
***
Xiandong dulunya adalah nama sebuah kota. Dahulu penduduk kota Xiandong sebagian besar berasal dari Luwuen saat belum runtuh dan bahasa disana dulu bahasa yang Kerajaan Jiu.
Sejak jaman perpecahan dan runtuhnya Kerajaan Luwuen, orang-orang di kota Xiandong mendapatkan dukungan dari beberapa Negara yang kecil namun berpengaruh agar mau membuat Kerajaan sediri.
Kala itu penduduk Kota Xiandong kebanyakan tidak setuju karena wilayah mereka masih wilayah Kerajaan Luwuen yang saat ini mulai kacau akibat pemberontakan dari rakyat serta pasukan Kerajaan Luwuen sendiri.
Sebenarnya pemberontakan itu dipicu oleh penghianatan dua orang pejabat yang salah satunya adalah mentri Strategi dan satunya adalah mentri Perdagangan.
Dari penghianatan ke-dua Mentri itulah yang mengakibatkan perpecahan didalam istana.
Semua rakyat dan para prajurit terhasut oleh propoganda dari ke-dua Mentri melalui hasutan-hasutan dengan mengatas namakan politik.
Satu-persatu berhasil terhasut dan semakin lama semakin menyebar sehingga pemberontakan mulai terjadi.
Runtuhnya Kerajaan Luwuen bukan di akibatkan oleh peperangan atau bencana apapun, melainkan karena perang dingin antara Pihak yang tidak mau memecah wilayah Kerajaan Luwuen dengan Pihak yang ingin memecah serta melakukan pemekaran wilayah.
Raja Tang Qian selaku Raja terakhir serta keturunan terakhir dari keluarga Tang yang menjadi pendiri Kerajaan Luwuen adalah seorang Raja yang tidak terlalu pintar.
Karena itu dia tidak sadar saat dimanfaatkan oleh para Pejabat-pejabat yang ia percaya sekaligus menjadi kaki tangannya untuk mengurus segala urusan Kerajaan.
Raja Tang Qian harus menerima akibat dari ulahnya sendiri hingga membuat seluruh rakyat Kerajaan Luwuen sudah tidak percaya lagi beserta para Jendral dan pasukannya yang tidak mau menerima titah Tang Qian lagi.
Pada puncak perselisihan antara Ke-dua belah pihak yang melibatkan beberapa ahli politik dari berbagai daerah, akhirnya di putuskan sebuah pemilihan suara untuk menghindari pertumpahan darah.
Pemilihan suara tersebut hanya ada dua pilihan dengan menggunakan dua jenis kain kecil, yang pertama kain berwarna merah untuk mewakili suara rakyat yang setuju wilayah dibagi, dan yang ke-dua kain berwarna biru untuk mewakili suara rakyat yang tidak setuju jika Kerajaan harus dibagi.
Tentu saja lebih banyak yang memilih kain biru, namun para pendukung kain merah tidak tinggal diam, mereka meluncurkan berbagai strategi agar pemenangnya adalah kain merah.
Dengan cara licik tanpa sepengetahuan rakyat, para petugas yang mengumpulkan suara Rakyat mendapatkan iming-iming koin emas tambahan dari para pendukung kain merah agar mereka mau mengurangi jumlah sebagian kain biru.
Dan pada akhirnya suara pun dimenangkan oleh kain Merah dan petugas yang mengumpulkan suara Rakyat bukannya mendapat tambahan upah malah mendapatkan penyesalan karena bukan tambahan upah yang mereka terima, melainkan kematian yang harus mereka terima demi menutup mulut para saksi.
Raja Tang Qian akhirnya mengundurkan diri karena rakyat sudah tidak lagi percaya padanya, dan Kerajaan Luwuen pun runtuh dengan sendirinya karena tidak ada yang berani menggantikan Raja Tang untuk menduduki singgasana.
Semua Rakyat serta para petinggi Kerajaan tahu jika Kerajaan Luwuen pernah mendapatkan bantuan dari seorang Dewa, karena itu mereka takut karena kuil Dewa itu sendiri berada tepat di depan gerbang Kerajaan Luwuen sehingga takut jika sewaktu-waktu Dewa itu muncul lagi.
__ADS_1
Kerajaan Luwuen akhirnya hanya menjadi sejarah dan pembagian wilayah saat itu menjadi dua, yaitu wilayah Jiu dan wilayah Wu.
Namun seorang ahli politik dari Xia tidak terima karena wilayah berada di wilayah Wu sehingga perselisihan kembali terjadi.
Yang diinginkan oleh ahli politik dari wilayah Xia, dia ingin Xia mendirikan Kerajaan sendiri dan meminta seperdua wilayah Jiu dan setengah wilayah Wu.
Ahli politik dari Jiu menyetujui hal itu karena yang di minta hanyalah seperdua wilayah saja, sedangkan dari ahli politik dari Wu tidak terima karena setengah wilayah akan dibagi.
Ketiga wilayah akhirnya mendirikan Kerajaan masing-masing dimana nama kota asal dari ahli politik itu sendiri yang menjadi nama Kerajaan itu.
Kerajaan Xia dan Kerajaan Jiu tidak terlibat perselisihan lagi, namun yang menjadi perselisihan hanyalah Kerajaan Wu yang masih mempertahankan wilayah mereka dan hanya akan memberikan sepertiga dari wilayah mereka, dan itu sudah lebih besar dari pemberian Kerajaan Jiu.
Namun Kerajaan Xia tetap menolak dengan alasan jika semua keberhasilan yang dicapai berkat kerja keras dari pihak Xia dan pihak Wu hanya menerima hasilnya saja.
Tidak semua alasan itu dianggap benar karena ke-tiga Ahli politik sama-sama berusaha, hanya saja yang dari Xia lebih berambisi ingin menjatuhkan Wu, karena sejak dulu mereka berdua sering tidak sependapat.
Perang pun dari ke-dua belah pihak tidak tidak bisa dihindari lagi sehingga pertumpahan darah kini mulai membasahi perbatasan wilayah yang menjadi rebutan.
Awalnya Kerajaan Xia meminta bantuan Kerjaan Jiu untuk membantu, dan Kerajaan Jiu dengan senang hati akan membantunya.
Namun di saat yang bersamaan, dari pihak Wu juga datang meminta keadilan sekaligus meminta dukungan dari Kerajaan Jiu.
Awalnya mereka sepakat demi perdamaian serta membuat janji di sebuah kertas dengan disaksikan oleh semua mentri dan seluruh pejabat dari tiga Kerajaan.
Kerajaan Wu memberikan sepertiga wilayahnya kepada Kerajaan Xia, dan itu disambut dengan perdamaian yang sangat membuat seluruh rakyat ke-dua Kerajaan merasa bahagia karena akhirnya tidak akan lagi terjadi perang.
Namun sayang karena semua itu hanya berlaku sementara, karena setelah beberapa puluh tahun kemudian setelah ke-tiga Raja dari masing-masing Kerajaan sudah meninggal dan di gantikan oleh keturunan mereka, perebutan kembali terjadi.
Surat perdamaian yang saat itu di simpan di Kerajaan Jiu pun menghilang, dan Kerajaan Xia mengeklaim seperdua wilayah Kerajaan Wu sebenarnya adalah milik Kerajaan Xia.
Untuk bisa menghentikan perselisihan yang kembali memanas, hanya surat perjanjian damai serta pembagian wilayah itu yang bisa di jadikan bukti, namun anehnya surat itu menghilang dan para saksi yang saat itu hadir pun juga tutup usia.
Perbatasan yang dulu pernah menjadi pertempuran serta pernah digenangi oleh darah para pejuang kini kembali disirami oleh darah.
Sudah beberapa kali pergantian Raja, namun masalah perebutan tidak juga kunjung usai, malah semakin menjadi-jadi, sedangkan Kerajaan Jiu tidak bisa memberikan dukungan kepada ke-duanya.
Kisah sejarah tersebut sebenarnya sudah ada di batu dinding ukiran yang di beri nama sejarah Terpuruk Dua Kerajaan, dan batu dinding tersebut berada di dalam goa tepat di gunung perbatasan antara Ke-dua wilayah.
__ADS_1
Yang menulis sejarah itu sendiri adalah dua orang prajurit dari ke-dua belah pihak saat peperangan pertama kali usai.
Ke-dua prajurit tersebut sama-sama terluka dan ketika semua pasukan yang selamat sudah kembali pulang, mereka berdua saling bertemu didalam goa dan menjalin persahabatan selama 15 hari sebelum akhirnya mereka berdua mati di dalam goa itu karena luka yang mereka alami terlalu parah.
Tidak ada yang tahu tentang sejarah pertamanya, kecuali mereka bisa menemukan catatan sejarah di dinding goa itu karena semuanya sudah tertulis disana dimana seluruh masalah yang ada sudah dicurahkan oleh ke-dua Prajurit tersebut.
Namun tidak akan ada yang bisa menemukan keberadaan Goa tersebut karena Goa itu berada di balik Air terjun.
Kini Raja Jindai dari Kerajaan Xia tengah menemani Louis yang datang ke Kerajaan nya.
Jindai adalah keturunan asli Xiandong, dia adalah keturunan terakhir dari Raja pertama yang pernah menjadi ahli politik serta pendiri Kerajaan Xia.
Saat ini lebih dari setengah rakyatnya adalah orang-orang asli pribumi dari Xiandong yang sebenarnya adalah Ras campuran dari Yamuru dan Foiberia yang pertama kali menempati wilayah Xiandong sebelum orang-orang dari Luwuen datang.
Mereka disebut Suku Singa karena orang-orang asli pribumi disana memiliki tubuh besar dan pemberani, dan jika berperang mereka sering menggunakan gajah yang di juluki Pasukan Gajah Kematian.
"Jiandai bagaimana dengan tawaran ku, apakah kamu setuju bekerjasama denganku?" tanya Louis.
Jiandai yang sudah berusia hampir Lima puluh tahun termenung sesaat dan sesekali mengusap kumisnya yang tebal.
"Tuan Luois, aku sendiri juga bingung, kenapa kamu ingin bekerja sama dengan ku untuk menyerang Wutong? Apa masalah mu?" tanya Jiandai.
Jika Kerajaan Xia sudah jelas jika Kerajaan Wu adalah musuh bebuyutannya, namun Foiberia yang hanya Negara kecil serta berada di luar wilayah Kerajaan Wu? Itu yang membuat Jiandai di penuhi tanda tanya.
"Urusan masalah kita bahas nanti saja, lagi pula ini akan sama-sama menguntungkan kita, kamu bisa menguasai seluruh wilayah Kerajaan Wu, dan aku bisa melenyapkan seluruh anggota keluarga yang menjadi musuh utamaku! Bagaimana?" tanya lagi Louis.
"Baik aku setuju! Tapi kapan kita akan bertamu senjata kesana?" tanya Jiandai.
"Kita berangkat hari ini juga! Lagi pula aku ingin menemui murid gelap ku disana yang sudah lama tidak aku temui, dia saat ini pasti sudah tua dan aku yakin dia pasti meminum cairan yang dulu pernah aku berikan padanya!" kata Louis.
"Baiklah! Aku akan segera mempersiapkan semua pasukan serta dengan Pasukan Gajah Kematian ku!" kata Jiandai.
Louis mengangguk dan tersenyum puas, dia akhirnya mendapatkan bantuan dari Jiandai, padahal yang di targetkan hanyalah keluarga Dewa Sesat saja, namun karena hampir seluruh rakyat Kerajaan Wu tidak menerima kedatangan Organisasi Bintang Hitam.
Rencana Louis menyerang Kerajaan Wu dengan serangan besar-besaran tanpa perlu melibatkan pengikut Organisasi nya, jadi tidak akan ada korban jiwa dari pihaknya.
Saat pertempuran sudah benar-benar terjadi, Loius ingin menghadapi Dewa Sesat secara langsung saat semua prajurit mulai menyerang pusat Kerajaan Wu.
__ADS_1
Namun perjalanan yang akan di tempuh butuh waktu satu tahun, sehingga Luois akan menggunakan waktu itu untuk menemui seseorang yang dulu pernah ia bantu saat dirinya menyamar menjadi orang Kerajaan Jiu, orang yang ia maksud tidak lain adalah Jia Tai Yan, ketua utama Organisasi Tiga Bunga.