
"Uwa..uwa?"
Naga Emas kecil kembali muncul untuk memakan Spiritual Tangan Naga Hitam yang tubuh sudah hancur menjadi debu, masalah ketika menunggu beberapa saat, jejak spiritual Tangan Naga Hitam sama sekali tidak bisa dirasakan keberadaannya.
Tian Feng terlihat tidak peduli akan kebingungan Naga kecil yang mencari jejak spiritual Tangan Naga Hitam, dia kini mengarahkan ujung tombaknya ke arah Siluman Kabut seraya melontarkan pertanyaan.
"Katakan padaku apa yang sebenarnya Kaisar kalian rencanakan?" tanya Tian Feng.
"Hah, kenapa? Apakah setelah mendengar itu kamu marah lalu ingi menakuti ku setelah membunuh dua temanku?" Siluman Kabut justru balik bertanya.
"Terserah kamu saja, jika kamu memang ingin bernasib sama seperti temanmu tadi, maka jawablah dengan jujur!" kata Tian Feng dan dia juga menoleh kearah Dewi Penghisap Arwah.
"Kamu memang kuat, dan kami tidak berdaya di hadapanmu, namun kami juga bukan penghianat, kami sudah bersumpah akan selalu menjaga kerahasian Kaisar kami walau nyawa kami yang akan menjadi taruhannya!" jawab Siluman Kabut.
"Jadi kalian lebih memilih mati? Baik akan aku kabulkan!" ucap Tian Feng kemudian tubuhnya yang masih tertutupi oleh energi dari berbagai elemen semakin membesar, dan petir merah di tombaknya juga semakin kuat.
Melihat Tian Feng yang terlihat sudah tidak memiliki keraguan lagi untuk membunuh mereka berdua, mau tidak mereka harus melawan Tian Feng walau mereka tahu jika tidak akan mungkin bagi mereka berdua untuk menang, setidaknya mereka masih bisa melawan dari pada tidak sama sekali dan mati tanpa memberikan perlawanan.
"Sihir Angin Angkasa."
"Sihir Kabut Neraka."
Keduanya secara bersamaan menyerang Tian Feng dengan sihir andalan mereka masing-masing, hanya saja keduanya tidak menggabungkan sihir itu seperti sebelumnya.
Hembusan angin yang sangat kuat dan memiliki pisau angin yang sangat tajam menerjang Tian Feng dengan sangat ganas,di tambah lagi dengan kabut berwarna merah yang memiliki kandungan Zat Asam.
Tian Feng yang terlihat tidak terpengaruh sama sekali mengarahkan tombaknya ke belakang sekaligus menambah kekuatan energi Petir merah nya.
"Kuasa Rana - Tombak Nirwana."
Tian Feng melepaskan sabetan ke arah kedua lawannya kemudian energi petir merah melesat dengan menembus sihir kedua lawannya tanpa beban.
Dewi Penghisap Arwah dan Siluman Kabut terkejut saat serangan mereka di tembus dengan mudahnya oleh energi peti merah milik Tian Feng.
Keduanya langsung melompat kearah lain untuk menghindari serangan tersebut, sedangkan Tian Feng dengan jarinya mengerakkan energi tersebut dan mengejar Siluman Kabut.
__ADS_1
"Sialan!"
Siluman Kabut mengumpat saat melihat petir merah itu mengejarnya, dia melepaskan banyak sihir untuk menahan gerakan petir merah itu, namun semua usahanya sia-sia saja.
Petir merah itu akhirnya menyambar tubuh Siluman Kabut, dan ternyata Siluman Kabut tidak merasakan sakit sedikitpun ketika petir itu mengenainya.
!!?"
Kejadian itu membuat bingung semuanya termasuk Tian Feng dan juga Dewi Penghisap Arwah, hal ini juga membuat Siluman Kabut ikut terkejut sendiri.
"Hahaha..! Ternyata seranganmu tidak berpengaruh padaku Dewa Sesat.. Sekarang ayo lepaskan semua seranganmu padaku!" kata Siluman Kabut yang terlihat tidak takut lagi.
"Hem..! Tubuhnya itu sebagian dari kabut asli sehingga membuat petir tombak ku sama sekali mempan padanya!" gumam Tian Feng.
Dewi Penghisap Arwah segera menghampiri Siluman Kabut kemudan bertanya padanya akan barusan yang terjadi kepadanya.
Setelah mengetahui cerita Siluman Kabut, Dewi Penghisap Arwah akhirnya ikut merasa senang dan bernafas lega.
Tian Feng masih berusaha berpikir kemudian kembali melepaskan serangan yang sama sebanyak tiga kali, namun semua hasilnya sama, hal itu justru membuat Siluman Kabut dan Dewi Penghisap Arwah semakin merasa berada di atas angin.
"Ada empat elemen terkuat yang masing-masing saling melengkapi dan juga saling berlawanan, apakah kamu tahu itu?"
"Xanzi, kemana saja kalian bertiga, kenapa setelah kalian selesai berkomunikasi dengan Gu Huan malah menghilang?" tanya Tian Feng.
"Kami tidak menghilang atau apapun itu, kami hanya tidak ingin keluar saat Gu Huan akan menemui, sebab jika sampai kami semua tidak diam, yang ada hanya akan menggangu penyatuan dirimu dengan Gu Huan!" jawab Xanzi.
"Tapi setidaknya kalian kasih tahu aku dulu agar aku tidak kebingungan!" ucap Tian.
"Owh iya maaf, tapi kita urus dulu Asap itu!" kata Xanzi.
Tian Feng menceritakan akan apa yang terjadi terhadap Siluman Kabut serta serangan Petir Merah nya yang tidak mempan terhadap dia.
"Sudah kubilang jika sebenarnya ada empat elemen dasar terkuat yang memiliki kekurangan dan kelebihan masing, contoh Api yang menjadi musuh Air, namun Api memiliki dukungan dari angin yang mampu membuat dirinya menjadi lebih kuat, lalu menurutmu sebuah asap itu berasal dari elemen apa?" tanya Xanzi.
"Bisanya dari api, namun ada juga yang dari air!" jawab Tian Feng.
__ADS_1
Memang cukup aneh karena selama ini tidak ada yang mengatakan jika ada asap, pasti ada api, namun asap tidak hanya satu-satunya elemen yang tercipta dari Api yang bersatu dengan benda lain sehingga menciptakan sebuah asap, namun ada juga yang sejenis dengan asap, namamu adalah kabut, dan kabut tercipta dari gabungan dua elemen, yaitu Air dan Api.
Baik asap ataupun kabut sama-sama memiliki satu kelemahan yaitu Angin, jika Angin bisa memperbesar Api, namun nyatanya Angin juga menjadi musuh bagi asap dan juga kabut.
"Benar juga, kalau begitu..!"
Tian Feng menatap telapak tangan kirinya kemudian dia mulai menggunakan energi Angin.
Senyum lebar di wajah Siluman Kabut langsung menghilang saat dia merasakan ada sesuatu di telapak tangan Tian Feng,.dia dapat merasakan bahaya sehingga mulai merubah sikap.
"Kau terlalu percaya diri, kamu harus tahu jika aku saat ini sudah memiliki Lima Elemen dasar, jadi aku tahu akan apa kelemahanmu."
"Kuasa Rana - Hembusan Dewa Angin."
Tanpa bicara lebih banyak dengan Siluman Kabut, Tian Feng mengarahkan telapak tangan kirinya ke arah Siluman Kabut dan kemudian dia melepaskan sebuah pusaran angin kecil namun memiliki tekanan kuat berputar kearah Siluman Kabut dengan kecepatan tinggi.
"Sihir Angin."
Dewi Penghisap Arwah langsung melepaskan sihirnya untuk menahan serangan Tian Feng, namun sayang karena dia juga sudah kehilangan cukup banyak energi, sihir Angin nya tidak mampu menahan serangan Angin milik Tian Feng.
Siluman Kabut berusaha menjauh dan bergerak kesana-kemari demi menghindari kejaran Angin kecil milik Tian Feng, hanya saja pusaran Angin yang menggulung awan itu seperti ular yang mengejar katak.
Angin tersebut dengan lihainya mengejar Siluman Kabut yang masih berusaha menjauh, namun sayang kecepatan Siluman Kabut sudah berkurang sehingga Pusaran angin itu langsung menggulung dirinya.
Pusaran angin Tian Feng langsung membesar ketika berhasil menangkap tubuh Siluman Kabut. Semua yang berada kurang dari sepuluh meter di dekat pusaran itu akan dia tarik oleh Pusaran angin yang sudah membesar, sedangkan Siluman Kabut yang berusaha untuk bertahan akhirnya tidak mampu.
Tubuhnya yang separuh manusia dan separuh kabut itu langsung menghilang di dalam pusaran angin yang besar itu. Siluman Angin lenyap seketika itu juga seperti Tangan Naga Hitam.
Kekuatan Sihir dari Kuasa Rana akan mampu melenyapkan seseorang hingga tak tersisa, bahkan jiwanya sekalipun juga akan musnah.
Hal ini yang masih belum di sadari oleh Tian Feng karena dia juga baru pertama kalinya bisa menggunakan kekuatan sihir Kuasa Rana.
Kini hanya tersisa Dewi Penghisap Arwah dan para prajurit Kegelapan, mereka semua tidak ada yang berperang lagi, apalagi dari lima pengawal yang memimpin mereka kini hanya tersisa satu Pengawal saja.
"Sekarang adalah giliran mu!" ucap Tian Feng dengan menatap Dewi Penghisap Arwah dengan dingin.
__ADS_1
***
Maaf jika banyak typo nya.