Kesatria Tombak Nirwana

Kesatria Tombak Nirwana
Pertarungan sudah usai


__ADS_3

Sebenarnya tanpa bantuan Ho Chen dan Tian Feng sekalipun, para Dewa yang lain termasuk keempat Raja Agung pasti bisa menyelesaikan sisa pasukan Kegelapan, karena sejak awal lawan yang paling merepotkan dan sulit untuk dikalahkan hanyalah Penjaga Kembar yang saat ini bertarung dengan Chinmi.


Jika sudah ada lawan yang bisa menghadapi si Penjaga Kembar, maka pasukan Kegelapan yang tersisa bukanlah masalah yang berarti.


Entah kenapa semua dewa termasuk keempat Raja Agung merasa sungkan terhadap Ho Chen dan Tian Feng, mungkin karena faktor kemampuan mereka berdua yang membuat semua dewa hanya bisa diam melihat Tian Feng dan Ho Chen yang membersihkan para sisa Prajurit Kegelapan tanpa meninggalkan sisa apapun selain asap hitam lalu menghilang.


Ratusan prajurit Kegelapan yang masih bertahan mencoba untuk melarikan diri dan menghindari debu yang bercahaya halus namun sangat mematikan bagi mereka, hanya saja tidak ada ruang bagi mereka untuk bersembunyi maupun lari dari debu-debu yang menutupi hampir seluruh Kahyangan.


Pembersihan yang dilakukan oleh Ho Chen dan Tian Feng paling cocok disebut sebagai pembantaian, sebab tidak ada celah sedikitpun bagi para pasukan Kegelapan itu untuk meloloskan diri, yang ada hanya lenyap dan lenyap tak tersisa.


Hanya dalam waktu yang relatif singkat saja, para prajurit Kegelapan yang tersisa sudah bisa dihitung dengan jari, bahkan kondisi para prajurit yang tersisa lebih buruk daripada mereka yang sudah mati.


Tentu saja yang tidak ingin meninggalkan satupun dari mereka untuk tetap hidup hanyalah Tian Feng, dia jelas tidak akan membiarkan sisa Prajurit Kegelapan itu bernafas, tanpa berbelas kasih sedikitpun, Tian Feng ******* habis prajurit Kegelapan yang tersisa.


Kini pertempuran para prajurit mulai hening, yang ada hanya supaya dentuman keras berkali-kali di udara, dan itu berasal dari pertarungan Chinmi melawan Penjaga Kembar.


Tentu saja semua mata kini tertuju ke arah pertarungan sengit di udara, namun bagi mereka yang hanya memiliki kekuatan dibawah Dewa Agung sangat kesulitan untuk melihat pergerakan serta serangan, bahkan dengan mata Dewa sekalipun tetap tidak bisa terlihat.


Sedangkan Chinmi sendiri tidak memperdulikan tatapan semua yang ada di bawah kepada dirinya, dia lebih memilih fokus untuk melawan Penjaga Kembar itu, walau dirinya memiliki kemampuan yang lebih besar, namun Chinmi sama sekali tidak meremehkan lawannya yang memiliki kemampuan di bawahnya.


Rantai yang terus menyerang tanpa henti berkali-kali hancur di pedang Chinmi, hanya saja Penjaga Kembar tetap memberikan serangan hingga kekuatannya sendiri sedikit demi sedikit mulai berkurang.


"Kekuatan yang murni didapatkan dari pemahaman menuju ke Rana Ilahi jauh lebih kuat daripada kekuatan pinjaman, kali ini sosok itu telah menghadapi lawan yang salah!" kata Ho Chen.


Ho Chen dapat merasakan jika energi milik Penjaga Kembar itu sedikit demi sedikit mulai berkurang, mungkin karena energi yang ia dapat tidaklah murni, dan bisa saja ada batasan tertentu bagi Penjaga Kembar karena kekuatan sebenarnya adalah energi milik orang lain.


Penjaga Kembar yang menyerang secara terus menerus nafasnya mulai tidak stabil, sedangkan Chinmi sejak awal memang tidak membuang-buang energinya sehingga hanya bisa menghindar dan bertahan.


"Kenapa hingga saat ini bantuan yang direncanakan tidak kunjung tiba? Jika begini terus aku tidak hanya akan kalah, bahkan untuk menemukan sosok yang dicari oleh Tuan ku juga akan gagal!" gerutu Penjaga Kembar.


Penyerangan tersebut sebenarnya hanyalah sebagai pengalihan saja, dan begitu Kahyangan kacau dan semua para Dewa memfokuskan terhadap peperangan tersebut, akan ada serangan gelombang kedua sekaligus akan dikirim empat Penjaga Kembar lainnya untuk melacak keberadaan sosok gadis kecil yang dicari oleh Zhi Yin.


Namun hingga saat ini, bantuan atau gelombang kedua tidak juga kunjung datang, apalagi saat ini Penjaga Kembar yang berhadapan dengan Chinmi sudah benar-benar terdesak.


"Sepertinya energimu sudah mulai menurun, jika demikian kita akhiri saja pertarungan ini!" ucap Chinmi kemudian dia mengalirkan Energinya ke pedangnya hingga pedangnya berubah menjadi hitam.


"Aku tidak perlu menggunakan sihir Dewa untuk mengalahkanmu!" ucap Chinmi kemudian dia mulai melepaskan jurus Pedangnya.

__ADS_1


"Jurus Pedang Tiupan Angin - Pedang Badai Angin."


Chinmi melepaskan tebasan beruntun ke arah Penjaga Kembar dan setiap tebasannya akan menciptakan energi pedang berupa angin lalu pecah menjadi badai angin besar serta mengandung angin tajam di dalamnya.


Penjaga Kembar yang mulai kehabisan energi hanya bisa bertahan dengan memutar Rantainya hingga membentuk sebuah tameng pelindung.


Badai angin yang begitu besar dan tajam itu langsung menyayat rantai hitam dengan sengat ganasnya, bahkan awan gelap juga ikut tersapu oleh badai angin tersebut.


Penjaga Kembar berusaha dengan sisa energi yang ia miliki, namun energi pedang yang pecah menjadi badai angin terlalu besar untuk ditahan, padahal itu bukanlah sebuah serangan sihir, namun serangan pedang yang dilepaskan memiliki daya perusak yang sebanding dengan ilmu sihir.


Pertahanan Penjaga Kembar akhirnya tidak membuahkan hasil, rantai yang menjadi tameng pelindungnya harus hancur berkeping-keping dan tubuh Penjaga Kembar langsung menerima sayatan badai angin hingga pakaiannya terkoyak.


"Argh…!"


Suara teriakan kesakitan Penjaga Kembar terdengar ke seluruh penjuru langit Kahyangan, dan tubuh Penjaga Kembar terhempas cukup jauh.


Chinmi menghilang dari tempatnya dan kemudian muncul lagi tepat di belakang Penjaga Kembar yang masih terhempas.


"Dengan ini pertempuran akan berakhir," ucap Chinmi kemudian dia menekan telapak tangannya ke belakang dan mengumpulkan energinya pada satu titik.


"Segel Tapak Kegelapan."


Tentu saja Penjaga Kembar sangat terkejut dengan serangan Chinmi, namun dia sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa sehingga tapak Chinmi dengan sangat mulus mendarat di pinggang Penjaga Kembar tersebut.


Langit gelap tiba-tiba saja di tarik ke arah pinggang Penjaga Kembar yang terkena tapak Chinmi, setelah itu suara jeritan keras kembali terdengar dari Penjaga Kembar hingga seluruh langit ikut bergetar.


Aura hitam bagai gelombang laut terhisap ke tubuh Penjaga Kembar itu lalu sebuah ledakan yang sangat besar pun terjadi sehingga suara jerit kesakitan yang semakin keras kembali mengisi langit Kahyangan.


Ledakan yang disertai dengan suara gemuruh keras menciptakan gelombang angin besar yang menyapu awan gelap hingga cahaya kembali terlihat, bahkan gelombang dari kekuatan kegelapan juga ikut pecah dan menyebar di udara kemudian mulai menghilang hingga akhirnya lenyap.


Kini terlihat tubuh Penjaga Kembar yang jatuh dengan sangat cepat ke arah salah satu daratan apung yang sudah porak-poranda akibat pertempuran.


Tubuh Penjaga Kembar menghantam permukaan daratan hingga lubang besar tercipta dari belas jatuhnya Penjaga Kembar tersebut.


Chinmi dan Ho Chen serta Tian Feng muncul di atas jatuhnya Penjaga Kembar yang saat ini setengah dari tubuhnya terbenam kedalam tanah.


Penjaga Kembar tidak mati, hanya saja dia benar-benar babak belur dibuat oleh Chinmi, dan itu memang disengaja oleh Chinmi.

__ADS_1


"Apakah senior yakin tidak akan membunuhnya?" tanya Tian Feng.


"Iya, aku tidak akan membunuhnya sebelum aku mendapatkan semua informasi yang aku butuhkan, tapi kalian tenang saja, karena kekuatan kegelapan nya sudah aku segel, dan dia tidak akan bisa menggunakan kekuatannya lagi!" jawab Chinmi.


"Baiklah jika itu yang senior inginkan, sekarang pertarungan telah usai, setelah semua dibereskan, kita akan membahas akan penyerangan para Dewa ke Galaxy Hitam setelah aku dan Kaisar Kegelapan bertarung di Galaxy Merah," kata Tian Feng.


"Em.. kalau begitu aku akan menahannya di penjara segel, nanti setelah dia sadar, kamu bisa mulai menanyai nya!" kata Ho Chen.


Para Dewa dan semuanya segera kembali ke Istana Langit, sedangkan para prajurit yang sudah kembali pulih karena debu dari Ho Chen dan Tian Feng mulai membersihkan puing-puing bangunan yang hancur serta dengan sihir mereka, semua para prajurit serta beberapa dewa mulai melakukan sihir pemulihan.


***


Seluruh para Dewa besar saat ini berkumpul di aula Istana, di sana juga ada keempat Raja Agung yang selama ini tidak pernah terlihat, namun saat ini keempatnya sudah ikut berada di Aula Istana Langit.


Walau semua dewa besar telah berkumpul, namun Kaisar Langit juga belum terlihat di singgasananya, selagi menunggu Kaisar Langit datang, mereka semua saling mengobrol satu sama lain, terlebih lagi ada tujuh sosok yang memiliki kekuatan besar, dan keenam sosok tersebut sangat dihormati oleh semua para Dewa.


"Dewa Ho Chen, bisakah kamu memberitahu kami cara untuk bisa mencapai tahap seperti kalian bertiga?" tanya Guang Mu.


"Eee.. Sebenarnya bisa saja Raja Agung, namun untuk bisa mencapai tahap ini sangatlah sulit, hanya saja jika Raja Agung benar-benar ingin mengetahuinya, mungkin aku bisa memberikan sedikit arahan, dan soal berhasil atau tidaknya, itu tergantung keberuntungan Raja Agung!" jawab Ho Chen.


Sejak dulu Ho Chen memang tidak pelit untuk berbagi, apalagi soal sebuah pencapaian, menurutnya jika semakin banyak Dewa yang bisa mencapai tahap Rana Agung dan Rana Ilahi, maka itu akan lebih baik.


Namun semuanya tergantung dari pemahaman serta keberuntungan mereka sendiri nantinya, sebab semuanya membutuhkan pemahaman yang sangat dalam.


"Ah terima kasih Dewa Ho Chen, terima kasih!" kata Guang Mu yang sangat senang karena Ho Chen yang tidak keberatan untuk berbagi.


Siapa yang tidak tergiur akan kekuatan besar, apalagi kekuatan ini baru saja disaksikan sendiri seberapa besar dan kuatnya tahap Rana Ilahi.


Memang keberadaan mereka bertujuh saat ini sudah menjadi pusat perhatian dan juga perbincangan, terlebih lagi tentang keberadaan Chinmi yang mereka tahu sudah menjadi pengikut Kaisar Kegelapan.


Bagi mereka yang masih mengingat Chinmi, tentu mereka tidak akan lupa saat Chinmi dan Ho Chen sama-sama datang ke Kahyangan untuk pertama kalinya serta menerima Pusaka serta sama-sama diangkat menjadi Dewa.


Hanya saja Chinmi saat itu sangat disayangkan, dia yang memang mewarisi kekuatan Kegelapan melepaskan jabatan Dewanya dan menyerahkannya kepada Ho Chen, hal itu sempat membuat heboh kahyangan sebab dua salah satu Dewa pada akhirnya menjadi pengikut Kaisar Kegelapan.


Chinmi sama sekali tidak menghiraukan tatapan para dewa yang melihatnya dengan tatapan terheran-heran serta tidak percaya, Chinmi lebih memilih diam sambil memperhatikan bagian luar istana yang hanya berisikan awan dan langit.


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya sangat Kaisar Langit datang dan semua Dewa segera memberi hormat kepada Kaisar Langit.

__ADS_1


Setelah Kaisar langit menerima penghormatan mereka untuk dirinya, dia duduk di singgasananya kemudian tatapannya terarah kepada Chinmi.


__ADS_2