
***
Naomi berjalan sambil bersiul riang di depan Tian Feng, sedangkan Tian Feng tidak memperdulikan Naomi yang terlihat senang karena dia berada di tanah kelahirannya.
"Naomi, seberapa jauh lagi rumah mu? Dari tadi pagi hingga siang begini kenapa belum sampai juga?" tanya Tian Feng yang merasa bosan karena berjalan terlalu lama.
"Sabar Tian-Kun! Rumah ku sudah dekat kok, kita hanya harus melewati empat bukit, lima belas Desa, iya kemungkinan jika kita berjalan terus paling lama lima hari lagi kita akan sampai," kata Naomi dengan tenangnya.
Mata Tian Feng melotot mendengarnya, "Lima hari lagi? Apa kamu bercanda? Kita akan berjalan kaki seperti ini hingga sampai kerumah mu?" tanya Tian Feng dengan mata melebar.
"Iya! Memangnya kenapa? Bukankah itu menyenangkan, kamu bisa lihat banyaknya pohon sakura disini! Lagi pula belum tentu kamu akan kesini lagi!" kata Naomi.
"Iya aku akui Negara mu ini sangat menyenangkan, tapi jika kita berjalan seperti hingga ke rumah mu, akan memakan banyak waktu dan juga aku tidak ingin membuang-buang waktu dengan berjalan seperti ini!" kata Tian Feng.
"Jadi apa maumu? Apakah kamu ingin membawaku terbang lagi? Aku tidak mau lagi terbang seperti tadi!" kata Naomi.
"Jika kamu tidak ingin aku bawa terbang, bukankah masih ada cara lain agar kita bisa pulang ke rumah mu lebih cepat, kita bisa membeli kuda bukan?" kata Tian Feng.
Naomi menatap Tian Feng lebih teliti kemudian dia bertanya padanya, "Kita kesini saja naik kapal secara gratis, sedangkan aku tidak melihat mu membawa uang, memangnya kita mau membeli kuda pakai apa?"
Tian Feng tersenyum tipis, dia tidak mungkin bilang jika sebenarnya dia memiliki harta yang hampir setara dengan seluruh kekayaan Kerajaan Wu, bahkan Tian Feng bisa dibilang orang paling kaya jika dia mau mengeluarkan seluruh harta yang ia miliki.
Harta yang ia miliki adalah hasil dari rampasan saat melenyapkan salah satu kelompok perampok terbesar di Kerajaan Wu yaitu kelompok Lingkaran Pisau Darah.
"Kamu tidak perlu memikirkan hal itu, sekarang kamu nurut padaku, kita akan membeli kuda agar lebih cepat sampainya!" kata Tian Feng.
Naomi menaikan sebelah alisnya, dia masih belum yakin apakah Tian Feng benar-benar memiliki uang atau tidak, walaupun punya uang tidak mungkin tidak mungkin Tian Feng menghabiskan uang nya untuk membeli dua kuda yang harganya pasti sangat mahal.
"Terserah kamu saja!" kata Naomi.
Tian Feng dan Naomi segera mencari kuda disekitar tempat itu, tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk menemukan penjual kuda.
"Kamu yang bicara!" kata Tian Feng.
"Apa kamu benar-benar yakin ingin membeli dua kuda sekaligus?" tanya Naomi untuk memastikannya.
"Jangan banyak tanya, cepat bicara padanya, tanya berapa harga kudanya per ekor!" kata Tian Feng.
Naomi menurut dan kemudian dia berbicara kepada penjual kuda tersebut dengan bahasanya.
"Apakah Nona ingin membeli kuda? Semua kuda yang saya jual ini adalah kuda terbaik Nona, mereka semua di rawat dengan sangat baik, dan mereka sangat kuat serta mampu berlari hingga bermil-mil jauhnya!" kata pedagang kuda tersebut.
__ADS_1
Naomi tidak terlalu menanggapi perkataannya, dia sangat hafal dengan perkataan semua para penjual yang melebih-lebihkan memuji dagangannya agar laku.
"Berapa harga per ekornya Tuan?" tanya Naomi.
"Tidak mahal Nona, yang berwarna coklat ini harganya hanya Lima keping emas saja, dan yang berwarna hitam ini hanya tujuh keping emas saja! Beda lagi dengan yang putih itu, kuda itu sangat berbeda dan harganya juga sedikit diatas yang lainnya, Iya hanya sepuluh keping emas saja!" kata pedagang tersebut.
"Lima, Tujuh dan sepuluh Keping emas kamu bilang murah? Kamu mau memeras atau mau berjualan? Dimana-mana harga kuda termahal itu tidak lebih dari beberapa puluh keping perak saja, dan yang termahal tidak lebih dari dua keping emas saja! Apa kamu pikir aku ini tidak tahu harga kuda?" kata Naomi yang merasa sedang di permainkan oleh penjual kuda tersebut.
Penjual kuda tersebut jadi salah tingkah sendiri, dia memang ingin menjual kuda tersebut dengan harga yang sangat mahal karena dia merasa Tian Feng dan Naomi adalah orang baru.
"Nona, disini adalah Sinagata, semua harga barang disini itu sama semua!" kata penjual tersebut.
"Kamu pikir aku ini pendatang baru atau orang dari daerah pedalaman yang tidak pernah datang kesini? Kamu tahu aku ini sering membeli barang disini!" kata Naomi.
Pedagang tersebut semakin kebingungan mencari cara agar kudanya bisa terjual dengan harga yang ia inginkan, sedangkan Tian Feng yang masih menunggu dan mendengarkan obrolan Naomi yang masih menanyakan harga kuda.
Tian Feng merasa pembicaraan Naomi semakin tinggi seolah ingin menolak, masalah Tian Feng sama sekali tidak mengerti.
"Nona, ini sudah menjadi harga pas yang tidak bisa ditawar lagi!" kata Penjual tersebut.
"Baiklah kalau begitu, kami akan membeli kuda mu yang coklat ini seharga tujuh puluh keping perak, jika mau kami akan membayarnya, jika tidak kami akan mencari kuda di tempat lain!" kata Naomi.
Penjual tersebut tetap bertahan dan tidak mau melepaskan kudanya dengan harga pada umumnya.
Tanpa rasa ragu lagi, Naomi segera berbalik dan berjalan kearah Tian Feng yang masih menunggunya.
"Bagiamana? Berapa harga kudanya?" tanya Tian Feng.
"Dia tidak menjual kudanya!" kata Naomi dengan nada ketus.
Tian Feng merasa heran mendengarnya, jelas-jelas orang itu adalah pedagang yang menjual kuda, sedangkan Naomi bilang orang itu tidak mau menjual kudanya.
"Ayo kita pergi!" ajak Naomi.
"Tapi kudanya?" tanya Tian Feng.
"Sudah kubilang dia tidak menjual kuda!" jawab Naomi.
"Kalau begitu kita cari kuda yang lain!" kata Tian Feng.
Naomi dan Tian Feng ingin beranjak pergi, namun pedagang tersebut kembali memanggil Naomi.
__ADS_1
"Tunggu Nona! Baik saya akan menjual kuda berwarna Coklat itu dengan harga yang Nona inginkan, namun tolong tambah sedikit harganya," kata pedagang tersebut.
"Tuan! Lain kali berdaganglah dengan jujur, siapapun orangnya jangan pernah mencari kesempatan hanya karena orang itu adalah pendatang baru!" kata Naomi.
"Maafkan saya Nona, saya mengaku salah! Saya memang ingin mendapat keuntungan besar dengan menjual harga lebih tinggi kepada pendatang baru!" kata orang tersebut.
"Bagus kalau Tuan menyadari kesalahan tuan! Lebih baik Tuan mendapatkan untung sedikit, walau cuma sedikit yang penting tetap berjalan terus menerus dari pada mendapatkan untung banyak namun hanya satu kali makan saja!" kata Naomi.
"Terima kasih atas nasehat Nona, saya akan mengingatnya!" kata pedagang tersebut yang merasa malu karena dinasehati oleh seorang gadis muda yang umurnya jauh dibawahnya.
"Baiklah Tuan, saya akan membeli kuda Coklat ini dengan harga Delapan puluh keping perak, apakah Tuan tidak keberatan?" tanya Naomi.
"Tentu tidak Nona, justru saya sangat berterima kasih karena Nona sudah menambah sepuluh keping perak!" kata Pedagang tersebut.
"Baik tunggu sebentar!" kata Naomi kemudian dia berbalik dan berhadapan dengan Tian Feng.
"Kalian ini sebenarnya bicara apa?" tanya Tian Feng.
"Bukankah kamu tadi mau beli kuda? Sekarang Tuan ini mau menjual kuda coklat itu seharga delapan puluh keping perak! Bagiamana, apakah kamu masih mau membelinya?" tanya Naomi.
"Tadi kamu bilang dia tidak menjual kudanya, tapi sekarang..?''
"Ini adalah rahasia ku dalam menawarkan harga untuk beli barang, jika tidak maka akan banyak pembeli lain yang akan terkena tipu oleh para pedagang! Sudahlah sekarang kamu jadi beli apa tidak? Atau tadi itu kamu hanya koar-koar saja?" tanya Naomi.
"Katakan padanya jika kita beli dua!" kata Tian Feng kemudian dia memberi dua keping emas kepada Naomi.
Naomi merasa heran karena Tian Feng mengeluarkan dua keping emas tanpa rasa ragu sedikitpun.
Biasanya seorang anak bangsawan sekalipun hanya akan membawa uang paling banyak seratus keping emas setiap keluar, dan paling sedikit sepuluh keping emas.
"Ada apalagi? Sudah sana berikan uang itu padanya dan kembaliannya suruh ambil saja!" kata Tian Feng.
"Iya baik Tian muda yang sok pamer!" kata Naomi.
"Apa kamu bilang?" tanya Tian Feng.
"Tidak ada!" jawab Naomi kemudian dia pergi menemui pedagang tersebut yang sudah berada kandang kudanya.
Naomi segera menyampaikan jika dirinya akan membeli dua kuda, dan memberikan dua keping emas kepada pedagang tersebut tanpa meminta kembalinya.
Pedagang tersebut jelas sangat senang sekali dan berkali-kali mengucap rasa terima kasih. Sekarang pedagang tersebut baru sadar lebih baik jujur dalam berjualan dari pada berbohong, karena rejeki pasti akan datang sendiri jika kejujuran tidak di abaikan saat bertransaksi dengan para pembeli.
__ADS_1
Tian Feng dan Naomi kini berangkat ke rumah Naomi dengan menunggangi kuda, dan Naomi berada di depan karena hanya dia yang tahu jalan di tempat itu.