Kesatria Tombak Nirwana

Kesatria Tombak Nirwana
Dunia Siluman


__ADS_3

***


"Bagaimana kondisimu sekarang? Apakah masih kedinginan?" tanya Xian saat Tian Feng mulai siuman.


Yang pertama kali dilihat oleh Tian Feng saat pertama kali sadar adalah Toyanya yang berdiri tegak tidak jauh darinya.


Tian Feng segera bangkit dan mengenakan kembali pakaiannya, namun masih ada sisa-sisa dingin di dalam tubuhnya.


"Xian! Berapa lama aku tidak sadarkan diri?" tanya Tian Feng.


"Kamu tidur selama semalaman disini! Sekarang kamu pasti sudah merasa segar bukan setelah tidur semalaman?"


"Siapa yang tidur? Kamu tahu apa yang aku rasakan akibat latihan konyol yang kamu berikan padaku? Otakku seperti berhenti berpikir saat merasakan dingin yang menembus ke dalam tulang! Aku kesulitan bernafas dan seluruh tubuhku seperti sudah mati, sebenarnya ini latihan untuk manusia atau bukan?" tanya Tian Feng.


Andai saja energinya tidak dikunci oleh Xian, mungkin dia akan baik-baik saja dan tidak berakhir dengan kondisi yang memalukan seperti saat ini.


"Hahaha..! Sebenarnya pertanyaan mu itu sangatlah tepat, latihan ini sebenarnya adalah latihan yang biasa dilakukan oleh para Dewa untuk membuat Raga mereka memiliki kekuatan yang kokoh, namun bukan di air beku biasa seperti ini, melainkan Air Es Abadi yang ada di Kahyangan."


Xian menjelaskan jika air beku di Danau Beku belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan yang ada di dunia para Dewa, jika sampai Tian Feng berlatih disana dalam kondisi masih bertubuh biasa, jangankan menyentuh air beku di kahyangan saja, terkena kabut dinginnya saja dari jauh, tubuh Tian Feng akan langsung membeku selamanya.


"Jadi kamu melatih ku dengan latihan yang biasa dilakukan oleh para Dewa?" Tian Feng sungguh tidak habis pikir akan akan jalan pemikiran Xian.


"Aku ini bukanlah Dewa, seharusnya kamu kondisikan dulu latihanku dengan tubuhku!" protes Tian Feng.


"Tian-Tian..! Jika aku tidak melatihmu dengan cara ini, kapan kamu akan menjadi kuat? Mungkin saat ini kemampuan mu sangat tinggi, namun itu hanya berlaku kepada para Pendekar lemah disini! Namun jika di bandingkan dengan Tuan ku sebelum kamu, maka kamu tidak lebih dari seekor semut yang bisa diinjak kapan saja," jawab Xian.


Tian Feng terdiam karena dia sendiri tidak mengenal siapa Tuan Xian sebelum dirinya, namun dia juga tidak ingin dibanding-bandingkan dengan orang yang belum ia ketahui seberapa kuat orang itu.

__ADS_1


"Kamu boleh meragukan ucapanku, tapi coba ingat kembali siapa lawan terkuat yang pernah kamu hadapi dan kamu sendiri tidak mampu mengalahkannya jika tidak ada bantuan orang lain atau bantuan siapapun itu!" kata Xian yang mendengar akan apa yang Tian Feng pikirkan.


Tian Feng menarik nafas panjang, dia ingat jika dirinya hampir mati saat bertarung dengan salah satu Pengawal Bintang Hitam, untung saja saat itu Xanzi yang menolongnya.


"Kamu benar sekali! Saat itu aku hampir mati melawan salah satu Pengawal Organisasi Bintang Hitam, padahal dia itu berada di urutan ke 17, namun kemampuannya begitu tinggi!"


Kini Tian Feng mulai menyadari jika dirinya masih lemah, dia tidak bisa membayangkan seberapa hebat Pengawal Organisasi Bintang Hitam yang berada diposisi pertama, dia pasti memiliki kemampuan yang bisa membuatnya mati dalam satu serangan saja.


"Xian maafkan aku! Seharusnya aku berterima kasih padamu karena sudah berusaha membantuku! Aku akui aku ini sangat egois dan keras kepala dan tidak menghargai bantuan mu dan juga Xanzi!" kata Tian Feng kemudian dia mengeluarkan Mata Tombak dari dalam Cincinnya.


"Sialan kamu Tian, tega sekali kamu menyimpanku terlalu lama di dalam Cincin yang isinya hanya barang-barang yang tidak penting!" gerutu Xanzi yang baru dikeluarkan oleh Tian Feng.


"Maafkan aku Xanzi, mulai sekarang aku tidak akan memasukkan mu kedalam Cincin lagi kecuali jika kamu atau Xian yang memintanya sendiri! Sekarang aku berjanji akan mendengar semua nasehat dari kalian, aku mohon bimbingan kalian berdua!" kata Tian Feng.


"Em!? Apakah kepalamu sudah terbentur sesuatu? Kenapa tiba-tiba saja kamu menyadari kesalahan mu dan ingin bimbingan dari kami?" tanya Xanzi.


"Sudahlah Xanzi, sekarang kamu tidak usah memperdebatkan masalah itu! Sebaiknya sekarang kita fokus melatih Tian Feng hingga dia bisa membentuk Sendi Raganya dengan sempurna, dan setelah itu kita akan membuka satu atau dua lagi dari Lima Sendi Alam di dalam tubuhnya!" kata Xian.


"Iya! Bahkan jika mampu, kita akan membuatnya naik lagi hingga ketahap akhirnya yaitu Raja Alam," jawab Xian.


"Itu tidak akan mungkin, butuh belasan atau puluhan tahun bahkan lebih lagi untuk bisa mencapai tingkat Raja Alam, bahkan untuk Raja Bumi saja akan membutuhkan waktu kecuali dia dibawa ke dunia portal!" kata Xanzi.


Dunia portal yang dimaksud oleh Xanzi adalah dunia lain yang bisa dimasuki dengan melewati lorong dimensi, disana waktu jauh lebih cepat dibandingkan dengan dunia Tian Feng, namun untuk bisa kesana Tian Feng harus memiliki energi yang sangat banyak karena dalam perjalanan melewati lorong dimensi itu akan menguras banyak energi.


"Xian, sebenarnya aku sangat penasaran, kenapa kamu bisa melihat dan mengetahui keberadaan Ular Terbang berkepala tiga?" tanya Tian Feng.


Selama seumur hidupnya, Tian Feng baru melihat dan juga baru tahu jika di dunia ada ular aneh seperti itu, namun sebelumnya dia tidak sempat menanyakan hal itu kepada Xian.

__ADS_1


"Tentu saja kamu tidak akan tahu karena pada dasarnya ular itu memang bukan berasal dari duniamu, melainkan dari Dunia Siluman," jawab Xian.


"Dunia Siluman? Apakah kamu sempat membuka portal dimensi dan memanggil siluman dari sana?" tanya Xanzi.


"Tentu saja! Jika tidak demikian dimana bisa menemukan hati ular yang memiliki darah Naga?" jawab Xian.


Tian Feng mengerutkan dahinya saat mendengar hal itu, "Darah Naga? Apakah yang aku makan itu adalah hati ular berdarah Naga?"


"Iya, namun itu masih yang berusia muda, mungkin umurnya belum sampai seribu tahun! Tapi aku yakin rasanya pasti sangat lezat dan enak bukan?"


Tian Feng menelan ludahnya bukan karena merasa enak, sebelumnya dia ingin muntah saat mengunyah hati ular tersebut, sekarang Tian Feng semakin merasa aneh saat mengetahui kebenarannya.


Naga hanya digambarkan sebagai perwujudan dari Raja Ular sekaligus mitos dari berbagai wilayah, gambaran Naga sendiri juga bermacam-macam, ada yang menyerupai ular raksasa berkaki empat dengan tanduk kepala mirip rusa jantan serta memiliki kumis panjang seperti kumis Singa dan memiliki sisik yang tebal serta keras melebihi kerasnya logam.


Ada juga yang menyerupai seekor kadal raksasa dengan dua sayap lebar, dan dimasing-masing cerita semua Naga memiliki kemampuan yang sama, yaitu bisa menyemburkan berbagai macam unsur Elemen sesuai dengan nama-nama mereka, dari Naga Api yang bisa mengendalikan Api, Naga Air, Naga Bumi, Naga Es dan beberapa jenis lainnya.


Namun semuanya hanyalah mitos karena kenyataannya tidak ada yang pernah melihat wujud dari Naga itu sendiri, bahkan sebagian orang percaya dan meyakini jika Dewa Naga itu ada.


"Karena itu kamu harus berlatih agar lebih kuat dan nanti kamu bisa pergi dengan ku kedunia Siluman agar bisa melihat sendiri wujud dari Naga sesungguhnya, dan jika kamu memang ingin melihat Dewa Naga yang sebenarnya, kamu harus mencapai tahap Dewa juga!" kata Xian.


Xian juga menambahkan jika di dunia Siluman sangat cocok bagi Tian Feng untuk berlatih serta mengumpulkan Aura Pembunuh disana dengan membunuh para siluman jahat.


Hal itu membuat Tian Feng lebih bersemangat untuk berlatih, bahkan tanpa disuruh sekalipun, Tian Feng langsung membuka bajunya dan pergi ke danau beku untuk melanjutkan latihannya yang sempat tertunda.


"Begitu tahu jika dia bisa mengumpulkan Aura Pembunuh di Dunia Siluman, dia langsung bersemangat seperti itu! Ilmu sesatnya benar-benar membangkitkan semangatnya," kata Xanzi yang keheranan.


"Menurutku itu cukup bagus, setidaknya dia memiliki sesuatu sebagai penyemangat," jawab Xian kemudian dia meninggal Xanzi sendirian menyusul Tian Feng.

__ADS_1


Xanzi yang tidak bisa bergerak leluasa seperti Xian hanya bisa berdecak kesal karena dirinya ditinggalkan begitu saja sehingga dia hanya bisa menunggu di sana sendirian saja.


"Aku sudah tidak sabar ingin bersatu agar bisa terbebas dan bergerak lebih leluasa!" kata Xanzi kemudian dia memilih menunggu saja tanpa bisa berbuat apa-apa.


__ADS_2