
***
Pertempuran di perbatasan di awali dengan penyerangan dari pihak Pasukan pemanah yang di pimpin oleh Ma Xiyue.
Dengan sekali serang, hujan panah segera menerjang pasukan Xiandong, namun pasukan Xiandong juga tidak semudah itu untuk bisa di taklukkan.
Pasukan Xiandong langsung mengangkat tameng dan semuanya berlindung di bawah tameng tersebut, walau begitu tetap ada saja anak panah yang melewati celah-celah kecil sehingga melukai dan membunuh beberapa prajurit yang berlindung di bawahnya.
"Sekarang serangan balasan! Pasukan meriam, tembak kearah para pemanah!" seru pimpinan perang.
Sebanyak sepuluh meriam segera diarahkan ke pada para pasukan pemanah kemudian mulai menyalakan sumbu.
"Sial... andai saja tidak mendadak kami pasti akan membawa meriam juga!" gerutu Ma Xiyue.
"Pasukan pemanah segera berpencar!" seru Ma Xiyue.
Karena meriam hanya bisa menargetkan satu titik dan ledakannya bisa membunuh belasan pasukannya, maka jalan satu-satunya adalah menyebarkan barisan, dengan demikian korban akan lebih sedikit.
Suara ledakan dari meriam yang saling menyusul segera mengisi udara, dan dalam waktu singkat ledakan tanah di tempat barisan pasukan pemanah mulai menggetarkan tanah serta asap dan percikan api dan batu kerikil berhamburan ke berbagai arah.
Beruntungnya para pasukan pemanah sudah berpencar sehingga tidak terlalu banyak korban.
"Serang...!"
Pasukan Xiandong segera maju saat melihat pasukan pemanah musuh mulai berhamburan, namun dengan tenangnya Ma Xiyue hanya menatap pasukan musuh yang maju dengan semangat mereka yang berkobar.
"Satu..!"
"Apakah kita maju juga?" tanya Fao Guo.
"Dua..! Sabarlah dulu Panglima!" jawab Ma Xiyue.
Fao Guo bingung karena Ma Xiyue tidak memberikan penjelasan apapun akan apa yang dia rencanakan.
"Tiga...! Sekarang..!"
Ma Xiyue yang sejak tadi menatap pasukan musuh yang terus maju sekaligus menghitung segera berseru keras membuat Fao Guo kaget.
"Apa yang kamu rencana..kan!?"
Fao Guo yang ingin bertanya membuka matanya lebar-lebar saat melihat lima puluh ekor kuda berserta penunggangnya maju dari arah samping dan dengan lajunya mereka bergerak dengan dua pedang panjang yang di ikat di kaki depan setiap kuda, tepatnya di bawah lutut.
Pasukan Xiandong juga terkejut melihat lima puluh pasukan kuda yang berlari kearah mereka dengan kecepatan tinggi.
Ratusan pasukan kuda dari pasukan Xiandong yang masih berada di barisan belakang segera maju untuk menghadang pasukan kuda dari Wutong yang hanya lima puluh ekor itu saja.
Namun mereka terlambat karena kuda pasukan Wutong sudah lebih dulu menerjang pasukan barisan Xiandong paling depan.
Dua pedang yang diikat dengan kuat di kaki kuda membabat pasukan yang dilewatinya sehingga banyak sekali korban yang berjatuhan.
Pasukan Xiandong barisan depan mulai berhamburan berusaha menjauhi pasukan kuda tersebut, dan ada juga yang berusaha melawan dengan cara melemparkan tombak ke arah kuda serta penunggangnya.
Satu persatu pasukan kuda mulai di robohkan hingga akhirnya semuanya mati di karena di hujani oleh tombak dan panah di tambah lagi bantuan dari pasukan kuda milik Xiandong.
Ma Xiyue merasa sakit melihat ke lima puluh prajurit yang menunggangi kuda mati di depannya, namun itu sudah resiko yang harus dihadapi karena kematian mereka tidak sia-sia.
__ADS_1
Di pihak Xiandong, lebih dari tiga ratus pasukan barisan pertama yang terbunuh oleh pasukan kuda yang di kirim oleh Ma Xiyue.
"Sejak kapan kamu merencanakan ini?" tanya Fao Guo.
"Setelah kepergian Dewa Sesat, aku sudah mengumpulkan semua pasukan kuda dan meminta pasukan yang bersedia maju, namun aku hanya minta lima puluh pasukan kuda saja serta menjelaskan resiko yang akan mereka terima jika mau maju! Ternyata mereka sudah siap gugur demi kerajaan dan akan maju untuk mengurangi jumlah musuh walau sudah tahu jika mereka tidak akan selamat!" kata Ma Xiyue.
"Mereka telah gugur demi Kerajaan, nanti jika kita memenangkan peperangan ini, aku akan meminta Ibu Ratu agar menobatkan mereka yang telah gugur sebagai pahlawan!" kata Fao Guo.
"Jangan terlalu yakin dulu Panglima Fao, ingat musuh kita masih banyak, dan belum tentu kita bisa menang jika kita maju tanpa mengatur rencana terlebih dahulu!" kata Ma Xiyue mengingatkan.
"Aku tahu itu, dan aku juga memiliki rencana yang sudah aku siapkan!" kata Fao Guo kemudian dia mengangkat golok panjangnya tinggi-tinggi membuat semua prajurit nya serta musuh memperhatikannya.
Pasukan Xiandong kembali maju dan jarak mereka semakin dekat, dan saat itulah Fao Guo mengayunkan Goloknya jatuh tanah.
Ledakan meriam tiba-tiba saja terdengar membuat pasukan dan para pimpinan perangnya terkejut dan menoleh kebelakang.
Baru saja mereka melihat ke sepuluh Meriamnya yang diambil alih oleh Pasukan Wutong, ledakan tanah segera menghamburkan belasan pasukan musuh hanya sekali tembak dan disusul oleh ledakan lainnya.
"Owh jadi itu rencanamu? Merebut senjata musuh dan menyerang balik dari belakang?" tanya Ma Xiyue.
"Tentu saja! Bukankah sudah menjadi kebiasaan saat perang dimana kita selalu meninggalkan pasukan meriam dibarisan paling ujung belakang tanpa penjagaan yang ketat? Dari itu aku memerintahkan Seratus pasukan untuk menyelinap ke belakang tanpa harus diketahui oleh musuh dan mengambil alih Meriam itu!" kata Fao Guo.
Fao Guo ingat jika yang mengendalikan meriam paling banyak Lima Orang, dan paling sedikit Tiga orang, jadi prajurit yang memegang meriam tidak lebih dari lima puluh prajurit saja sehingga akan lebih mudah untuk merebutnya dengan mengutus seratus prajurit.
Meriam terus di tembakkan membuat korban dari pasukan Xiandong semakin bertambah banyak, dan pasukan kuda yang terlanjur ikut maju segera berputar balik untuk membunuh prajurit Wutong yang merebut meriamnya.
Tentu saja Ma Xiyue langsung menyuruh para pasukan pemanah untuk memanah para pasukan berkuda tersebut sehingga banyak pasukan kuda dari pihak Kerajaan Xiandong yang mulai jatuh.
"Panglima ini saatnya untuk menyerang mereka!" kata Ma Xiyue.
Melihat semua pasukan dari Kerajaan Wutong yang mulai maju menyerang, Pasukan Kerajaan Xiandong juga maju dengan kondisi terdesak karena teror dari Meriam mereka sendiri dan hujan anak panah yang terus menghujani barisan belakang.
Bentrokan antar kedua pasukan akhirnya bertemu dan perang segera pecah, namun jumlah pasukan Kerajaan Xiandong kini hampir sama jumlahnya dengan Pasukan Kerajaan Wutong.
Ma Xiyue naik keatas kudanya kemudian melepaskan tiga anak panah sekaligus yang melesat dan membunuh tiga prajurit dalam sekali panah.
Tidak hanya sampai disitu, Ma Xiyue juga menyerang para prajurit dengan ujung busurnya yang sudah di aliri Chi sehingga mampu melukai para prajurit dari Kerajaan Xiandong sekaligus membunuh mereka.
Fao Guo juga mengayunkan Goloknya dengan sangat kuat, dengan sekali ayunan, beberapa tameng harus terbelah dan beberapa prajurit yang ia lawan mengalami luka parah hingga meregang nyawa.
"Cukup! Akulah yang akan menghadapimu," kata salah satu pimpinan perang dari Kerajaan Xiandong dengan Zirah perak yang berkilau terang.
Fao Guo yang masih berada di atas kudanya segera memenuhi tantangan tersebut, dia segera turun karena yang menantangnya berada dibawah.
Keduanya sama-sama siaga sekaligus saling bertatapan tajam dan kemudian keduanya sama-sama maju dengan golok masing-masing.
Fao Guo berada di Tingkat Atas dan hampir berada di Tingkat Cahaya, kemampuannya dalam menggunakan golok dia pelajari langsung dari Wei Fang sehingga Fao Guo sangat mahir dalam menggunakan jurus Golok panjang.
Kedua Pimpinan yang berada di tingkat yang sama itu terus bertarung dengan sengit, keduanya berimbang karena sama-sama mahir dalam menggunakan Golok panjang mereka.
Tidak jauh dari Fao Guo yang sedang berhadapan dengan pimpinan Pasukan Xiandong, Ma Xiyue masih membantai musuh-musuhnya karena tidak ada pemimpin lain lagi selain yang berhadapan dengan Fao Guo.
Karena Pasukan yang akan menyerang perbatasan akan ditemani oleh dua Pengawal Organisasi Bintang Hitam, Jiandai tidak mengirimkan Pimpinan perang lainnya.
Menurut Jiandai dengan satu pimpinan prajurit yang ada di perbatasan dan dua Pengawal Organisasi Bintang Hitam sudah lebih dari cukup untuk merebut perbatasan, namun Jiandai tidak akan menduga jika sebenarnya kedua Pengawal Organisasi Bintang Hitam sudah tiada.
__ADS_1
"Sebagai Panglima Perang dari Xiandong, kamu cukup hebat juga! Namun jurusmu itu tidak akan pernah bisa mengalahkan jurus Golok milik Dewa Perang Wei Fang, sekarang rasakanlah jurus golokku ini!" seru Fao Guo sekaligus mengalirkan Chi ke Goloknya.
"Golok Membelah Bumi."
Golok Fao Guo yang diselimuti oleh Chi segera berayun dengan sangat kuat, dan Pimpinan dari Xiandong itu juga menyambut serangan tersebut.
"Golok Taring Naga."
Kedua serangan golok tersebut langsung beradu menimbulkan suara dentuman yang membuat di sekeliling tempat pertarungan mereka berdua meledak dan melempar beberapa prajurit dari kedua belah pihak.
Fao Guo dan lawannya sama-sama terlempar kebelakang hingga dua meter dan kemudian keduanya berhasil menstabilkan tubuh mereka.
"Golok Taring Naga? Apakah kamu memiliki hubungan dengan Panglima Perang Raja Golok Naga Daidai?" tanya Fao Guo.
"Beliau adalah Guruku!" jawabnya.
"Owh jadi kamu murid Raja Golok Naga Daidai musuh bebuyutan Dewa Perang, jadi ini pertarungan murid melawan murid, mari kita lanjutkan lagi hingga nanti salah satu dari kita pulang dengan tubuh yang berkurang!" kata Fao Guo kemudian dia mulai bersiap menyerang.
"Aku juga berharap demikian, namun bagaimana jika kita lanjutkan lain waktu saja!"
Fao Guo mengerutkan dahinya dan menganggap jika murid Daidai itu tidak berani berhadapan dengannya.
"Kamu jangan salah paham dulu, aku meminta itu karena dia!" ucapnya sekaligus menunjuk kelangit.
Fao Guo segera menoleh kearah yang ditunjuk dan dia melihat Tian Feng yang sedang melayang di udara.
Tenyata Pimpinan Pasukan Xiandong sempat melihat Tian Feng yang memberikan isyarat jika kedua pengawal yang menemaninya sudah dia bunuh.
Mengetahui hal itu Pimpinan tersebut yang di ketahui adalah murid dari Raja Golok Naga musuh lama Wei Fang langsung memahami maksud dari isyarat Tian Feng.
Dari isyarat yang dia lihat, Tian Feng tidak akan membunuh dia dan para pasukannya jika mereka mundur saat itu juga, namun jika tetap bertempur, maka Tian Feng tidak akan membiarkan satupun pasukannya kembali kerumah masing-masing.
"Hentikan peperangan ini..!"
Semua prajurit segera berhenti saat murid Raja Golok Naga itu berseru lantang termasuk Ma Xiyue.
"Mundur semuanya dan tinggalkan tempat ini!"
Para prajurit Xiandong kebingungan, namun mereka juga tidak berani membantah dan akhirnya menurut.
Ma Xiyue jelas tidak terima, dia mengambil dua anak panahnya dan berniat membidik murid Raja Golok Naga itu, namun Fao Guo menghentikannya kemudian dia memberi tahu Ma Xiyue jika ini juga atas permintaan Tian Feng.
***
Setelah semuanya mulai menjauh, Ma Xiyue segera menghampiri Tian Feng yang sudah turun.
"Dewa Sesat! Kenapa anda membiarkan mereka pergi? Bukankah ini kesempatan kita untuk mengurangi jumlah Pasukan mereka?"
Tian Feng tersenyum sekaligus menggelengkan kepalanya dan menjawab pertanyaan Ma Xiyue.
"Panglima! Apakah para pasukan mu ini bertarung atas keinginan mereka sendiri atau karena mendapat perintah untuk bertarung serta menunjukkan pengabdian mereka terhadap Kerajaan?" tanya Tian Feng.
"Tentu saja karena perintah serta sebagai bentuk pengabdian!" jawab Ma Xiyue.
"Itulah maksudku! Adikku pernah bilang jika para prajurit itu tidak semuanya harus dibunuh karena mereka hanya mengikuti perintah saja, pastinya mereka memiliki keluarga yang menunggu dirumah!" Ma Xiyue hanya terdiam begitu juga dengan Fao Guo.
__ADS_1
"Menurutku membunuh mereka juga percuma jika Raja mereka masih hidup! Yang ada akan ada perang lainnya, jadi jalan satu-satunya adalah mencabut akarnya agar semuanya selesai," kata Tian Feng namun sebenarnya dia hanya mengutip perkataan Chie Xie saja.