
Awan hitam tebal yang berkumpul dilangit mengeluarkan petir dan juga gemuruh guntur, fenomena tersebut adalah hasil ciptaan Alice untuk membebaskan orang-orang yang sudah memiliki Tanda Segel Kesetiaan dibahu mereka.
Tidak lama setelah itu air berwarna kehitaman mulai jatuh menjadi sebuah hujan deras, sedangkan Alice secara terus-menerus melepaskan energi hitamnya ke arah awan hitam itu.
Tian Feng berada sekitar jarak 10 meter dari Alice mengamati kesekelilingnya dengan menggunakan Spiritualnya untuk menjaga keamanan Alice yang sedang mempertaruhkan hidupnya untuk menolong orang-orang dari tanda segel kesetiaan.
Setelah hujan dari awan hitam mulai turun, Spiritual Tian Feng menangkap ada tiga sosok yang datang dari jauh, walau belum mencakup area Spiritualnya, namun Tian Feng sudah dapat merasakan kehadiran ketiganya.
Ketiga sosok yang terbang kearahnya itu adalah Dusten, Arthur dan sosok nenek tua yang kulitnya sangat keriput, nenek itu memegang tongkat berkepala ular serta dari tubuhnya keluar kabut hijau tipis.
Tian Feng melihat ketiganya yang datang kemudian berhenti diudara dengan menatap kearah mayat Hikari yang berada di dalam lubang tanah.
"Pimpinan Alice? Ternyata dia berhasil selamat dari racunmu nenek Zie!" kata Dusten sambil menatap kearah Alice yang masih mengarahkan kedua tangannya ke langit.
"Dia pastas pernah menjadi seorang Pimpinan organisasi, walau aku baru bertemu dengannya, namun aku yakin jika yang membunuh saudari Hikari adalah dia!" kata nenek Zie.
"Hujan ini..?" Dusten menengadahkan telapak tangannya untuk melihat air hujan yang jatuh ke tangannya.
Perlahan-lahan raut wajah Dusten dan Arthur menjadi kusut saat melihat air hujan yang turun dari langit, "Ini bukan hujan biasa, ini adalah salah satu ritual pembebasan, ayo cepat kita hentikan dia!"
Jeritan Dusten segera disadari oleh Arthur dan nenek Zie, mereka segera bergegas melesat kearah Alice yang masih memejamkan matanya melakukan ritual pembebasan.
Dusten melemparkan bola kecil berwarna hitam kearah Alice, sedangkan Arthur mengeluarkan pedang yang melengkung kemudian melepaskan tebasan yang berbentuk energi pedang bulan sabit, dan nenek Zie menggunakan tongkatnya melepaskan gas yang bisa melesat seperti sebuah anak panah kearah Alice.
Serangan gabungan ketiganya benar-benar bisa membunuh Alice yang saat ini sedang fokus melakukan ritualnya.
Tian Feng jelas tidak tinggal diam, dia segera menghilang dan muncul kembali menghadang tiga serangan yang datang.
Tian Feng menangkap bola hitam milik Dusten kemudian melemparkan kembali bola itu kepada Dusten. Tidak sampai disitu saja, Tian Feng juga menggunakan lengannya menepis energi pedang milik Arthur hingga energi itu juga kembali kearah pemiliknya, dan yang terakhir, Tian Feng memberikan tubuhnya untuk menabrak kabut hijau yang melesat seperti anak panah itu.
!?"
Dusten dan Arthur jelas terkejut saat melihat serangan mereka kembali kearah diri mereka sendiri. Ketiganya segera berpencar dan energi yang di kembalikan itu meledak dilangit hingga membuat sebagian orang merasa ketakutan.
Setelah berhasil selamat dari serangan mereka sendiri, ketiganya sama-sama menoleh kebawah dan mereka melihat sesosok pria yang memakai penutup kepala dari kain serta wajahnya juga tertutup kain.
Dusten dan dua lainnya saling berpandangan sesaat kemudian mereka mulai turun dan berhadap-hadapan dengan sosok misterius tersebut.
"Teman, ini adalah masalah Organisasi Bintang Hitam, saya harap teman ini tidak ikut campur akan masalah ini, jika teman tidak ikut campur, saya pastikan teman ini bisa pergi dengan bebas dari Kota Matuo ini!" kata Dusten.
"Organisasi Bintang Hitam? Kebetulan juga aku mengetahui organisasi ini dan juga memiliki hubungan!" kata sosok misterius itu yang tidak lain adalah Tian Feng.
Dusten dan kedua rekannya menghela nafas lega setelah Tian Feng mengatakan memiliki hubungan, mereka berpikir mungkin Tian Feng adalah anggota baru organisasi lainnya sehingga Tian Feng tidak saling kenal dengan Dusten dan dua lainnya.
"Kalau begitu teman ini adalah salah satu anggota Organisasi juga, baiklah kalau begitu, sekarang mari kita hentikan ritual penghianat itu!" ajak Dusten.
Tian Feng menggelengkan kepalanya kemudian dia menghalangi pandangan mereka terhadap Alice, "Sayangnya itu tidak akan aku biarkan!" kata Tian Feng.
Dusten dan yang lainnya terkejut mendengar itu, mereka juga diam-diam mengukur kemampuan pria dihadapan mereka dan mereka merasakan jika kemampuan Tian Feng saat ini berada di tahap Raja Langit.
"Teman, kita ini satu tim di Organisasi, apakah kamu tidak takut dihukum oleh Ketua Carolus nanti jika berani melindungi penghianat itu?" seru Dusten.
"Hahaha..! Kalian ini benar-benar bodoh, aku bilang jika aku memiliki hubungan dengan Organisasi kalian, tapi aku tidak bilang jika aku ini adalah anggota Organisasi kalian!" jawab Tian Feng.
"Kau..! Apakah kamu benar-benar ingin menjadi musuh Organisasi Bintang Hitam kami? Aku harap kamu pikirkan baik-baik sebelum menyesal!" kata Arthur yang sudah tidak tahan lagi dengan kelakuan Tian Feng.
"Bukankah sudah jelas jika aku menghentikan kalian, artinya aku ini memang ingin bermusuhan dengan organisasi kalian, sudahlah dari pada banyak bicara, bagaiamana kalau kita selesaikan ini dengan cara lama!" kata Tian Feng kemudian dia melepaskan Aura merah yang menyebar ke segala arah kemudian dengan cepat kembali ke tubuh Tian Feng membentuk sebuah Zirah Merah yang unik.
"Kau.! Jadi kau..!" Dusten menunjuk-nunjuk kerah Tian Feng, dia jelas mengenali Aura merah serta Zirah merah yang terbentuk di tubuh Tian Feng.
__ADS_1
"Pantas saja dia bilang memiliki hubungan, jadi hubungan yang dimaksud adalah hubungan permusuhan!" batin Dusten.
Tidak hanya Dusten, bahkan Arthur juga memasang wajah suram karena dia dan Dusten sebelumnya pernah melihat Zirah tersebut sedangkan Nenek Zie terlihat kebingungan.
"Ada apa Tuan Dusten? Memangnya siapa dia?" tanya nenek Zie.
"Dia adalah musuh besar utama Organisasi kita, dia adalah Pendekar Dewa Sesat!" kata Dusten dengan menarik nafas dalam-dalam saat menyebut nama Pendekar Dewa Sesat.
Nenek Zie menghirup udara dingin dari hidungnya setelah mendengar kata-kata Dusten, dia sudah mendengar nama Pendekar Dewa Sesat serta sepak terjangnya yang mampu melemahkan Organisasi Bintang Hitam dan juga mengalahkan Louis.
Energi Tian Feng semakin lama semakin naik hingga akhirnya berhenti ditahap puncak Raja Alam, dan Tian Feng tidak melepaskan seluruh kekuatannya untuk menghadapi mereka bertiga.
Angin berhembus cukup kencang secara terus menerus dari tubuh Tian Feng, bahkan tanah yang basah juga mulai terangkat keudara, sedang Dusten dan dua lainnya semakin memasang wajah yang gelap.
"Jika kalian ingin menghentikan Alice, maka langkahi dulu mayatku, itupun jika kalian mampu!" kata Tian Feng dengan melipat kedua lengannya di dada.
"Kamu pikir kami takut padamu, sekuat-kuatnya dirimu, belum tentu kamu mampu bertahan dari serangan Racun Nenek Zie!" kata Arthur.
"Tuan Arthur, apakah anda sebelumnya tidak melihat bagaimana dia menghadang dan menerima kabut Racun Tiga Ular? Sepertinya dia kebal terhadap racun!" kata nenek Zie.
Arthur terkejut dan baru teringat akan Tian Feng yang tubuhnya menerima langsung racun ganas dari nenek Zie.
"Sebaiknya kita harus bekerja sama, jika tidak kita hanya akan mati sia-sia jika bertarung sendiri-sendiri!" kata Dusten kemudian dia segera memunculkan beberapa bola energi kecil berwarna hitam dan melayang dihadapannya.
"Ayo serang bersama-sama!" seru Dusten kemudian dia dan dua rekannya segera bergerak kearah Tian Feng.
Tian Feng masih terlihat tetap tenang, setelah serangan Dusten dan lainnya hampir sampai, Tian Feng mengangkat satu jarinya dan kemudian mengetukkan jarinya dilengannya.
Gelombang energi yang sengat besar langsung keluar dari ketukan jari Tian Feng dan energi itu melesat kedepan dan mendorong serangan gabungan itu hingga membentur Dusten dan dua rekannya.
Tubuh ketiganya segera terlempar sangat jauh kebelakang terdorong oleh gelombang energi milik Tian Feng, mereka mundur hingga ratusan meter dan kemudian segera menstabilkan kondisi mereka.
Dusten sendiri juga sama bingungnya, namun dia sadar jika kemampuan Tian Feng pada dasarnya sangat tinggi, hanya saja dia tidak menduga jika jarak kemampuan Tian Feng bisa setinggi ini, bahkan Tian Feng terlihat belum menggunakan satu jurus apapun.
"Ini buruk, yang bisa menghadapi dia hanyalah Tuan Louis saja, jika hanya kita itu tidak akan bisa melukainya!" kata Dusten.
"Sebaiknya kita segera kembali ke markas cabang untuk memberitahukan ini kepada Tuan Qian He, hanya dia yang memiliki kemampuan lebih tinggi dari Tuan Louis dan pasti bisa mengalahkan Dewa Sesat!" kata Arthur.
Dusten dan nenek Zie sama-sama mengangguk kemudian mereka berbalik dan berniat pergi.
"Kalian sudah datang, jangan harap kalian bisa pergi begitu saja dengan mudah!" kata Tian Feng yang tiba-tiba saja muncul dihadapan mereka bertiga.
"Sejak kapan dia tiba di..!?"
Bang!!!
Belum selesai Arthur berbicara, sebuah pukulan kuat tiba-tiba saja jatuh diperutnya sehingga Arthur memuntahkan seteguk darah dari mulutnya dan kedua matanya hampir terlepas akibat serangan pukulan yang sangat kuat.
Tubuh Arthur melesat hingga menabrak tebing yang jauh dengan keras kemudian dia jatuh ketanah dan tubuhnya langsung meringkuk merasakan sakit diperutnya yang serasa organ di dalam perutnya seperti mau hancur.
"Arthur..!!"
Dusten dan nenek Zie sama-sama berteriak karena mereka juga tidak tahu kapan Tian Feng bergerak dan memberikan pukulan hingga Arthur seperti akan mati.
"Tidak perlu berteriak seperti itu, sekarang adalah giliran kalian!" kata Tian Feng.
Dusten dan nenek Zie yang semakin panik dan sama-sama melepas beberapa energi menyerang Tian Feng sehingga ledakan demi ledakan mulai mengisi udara dan kabut hijau juga terlihat memenuhi udara.
"Serang terus jangan biarkan dia mendekati kita!" seru Dusten dan dia tetap melepaskan bola kecil yang sebenarnya adalah bola energi ledakan yang sangat kuat.
__ADS_1
Tanah mulia bergetar dan retakan tanah mulai terlihat akibat ledakan beruntun tersebut, mereka berdua tidak perduli energi mereka akan terkuras habis dan tetap melepaskan serangan beruntun tanpa henti, setelah cukup lama menyerang, nafas mereka mulai tidak stabil, jelas mereka sudah membuang banyak energi hanya untuk menyerang Tian Feng.
"Apakah serangan kita sudah berhasil membunuhnya?" tanya nenek Zie dengan nafas yang tidak teratur.
"Entahlah, kita tunggu saja sampai asap itu hilang! Walau serangan kita tidak bisa membunuhnya, namun aku yakin setidaknya dia juga akan terluka!" kata Dusten.
"Apakah kalian sudah selesai?"
Dusten dan nenek Zie sama-sama tersentak kaget saat mendengar suara Tian Feng dari arah lain, mereka sekuat tenaga menoleh dengan keringat semakin mengalir deras.
"A.. Arthur..!!"
Mereka terkejut saat melihat kearah suara Tian Feng sekaligus melihat kepala Arthur yang berada ditangan Tian Feng, mereka sungguh tidak mengetahui sejak kapan Tian Feng memenggal kepala Arthur, namun nyatanya sekarang Arthur sudah mati hanya dalam waktu singkat.
Tian Feng melempar kepala Arthur keudara kemudian dia menggunakan energi Api nya untuk memusnahkan kepala Arthur, "Kamu sebelumnya sudah berani menyerang Xie'er, jadi ini adalah balasan yang sepadan!" kata Tian Feng yang masih ingat saat Arthur berusaha ingin membunuh Chie Xie saat di pertempuran dua tahun lalu.
Kepala Arthur benar-benar menjadi debu setelah dibakar oleh Api panas milik Tian Feng kemudian dia beralih dan menatap Dusten serta nenek Zie.
Dusten dan nenek Zie sama-sama menelan seteguk air liur mereka saat mata Tian Feng menatap tajam kearah mereka, terutama kepada Dusten.
Telunjuk Tian Feng mengarah kepada Dusten sekaligus berkata, "Berikutnya adalah kamu orang yang telah berusaha ingin membunuh Naomi!" kata Tian Feng.
Dusten langsung mengeluarkan energi Hitam untuk berjaga-jaga dari serangan Tian Feng, dia sudah melihat sendiri seperti apa serangan Tian Feng yang tidak bisa dilihat bahkan juga tidak bisa dirasakan.
Nenek Zie yang juga panik berusaha mundur sediki demi sedikit, namun mata Tian Feng tetap tertuju kepada Dusten.
"Jika kamu membunuhku, kamu akan benar-benar diburu dan menjadi musuh Organisasi Bintang Hitam, kamu tidak akan bisa lari dari organisasi kami!" kata Dusten yang bicara secara acak karena takut dan panik.
"Bukankah itu sudah terjadi dari dulu?" kata Tian Feng dengan tersenyum lebar saat melihat ketakutan diwajah Dusten.
Dusten sendiri juga mengumpat dalam dirinya sendiri, dia juga tidak akan mengira jika musuh besar organisasinya itu memiliki kemampuan yang sama sekali tidak bisa dia sentuh, namun apa yang bisa dia lakukan sekarang, dia yakin Tian Feng tidak akan membiarkannya hidup hari ini.
"Kalau memang aku harus mati, maka sebaiknya kita mati bersama saja Dewa Sesat, hahaha..!"
Tian Feng mengerutkan dahinya saat Dusten mengatakan itu kemudian tubuh Dusten sedikit membengkak dan energi Chi yang sangat besar segera terkumpul seperti kantong air yang akan meledak.
"Dasar orang gila..!" gerutu nenek Zie saat menyadari akan apa yang akan dilakukan oleh Dusten, dia segera terbang dengan kecepatan tinggi menjauh dari Dusten yang ingin Meledakkan diri
"Apakah semua para anggota Organisasi ini akan melakukan bunuh diri saat dirinya terdesak?" batin Tian Feng yang terlihat tidak panik.
Tian Feng melirik kearah nenek Zie yang sudah terbang jauh kemudian dia maju kearah Dusten yang sudah tidak bisa bergerak lagi, "Jika kamu ingin mati dengan membawa teman, akan aku kabulkan!" kata Tian Feng kepada Dusten yang tubuhnya sudah hampir meledak.
Tian Feng menyentuh pundak Dusten sekaligus menggunakan spiritualnya mengamati nenek Zie yang terbang sangat jauh.
Tian Feng langsung menggunakan sihir ruang waktunya dan dia membawa Dusten berpindah tempat kearah nenek Zie
"Apa..!?"
Nenek Zie jelas terkejut saat Tian Feng dan Dusten yang tiba-tiba saja muncul dihadapannya, sedangkan Dusten juga tidak kalah terkejutnya namun dia juga tidak bisa membatalkan dirinya untuk meledak.
"Bawalah temanmu itu ke akhirat!" kata Tian Feng kepada Dusten kemudian tubuh Dusten mengeluarkan suara retak dan cahaya terang mulai terlihat.
Tian Feng tersenyum lebar kepada nenek Zie yang panik kemudian dia menghilang dari hadapan Dusten dan nenek Zie lalu Tian Feng muncul kembali di kota Matuo.
Cahaya terang ditempat yang sangat jauh terlihat jelas hingga ke kota Matuo, demi tidak menggangu Alice, Tian Feng segera membuat dinding perisai agar efek ledakan dari Dusten tidak menggangu konsentrasinya.
Getaran hebat segera terasa, walau badai ledakan tidak bisa menembus dinding perisai buatan Tian Feng, namun suara ledakan dan getaran di tanah masih bisa dirasakan.
Ledakan tubuh dari seseorang yang memiliki kemampuan di tahap Raja Alam tidak bisa dianggap sepele, ledakan itu bisa melenyapkan satu kota karena kekuatan sejati seorang Raja Alam sangatlah besar.
__ADS_1
Dalam waktu sehari saja, empat anggota Organisasi Bintang Hitam sudah terbunuh, walau ini masih awal, namun Tian Feng tetap akan membersihkan keberadaan Organisasi mereka yang kemungkinan sudah memiliki banyak markas cabang di Kerajaan Wutong.