak saat menghisap energi para pasukannya sendiri.
Ketiga Raja Agung lainnya juga merasakan hal yang sama begitu juga dengan para Dewa lainnya.
Mereka secara serempak bergerak untuk menyerang kedua sosok yang belum menyelesaikan hisapan energi para pasukannya.
Masing-masing dewa melepaskan sihir mereka ke arah kedua sosok tersebut dan begitu semua serangan sudah hampir mencapai ke tubuh kedua sosok itu, saat yang bersamaan kedua sosok tersebut juga sudah selesai menyerap energi para pasukan Kegelapan sehingga pancaran kekuatan yang melebihi puncak Rana Agung segera mementalkan semua sihir yang mengarah kepada mereka berdua.
"Saatnya Penghancuran!" kata salah satu dari mereka berdua kemudian mereka berdua bergandengan tangan lalu berseru.
"Segel Penyatuan Kegelapan - Tahap Rana Ilahi."
Semua Dewa yang kembali melepaskan serangan terbaik mereka kini menutup mata saat tubuh kedua sosok itu bercahaya terang kemudian ledakan energi yang sangat besar langsung menghempaskan semua senjata dan sihir milik para dewa, bahkan banyak para prajurit dan beberapa dewa yang juga ikut terhempas karena terkena pukulan gelombang energi yang sangat besar.
__ADS_1
Keempat Raja Agung juga menyatukan kekuatan mereka kemudian melepaskan energi pelindung agar bisa menahan gelombang energi yang kemungkinan besar akan menghancurkan apapun yang dilewatinya.
Berkat keempat Raja Agung itu, para Dewa di belakang mereka bisa sedikit bernafas lega kemudian Dewa Mata Tiga dan para Jenderal perang segera menyalurkan energi mereka kepada keempat Raja Agung untuk memberikan bantuan.
Tubuh kedua sosok yang bercahaya itu mulai redup dan kemudian hilang sepenuhnya, namun saat semuanya sudah bisa kembali melihat, betapa terkejutnya mereka saat melihat ke arah kedua sosok itu berada.
Kedua sosok tersebut ternyata tidak lagi berdua, melainkan hanya ada satu sosok saja, namun dari bentuk tubuh mereka, sepertinya tubuh keduanya telah bergabung menjadi satu, semua itu bisa dilihat dari postur tubuh serta kekuatan mereka yang sangat mengerikan.
"Kekuatan ini hampir sama dengan kekuatan Dewa Pelindung Alam Semesta!" seru Dewa Cai Ling.
"Rana Ilahi, mereka menyerap sebagian energi Hitam hingga keduanya sama-sama naik ke tahap puncak Rana Agung, setelah itu dua kekuatan puncak Rana Agung menjadi satu dan terlahir kekuatan ini, ini sungguh di luar akal!" kata Dewa Mata Tiga.
Dewa Mata Tiga sudah mengetahui cara untuk bisa mencapai tahap Rana Ilahi, caranya tidak sama seperti yang kedua sosok itu lakukan, tanpa melakukan pemahaman apapun, kedua sosok itu dengan mudahnya bisa mencapai tahap Rana Ilahi.
"Kekuatan Kegelapan ini benar-benar dipenuhi dengan teknik-teknik aneh! Apakah ini salah satu teknik rahasia Kegelapan yang selama ini tidak diketahui oleh kami para Dewa?" gumam Cao Yuan.
Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan Cao Yuan, sebab mereka semua juga baru kali ini akan bertarung melawan kekuatan besar.
"Sebaiknya kita minta bantuan Naga Suci Kuno saja, aku yakin dia pasti bisa mengalahkannya!" kata Dewa Bintang Timur.
"Naga Api Xu Guang saat ini sedang tidak bisa diganggu, dia sedang melakukan pertapaan Naga untuk menembus ke tahap terakhirnya!" kata Dewa Mata Tiga.
"Kalau begitu harapan kita satu-satunya adalah Dewa Ho Chen dan Dewa Sesat, mereka disini hanya mereka berdua saja yang memiliki kekuatan terbesar!" kata Dewa Obat.
"Benar sekali, sebaiknya kita meminta bantuan salah satu dari mereka saja!" Dewa Mata Tiga melirik ke arah salah satu daratan yang masih utuh, bahkan rusak pun juga tidak, daratan mengapung itu tidak lain adalah dataran tempat kediaman Ho Chen berada.
Karena lawan yang harus dihadapi memiliki kekuatan Rana Ilahi, maka lawan yang seimbang dengan sosok tersebut hanyalah Ho Chen atau Tian Feng saja.
"Dia pasti akan segera turun tangan!" gumam Mata Tiga.
Mereka tidak menyadari jika sebenarnya Ho Chen dan Tian Feng tidak ada disana, namun tidak lama setelah itu, sebuah riak dari jauh segera dirasakan oleh keempat Raja Agung.
"Awas ada tiga kekuatan besar menuju kesini!" seru Dewa Agung Timur.
__ADS_1
Semuanya melihat ke arah yang para Dewa Agung itu lihat, dan mereka melihat ada tiga titik cahaya dari arah Barat, cahaya yang berkedip-kedip itu semakin lama semakin terang dan kemudian mereka melihat tiga sosok bertubuh cahaya yang terbang membawa gelombang badai di belakang mereka.
"Itu Dewa Ho Chen dan Dewa Sesat!" seru salah satu dari mereka yang langsung mengenali aura kedua sosok dari tiga sosok yang datang.