
Pasukan Gajah Kematian adalah pasukan khusus yang biasanya berada di barisan tengah saat memulai pertempuran.
Satu Gajah yang memiliki tubuh besar itu biasanya akan membawa Tiga sampai Lima orang prajurit elit terlatih yang terdiri dari satu pemanah, satu pengendali Gajah, dan satu lagi adalah tameng untuk menahan anak panah agar tidak mengenai prajurit pemanahnya.
Jika Lima orang maka dua pemanah dua pemenang Tameng dan satu pengendali Gajah, dan mereka yang berada didalam satu gajah harus saling bekerja sama untuk saling melindungi.
Mungkin jika.dilihat cukup mudah untuk menjatuhkan Gajah tersebut karena tubuhnya yang besar dan gerakannya yang tidak secepat kuda, seharusnya gajah itu bisa dilukai agar penunggang nya terjatuh.
Namun Gajah yang dibawa berperang itu adalah gajah pilihan dimana tubuhnya memiliki ukuran dua kali lipat dari normalnya, dan kulitnya sangat tebal.
Jika serangan biasa seperti panah para prajurit musuh atau serangan pedang dari para prajurit tidak akan mempu melukai gajah tersebut kecuali seseorang yang memiliki kemampuan sangat tinggi seperti Wei Fang dan para Pendekar yang memiliki kemampuan Cahaya.
Masalahnya walau Pendekar Cahaya sekalipun tidak akan mudah untuk bisa melukai Gajah tersebut dengan mudah, karena pemanah elite tersebut bukan prajurit sembarangan.
Paling rendah kemampuan pemanah itu berada di Pendekar Tingkat Atas, dimana setiap panah yang akan di lepas akan dialirkan Chi terlebih dahulu agar mampu melukai seorang Pendekar Cahaya.
Jika sasarannya adalah para prajurit tingkat rendah, hanya sekali panah akan mampu menewaskan tiga sampai empat orang sekaligus.
Saat ini Puluhan Gajah besar dikumpulkan dalam satu tempat guna mempersiapkan mereka untuk berangkat menggempur Kerajaan Wu.
Sudah sangat lama sekali semenjak perang terakhir kali dengan Kerajaan Wu yang hasil dari peperangan itu sebanding atau sama-sama mengalami kekalahan serta kerugian besar.
Kali ini dengan perhitungan matang serta strategi baru, Jiandai yakin akan memperoleh kemenangan, belum lagi ada bantuan Louis yang akan membawa beberapa Pengawal Organisasi yang terkuat.
Walau Louis tidak akan melibatkan para pengikut Organisasi, namun Luois tetap akan membawa beberapa Pengawal Bintang Hitam dari satu sampai sepuluh, dan itu sudah lebih dari cukup untuk menaklukkan Kerajaan Wu yang belum memiliki Raja pengganti.
"Siapkan semua peralatan tempur dan jangan ada satupun yang terlewati! Periksa baik-baik kwalitas senjata kalian dan jangan lupa bawa juga senapan dari Foiberia itu sebagai senjata pelengkap!" kata Salah satu Jendral berkulit hitam dan bertubuh besar.
"Jendral Suko bagaimana perkembangan pasukan kita yang berjaga di perbatasan?" tanya Jiandai.
"Tidak ada Paduka! Sepertinya pihak lawan tidak memberikan tanda-tanda pergerakan sama sekali, mungkin mereka menunggu kita yang menyerang duluan!" jawab Jendral Suko.
"Begini Jendral! Kita akan membagi dua pasukan untuk penyerangan ini, yang pertama adalah bantuan kepada para pasukan perbatasan."
Jiandai menjelaskan jika dia berencana akan mengirimkan seperdua pasukan untuk bersatu di perbatasan dan memberikan sinyal perang kepada pasukan musuh.
Saat itu pasti Pasukan musuh akan menghubungi Istana mereka karena mengira akan ada serangan besar-besaran di perbatasan, dan itu akan membuat sebagian pasukan Kerajaan Wu akan datang membantu mempertahankan perbatasan sehingga kekuatan di Istana pusat kota sendiri akan melemah.
Saat ada sinyal di mulai perang di perbatasan, Jiandai akan mengutus Jendral Perang yang lain untuk membawa semua pasukan menyerang pusat kota.
Pasukan itu akan terdiri dari empat Panji yaitu Armada laut, Pasukan Gajah Kematian, Pasukan Gagak, dan Pasukan Sayap Besi.
__ADS_1
Jiandai juga memperlihatkan sebuah gambaran Kota Xanhuo yang menjadi pusat Kota Kerajaan Wu serta pengaturan strategi dimana ada Empat Pion sebagai lambang dari ke-empat Panji yang akan menyerang.
Sedangkan yang akan menyerang perbatasan ada Dua panji saja yaitu Pasukan Kuda Hitam dan Pasukan Perbatasan, namun keduanya hanyalah sebuah pancingan saja.
Jiandai juga menjelaskan jika Louis dan sepuluh Pengawal Bintang Hitam juga akan bergabung, dua pengawal akan bergabung dengan pasukan dua Panji, dan Louis serta delapan pengawal lainnya akan bergabung dengan Empat Panji.
Jendral Suko memperhatikan setiap Pion yang di arahkan dari empat sudut yang dipisah sesuai rencana, menurutnya ada yang keliru dengan aturan strategi tersebut.
"Maaf jika saya lancang Paduka! Menurut saya sebaiknya kita serang dari dua arah saja, serangan pertama akan dimulai dari serangan Gagak dan Sayap Besi yang akan bergerak dari dua arah, dan setelah semua prajurit musuh keluar untuk berperang, kita luncurkan serangan gelombang ke-dua dari Gajah Kematian dan Armada laut," kata Suko.
Maksud Suko adalah dia ingin menggiring para pasukan musuh ke dekat laut agar serangan gelombang ke-dua lebih efektif, jika di bagi menjadi empat titik serangan dari empat arah hanya akan memperlambat dan menunda kemenangan, yang ada justru sebaliknya karena Suko yakin pasti para pendekar disana sudah bersiaga apalagi masih ada Wei Fang yang terkenal sangat hebat.
Wei Fang pasti sanggup melawan Pasukan Gajah seorang diri, dan jika Wei Fang mengetahui titik lokasi muncul pasukan gajah lebih dulu, dia pasti akan membawa beberapa para Pendekar untuk menghadang pasukan Gajah dan sisanya akan menyerang ketiga Panji.
Jiandai merasa tidak yakin akan penjelasan Suko, alasannya cukup sederhana, keberadaan Louis lah yang pasti akan merubah arus pertempuran berada di pihak mereka.
"Kamu tidak perlu menghawatirkan Wei Fang Suko, serahkan dia kepada salah satu Pengawal Bintang Hitam! Aku yakin Wei Fang sendiri tidak akan sanggup menghadapi salah satu dari mereka," kata Jiandai.
Suko akhirnya hanya bisa menurut dan akan melaksanakan rencana yang sudah Jiandai siapkan, dan setelah semuanya sudah siap, mereka semua berangkat ke Kerajaan Wu dengan menaiki ratusan kapal besar.
***
"Mata Tombak Menembus Badai."
"Putaran Tombak Udara."
"Tombak Dewa Menembus Langit."
Satu persatu Tian Feng mempelajari setiap jurus dari jurus Tombak yang di ajarkan langsung oleh Xe Wong.
Sudah tiga bulan Tian Feng berada di Kuil Sengshan, dan sejak dua bulan terakhir Tian Feng berhasil mengusai jurus dasar Tombak.
Setelah berhasil menguasai dasar-dasar dari jurus Tombak, Xe Wong melanjutkan melatih Tian Feng dengan berbagai jurus Serang Tombak yang semuanya memiliki serangan mematikan serta pertahanan yang sangat akurat.
Lebih dari ratusan macan nama jurus Tombak yang diberitahukan kepada Tian Feng, dan satu persatu Tian Feng mulai menguasainya, dan dalam satu bulan kemudian Tian Feng sudah berhasil menguasai sepuluh macam serangan tanpa menggunakan energi apapun.
Tian Feng juga sempat berlatih tanding dengan Xe Wong, walau kebanyakan Tian Feng yang kalah karena Xe Wong nyatanya lebih gesit dalam menggunakan jurus Tombak.
Saat ini Xe Wong sedang duduk bermeditasi sekaligus menemani Tian Feng yang sedang berlatih Tombak, dan di samping Xe Wong ada Tongkat Emas yang disandarkan bersama Toya Emas milik Tian Feng.
Ke-dua Roh pusaka tersebut juga seling berbicara dan dari pembicaraan itu, Xian baru ingat jika Kaisar Langit juga memiliki pusaka yang di dalamnya ada Roh dari kekuatan Bodhisattva.
__ADS_1
Berarti tidak hanya kekuatan Kaisar Kegelapan saja yang terpecah dan menjelma menjadi pusaka, namun kebijakan Bodhisattva juga keluar dan membentuk sebuah pusaka.
Karena sifat Kebijakan serta kemurnian Sang Bodhisattva lah Roh Tongkat tersebut mampu menekan sifat jahat dan juga kekuatan dari Energi Hitam, padahal Xian dan Xanzi sendiri tidak bisa merasakan apapun saat berada di dekat Alice kecuali Aura Hawa Panas saja yang mereka rasakan.
"Tian berhentilah dulu dan Kemarilah, dan kalian berdua juga diam!" kata Xe Wong yang selesai bermeditasi dan memanggil Tian Feng serta meminta ke-dua Roh Pusaka untuk diam dulu.
"Ada apa Guru Biksu?" tanya Tian Feng.
"Kau harus pergi bersama Roh Penjaga Pusaka mu ke atas sana!" kata Xe Wong sekaligus menunjukkan puncak Gunung Merapi.
"Disana ada sebuah kawah dan ada yang menunggu mu juga, nanti kamu akan mendapatkan bimbingan darinya dan jika mampu percepalah kamu menyempurnakan semua sendimu dalam waktu Lima sampai enam bulan!" kata Xe Wong.
Tian Feng menoleh menggunakan Ilmu Sihir Mata Dewa nya untuk melihat ke puncak gunung merapi, namun dia tidak bisa melihat apa-apa selain kabut tebal yang menutupi pandangannya.
"Lima sampai enam bulan? Kenapa harus buru-buru?" tanya Xian.
Xe Wong menghela nafas panjang sebelum akhirnya kembali berbicara, "Barusan aku mendapatkan sebuah ramalan jika kekuatan mu sangat di butuhkan oleh sebuah Kerajaan untuk menyelamatkan Kerajaan itu dari kehancuran, mungkin dalam waktu Lima Enam bulan atau lebih Gejolak besar itu akan terjadi!" kata Xe Wong.
"Apakah maksud guru Kerajaan Wu?" tanya Tian Feng.
"Sepertinya begitu, namun untuk saat ini kemampuanmu masih belum cukup, dari pada kamu memaksakan diri untuk membantu Kerajaan itu dengan kemampuan mu saat ini, maka hasilnya aka sia-sia, jadi sebaiknya kamu paksakan saja untuk membentuk sendi-sendi dalam tubuhmu karena itu akan lebih baik bagimu!" kata Xe Wong.
"Tunggu dulu! Apakah di dunia ini hanya ada satu saja Gunung Berapi nya?" tanya Xanzi.
"Sebenarnya ada Lima, namun disini adalah yang tertinggi!" jawab Xe Wong.
"Tian! Apakah kamu ingat atas pesan dari Buddha Maitreya?" tanya Xanzi.
"Buddha Maitreya? Maksudmu kakek misterius yang menyerahkan mu padaku?"
"Iya! Bukankah dia pernah bilang akan menunggu mu di sebuah puncak gunung api? Mungkin itu tempatnya!" kata Xanzi
Sebenarnya Tian Feng masih penasaran akan Gejolak di Kerajaan Wu, namun dia juga percaya jika Biksu Xe Wong tentu sudah mempertimbangkan semua itu dan meminta Tian Feng untuk pergi ke puncak Gunung Api tersebut, lagi pula dia juga harus secepatnya mencapai Tahap yang lebih tinggi setelah mengetahui kemampuan Alice saat terbang.
"Aku sudah memberitahukan dirimu tentang ratusan macam sarangan dari ilmu Tombak, nanti kamu bisa mempelajari sendiri sekaligus menyempurnakan semua pembentukan Sendi mu itu disana!" kata Xe Wong.
"Jika itu perintahmu Guru Biksu, baik saya akan kesana sekarang juga!" kata Tian Feng.
"Kalau begitu pergi dan jangan buang-buang waktu lagi karena setiap waktu sangat berharga! Pergilah dan aku akan menunggu disini!" kata Xe Wong.
Tian Feng membungkuk kemudian dia langsung menggunakan Ilmu Sihir Ruang Waktunya untuk berpindah tempat karena Tian Feng sudah tahu jika Ramalan Xe Wong selalu tepat.
__ADS_1