Kesatria Tombak Nirwana

Kesatria Tombak Nirwana
memulai berburu Siluman


__ADS_3

Kabar perang yang meletus baru-baru ini terlalu besar untuk tidak di ketahui oleh semua orang di seluruh Wilayah Kerajaan Wu, lupakan soal perang yang memang sering terjadi di belahan dunia lain, yang paling berbeda dari pernah itu tentu saja kemunculan Organisasi Bintang Hitam yang melawan seorang pemuda bertopeng yang memegang senjata Tombak Emas ditangannya.


Pertempuran besar itu berhenti di puncak pertarungan antara Pemimpin Organisasi Bintang Hitam melawan Pendekar Dewa Sesat.


Ciri-ciri pemuda yang di kabarkan waktu itu sama persis dengan pemuda yang ada di hadapan para Pendekar dari perguruan Pedang Matahari, hanya saja pemuda dihadapan mereka saat ini tidak mengenakan topeng yang menjadi ciri khasnya.


"Pendekar Dewa Sesat..!"


Bao He dan wanita tua sama-sama berseru saat menyadari akan siapa pemuda yang sudah mereka singgung.


Semua orang termasuk para murid dan beberapa guru Perguruan Pedang Matahari sama-sama terkejut termasuk Tian Feng sendiri.


"Ma..maafkan atas ketidak tahuan orang tua ini Dewa Sesat! Kami tidak melihat besarnya gunung dihadapan kami sampai menyinggung Dewa Sesat seperti ini!" kata Bao He.


Wanita tua di samping Bao He tidak berani mengangkat wajahnya, dia hanya berdiri lemas dengan tangan gemetar sambil memegang pedang.


Baju kedua Pendekar tua itu di penuhi banyak darah dari goresan-goresan luka yang di peroleh dari sayatan mata tombak emas yang ganas.


"Cih..!" wanita tua itu ingin mengumpat kepada ketiga muridnya yang sudah membuat mereka menemui masalah.


"Tua Bao! Andai saja sejak awal kalian tidak angkuh dan menyadari kesalahan dari murid-murid kalian yang sudah melakukan tindakan bejat, tentu masalah ini tidak akan serumit ini, aturan perguruan kalian ini telah mendidik generasi penerus untuk melakukan hal buruk di balik reputasi kalian sebagai Aliran Suci, ini sungguh melenceng!"


Wajah Bao He dan wanita tua disebelahnya berubah menjadi kusut setelah menyadari perkataan Tian Feng, secara tidak langsung Tian Feng sudah tidak mau lagi mendengar alasan atau permohonan apapun akibat kesalahan besar yang di lalukan oleh para murid-muridnya.


"Dewa Sesat! Tolong beri kami kesempatan untuk memperbaiki semuanya, saya janji saya yang tua ini akan berubah!" kata Bao He dengan merendahkan harga dirinya kepasa pemuda yang terlihat baru berusia 20 tahun.


"Apa mungkin bisa? Aku tidak sepenuhnya percaya dengan orang yang memandang rendah orang lain dengan kekuatan, jika kalian tetap dibiarkan, kedepannya kalian pasti akan membaut masalah yang lebih besar dari ini, dan dengan karakter Tua Bao bukan tidak mungkin kedepannya akan bergabung dengan Organisasi Bintang Hitam, maka hari permohonan tidak bisa aku terima," kata Tian Feng.


Semuanya menelan seteguk air liur mereka saat melihat Tombak Tian Feng mulai diselimuti petir kembali.


Tekanan yang kuat serta kekuatan besar segera meletus dari Tombak itu, riak angin dari tombak itu berhembus seperti air tenang yang beriak.


Tatapan Tian Feng kini menjadi dalam, hitam matanya yang dingin mengandung nafsu membunuh yang sangat besar membuat Bao He dan semuanya menggulung tenggorokan mereka menelan seteguk air liur dengan keringat dingin mulai muncul di kening mereka.


Tatapan dingin dan tajam Tian Feng seperti tatapan seekor elang yang mengamati mangsa dan siap menerkam kapan saja.


Tian Feng memang berencana menghabisi semuanya tanpa menyisakan satupun yang hidup.


Tian Feng mulai mengangkat tombaknya dan mengarahkan ujung tombaknya yang secara terus menerus melepaskan energi petir.

__ADS_1


Bao He hanya bisa memperkuat genggamannya, saat otaknya mulai buntu, dia perlahan-lahan menggenggam gagang pedangnya, hingga pikiran yang terdesak membuat pikiran mulai berontak.


"Sial, jika aku harus berakhir seperti ini, diam saja akan percuma, anak muda ini sepertinya tidak akan melepaskan semuanya dan tidak akan memberikan aku kesempatan untuk berubah! Diam mati, melawan juga mati! Sepertinya melawan lebih baik," sampai disini pikiran Bao He saat mata tombak mulai bergerak untuk menghujam dirinya.


"Tian!"


Suara lembut segera terdengar di telinga Tian Feng saat mata tombaknya akan di hujamkan. Tian Feng langsung menghentikan gerakannya dan menoleh kearah Ho Chen yang menegurnya.


Suara lembut Ho Chen tidak selembut tatapan dinginnya mengandung arti ancaman saat jari Tian Feng perlahan-lahan mulai bergerak.


Tian Feng bergegas menarik kembali tombaknya kemudian dia hanya menghela nafas panjang.


Ho Chen yang sejak tadi hanya memperhatikan Tian Feng dan Bao He kini berjalan mendekati mereka, "Walau aku tidak suka dengan sikap perguruan ini, namun aku juga tidak akan diam saja jika kamu masih bertindak sesuka hati Tian!" kata Ho Chen.


"Guru! Mereka ini tidak pantas untuk diberi kesempatan apapun, mereka bicara seperti ini hanya karena takut mati, tapi nanti kedepannya saat kita meninggalkan tempat ini, mereka pasti akan kembali berulah, dan mungkin akan lebih kejam dari ini!" kata Tian Feng.


"Kalau memang demikian kita tinggal kembali kesini lagi dan tinggal memberikan hukuman jika ternyata mereka kembali berbuat demikian!" kata Ho Chen.


Bao He yang sedikit terkejut saat Tian Feng memanggil Ho Chen dengan panggilan Guru merasa agak linglung, itu karena usia mereka yang terlihat hanya berbeda lima atau enam tahun saja, namun dia tidak berani menyuarakannya.


"Dewa Sesat dan Tuan Muda! Jika saya diberi satu kesempatan lagi, saya Bao He Pendekar Pedang Matahari bersumpah atas nama langit dan bumi akan menjadikan perguruan kami sebagai perguruan aliran Suci, jika Bao He berani melanggar sumpah, Bao He akan siapa menerima hukuman langit!" kata Bao He yang berlutut mengucapkan sumpahnya.


"Lidah itu tidak bertulang Tua Bao! Siapa yang peduli dengan sumpahmu?" kata Tian Feng yang masih belum mau melepaskan Bao He.


Tian Feng langsung menutup mulutnya dan hanya mengumpat kesal, alasan dia ingin membunuh Bao He bukan hanya karena sifatnya yang terlalu angkuh, melainkan dia ingin mendapatkan Aura Kematiannya.


Namun sepertinya ini tidak akan bisa dia lakukan jika Ho Chen masih mengawasinya, "Sia-sia," hanya itu yang ada di benak Tian Feng saat ini.


"Aku akan pegang sumpahmu itu, sewaktu-waktu kami bisa datang kapan saja kembali ketempat ini, dan jika tenyata kalian masih melakukan kebiadaban kalian, maka kalian tidak perlu menunggu hukuman dari langit, biar muridku sendiri yang memberikan hukuman kepada kalian!" kata Ho Chen.


Bao He segera menangkupkan tangannya kepada Ho Chen dan Tian Feng, "Terima kasih atas kemurahan hati pendekar! Saya yang tua akan berusaha merubah murid-murid Perguruan menjadi lebih baik!" kata Bao He.


"Pergilah!" kata Ho Chen dengan mengibaskan lengannya.


Bao He dan semuanya segera menangkupkan kemudian membantu keempat guru yang terluka untuk kembali ke perguruan.


"Tian! Niatmu untuk mengumpulkan Aura Kematian itu tidak tepat, aku sudah bilang usahakan untuk memberikan mereka satu kesempatan lagi, jika menolak barulah kamu bisa membunuh mereka," kata Ho Chen.


Tian Feng hanya tersenyum kecut karena ternyata niat sesungguhnya diketahui oleh Ho Chen, walau begitu dia masih menyayangkan semua itu karena gagal mendapatkan Aura Kematian dari seorang Pendekar Cahaya Tahap 3.

__ADS_1


"Sebaiknya kita segera menemukan retakan Dimensi atau menemukan siluman liar yang lepas!" kata Ho Chen.


Bao He yang masih belum jauh mendengar itu segera berhenti berjalan saat mendengar perkataan Ho Chen.


Bao He segera berbalik dan kembali menemui Ho Chen dan Tian Feng kemudian dia mulai bertanya, "Maaf Pendekar! Saya tadi mendengar Tuan membicarakan siluman? Apakah siluman itu seperti Hewan atau binatang yang tidak normal?" tanya Bao He.


"Apakah kamu pernah melihat binatang seperti itu Tua Bao?" tanya Tian Feng.


Bao He sama sekali tidak sakit hati saat Tian Feng tetap memanggil dirinya Tua Bao, walaupun dia tetap sakit hati, Bao He jelas tidak lagi berani sehingga hanya memasang senyum ramah.


"Tiga hari yang lalu, para murid dan guru di perguruan melihat ada sebuah cahaya aneh di samping Perguruan saya, cahaya itu memiliki tiga warna merah, biru, dan hijau. Kejadiannya saat tengah malam, saat itu saya masih sedang melakukan latihan tertutup untuk naik ke tingkat Pendekar Cahaya Tahap 3. Para murid yang penasaran mencoba untuk mendekati cahaya yang bergerak-gerak seperti kain panjang dan lebar itu, namun sebelum bisa mendekat, tiba-tiba muncul seekor serigala berbulu es yang sangat besar, Srigala itu memancarkan kekuatan yang setingkat dengan Pendekar Tengah dan setelah itu keluar berbagai macam binatang aneh yang lebih seram dan kuat, mereka semua bergerak tanpa menyerang dan berlari menuju Hutan Iblis!" kata Bao He menyampaikan informasi tempat para siluman.


Tian Feng mengerutkan alisnya mendengar hal itu kemudian bertanya, "Apakah cahaya tiga warna itu masih ada?" tanyanya.


"Sudah menghilang setelah mengeluarkan ratusan mahluk aneh!" jawab Bao He.


"Tidak salah lagi, itu adalah cahaya retakan Dimensi acak!" kata Ho Chen.


Tian Feng menatap kearah barat, jarak antara tempatnya saat ini dengan Hutan Iblis tempatnya dulu agak jauh, memang Ho Chen menggunakan sihir ruang waktunya sehingga berpindah sejauh ini.


"Jadi firasatku memang tidak salah, aku muncul di tempat ini karena merasa ada sejak retakan samar-samar yang ku rasa, namun ternyata itu sudah terlambat!" kata Ho Chen.


Walau Ho Chen memiliki kemampuan mata Dewa, namun retakan Dimensi yang acak tidak bisa dia tembus, itu karena retakan tersebut adalah sebuah pelindung yang terbentuk dari segel dewa sehingga mata Dewa Ho Chen akan sangat sulit untuk melihatnya dari jauh.


"Guru, kalau begitu kita pergi ke Hutan Iblis saja, aku juga ingin mempelajari ilmu pembuatan pil disana!" kata Tian Feng.


Ho Chen mengangguk kemudian dia menangkupkan tangannya kearah Bao He, "Terima kasih atas petunjuknya!" kata Ho Chen.


"Tidak perlu berterima kasih seperti itu karena saya merasa tidak pantas menerima penghormatan dari para Pendekar berdua!" kata Bao He yang juga menangkupkan tangan kemudian dia pamit dan pergi menyusul para muridnya yang sudah jauh.


"Hitam Iblis! Pada akhirnya aku akan kembali lagi ketempat awal itu, ini benar-benar aneh!" kata Tian Feng.


Tian Feng merasa Hutan Iblis yang dulu menjadi awalmula dirinya menjadi seorang pendekar seperti tidak mau berpisah terlalu lama, "Hutan Iblis yang awal datang sebagai Pemula, kini aku kembali lagi untuk mengenang kenangan yang sudah aku kubur!" kata Tian Feng kemudian dia dan Ho Chen bergegas menuju ke arah barat.


Ho Chen segera menggunakan sihir ruang waktunya untuk berpindah dan sebelum satu tarikan nafas habis, mereka berdua sudah muncul dipinggir Hutan Iblis, namun disana ada sebuah kampung kecil.


Tian Feng merajut alisnya melihat beberapa rumah yang tidak jauh dari tempat dirinya muncul, senyum tipis terlihat saat Tian Feng menatap perkampungan kecil yang tidak asing itu kemudian bergumam, "Tidak ada yang berubah, itu masih sama seperti yang dulu!" gumam Tian Feng.


"Ayo kita masuk!" kata Ho Chen.

__ADS_1


Tian Feng mengepalkan tinjunya dan kemudian bergegas masuk kedalam hutan bersama Ho Chen untuk memulai berburu Siluman.


Tian Feng sudah bertekad untuk mengumpulkan Aura Kematian yang sangat banyak, karena hanya dengan itu dia bisa memiliki kekuatan tambahan, belum lagi mustika sililuman yang akan mampu memulihkan penyimpanan Chi di dalam tubuhnya.


__ADS_2